Lanjutkan!

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

KALAH taruhan, tidak perlu kecil hati. Apalagi kalau memilih menurut hati nurani. "Kalah menang tetap Mega - Prabowo!"

"Atau kalah memang tetap JK-Wiranto!" Kalau kenyataannya SBY Boediono sang juara, silakan lanjutkan! Yang pasti hati nuraninya tetap pada pilihannya. Memang pemilu kali ini terasa beda dengan pemilu legislatif 9 April lalu. Pada waktu itu dia memang benar-benar sulit menetapkan keputusan untuk memilih, terutama caleg kabupaten dan propinsi.

Sungguh berat menentukan pilih kakek, nenek, paman, bibi, tanta, om, kakak, adik, keluarga dekat, keluarga jauh, atau teman dan lainnya. Terlalu banyak, terlalu membingungkan. Pilihannya lolos untuk Dewan Pertimbangan Daerah dan DPR RI. Sedangkan untuk propinsi dan kabupaten meleset jauh sekali. Dia sungguh-sungguh menyesal oleh kebingungannya.

Lebih tepatnya dia sungguh menyesal karena begitu banyaknya anggota keluarga yang jadi caleg yang tentu saja membuatnya bingung. Dia menyesal karena menurut pandangannya, orang-orang tertentu yang terpilih justru sangat jauh dari harapannya. Ya, apa boleh buat nasi sudah jadi bubur!

***
Namun, ketika pilihannya gagal jadi presiden, dia tidak menyesal sedikit pun karena beberapa alasan. Pertama, dia sudah tahu SBY bakal menang karena berbagai promosi melalui kebijakannya yang sedang berjalan dan promosi melalui berbagai jenis iklan televisi hampir sepanjang waktu. Apalagi lagu Dari Sabang Sampai Merauke yang melekat langsung ke jantung. SBY sudah pasti terpilih.

Kedua, jagoannya terlambat mulai, sehingga keteteran di penghujung jalan. Ibarat air sudah sampai di leher, baru mulai berjuang untuk mencapai tujuan. SBY sudah hampir sampai garis finish, baru jagoannya mulai star. Akibatnya lelah bukan main-main, dan tenaga terkuras justru pada saat harus berlari kencang. Ya, ibarat lari seratus meter tanpa pemanasan, tersungkur jatuh justru di garis star. Apa boleh buat.
"Jadi kamu Mega Prabowo?" Tanya Jaki sambil tertawa.
"Ya. Kalah menang tetap Mega Pro!" Jawab Benza dengan yakin.

"Sudah kubilang pilih SBY Budiono," Jaki bangga bukan main. "Coba kalau kamu pilih SBY, suaramu tidak terbuang percuma. Aduh kasihaaaan," Jaki mengulurkan tangan, sambil mengucapkan selamat kalah ya teman! Salah pilih sih!"
"Apa kamu bilang?" Tanya Benza.
***
"Kamu salah pilih!" Kata Jaki. "Makanya, kalau pilih itu ikut hati nurani, jangan sembarang pilih. Gara-gara kamu tidak ikut hati nurani, makanya kamu kalah!" Begitulah Jaki. Kata-katanya langsung disambung Rara.

"Sementara ini SBY meraup enam puluh persen suara. Banyak sekali. Suaraku dan suara Jaki termasuk di dalamnya. Kalau bukan hati nurani apa lagi?" Rara berapi-api saat bicara. "Coba, kalau kamu ikut saran kami untuk pilih SBY, kamu juga menang! Enam puluh persen! Terbanyak!" Rara pun ikut terkekeh-kekeh.

"Kalian kalau bicara tidak pakai ini dan ini," Nona Mia menyambung sambil menunjuk jidat dan hatinya. "Hati nurani tidak identik dengan seratus persen, sembilan puluh persen, enam puluh persen! Hati nurani tidak diukur dengan jumlah suara!"

"Oooh kamu juga kalah! Kamu pilih JK Wiranto. Coba kalau kamu ikut hati nuranimu dan pilih SBY Budiono, pasti kamu juga ikut menang! Salah sendiri," Rara bicara sambil bertingkah lompat kiri kanan untuk kemenangan SBY.

"Maaf saja ya!" Nona Mia berkata tegas. "Hati nuraniku adalah JK Wiranto bukan SBY."
"Hati nuraniku adalah Mega Prabowo. Bukan SBY," Benza juga menegaskan.

***
Dengan tenang Benza menjelaskan pada teman-temannya bahwa dia merasa begitu bangga telah menentukan pilihan sesuai hati nuraninya. Ada tiga pilihan untuk presiden lima tahun ke depan. Dia telah berupaya menganalisa dari aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya lengkap dengan indikator-indikator yang diyakininya dapat diukur dan dipertanggungjawabkan. Dengan demikian mudah baginya untuk meneliti satu persatu mana yang terbaik. Pada titik itulah dia menentukan pilihannya pada Mega Prabowo dan Nona Mia memilih JK Wiranto. Dijelaskannya bahwa dia kalah dengan sungguh-sungguh bangga sebab pilihannya benar-benar pilihan yang mendengar hati nurani secara jernih.

Ditegaskannya pula bahwa terbanyak tidak identik dengan terbaik. Yang terbaik menurut hati nuranimu tidak dapat disamaratakan dengan yang terbaik menurut hati nurani orang lain.

"Tetapi bukankah semua kita harus lanjutkan?" Jaki hanya bisa komentar pendek.

"Silakan lanjutkan!" Nona Mia menjawab.
"Apakah kamu tetap pada Mega Prabowo JK Wiranto?" Tanya Rara.

"Presiden sudah terpilih! Dukungan sebagai warga negara, sudah pasti! Tetapi soal hati nurani tetaplah hati nurani!" Kata Benza.

"Oke, lanjutkan!"
"Ya! Silakan lanjutkan!" *

Pos Kupang Minggu 12 Juli 2009, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda