Marsel Mana: Tim Entrepreneur di Daerah


FOTO Istimewa Marsel Mana dan keluarga

Pria asal Ende ini bukan termasuk dalam ukuran orang biasa. Setidak-tidaknya jika ditilik dari cara berpikirnya yang cerdas, runut, dan lugas. Apalagi kalau berbicara tentang perlunya 'revolusi' cara berpikir tentang pemberdayaan masyarakat dengan kata kunci, entrepreneur, sangat bernas. Seperti air mengalir.

Marsel sangat berkompetensi membahas hal ini jika dikorelasikan dengan predikatnya sebagai salah satu orang penting dalam struktur fungsional Yayasan Bina Bangsa Unggul di Jakarta. Yayasan ini mengemban misi melahirkan pribadi yang memiliki visi (men of vision), berdedikasi (men of dedication), berkarakter (men of character), memiliki keberanian (men of courage), mengembangkan keahlian (competency), ahli membangun hubungan (connecting people) dan memiliki hikmat (men of wisdom). Seperti apa pandangannya tentang pemberdayaan?

Berikut cuplikan wawancara wartawan Pos Kupang, Benny Dasman, dengan Marsel Mana, S.H, di Hotel Alia, Pasar Baru-Jakarta Pusat, Senin (29/6/2009).


Apa filosofi dari pemberdayaan itu!
Intinya, perubahan. Sesuatu yang abadi. Siklus yang terjadi secara alamiah. Dan, untuk meraih perubahan tidak terjadi secara instan, tetapi harus diperjuangkan. Sungguh-sungguh.

Apa saja yang termasuk pilar pemberdayaan?
Individu/kelompok yang punya kompetensi. Juga pemerintah yang memayungi kebijakan dan sebagainya. Pilar lainnya adalah perbankan (BRI, BNI, BPD dan sebagainya). Tanpa dukungan dana dari perbankan, upaya pemberdayaan masyarakat itu, tak mungkin berhasil. Persoalannya adalah bagaimana agar bank memercayai kita sebagai pelaku pemberdayaan. Tiga pilar pemberdayaan ini harus mempunyai visi yang sama, yaitu mensejahterakan rakyat. Dengan visi yang baik, Anda tidak hanya melihat dengan mata tetapi juga dengan hati Anda. Dan, ketika Anda melihat dengan hati Anda, maka sesungguhnya Anda telah berjalan maju. Yang saya mau katakan adalah bahwa visi itu sangat penting.

Kekuatan apa yang harus dimiliki individu agar bisa memberdayakan dirinya atau melakukan tugas pemberdayaan!
Manusia itu punya head. Artinya ada pengetahuan (knowledge). Juga punya hand (skill/keterampilan). Pun heart (motivasi/semangat/attitude). Pengetahuan boleh segudang tetapi kalau hanya sekadar teori, tak berguna. Harus diaplikasikan. Di bidang keterampilan, kita masih kalah bersaing, khususnya dalam memanfaatkan teknologi. Ini sebenarnya kekuatan paling dahsyat yang harus dipertajam. Dengan memiliki keterampilan, kita kreatif untuk menciptakan peluang kerja. Dalam dunia birokrasi, keterampilan aparat juga menjadi masalah utama. Padahal panduan birokrat adalah memiliki jiwa entrepreneur, kewirausahaan. Kelemahan kita juga terlihat pada attitude (semangat). Misalnya, kurang terbuka, puas hanya menjadi pekerja kasar, tak ada kemauan untuk maju, kurang sabar, iri dan dengki terhadap keberhasilan orang, ada beban langsung menghindar dan sebagainya. Mau mencapai sesuatu dengan cara yang instan. Padahal untuk menjadi 'orang' itu harus sabar, menjalaninya dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki. Ingat kasus pembunuhan Direktur PRB, Nasrudin. Itu harus menjadi refleksi.

Pilar pemberdayaan lainnya adalah pemerintah. Apa perannya!
Yang terutama adalah memayungi, memberi rasa aman. Selain itu, membuat regulasi/kebijakan yang berpihak rakyat. Memberi bimbingan teknis (dinas koperasi, dinas perindang, dinas kelautan, dinas pertanian, disnakertrans, statistik dan sebagainya). Statistik, misalnya, tak hanya bergelut dengan data-data. Tetapi bagaimana menjadikan data itu sebagai peluang untuk menggandeng mitra agar berinvestasi di daerah kita. Itu yang penting. Misalnya, data tentang berapa banyak penduduk di suatu kota/kabupaten yang menggunakan terigu, Bogasari misalnya. Atau data tentang produk lainnya. Kita dapat menggandeng Bogasari, misalnya, untuk mencerahkan masyarakat kita bagaimana mengolah produk/makanan lokal menggunakan tepung itu.

Atau menggandeng Bogasari untuk menata taman kota, misalnya. Jadi, tergantung kebutuhannya apa. Atau dinas kelautan. Kan aneh rumah masyarakat kita menghadap ke laut, tetapi mereka tidak mencintai laut. Tidak memanfaatkan potensi di laut. Jadi, dinas kelautan harus melakukan motivasi yang terus-menerus agar masyarakat mencintai laut. Peran pemerintah lainnya adalah menjadi mediator masyarakat/kelompok yang mau berusaha dengan perbankan. Dinas teknis harus membawa sampel produk yang dikembangkan masyarakat kepada perbankan untuk memperoleh dana pengembangan usaha. Jadi, menjalin kerja sama dengan bank. Jangan biarkan masyarakat jalan sendiri.


Pemerintah juga perlu secara kontinyu melakukan sosialisasi dan komunikasi kepada setiap strata masyarakat seperti gereja dan tatanan adat perihal pelbagai kebijakan yang diambil dabn apa peran dari strata ini. Yang utama adalah mencari pemasaran, ditata agar tidak monopoli. Jangan menyuruh masyarakat tanam itu dan ini melalui proyek ini dan itu, tetapi pemerintah tidak menyiapkan pasarnya. Ini banyak terjadi dan menjadi kasus. Pun melakukan evaluasi secara periodik atau situasional apa urgensi dan aplikasi dari setiap kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat.

Peran perbankan bagaimana?
Mengalokasikan dana untuk pengembangan wirausaha berdasarkan rekomendasi dari instansi teknis/pemerintah. Perbankan jangan beranggapan bahwa UKM sulit mengambalikan pinjaman. Dalam konteks ini, perbankan harus terlibat memberikan bimbingan dan evaluasi agar UKM bisa mandiri dalam berusaha. Kini, pemerintah pusat tengah bersiap membangun rusun di beberapa kota besar. Jadi, bagaimana dengan kita yang ada di daerah. Ende, misalnya, bisa berkembang kalau ada suport/dukungan dari perbankan setempat, tentu yang terukur dengan kegiatan masyarakat kita.

Apa sebenarnya inti pemberdayaan itu!
Inti pemberdayaan itu pada manusia, alam/kebudayaan dan kebijakan. Ketiganya saling berkorelasi. Jika kita tidak menetapkan tujuan, kita tidak akan meraihnya walaupun kesempatan terbuka. Intinya, bangun visi yang sama dari semua pilar yang ada. Setiap individu/kelompok harus mempunyai tekad untuk keluar dari keadaan saat ini (kesulitan, kemiskinan), menuju taraf hidup yang lebih layak. Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini (hal yang positif).

Itu filosofinya. Pemerintah pun, dengan segala otoritas yang ada, juga wajib berkemauan kuat untuk mensejahterakan masyarakat. Misalnya, membuat kebijakan yang berpihak rakyat, memberi bimbingan teknis, datangkan investor, menyiapkan pemasaran dan sebagainya. Alam/kebudayaan pun menjadi inti pemberdayaan. Di Ende, misalnya, banyak rumah penduduk 'pantatnya' menghadap ke laut.

Uang ada di laut. Warga pandai berenang. Tapi laut tidak diapa-apakan untuk meningkatkan pendapatan. Pariwisata kita juga menarik. Tetapi promosinya masih konvensional. Sekarang ada banyak kemudahan, ada internet dan sebagainya, tetapi kita tidak memanfaatkannya. Ya, kembali kepada keterampilan yang masih kurang. Soal kebijakan sebagai inti pemberdayaan adalah sinkronisasi. Penentu kebijakan harus membuat kebijakan yang sinkron dengan kondisi nyata di masyarakat. Itu kuncinya. Jadi, unsur keberhasilan dalam pekerjaan itu sangat ditentukan apakah pilar-pilar pemberdayaan itu mempunyai visi yang sama, memiliki komunikasi yang baik, memiliki komitmen untuk melangkah bersama serta mengikutsertakan Tuhan dalam setiap perkara.

Tindakan apa yang harus dilakukan dalam proses pemberdayaan!
Mengiventarisir bersama hal potensi apa yang bisa dikembangkan dengan baik berdasarkan zona/sektor. Dan, mulai dari yang paling bisa kita lakukan (cepat, murah, mensejahterakan). Potensi yang diinventarisir dan dikembangkan, misalnya, pariwisata. Di Ende, misalnya, ada danau Kelimutu (keajaiban dunia), turisme tidak lama tinggal, uang tidak banyak dikeluarkan di Ende karena kita tidak mengikat mereka (turis). Juga ada tenunan tradisional. Motifnya cukup bagus dan banyak, bernilai sejarah. Tetapi tidak asli, skala kecil dan sistem pemasarannya kurang ditata dengan baik. Potensi lainnya, pantai Ipi dan Ende dan sekitarnya belum dimanfaatkan secara baik untuk mendulang rupiah.

Apa yang harus dilakukan ke depan agar potensi pariwisata di Ende ini bisa dikembangkan!
Sanggar tetap/drama synopsis tentang Kelimutu dibuat sehingga para turis bisa tahu apa historinya (Tiwu Ata Polo, Ata Bupu, Nuwa Muri Koo Fai). Juga hidupkan pesta-pesta adat dan diaktifkan kembali seperti Joka Ju (Nggela), Wage (Wolotopo), Wake Laki, Nai Sao, Mbabho Tebo Ngawu, nikah adat, Gawi, sanggar tari dan sebagainya. Hidupkan juga wisata laut (jet sky dan lain-lain). Jadi, bukan sekadar didramakan tetapi harus sesuai Ura Laki dan lain-lain agar tidak terjadi gesekan sosial di antara masyarakat akibat menyalahi tatanan/struktur adat sebenarnya. Selain itu, pemerintah membentuk tim entrepreneur (tim ekonomi untuk menjual, memperkenalkan kepada dunia dengan kalender/skedul yang jelas, beserta visualisasinya melalui agency travel, internet, pusat informasi pariwisata nasional dan sebagainya).

Pembicaraan kita sudah mulai fokus ke Ende. Masih ada potensi lain yang perlu dikembangkan!
Di bidang kelautan. Ironisnya, kita punya laut luas, tapi makan ikan dibeli. Ikan ditangkap oleh orang yang bukan orang Ende dengan skala besar (pemasukan bukan untuk Ende). Pun, jika ada yang melaut, pakai yang tradisional (ngati, ramba, pasam wuwu) yang hasilnya sangat minim dengan pengorbanan waktu dan tenaga yang besar. Solusinya, perlu studi banding antarnegara tentang cara, peralatan, pengolahan, serta pemasaran hasil laut. Pemerintah dan perbankan supaya mensuport masyarakat pesisir untuk alih/cara usaha hidup ke sektor kelautan dengan sedikit peningkatan peralatan dan teknologi penangkapan, pengawetan/pengeringan/pengasapan, pemasaran. Selain itu, mendatangkan investor yang penangkapan dan prosesnya dilakukan oleh masyarakat kita, sementara pemasarannya ekspor ke Amerika, Hongkong dan negara lainnya. Di bidang pertanian, di beberapa tempat di Ende selatan ada pergeseran cara pandang dan pola hidup. Di mana orang mulai tidak punya kebun, orang suka merantau, instan. Buka kebun secara bersama (tatanan adat) sudah punah. Dan, orang suka seadanya di sekitar pinggir kampung (kebun-kebunan). Selain itu, jarang ada wesi wawi dan lain-lain). Ke depan disarankan untuk berorientasi pada tanaman umur panjang (jambu mente, coklat dan lain-lain) yang cocok, yang tidak perlu di- maintenance setiap saat.

Di bidang pertambangan bagaimana?
Di Ende ada potensi baru granit, batu alam dan pasir. Ke depan perlu dilakukan riset oleh lembaga/badan yang berkompeten). Selain itu, status dan tatanan adat dipastikan supaya tidak menimbulkan gesekan di tengah masyarakat. Juga dilakukan penataan sarana (jalan, amdal, pelabuhan dan lain-lain).

Aset pemda juga sebagai potensi yang harus dikembangkan. Pendapat Anda?
Ya, jika ada yang tidak difungsikan/tidur. Atau belum ada peruntukannya. Ke depan, perlu ada kerja sama dengan investor (tidak menjual dan tidak menjadi beban, tetapi mendatangkan pendapatan daerah dan penyerapan tenaga kerja, tetapi sifatnya entertainment, permainan dan hiburan keluarga dan konsep terpadu lainnya). Selain itu, kebijakan daerah juga menjadi potensi pemberdayaan. Misalnya, dinas perdagangan dan BPS membuatkan data komoditi apa yang masuk ke Ende dan sangat digandrungi/favorit masyarakat (rokok, mie, terigu dan sebagainya). Dinas Pendapatan dan LLAJ beserta Dinas PU membuat standar dan klasifikasi jalan di Ende (pusat kota dan kecamatan). Misalnya, protokol A, B, kelas ekonomi A dan B. Pemda juga mengundang distributor/agency agar dibuatkan iklan/bilboard dan lain-lain dengan pengenaan pajak sesuai kelas jalan yang ada.

Kesimpulannya?
Pertama, untuk lebih baik, manusia harus berkompetensi. Pemerintah merintis, mendukung dan memberi solusi. Perbankan harus memberi suport. Kedua, dapatkan potensi apa (alam/kebudayaan) yang dapat dikembangkan untuk mendatangkan kesejahteraan masyarakat (melahirkan sektor jasa, transportasi, penginapan dan restoran). Ketiga, kebijakan untuk membentuk tim entrepreneur (usahawan, umat, rakyat, ana kalo fai waku). Keempat, gereja, pemerintah, adat (mosalaki) bersama- sama untuk berperan aktif memberdayakan masyarakat dan alam serta kebudayaan untuk kesejahteraan masyarakat. Kelima, dengan era otonomi daerah, maka terlepas dari fungsi birokrasi/eksekutif, pimpinan daerah dapat berperan sebagai seorang DIREKTUR dan pimpinan dinas teknis harus berperan sebagai MANAJER seperti sebuah badan usaha. Sebab, hanya dengan jalan itu bersama RAKYAT kita dapat mencapai kehidupan yang lebih baik. Karenanya duet pimpinan daerah antara birokrat dengan usahawan sangat ideal untuk menjawab semua tantangan ini. *

Tak ada rencana untuk 'berpolitik' di kampung?
Ya, membangun daerah tidak harus menjadi pemimpin dan hadir secara fisik. Dan, menjadi pemimpin itu tak harus 'berkuasa'. Meski pun berada di rantauan, saya juga menjadi 'pemimpin' di sana (Ende). Wujudnya dengan menyumbang ide, pemikiran, gagasan, pencerahan, solusi, bahkan kritikan. Selain menyumbang ide, kita juga membangun lobi dengan pihak ketiga untuk membangun Ende dengan memanfaatkan potensi yang ada seperti di bidang pariwisata, pertanian, kelautan, dan sebagainya. Semua ini sebagai bentuk kepedulian untuk bergandengan tangan dengan pemerintah yang ada. Kata kuncinya, bagaimana membangun Ende dengan semangat entrepreneur, di mana pun kita berada. Ini kekuatan yang harus diberdayakan. Intinya, demi kemajuan dan rakyat, kita tidak boleh menutup diri. *



Buka Restoran Nostalgia
HIJRAH ke Jakarta tahun 1989. Setelah tamat Fakultas Hukum Universitas Flores, angkatan pertama. Motivasinya, mengikuti tes di Kejaksaan Agung. Ingin menjadi jaksa. Dalam perjalanan waktu, cita-cita ini kandas di tengah jalan.

Marsel tak putus asa. Mendesain ulang mencari arah hidup yang pasti. Yang terpenting, tuturnya, jangan sampai selalu berada di posisi sulit, membuat langkah mati gaya. Tekanan hidup di Jakarta bukan sebagai beban tetapi cermin. "Setiap beban hidup, penderitaan, atau apapun yang mendera, itu cermin, apakah kita bisa fight atau tidak," Marsel mengenang masa-masa sulitnya.

Hari-hari indah itu datang juga. Berkat keaktifannya dalam menjalin relasi sosial di gereja dan di lingkungan permukiman, Marsel mendapat banyak informasi. Terutama informasi pekerjaan. "Informasi pekerjaan yang saya tekuni sekarang ini, saya dapatkan di media paroki. Itu karena saya dulu aktif dalam kegiatan mudika di Karawaci," tutur Marsel berkaca-kaca.

Marsel tak buang-buang kesempatan. Membuat lamaran dan mengantar secepatnya ke alamat perusahaan yang membutuhkan tenaga personalia itu. Meski pihak perusahaan memberi tenggat waktu untuk mengumumkan penerimaan karyawan baru, Marsel tak peduli. Saban hari ia nongol di perusahaan itu. Tak pelak kehadirannya membuat manajer perusahaan marah. Ia pun diinterogasi. "Anda serius mau bekerja," tanya manajer perusahaan. "Saya serius," jawab Marsel. Di bidang apa? "Personalia," jawabnya lagi.

Gara-gara 'keusilannya' itu, Marsel langsung diterima bekerja. Lebih cepat dari waktu yang ditentukan perusahaan. Anugerah yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Jadilah Marsel sebagai GM Property, HRD & Legal Golden Truly hingga saat ini. Tapi Marsel tak jumawa. Ia tetap melihat ke bawah. Asal usulnya di mana, posisinya di mana. "Sukses itu bukan titik. Tetapi proses yang harus terus dikejar, digeluti. Caranya, di Jakarta ini banyak cermin. Ada cermin keuleten yang harus kita tekuni. Jadi, jangan bilang saya sukses," katanya merendah.

Ada rencana untuk pulang kampung, ke Ende? "Mungkin," katanya. Obsesinya? Membuka restoran nostalgia. Menunya, salah satunya, ubi cincang. Produk lokal. "Kalau jadi, pada hari tertentu, semua orang yang datang ke restoran saya ini harus pakai sarung. Supaya ada mata rantai ekonomi. Pun, supaya saudara-saudara saya dari kampung tidak minder. Konsep ini akan saya jual ke bank. Jadi, kita jual nostalgianya, membuat orang penasaran," pungkas Marsel. (eni)


BIODATA


* Nama : Marsel Mana, S.H
* Lahir : Ende, 6 Juni 1962
* Istri : Eni Erdalina (Kepala Unit Perawatan Bayi Rumah Sakit Puri Indah)
* Anak : Natalia Maedy (SMP Kelas 3)
Jessica Maedy (SD Kelas 5)
* Pendidikan: - SDK Wolotopo tahun 1973
- SMPK Wolotopo tahun 1976
- SMEA Negeri Ende tahun 1981
- Fakultas Hukum Universitas Flores tahun 1989
* Jabatan : - GM Property, HRD & Legal Golden Truly
- Ketua Bidang Hukum dan HKI APGAI (Asosiasi Pemasok Garmen & Accecoris Indonesia)
- Wakil Sekjen II Yayasan Bina Bangsa Unggul Jakarta
* Refleksi : - Memang baik menjadi orang penting, tetapi jauh lebih penting menjadi orang baik.
- Jangan senang melihat orang susah, dan jangan susah melihat orang senang.
- Kesombongan adalah penyakit yang mengerikan. Penyakit itu membuat setiap orang menderita kecuali orang yang memilikinya.


Pos Kupang

1 komentar:

Salam jumpa Ka'e....
Top banget... masukanya sangat kaya dengan konsep-konsep pengembangan NTT kedepan apalagi Wolotopo... pulang Kampung yok...!!!? Jadi segerah pingen nyoba Restoranya....
Harapanya... semakin banyak orang-orang yang berwawasan seperti Ka'e ini, akan lebih cepat membantu perubahan-perubahan baru untuk konsep kehidupan kedepan ini....
Maaaantaaapp....

20 September 2009 11.13  

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda