Michael Jackson

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

THE King of Pop -Michael Jackson- meninggal tepat pukul 2.26 waktu setempat, 25 Juni 2009 di Rumah Sakit Los Angeles membuatnya tutup semua chanel televisi. Alasan utamanya adalah berduka cita demi Michael. Syukur orang serumah juga berduka cita, maka jadilah rumah mereka sunyi senyap. Maklum, hari-hari terakhir ini, sejak kampanye Capres dan Cawapres, tivi hidup dari pagi sampai petang. Dia sendiri tidak sanggup meyakinkan teman- temannya untuk tutup tivi.

Lumayanlah, nonton adegan demi adegan jual diri dalam tanda petik,” komentar Rara. Tim sukses baku adu argumentasi soal keunggulan calonnya!”

Kesempatan untuk menilai mana Pres dan Wapres yang pantas dipilih!” Sambung Jaki. ”Kita tidak mau beli kucing dalam karung. Kalau kamu tidak suka nonton, ya tidur saja!”

Begitulah! Gara-gara pilpres ketiga sahabat karib itu jadi bermusuhan satu sama lain. Maklum yang satu pilih Pro Mega Pro pro rakyat, yang satu pilih lebih cepat lebih baik, yang satu lagi tidak bergeming dengan lanjutkan, lanjutkan! Mereka tiga tidak ada yang mau rendah hati mengakui kekurangan. Ketiganya hanya mau menonjolkan kehebatannya membela jagoannya. Bahkan sampai adu jotos gara-gara beda gaya beda taruhan.

Ketiganya baru bisa kembali bersahabat baik, saat Michael Jackson wafat di negeri Paman Sam. Ketiganya sepakat, daripada nonton tivi lebih baik berdiam diri merenungi kepergian Jacko. Daripada merenungi kata-kata debat dan kampanye, lebih baik merenungi setiap syair lagu Jacko.
***
Benza merasa sedih hatinya. Soalnya debat sudah mengarah ke upaya saling menjatuhkan. Debat antar para tim sukses sudah keluar dari jalur etika. Semua suara besar menyatakan diri lebih hebat dari yang lain. Tidak ada satu pun yang rendah hati menyatakan kekurangan. Saling mengklaim soal siapa yang membangun negara ini, membuatnya lebih sedih.

Karena itulah dia jadi enggan nonton tivi. Namun tidak berhasil meyakinkan teman-temannya untuk tutup tivi. Kematian Michael Jacksonlah yang membuat tivi mati.

”Syukurlah, kalian mengerti perasaanku,” kata Benza dalam hati. Menurutnya Mickael jauh lebih menggetarkan hatinya dari pada pilres. Michael jauh lebih membuatnya menjadi seseorang yang berubah. Meskipun jarak antar dirinya dengan Sang Bintang itu sangat jauh dalam batas samudra raya, tetapi suara-suara syair dan musiknya terasa sangat dekat dan melekat di hati.

Dia ingat persis ”I Want You Back” yang melekat dalam kalbu. Kata-katanya menyentuh, sangat berbeda dengan sejuta kata dalam kampanye. Makna setiap metafora kata-kata syair yang menguasai dunia, menghapus batas, jauh lebih membangkitkan daripada debat capres yang membuat sekat antar saudara semakin tinggi sebab beda pilihan dan beda kepentingan.

”Kita terbang ke Amrik! Hadir pemakamannya,” Rara yang biasanya malas tahu, tiba-tiba saja menangis tersedu-sedan. ”Dia adalah sahabat hatiku seumur hidup. Lagu Black and White melekat di hatiku si hitam keriting ini. Aku miskin, aku hitam, aku dinomorduakan, tetapi Black and White telah membuat hatiku jadi luas, seluas samudra. Jadi jadi lebih tahu apa artinya saling menghargai satu sama lain. Apa maknanya membangun relasi antar suku, agama, ras antar saudara keluarga bangsa negara. Ayo, kita ke Amrik untuk Michael...”

Mau ambil duit dari mana?” Jaki menyambung sambil menangis pula. ”Benza, tolong bantu kami cari uang tiket ke sana demi Jacko. Minta tolonglah kepada tim penjaga dana Silpa untuk beri kami tiket. Daripada uang bermilyard-miliyard disimpan saja, bukankah lebih baik memberi kami sekian juta saja untuk Jacko?”
***
”Aku juga Benza!” Nona Mia bergabung sambil terisak-isak pula. Aku mau bertemu Jacho malam ini juga. Aku mau melayat. Bantulah aku tiket ke sana!” Demikianlah Nona Mia menangis. Kutinggalkan Mega Pro, JK Wiranto, dan SYB Budiono demi Jacko.”

Aku kan berusaha sedapat mungkin untuk menolong kalian bertiga. Kita berempat akan berangkat bersama-sama!” Benza berusaha menghibur. ”Tunggu ya!”

”Demi Jacko! Lebih cepat lebih baik,” sambung Rara.
”Demi Jacko! Carilah demi demi aku, pro aku, pro rakyat kecil seperti aku,” kata Nona Mia.
Demi Jacko!Lanjutkan! Lanjutkan, Benza!”

***
Ketiganya benar-benar berangkat ke Amrik demi Jacko, dengan menggunakan dana silpa, dana purna bakti, dan dana cincin emas. (*)


Pos Kupang Minggu 28 Juni 2009, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda