ISTIMEWA
Nuraini HS Wahid bersama kedua anaknya


MENDIDIK dengan hati dan selalu terbuka dengan anak adalah salah satu cara Nurainih HS Wahid membesarkan anak-anaknya. Alumni program Magister Manajemen Universitas Widya Gama Malang tahun 2007 ini, meski tidak menikah, namun ia memilih untuk membesarkan dua anak dari adiknya.

Alhasil, upaya dan kerja keras serta kerendahan hatinya sebagai seorang ibu, ia berhasil membesarkan kedua anaknya, yakni Andini Rizky, kelahiran Kupang, 13 Desember 1989, saat ini duduk di bangku smester IV, Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang dan Aida, kelahiran Kupang, 9 Nopember 1987, saat sudah mendaftar di Universitas PGRI NTT.

Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Jumat (24/7/2009), Nuranini yang saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTS) Negeri Kupang ini, mengatakan, sebagai ibu yang tidak menikah dan memilih membesarkan anak dari adiknya, itu tidak membuatnya repot. Segala sesuatu dilakukannya dengan penuh syukur dan tawakal kepada Tuhan.

Dikisahkannya, ia adalah putri sulung dari empat bersaudara. Ayahnya meninggal saat dirinya masih di kelas III SMP. Melihat, ibunya harus bekerja seorang diri untuk membesarkan ketiga adiknya, Nurainih berusaha untuk membantu mamanya. Dan saat di SMA dia sudah bekerja sebagai karyawati di Hotel Carvita Kupang yang sat itu baru berdiri. Setelah menamatkan SMA, ia mengikuti seleksi dalam penelusuran minat dan kemampuan (PMDK) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang dan lulus.

Ia memilih jurusan FKIP Biologi jenjang D3. Walau kuliah, ia tetap bekerja dan akhirnya ia pindah ke salah satu perusahaan pabrik pengolahan cendana di Kupang. Menyelesaikan kuliahnya di Undana tahun 1993, ia mengikuti seleksi penerimaan guru di kantor Departemen Agama Propinsi NTT dan diterima.

Selanjutnya, diaa diangkat pada tahun 1994 dan langsung ditempatkan di MTs Negeri Kupang. Ia bersyukur karena kerja kerasnya membuahkan hasil, dan ia bisa membantu mamanya menyekolahkan ketiga adiknya.

Saat ini, semua adiknya sudah bekerja. Tahun 1995, ia melanjutkan pendidikannya ke jenjang S1 di Undana dan selesai tahun 1997. Ia juga aktif di berbagai organisasi sosial sejak SMA. Di SMA ia sudah aktif di Pramuka, remaja masjid dan tafayat. Sat ini ia aktif sebagai Ketua Majelis Taklim Kota Kupang, Koordinator P2KP BKM Trikora, Airmata Kupang. Selanjutnya, pada tahun 2005, ia dan kawan-kawannya mengikuti program S2 Widyagama Malang.

Dalam berbagai kesibukan, ia tetap berusaha untuk membagi waktu dengan kedua anak yang sudah dibesarkannya sejak kecil. Menurutnya, anak-anak inilah yang menjadi hiburan tersendiri baginya. Untuk itu, dalam mendidik dan membesarkan kedua anak angkatnya, ia tidak pernah melakukannya dengan emosional.

Menurutnya, mendidik anak harus dilakukan dengan senang hati. Jika ada yang salah selalu duduk bersama untuk berkomunikasi. Ia tidak pernah memarahi kedua anaknya secara bersamaan. Jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan yang dilakukan kedua anaknya, dia akan memanggil mereka dan berbicara di kamar.

Itu pun dilakukan sendiri-sendiri. Menurutnya, cara ini dilakukan agar anak-anak tidak dididik dengan kasar.
Ketika memasuki masa remaja, memang ada sedikit kewaspadaan yang dialaminya terhadap perkembangan kedua anaknya, namun ia selalu berbicara terbuka kepada anak-anak. "Ketika saya tahu kalau diantara mereka sudah ada yang punya pacar, saya panggil mereka dan minta mereka mendatangkan pacarnya. Di sinilah salah bisa berbicara terbuka dengan anak dan pacarnya. Saya katakan, pacaran silahkan saja, jemput ini itu untuk mengikuti kegiatan, silahkan. Tetapi, selalu saling menjaga.

Atas kepercayaan yang saya berikan, puji Tuhan sampai saat ini masih baik-baik saja," kata Nuraini.
Dikatakannya, memberikan kebebasan kepada anak- anaknya bukan berarti bebas sebebas-bebasnya. Dia selalu berusaha memberikan arahan dan pengertian kepada anaknya. Sehingga, sampai saat ini kedua anaknya walau bukan anak kandung sangat menghormati dan menyayanginya.

Soal keuangan, katanya, ia tidak pernah memanjakan kedua anaknya dengan uang, tetapi ketika ia gajian selalu memanfaatkan kesempatan untuk jalan-jalan ke toko atau mall. Selain itu, katanya, untuk membiasakan anaknya mandiri dengan membagi mereka tugas di rumah. Pekerjaan seperti mencuci, mengepel dan menyeterika atau memasak, dibagikan.

Jika si kakak sudah mengepel, maka sang adiklah yang memasak atau mencuci. Dikatakannya, hal ini dilakukan agar anak belajar bertanggung jawab dan mandiri saat sudah dewasa. (nia)


Jika si Kecil Kembung

KEMBUNG terjadi karena penumpukan gas di dalam perut. Akibatnya, perut membuncit, timbul rasa tak nyaman, bahkan rasa sakit di perut dan dada lantaran angin berlebih yang awalnya menumpuk di lambung akan bergerak ke dada dan ulu hati.

Penyebab kembung ada banyak, dari makanan, minuman, penyakit maag, masuk angin, dan lain-lain. Anak biasanya akan rewel, menangis keras, tidak dapat tidur, dan gelisah. Untuk mengetahui apakah benar si kecil mengalami kembung, Anda bisa mengetukkan dua jari secara perlahan dan lembut pada dinding perut anak. Dengarkanlah suaranya, jika nyaring dapat dipastikan perut anak kembung.


Penanganan:
1. Minta anak duduk, atau baringkan dia dalam posisi telungkup. Usap-usap atau tepuklah punggungnya agar mudah bersendawa, tanda gas yang ada di lambungnya keluar.
2. Beri pijatan pada tubuhnya, terutama di daerah perut, punggung, dan dada. Beberapa tepukan di bagian punggung juga sangat bermanfaat.
3. Balurkan penghangat di daerah perut, dada, dan punggung. Lakukan pijatan lembut.
4. Beri minuman hangat. Selain menghangatkan perut, minuman itu juga dapat memancing anak untuk sendawa atau kentut.
5. Minta anak makan secara perlahan. Makan terburu-buru akan memperbanyak jumlah gas yang tertelan bersama makanan.
6. Batasi minum melalui sedotan, atau dari botol yang mulutnya kecil.
7. Atur makanan yang masuk ke dalam tubuh. Jangan makan terlalu banyak karena akan memicu kembung.
8. Hindari makanan bergas seperti es susu, makanan pedas, es krim, soft drink, kacang-kacangan seperti kacang polong, buncis, dan lain-lain. Hindari juga memberikan aneka produk susu bagi anak yang mengalami intoleransi laktosa. Makanan lain yang perlu dipantang ialah makanan berserat, makanan berlemak, dan gorengan.
9. Selesai makan, minta anak untuk tidak banyak bergerak atau berbaring karena akan memperparah kondisi perut kembung.
10. Jika diperlukan, beri obat antikembung untuk membantu anak bersendawa atau kentut. Konsultasikan dulu dengan dokter si kecil.
11. Bawa ke dokter jika kembung disertai dengan kesulitan buang air besar, tidak bisa buang angin, mual, muntah, dan demam.(kompas.com)

Pos Kupang Minggu 26 Juli 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda