Pater. Dr. Wilhelmus Djulei Conterius, SVD


POS KUPANG/
Aris Ninu
Pater. Dr. Wilhelmus
Djulei Conterius, SVD


Ziarah Menuju Perak Imamat
(Juni 1984 - 5 Juni 2009)

ZIARAH menuju perak imamat merupakan sebuah ziarah berhikmah dan berahmat bagi Pater. Dr. Wilhelmus Djulei Conterius, SVD. Kendati demikian harus diakui bahwa ziarah ini tidak selalu berjalan mulus. Karena tanpa disadari, ziarah mulia itu berpapasan dengan dan menghadapi berbagai macam peristiwa, baik yang menyenangkan, melicinkan dan memuluskan, maupun yang tidak menyenangkan dan menghalang-halangi.

Lebih jauh, ziarah mulia itu mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus mengalami saat pasang dan surut, saat menggembirakan dan mengecewakan, saat membahagiakan dan mencemaskan. Ziarah mulia itu harus melewati jalan yang penuh dengan onak dan duri, penuh dengan kendala dan ganjalan, sarat dengan tantangan dan tuntutan, sehingga menantang Pater Wilhelm untuk bertahan, tabah, berani mengambil risiko dan berkorban demi untuk mengatasi dan mengalahkan semuanya itu, sehingga akhirnya perak imamat ini dapat dicapai oleh Rektor Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere ini.

Berikut Pater Wilhelm tunjukkan, perlihatkan dan sekaligus sajikan beberapa butir penting dan berharga yang berdaya mendorong, menggerakkan dan membimbingnya dalam ziarah menelusuri dan menggeluti hidup imamat hingga mencapai usia perak ini.

Bagaimana perjalanan cita-cita dan karya Anda hingga memasuki perak imamat?
Saya menamatkan pendidikan dasar di SDK Sikka tahun 1968, saya melanjutkan pendidikan di SMP Seminari Yohanes XXIII Lela, Maumere (1969-1971) dan SMA Seminari Kisol. Ruteng (1972-1975). Masuk Novisiat Serikat Sabda Allah (SVD) di Ledalero (1976-1977) dan studi Filsafat-Teologi di STFTK (waktu itu belum STFK) juga di Ledalero (1977-1983). Karena saya dibenum untuk studi lanjut, maka sesudah ditahbiskan menjadi imam, tepatnya pada tahun 1985, saya dikirim untuk studi pada Philosophisch-Teologische Hochschule SVD di Sankt Augustin, Jerman, dengan spesialisasi misiologi (ilmu tentang karya misi gereja) dan meraih gelar lizentiat (S2) pada Maret 1989 dengan tesis berjudul Die sozialoekonomische Entwicklungsarbeit der Kirche im Sikkagebiet: Regierung, Kirche und Bevoelkerung als Partner.

Pada tahun 1995-1999 saya melanjutkan studi doktoral pada perguruan tinggi yang sama di Jerman dan meraih gelar Doktor (S3) pada tanggal 21 Mei 1999 dengan disertasi berjudul: Die kirchliche Entwicklungsarbeit im Erzbistum Ende-Indonesien: Studie zu einer kirclichen Entwicklungsarbeit im Lichte der Katholischen Soziallehre und im Verhaeltnis zur Mission.

Bagaimana dengan karya?
Ada banyak karya penting yang saya emban dan tangani mulai dari Tahun Orientasi Pastoral (TOP) sampai dengan mencapai perak imamat ini. Pada tahun 1981 saya menjalankan tahun orientasi pastoral (TOP) di Seminari Menengah St. Yudas Thadeus, Langgur, Maluku Tenggara.

Di seminari menengah ini saya mengajar mata pelajaran sejarah dan Bahasa Latin, dan menjadi pembimbing para siswa seminari. Mulai akhir Desember 1983 sampai dengan April 1984, saya menjalankan praktek diakonat di Paroki Ndora, Nagekeo. Pada masa praktek diakonat ini saya dibimbing oleh Pastor Paroki, P. Wilhelm Riedel SVD, untuk melaksanakan karya pastoral parokial. Selama di sana saya mengunjungi beberapa stasi dan lingkungan, memberikan pembinaan dan memimpin ibadat pada hari Minggu di kapela-kapela dan pada kesempatan-kesempatan khusus.

Setelah ditahbiskan menjadi imam di Sikka pada tanggal 5 Juni 1984, saya dipercayakan menjadi pastor pembantu di Paroki Wangkung, Ruteng, mulai dari bulan Agustus 1984 sampai dengan bulan April 1985. Selama berada di sana saya menjalankan karya pastoral, yaitu mengunjungi dan memberikan pembinaan yang selalu ditutup dengan perayaan ekaristi bersama di semua stasi dan lingkungan.

Selain itu, sejak bulan Agustus 1984 sampai dengan April 1985 saya juga diberi kepercayaan untuk mengasuh beberapa mata pelajaran di SMP St. Klaus, Kuwu, dekat Wangkung, yang didirikan pada tahun 1984 oleh Pater Ernst Wasser SVD, Pastor Paroki Wangkung. Kemudian saya dipercayakan untuk menjadi pastor pembantu di Paroki St. Yoseph, Roehampton, London (Selatan), Inggris, mulai dari bulan Oktober 1989 sampai dengan bulan Mei 1990. Selama di Roehamptom, saya mengunjungi banyak sekali keluarga Katolik, baik yang lansia dan gelandangan maupun yang memiliki banyak masalah.

Saya juga berkesempatan mengunjungi mereka yang sudah menjauhkan diri dari gereja dan Tuhan. Kunjungan yang disertai dengan pembicaraan dari hati ke hati membuahkan cukup banyak hasil, antara lain: banyak dari antara mereka akhirnya sadar dan mulai secara perlahan-lahan tapi pasti kembali ke Gereja.

Setelah menyelesaikan studi tahap pertama dengan menyandang gelar lizentiat (S2) dalam bidang misiologi, saya kembali ke Ledalero dan dipercayakan untuk mengasuh mata kuliah misi menurut: Ad Gentes, Evangelii Nuntiandi dan Redemptoris Missio, "Misi dan Pembebasan", "Teologi Agama-Agama" dan "Spiritualitas Misioner" mulai dari tahun 1991 sampai dengan tahun 1994. Selama lebih dari empat tahun bertugas di Ledalero, saya juga dipercayakan untuk menjadi pembimbing akademik mahasiswa STFTK Ledalero dan prefek para frater Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero.

Selanjutnya saya dipercayakan oleh Serikat Sabda Allah menangani Pusat Penelitian (PUSLIT) Agama dan Kebudayaan Candraditya yang ada di Ledalero, tahun 1991 sampai awal 1995. Selama menangani Candraditya, kami berhasil menerbitkan empat Seri Buku Pustaka Misionalia Candraditya dan menyelenggarakan sebuah seminar dengan tema Menggali Tradisi Lisan di Ledalero pada tanggal 20-24 Januari 1992. Saya menjadi dosen tamu di IPPI Dili, Filial IPPI Malang, pada bulan April 1993. Selama delapan hari saya memberi kuliah gabungan tentang "Misi dan Pewartaan" di sana.

Setelah menyelesaikan studi tahap kedua dengan menyandang gelar Doktor dalam bidang Misiologi, saya kembali ke Ledalero dan dipercayakan untuk mengasuh mata kuliah Misiologi, Sejarah Gereja, Antropologi Misioner, Eklesiologi Misioner dan Teologi Misi pada STFK Ledalero sejak tahun 2000 sampai dengan sekarang. Selama mengasuh beberapa mata kuliah tersebut, saya dipercayakan oleh STFK menjadi pembimbing akademik mahasiswa STFK Ledalero, Pembantu Ketua I (Puket I) STFK Ledalero dari tahun 2001 s/d 2003, Direktur Program Studi Pascasarjana STFK Ledalero dari tahun 2002-2005, Wakil Ketua STFK Ledalero dari tahun 2003 sampai dengan 2005. Saya juga dipercayakan oleh Serikat Sabda Allah (SVD) untuk menjabat sebagai Wakil Rektor Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero dari tahun 2002 s/d 2005.

Pada tanggal 19 September 2005 saya dipilih dan dilantik menjadi Rektor Universitas Nusa Nipa.

Adakah pengalaman yang menggembirakan? Misalnya sebagai imam muda?
Sebagai imam muda saya menjadi pastor pembantu di Paroki Wangkung, Ruteng. Saya tinggal bersama siswa/i SMP St. Klaus di Kuwu, sekitar 2 km dari Wangkung. Ada banyak pengalaman yang manis bersama para siswa/i di SMP St. Klaus Kuwu dan umat di Paroki Wangkung. Para siswa/i SMP St. Klaus pada umumnya bersifat polos, jujur, penuh semangat dan rajin belajar.

Umat yang saya kunjungi sungguh menyenangkan karena mereka bersikap terbuka, apa adanya dan siap untuk menerima pelayanan Sakramen dan bimbingan rohani. Situasi seperti ini membuat saya sebagai seorang Imam muda merasa senang dan gembira melaksanakan tugas-tugas yang diletakkan di atas pundak saya.

Bagaimana pengalaman sebagai imam dan mahasiswa di Sankt Augstin (Jerman), London (Inggris) dan Maynooth (Irlandia)?
Masa studi lanjut di luar negeri merupakan suatu masa yang indah, berharga dan kaya makna, berwawasan baru dan bermutu. Ini benar, karena selain menggeluti dan menimbah ilmu khusus dan baru, saya juga dapat mempelajari, mengetahui, mengalami adat kebiasaan dan cara hidup mereka. Saya bersyukur kepada Tuhan, karena selama berada di tanah orang, saya tidak mengalami kesulitan yang berarti untuk beradaptasi, menyesuaikan diri, bergaul dan mengadakan hubungan persahabatan dengan mereka.

Anda juga menjadi prefek di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero...
Tugas sebagai prefek para frater juga sungguh menarik dan menyenangkan. Mengapa? Karena dalam melaksanakan tugas sebagai prefek, saya dengan sadar dan tanggung jawab berkewajiban untuk membimbing, mengarahkan dan meneguhkan para frater, para calon imam di jalan menelusuri dan mengembangkan panggilannnya ke arah yang semakin lama semakin dewasa dan mantap. Memang tugas ini tidak mudah, karena kita membimbing sama saudara muda, yang memiliki watak dan perangai yang beraneka dan bervariasi. Ada yang jujur dan beradab, ada yang munafik dan kurang beradab. Berhadapan dengan sama saudara muda seperti ini, saya harus bersikap sabar, penuh pengertian, memiliki wawasan luas dan bijaksana, sehingga pelayanan, arahan dan bimbingan yang diberikan tepat sasar, berdaya guna, bisa mengarahkan dan menjawabi harapan, keinginan dan kebutuhan mereka.

Sebagai Pastor Pembantu di Paroki St. Joseph Roehampton, London
Selama membantu beberapa bulan di paroki ini, saya diminta secara khusus oleh pastor paroki untuk mendata ulang semua keluarga Katolik yang berdomisili di paroki ini. Kesempatan ini sangat bermanfaat dan menarik, karena saya dapat mengunjungi dan mengenal semua keluarga Katolik dengan segala macam latar belakang dan asal usul yang berbeda, yaitu orang Inggris (terbanyak), orang Skotlandia, Irlandia, Italia, Belanda, Eropa Timur, Amerika, Asia dan Afrika. Keluarga Katolik dari Eropa Timur umumnya terdiri dari para mantan tentara Nazi Jerman yang melarikan diri ke London setelah Nazi kalah dalam Perang Dunia II.

Mereka sangat tertutup, sehingga sukar untuk didekati. Saya pernah mengalami ditolak oleh satu dua keluarga mantan tentara Nazi Jerman itu. Tetapi karena saya bertahan dan tetap berdiri di depan pintu rumah mereka, akhirnya saya diterima dan diizinkan masuk. Mereka bersedia membagikan pengalaman masa lalu mereka masing-masing, meski pada awalnya agak tersendat-sendat. Mereka sangat jujur menceritakan tentang nasib dan pengalaman mereka yang sangat tragis dan menyedihkan, sehingga saya akhirnya tergerak untuk mengarahkan dan membimbing mereka ke jalan yang benar. Salah seorang dari mereka pernah mengeluh demikian: "Kalau Tuhan itu betul ada, mengapa DIA membiarkan Perang Dunia II dengan segala kebiadabannya itu terjadi?"

Anda juga sebagai pemimpin...
Pengalaman yang paling menarik dan menyenangkan pada saat menjabat sebagai Pembantu Ketua I (Puket I) STFK Ledalero, Wakil Rektor Seminari Tinggi Ledalero, Direktur Program Studi Pascasarjana STFK Ledalero dan sebagai Rektor UNIPA Maumere, yaitu memimpin dan membimbing, melayani, mengabdi dan berkorban untuk kebaikan sesama. Sesama itu adalah sama saudara se-Serikat (SVD), rekan-rekan imam, para frater, para mahasiswa/i dan umat yang sempat saya layani. Dalam melaksanakan tugas sebagai seorang pemimpin saya bersemboyan: "Lebih dahulu ingat orang lain daripada ingat diri diri sendiri." Semboyan ini adalah suatu kebajikan dan sebuah tekad yang harus dilaksanakan dan dikembangkan secara terus menerus.

Sekitar pertengahan tahun 2005 selama kurang lebih 2 bulan, pada waktu menjabat sebagai Wakil Rektor Seminari Tinggi Ledalero dan Wakil Ketua STFK Ledalero, saya menjalankan peran ganda yaitu sebagai Pjs. Ketua STFK dan acting rector, karena waktu itu rektor sedang berada di Australia untuk mengurus penerbitan disertasi doktoralnya dan Ketua STFK sedang mengikuti sebuah kursus di Nemi, Roma. Saya merasa sangat gembira, karena pada waktu dan kesempatan yang sama saya dapat melaksanakan peran ganda itu dengan baik dan bijaksana. Ini dapat terwujud, karena pertama, saya mendapat berkat, rahmat dan bimbingan dari Tuhan, dan kedua, saya berpijak di atas landasan dari kebijakan berikut ini: "Pemimpin sejati mesti punya sikap mental seorang pelayan, mesti punya motivasi seorang abdi".

Bagaimana dengan pengalaman yang mengecewakan sekaligus mencemaskan saat sebagai dosen, pembimbing akademik dan prefek?
Dalam menjalankan tugas sebagai dosen, pembimbing akademik dan prefek, saya menghadapi dan mengalami beberapa hal yang mengecewakan, karena ada mahasiswa dan frater yang kurang tahu etiket, lemah dalam hal disiplin, malas, munafik, masa bodoh dan acuh tak acuh. Ada pula mahasiswa dan frater yang merasa diri sudah mengetahui semua hal.

Akibatnya mereka lalu enggan menerima arahan dan usul-saran, bantuan dan uluran tangan dari samasaudara yang lebih tua dan lebih berkompeten. Pengalaman kurang menyenangkan selama bekerja sebagai Pastor Pembantu di London ialah saya pernah ditolak dan diusir oleh keluarga yang hendak saya kunjungi biarpun saya sudah memperkenalkan diri sebagai seorang pastor. Saya pun pernah ditipu oleh seorang gelandangan dan dimarahi oleh seorang Ibu lewat telepon karena merasa malu dan tersinggung dengan apa yang saya sampaikan kepadanya untuk membayar besarnya uang intensi misa sesuai dengan yang sudah disepakati dan sudah berlaku di Paroki St. Joseph, Roehampton. Saya merasa agak aneh dan merupakan suatu kekecualian. Karena menurut apa yang saya alamami selama bergaul dengan orang Barat, sebenarnya mereka itu tidak simpan marah dan tidak cepat tersinggung.

Apa yang tidak menyenangkan saat menjadi pemimpin?
Dalam menjalankan tugas sebagai Wakil Rektor Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, sebagai Puket I, Direktur Pascasarjana dan Wakil Ketua STFK Ledalero dan Rektor Universitas Nusa Nipa (UNIPA) Maumere, saya mengalami banyak hal yang mengecewakan dan menyakitkan hati. Perlu diakui, bahwa ada begitu banyak mahasiswa dan frater yang baik budinya, disiplin, taat, setia dan rajin.Tetapi sayang, ada pula yang berlaku kurang ajar dan biadab, tidak merasa bersalah, tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dan memprotes sanksi yang telah dijatuhkan ke atas mereka. Mereka lalu mulai berasionalisasi dan membelah diri.

Mereka melakukan unjuk rasa dan demonstrasi menentang kebijakan dan sanksi yang telah dijatuhkan ke atas mereka sambil memfitna dan berlaku kurang ajar terhadap pimpinan. Sanksi-sanksi itu berupa skors yang berlaku selama 1 tahun atau 6 bulan atau 3 bulan sesuai dengan berat ringannya kesalahan yang dibuat. Mereka tidak diperkenankan mengikuti kegiatan akademik selama masa skors. Hal yang terakhir itu cukup banyak terkena pada mahasiswa/i Universitas Nusa Nipa (UNIPA) Maumere, teristimewa tahun 2009 ini.

Bagaimana sebagai samasaudara dalam Serikat Sabda Allah?
Dalam hidup bersama di komunitas kadang-kadang saya mengalami saat pasang dan surut serta menyakitkan, karena tidak dimengerti, tidak disenangi, dihalang-halangi, kemampuan diragukan, ingin didepak dan dibohongi oleh Samasaudara. Bagaimana caranya menghadapi dan bisa mengatasi situasi demikian? Untuk dapat mengahadapi dan serentak dapat mengatasi siatuasi itu, saya dituntut dan menuntut diri untuk bersikap sabar dan rendah hati. Saya pun harus bertanggung jawab, memiliki kesadaran tinggi dan cukup bijaksana, sehingga akhirnya saya dapat menghadapi semuanya itu dengan kepala dingin dan dengan bijaksana dapat mengatasinya.

Apa rencana dan harapan ke depan?
Setelah perayaan syukur 25 Tahun Imamat, Perak Imamat, saya berjanji dengan bantuan Tuhan untuk tetap setia menjalankan panggilan hidup saya sebagai seorang Imam, Biarawan dan Misionaris dalam Serikat Sabda Allah (SVD). Meningkatkan dan terus menghayati sifat sabar, rendah hati, rela memaafkan, berbelaskasihan dan membantu sesama yang menderita, bersedia mendengarkan keluhan, membimbing dan mengarahkan orang muda ke jalan yang benar, dan membantu sesama yang berkekurangan.

Mempertahankan dan berpegang pada prinsip dan moral yang baik dan benar, tegas dalam kata dan pendidiran, tetapi luwes dan bijaksana dalam pelaksanaan. Selain itu, merangkul dan mempersatukan yang tercerai-berai, mendamaikan yang berselisih paham dan bermusuhan. Dan, tetap tekun dalam doa sambil menyerahkan diri secara total kepada Tuhan, sehingga dengan itu saya akan dapat bertahan dan luput dari segala macam godaan, dijauhkan dari pikiran yang bukan-bukan, dapat mengatasi semua masalah berat yang sedang dan akan dihadapi. Serta, mengabdi dan melayani sesama dengan baik, bertekad melaksanakan tugas-tugas yang diletakkan di atas pundak dengan tekun dan sabar, dengan kesadaran dan dedikasi yang tinggi serta tanggung jawab yang penuh.

Apa kesan Anda tentang Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero?
Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero adalah sebuah seminari tinggi terbesar di dunia, karena jumlah calon imam Serikat Sabda Allah yang dididik di seminari tinggi ini jauh lebih banyak kalau dibandingkan dengan seminari-seminari tinggi lain di Indonesia pada khususnya dan di dunia pada umumnya. Oleh karena itu, tugas penting yang harus dilaksanakan ialah: Mengembangkan seminari ini menjadi sebuah seminari yang berkualitas dan sebuah komunitas yang sejati, teristimewa dalam semangat misioner, hidup doa, rela berkorban dan siap melayani siapa saja tanpa pamrih. Menjaga dan mengembangkan persatuan, kesatuan dan persaudaraan yang baik dan kokoh dalam hidup komunitas, yang terdiri dari para sama saudara dan sesama yang lain di luar komunitas.

Apa kesan dan pesan untuk para formator (Prefek)?
Tugas dan pelayanan sebagai seorang formator atau prefek adalah tugas yang berat, tetapi mulia. Karena itu tugas ini hendaknya dilaksanakan dengan hati yang tulus, dengan tanggung jawab dan kesadaran yang tinggi, dengan sabar dan tegas, tetapi bijaksana dalam memutuskan sesuatu. Satu aspek yang tidak kalah pentingnya atau mungkin yang paling penting ialah senantiasa menyerahkan diri secara total di bawah berkat dan lindungan Tuhan, serentak meminta bimbingan, kekuatan dan penerangan dari Roh Kudus.

Bagaimana kesan untuk teman seangkatan?
Untuk teman se-angkatan yang ditahbiskan menjadi Imam pada tahun 1984, diminta dengan sangat untuk menghayati dan mengembangkan semangat persaudaraan, kerja sama dan kekompakan antara kita, tekun dalam doa dan karya serta saling mendoakan, agar dijauhkan dari segala macam godaan dan mara bahaya yang mengancam jiwa dan badan.

Bagaimana dengan UNIPA Maumere?
UNIPA adalah sebuah universitas baru yang memiliki prospek masa depan yang cukup cerah. Oleh sebab itu, seluruh komponen yang ada di dalamnya, yaitu seluruh Sivitas Akademika, baik itu mahasiswa/i dan karyawan/ti maupun para pegawai dan dosen, diharapkan untuk setia, rela berkorban, bersedia menanamkan dalam dirinya kesadaran dan komitmen yang tulus, serentak meluangkan waktu dan tenaga untuk mengembangkan UNIPA ke arah yang semakin lama semakin baik. Seluruh sivitas akademika hendaknya menciptakan suasana yang aman dan kondusif di kampus UNIPA, menghayati kerja sama yang erat, persaudaraan dan kekompakan dalam semua hal, sehingga segala sesuatu yang tidak terpuji, tidak berdisiplin, tidak bermoral dan tidak beretika pada akhirnya dapat ditangani dan diatasi secara bersama pula.

Apa kesan Anda dengan ziarah imamat perak?
Ziarah mulia menuju perak imamat dengan beraneka pasang dan surutnya, dengan onak dan durinya, telah berhasil dilewati dan sekarang telah tiba dengan selamat. Saya yakin, pada awal ziarah mulia itu Tuhan sendiri telah memainkan peranan penting dan berkenan menjiwainya lewat sabdaNya berikut ini: "Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia" (Yoh 16,33). Adalah benar, Sabda Tuhan itu telah menjadi pedoman dan obor penyuluh jalan dalam ziarah mulia itu.

Sabda Tuhan itu telah menguatkan dan memberanikan saya, sehingga saya tegap berlangkah maju, meskipun harus mengalami situasi pasang dan surut, meskipun harus melewati jalan yang penuh dengan onak dan duri. Tak pelak lagi, Tuhan telah menguatkan hati saya, sehingga berkat kekuatan yang dahsyat itu, saya pun telah berhasil mengalahkan dunia, yaitu mengalahkan kejahatan, ketidakadilan dan kemunafikan. Saya pun telah berhasil mengatasi segala macam godaan, tantangan dan masalah. Saya pun telah berhasil mendamaikan yang bermusuhan dan berselisih paham, merangkul dan mempersatukan yang tercerai berai. Karena itu pada akhir ziarah mulia menuju perak imamat ini saya patut mengangkat syukur berlimpah ke hadirat Tuhan, sambil bermadah: "Syukur bagiMu Tuhan, karena Engkau aku tabah, karena Engkau aku menang".(aris ninu)

Data Diri

Nama : P. Dr. Wilhelm Djulei Conterius, SVD (Nama Kecil Wilhelm)
Tempat/Tanggal Lahir : Lela-Maumere -Flores, 9 Januari 1956
Alamat Sekarang : STFK Ledalero, Maumere 86152
Kegemaran : Membaca, Olahraga dan Menikmati Musik
Tanda Penghargaan : PIAGAM (BP-7) PUSAT
Jabatan Karya : Rektor Unipa


Pos Kupang Minggu 5 Juli 2009, halaman 03

1 komentar:

Aku kenal pater Willem, waktu aku masih smp...he...he. Beliau juga sering kunjung keluargaku ( Bpk. Niko Moa). ...Kapan kami dapat coklatx lagi pater n kapan kunjung p. Waser, SVD di Longko Manggarai..? N jangan lupa ke sekolah kami di...W..e..r..a..n..g. Proficiat..pater Wilem.
Yosefinea Moa,(youseefinea_christ@yahoo.com) mahasiswa S2, Undiksha, Singaraja Bali. (Boleh dapat almat emailnya?)thx

7 Januari 2010 22.40  

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda