Pater Philipus Tule, SVD



POS KUPANG/ARIS NINU Pater Philipus Tule, SVD


Bangun Kerukunan di NTT Berbasis Rumah (Ziarah Imamat dan Komitmen Antropolog Philipus Tule, SVD Selama 25 Tahun)

PERJALANAN imamat Pater Philipus Tule, SVD diwarnai dengan berbagai karya nyata untuk sesama umat manusia. Sebagai anak manusia, Pater Philipus telah menjawab panggilan Tuhan untuk menjadi seorang imam. Namun siapa sangka pria ini pernah bercita-cita menjadi seorang anggota TNI?

Sosok sang kakak yang menjadi anggota TNI AD yang bertugas di Kostrad menjadi inspirasi sosok Philipus muda untuk mengikuti jejang sang kakak. Namun di tengah-tengah harapan itu, ia harus memilih mengikuti panggilan Yang Kuasa.
Untuk mengenang perjalanan dan cita-cita Pater Philipus Tule, SVD, berikut petikan perbincangan dengan Pos Kupang.
Bagaimana masa kecil Anda, sehingga kini Anda menjadi seorang imam? Saya dilahirkan dalam sebuah keluarga petani, sebagai seorang anak bungsu dari ke-6 anak. Ayah saya Wilhelmus Beke dan ibu saya Maria Muwa sering mengisahkan bahwa saudara sulungku bernama Tule telah meninggal semasa bayi dan belum sempat dibaptis. Saudariku yang kedua (alm Maria Bhoko) meninggal pada tahun 1961, di saat aku berada di kelas satu SDK Niodede dan saudariku yang ke-5 (Martha Sabha) meninggal 25 Januari 1985, beberapa bulan setelah saya ditahbiskan jadi imam. Sebagai putera bungsu yang dilahirkan pada saat ibu saya menderita sejenis penyakit yang akut, saya sangat dimanjakan oleh semua kakak. Pada masa kanak-kanak, saya senantiasa menyaksikan betapa ayah dan ibuku bekerja keras sebagai petani untuk menghidupi anak-anak serta mengongkosi kakak saya Archilaus Sabu yang belajar di Sekolah Guru Bawah (SGB) di Atambua (1957-1960) dan dilanjutkan di Sekolah Guru Atas (SGA) di Kota Kupang (1961). Sebelum memasuki usia sekolah, saya sering bermimpi bahwa kakak saya Archilaus akan menjadi seorang guru dan pendidik. Tapi pada akhir tahun 1958, kesulitan keuangan telah mengalihkan minatnya menjadi seorang Tentara Nasional Indonesia (TNI). Apakah Anda juga tertarik menjadi seorang prajurit TNI? Ya. Saya sering bercita-cita menjadi seorang serdadu seperti dia. Cita-cita itu diperteguh ketika menyaksikan kakak berlibur untuk pertama kalinya pada tahun 1966 dengan pakaian seragam TNI Kostrad. Beberapa tahun kemudian, dia sering tampil dengan pakaian Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang lalu beralih nama menjadi Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassanda) dan Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Namun, Tuhan berkehendak lain. Pengalaman masa kecil di SDK Niodede dengan beberapa guruku (Pius Aka, Vitus Goa, Benediktus Geju, Mikhael Goa, Elias Juma, dan Fransiskus Taa) telah mendekatkan saya pada Dia yang memanggil dan mengutusku. Tergabungnya saya dalam kelompok penyanyi "Koor Anak-Anak" bentukan P. Wilhelmus Lehmann, SVD (Pastor Paroki Hati Kudus Maunori masa itu), dan sering dipercayakan untuk menyanyi sebagai solis di gereja dengan berpakaian seragam jubah putih dan salib kayu terkalung di leher, telah memikat hatiku untuk menjadi imam dan misionaris. Menjadi anggota solis di samping altar dengan suara emas yang menyatukan gemuruh nyanyian umat dalam gereja telah menjadi pemacu untuk sekali kelak menjadi pemimpin umat di depan altar. Saya sering diacungi jempol oleh pastor parokiku dan umat karena suara emas itu dan terkadang diminta menjadi pelayan altar (ajuda) hingga saya berada di jenjang SMPK Setia Budi Maunori (1967-1969). Adakah pengalaman yang istimewa bagi Anda saat itu? Suatu pengalaman tak terlupakan adalah pada hari malam Paskah 1968 saya diminta bergabung dengan para siswa Seminari Mataloko, karena mereka hanya berjumlah 5 (lima) orang. Itulah awal mula kisah benih panggilan sebagai calon imam muncul dari kawasan seputar altar Tuhan, lewat madah dan pelayanan altar. Oleh karena itu, tergolong dalam kelompok panggilan terlambat, saya melamar untuk mengikuti test masuk Seminari Pius XII Kisol (Manggarai) pada pertengahan tahun 1969. Bagaimana dengan pendidikan Anda yang membawa Anda menjadi pastor? Pendidikan dasarku berawal di SDK Niodede pada tahun 1960, sebagai siswa angkatan kedua. Saya patut mencatat bahwa ada seorang tokoh bernama Pius Aka yang pernah membimbingku sebagai guru perdana untuk berkenalan dengan abjad dan angka-angka. Lalu disusul dengan guru-guru lain seperti Vitus Goa, Mikhael Goa, Elias Juma, Benediktus Geju dan Fransiskus Taa. Setelah tamat SDK Niodede pada tahun 1966, saya melanjutkan pendidikan ke SMPK Setia Budi Maunori. Setamat SMPK Setia Budi (1969), saya melanjutkan pendidikan di Seminari Menengah Pius XII Kisol (Manggarai). Pada tahun 1971 saya berpindah ke Seminari Menengah St. Yohanes Berkhmans Todabelu, Mataloko dan dididik oleh para misionaris SVD dan para pendidik awam hingga tamat SMA pada bulan Desember 1974. Pada tanggal 2 Januari 1975, bersama teman-teman seangkatan dari Seminari Menengah Lalian, Hokeng, Kisol dan Mataloko, saya mengawali masa novisiat di Ledalero dengan retret pembukaan. Selanjutnya kami didampingi oleh Pater Magister Philipus Juang, SVD dan Sociusnya Pater Kalix Suban Hadjon, SVD dan Paulus Ngganggung, SVD. Setelah dua tahun menjalani masa novisiat dan yang pada tahun kedua kami memulai studi Filsafat, maka pada hari Sabtu, tanggal 8 Januari 1977 kami sebanyak 21 orang frater mengikrarkan kaul-kaul pertama dalam SVD di hadapan Pater Regional Markus Moa, SVD. Setelah pendidikan jenjang filsafat rampung dan meraih gelar Bachelor of Arts (BA) pada akhir tahun 1978, maka pada tanggal 9 Januari 1979, setelah membaharui kaul-kaul, saya bersama kedua teman kelasku (Paul Payong, Kobus Modho) berangkat ke tempat praktek di Manggarai dengan menumpang pesawat terbang Merpati dari kota Ende. Masa praktikum saya berlangsung selama dua setengah tahun di SMPK Tentang/Ndoso, di Manggarai Barat hingga pertengahan tahun 1981 dibawah bimbingan Pater Pius Repat, seorang Imam Fransiskan (OFM). Setelah kembali ke Ledalero pada pertengahan tahun 1981, saya melanjutkan perkuliahan teologi yang diselesaikan pada tahun 1983. Saya mengikrarkan kaul kekal pada hari Senin, tanggal 1 Agustus 1983, yang disusul dengan tahbisan diakonat pada hari Minggu, 16 Oktober 1983 di Ledalero oleh Mgr. Donatus Djagom, SVD, dan tahbisan imam pada tanggal 14 Juni 1984 di Wolosambi, Mauponggo oleh Mgr. Donatus Djagom, SVD. Anda juga melanjutkan studi? Saya patut mencatat dengan tinta emas sebagai hal yang menggembirakan dalam kehidupan pribadiku, karena saya pernah mendapat kepercayaan dari serikat lewat pemberian kesempatan bagiku untuk belajar terus menerus. Pertama-tama adalah kesempatan studi lanjut pada tahun 1985 di bidang Islamologi di Pontifical Institute of Arabic and Islamic Studies (PISAI) di Roma, Italia. Gelar Licentiate (S-2) dapat diraih pada tahun 1988 bersama temanku Rm. Benediktus Daghi, Pr. Masih merupakan bagian dari program studi Islamologi itu, pada bulan Mei sampai Oktober 1987 saya sempat mengikuti Summer Course di Institute Oriental milik para misionaris Dominikan (Ordo Predicatorum) di Jln Masnah al-Tarabish, Cairo, Mesir. Di samping mendalami bahasa Arab, kesempatan yang indah dan tak terlupakan itu kumanfaatkan untuk berguru pada Prof. Dr. George Anawati, OP dalam menerjemahkan satu bab dari buku "Islam wa Usul al-Hukm" (Islam dan Dasar-Dasar Kekuasaan), karya Dr. Ali Abd al-Raziq sambil meneliti serta membaca karya-karya lainnya di Perpustakaan Universitas Al-Azhar, Cairo, demi mempersiapkan penulisan tesis S-2 tentang pandangan Ali Abd al-Raziq mengenai "Islam Din La Dawlah" (Islam adalah Agama dan bukan Pemerintahan). Tesisnya tentang Islam Din La Dawlah itulah yang menyebabkan sang Profesor di Universitas Al-Azhar itu dikucilkan dan dilarang mengajar karena dinilai ajarannya itu zandig (sesat). Pada tahun 1994 (bulan Mei) saya diberi kesempatan untuk melanjutkan studi S-3 di bidang antropologi di The Australian National University (ANU) Canberra, Australia hingga meraih gelar Ph.D pada tahun 2001 dengan tesis berjudul "Longing for the house of God, Dwelling in the house of the ancestors: Local Belief, Christianity and Islam Among the Keo of Central Flores" [Mendambakan Rumah Allah, Mendiami Rumah Leluhur: Kepercayaan Asli, Kekristenan dan Islam di Keo, Flores. Bagaimana dengan studi di negeri sendiri? Iya...dukungan para konfratres (Provinsial SVD Ende, teman-teman di Ledalero, Prof. Glinka di Universitas Airlangga, dan Prof. Piepke di Institut Anthropos Jerman, dll) sangat kurasakan. Prof. Glinka yang mantan guruku, saking begitu besar harapannya agar aku berkembang dalam bidang akademik sesuai spesialisasiku, malahan menyampaikan condolence (ikut berbelasungkawa bagaikan menyambut kematian) waktu mendengar dan bertemu dengan aku di Surabaya yang baru terpilih menjadi Rektor Ledalero pada bulan Juni 2002. Karya akademikmu akan mati, katanya. Ternyata aku tidak mati, karena setelah setahun bertugas sebagai rektor, Prof. Piepke meminta agar tesis doktoralku di The Australian National University bisa diterbitkan oleh Institut Anthropos. Saya menyetujui permintaan itu dan didukung oleh Provinsial SVD Ende (alm Pater Nikolaus Hayon). Saya sempat menjadi peneliti tamu (Visiting Fellow) di ANU pada pertengahan tahun 2003 selama 6 (enam) bulan untuk mempersiapkan naskah buku di bawah bimbingan Prof. James Fox. Bagaimana dengan karya misi? Dalam menghayati spiritualitas imamatku dalam kurun waktu 25 tahun, saya lebih banyak menjalani misi dialog profetis. Saya lebih banyak bergiat dalam membina relasi atau dialog dengan pelbagai pihak di luar biara. Patut dicatat dialog dengan Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Portugal, dengan beberapa LSM seperti Nusa Tenggara Association dari Canberra, Assistencia Medica Internacional (AMI) dari Portugal, dan Ford Foundation dari Amerika Serikat. Pada tahun 2005, mantan Presiden RI (Abdurrahman Wahid) sempat berkunjung dan menginap di Ledalero dalam rangka seminar dan peluncuran buku Tolak Bungkam karya tulis Pater Robert Mirsel, dkk. Pada 31 Mei - 2 Juni 2005, saya menyelenggarakan seminar internasional Portugal-Flores dengan tema: "From Cross-Cultural Heritages to Diversified Cooperation" (dari Warisan Silang Budaya Menuju Kerjasama Beragam) sambil menghadirkan Duta Besar RI untuk Portugal (Fransisco Lopez da Cruz) dan Dubes Portugal untuk RI (Santos Braga) bersama Direktur Jenderal Kementerian Budaya dan Pariwisata (Dr. Mukhlis PaEni). Salah satu buah dari seminar tersebut adalah berdirinya Sekretariat Bersama Dewan Kebudayaan Flores (DKF) yang berpusat di Ledalero dan secara aklamasi saya diangkat menjadi Sekretaris Eksekutifnya. Apa motto imamat Anda? Dalam kurun waktu 25 tahun (1984 - 2009) saya yakin dan sadar bahwa motto imamat dan motto hidupku telah memberi inspirasi dan meneguhkan saya dalam perjalanan panggilan religius misioner ini. "Kami telah menemukan Dia ..... " (Yoh. 1, 45), telah meluputkan aku dari aneka ancaman kegagalan dan bahaya kejatuhan, khususnya jatuh dalam cinta yang terbatas dan eksklusif saja dengan manusia tertentu. Dalam tataran manusiawi, saya yakin dan sadar bahwa perjumpaan dan kebersamaanku dengan orangtua (ayah dan bunda), kakak dan saudara/i kandungku, para guru dan pendidikku dalam semua jenjang pendidikan adalah "Perjumpaanku dengan Dia, yang disebut oleh Musa dan para Nabi yaitu Yesus". Mereka telah memberikan aku nafas kehidupan yang manusiawi, iman yang Katolik, harapan yang Teguh, Kasih yang tanpa pamrih. Mereka itu semua adalah representasi Yesus, sang Imam Agung sejati yang memasrahkan seluruh diriNya bagi karya penebusan dan penyelamatan semua umat manusia. Oleh karena itu, aku senantiasa terpanggil untuk mengabdikan seluruh hidup imamatku, segenap potensi diri dan bakatku demi pelayanan semua orang, tanpa kenal batas suku, agama, bangsa dan budaya. Apa komitmen dan dambaan Anda bagi masyarakat dan Pemerintah NTT? Sebagaimana tampak dalam pelbagai kegiatanku di persada NTT dan Indonesia yang sealur dengan bidang spesialisasi akademikku, saya sungguh bertekad untuk mengabdikan diriku juga bagi pembangunan masyarakat NTT yang maju dalam bidang rohani dan jasmani, tapi juga yang rukun dan damai. Dalam pelbagai seminar dan lokakarya serta lewat beberapa publikasi, saya bercita-cita bahwa pelbagai khasanah luhur dan nilai-nilai kebudayaan lokal NTT hendaknya bisa dipromosikan ke level nasional dan internasional sebagai medium pencipta damai dan kerukunan yang lintas agama dan budaya di tengah arus globalisasi yang terkadang cenderung terperangkap dalam ekstrim etnosentrisme (memutlakkan etnis dan kebudayaan sendiri) dan religiosentrisme (yang memutlakkan agama sendiri). Inilah dambaanku dari semua tokoh pemerintah dan agama di NTT. Bagaimana hubungan Anda dengan rekan-rekan Anda di Ledalero? Berkat kerja sama yang rapih dengan rekan-rekan di Ledalero dalam kurun 6 tahun (2002 - 2008), Ledalero telah tampil dan diapresiasi oleh dunia luar sebagai "matahari intelektual yang telah terbit dari timur", "Mazhab Ledalero telah bangkit dalam Filsafat dan Teologi Kontekstual" (bdk. resensi dan artikel di Harian Kompas menyambut buku-buku karya Ledalero: Membongkar Derita oleh Paul Budi, Allah Menggugat oleh Georg Kirchberger, Mengabdi Kebenaran oleh Ceunfin dan Felix Baghi, dan lain-lain). Tak disangka bahwa medan karya misiku selalu saja berkisar di bukit Ledalero sebagai guru dan pendidik para calon imam. Sesuai bidang keahlianku saya dipercayakan untuk mengasuh mata kuliah islamologi, antropologi, dan ilmu perbandingan agama, baik di STFK Ledalero, maupun di STF Wydia Sasana Malang, Unika Wydia Mandira Kupang dan STKIP Ruteng. Di samping memberikan kuliah, saya juga gemar melakukan penelitian di bidang agama dan kebudayaan serta mempublikasi beberapa artikel dalam koran lokal. Saya juga menerbitkan 20 judul artikel dan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun sebagai co-editor. Adakah pengalaman yang masih diingat? Beberapa pengalaman pahit patut diingat sebagai pelajaran bermakna. Antara lain gejolak dan tantangan pahit waktu menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) sebagai frater di Tentang, Manggarai Barat. Pada masa TOP itu (sejak 1979 - 1981) selama 2,5 (dua setengah) tahun saya menjalani beberapa kegiatan pastoral di paroki bersama Pastor pembimbingku Pius Repat OFM, sambil berkarya juga di SMPK Tentang/Ndoso sebagai bapak asrama dan guru bahasa Inggeris, agama dan kewarganegaraan. Di samping tugas itu, saya juga dipercayakan memegang dan mengelola keuangan Yayasan St. Fransiskus Ndoso. Tak disangka, terjadi pada rapat akhir tahun anggaran, ketahuan bahwa ada sejumlah uang hilang dari peti kas yayasan yang disimpan di kamar saya. Kekurangjelian sebagai bendahara dalam mengontrol balance keuangan setiap bulan, maka baru pada akhir tahun anggaran diketahui bahwa ada kehilangan uang tersebut. Maka perhatian banyak orang tertuju kepadaku sebagai yang menggunakan uang tersebut secara tidak bertanggung jawab, atau korupsi. Pengalaman kehilangan uang itu telah membangkitkan dalam benakku untuk meninggalkan SVD dan bekerja sebagai guru di Tentang untuk bisa membayar kembali uang itu. Juga saya berpikir untuk beralih menjadi seorang OFM. Namun, tak lama berselang bahwa seorang pencuri, yang mantan siswa SMPK Tentang tertangkap di kota Ruteng. Dia juga mengaku dalam pemeriksaan Polisi di Ruteng bahwa dia juga pernah mencuri uang di kamarku. Hal itu telah menenangkan batinku bahwa uang tersebut itu diambil pencuri. Apakah ada hambatan selama berkarya? Saya pernah dirongrongi penyakit pneumonia yang nyaris merenggut nyawaku. Pada tanggal 6 Juni 1999, di Australian Capital Territory of Canberra (Australia) saya diserang radang pneumonia yang menghantar saya terbaring tanpa daya di Royal Canberra Hospital selama sepekan. Serangan itu terjadi pada saat menjelang HUT imamatku yang ke-15 di rumah kos sahabatku David Kaluge dan Titin Kaluge. Saya dihantar dengan taksi oleh rekanku Pater Gregor Neonbasu dan sahabat-sahabat lain ke rumah sakit. Di sana saya diselamatkan oleh para dokter dan perawat. Di tengah saat kritis kehidupanku itu, aku mengerang menahan rasa sakit yang telah mencapai kulminasinya. Saat itu kuyakin bahwa maut akan menjemputkan. Aku hanya pasrah berdoa dalam iman dan harapan teguh: "Tuhan, jika memang kehendakmu biarlah aku dijemputMu agar tak lagi merasa sakit seperih ini. Tapi bila masih Kau beri kesempatan bagiku, izinkanlah aku menyelesaikan beberapa tugasku yang kurampungkan". Ternyata, Tuhan mendengarkan doaku. Apakah hubungan Anda baik-baik saja dengan rekan dalam komunitas? Saya pun tak luput dari pengalaman konflik dengan segelintir rekan di dalam komunitas. Fenomena konflik itu memang lumrah dialami di mana-mana. Namun, kurasa bahwa semua pengalaman konflik itu telah menjadi pelajaran yang mahal dalam kehidupan dan karyaku sebagai seorang imam yang berkarya di lembaga formasi dalam semangat dan prinsip kemitraan atau kolegialitas. Semuanya telah diselesaikan dengan baik dalam semangat konsultatif dan secara kolegial demi kebaikan lembaga dan demi kesejahteraan setiap pribadi yang berada dalam konflik kepentingan dan tanggung jawab. Optimisme dan kesabaran senantiasa memampukan saya untuk maju terus bersama banyak rekan yang mendukung dan berpikir positif tentang rencana dan karya pelayananku. Saya sungguh mengalami bahwa Allah hadir bersama orang yang saba, yang dalam bahasa Kitab Suci Quran dikatakan "Inna Allah ma'a al-Sabirin". Apa saran Anda untuk rekan bekerja seperti Anda tapi di lingkungan yang lain? Bagi rekan-rekan imam dan pendeta (baik di lingkungan Kristen maupun Islam) yang sedang berbakti di medan karya misi ataupun dakwah). Hendaknya senantiasa menumbuhkembangkan dan menghayati keseimbangan antara dimensi keimanan dan keilmuan. Tokoh agama yang handal hendaknya bertumbuh diatas basis keimanan dan spiritualitas yang kokoh dan inklusif serta keilmuan yang inovatif. Sebagai misal, bahwa kami dalam lingkup Serikat Sabda Allah (SVD) memiliki tradisi keilmuan anthropos (Anthropos tradition) yang telah dirintis oleh para pionir NTHROPOS (Wilhelm Schmidt, dkk). Hal itu tak lain daripada "budaya akademik" SVD yang akhirnya mendapat pengakuan internasional, khususnya dalam bidang keilmuan antropologi. Oleh karena itu, para imam SVD di medan karya pastoral perlu mengembangkan cinta dan respek akan kebudayaan dan agama-agama lain, termasuk agama-agama lokal; juga dengan minat dan kebiasaan untuk mencatat/menulis. Anda merayakan syukur imamat pada Hari Isra' dan Mi'raj? Saya memang menyadari bahwa pada hari ini (20 Juli 2009) adalah perayaan Isra' dan Mi'raj bagi sanak kerabatku yang Muslim dan Muslimat. Dalam suasana gembira dan haru, saya pun layak menitipkan salam sejahtera dan Selamat Berpesta Isra Mi'raj buat mereka sekalian. Dalam ziarah imamatku selama 25 tahun, saya pun merasakan dan mengalami kasih sayang dan dukungan dari banyak sanak kerabatku serta rekan-rekan ilmuwan yang muslim. Dalam pergumulan refleksi akademikku yang lama seputar perayaan Isra' dan Mi'raj, saya menemukan bahwa pesta itu kaya dengan nuansa dialog antaragama, dialog antara seorang perjaka Muhammad dengan Allah yang memanggil dan mengutusnya sebagai Nabi, yang diutus untuk menyelesaikan pelbagai konflik dan permusuhan bukan dengan pedang dan darah, tapi dengan doa dan amal. Singkatnya, pesta Isra dan Mi'raj itu dapat kuteropong dari beberapa perspektif berikut. Dari perspektif iman Islam, peristiwa Isra' dan Mi'raj mengandung hikmah yang lebih menambah kekuatan iman dan keyakinan Muhammad sebagai nabi dan rasul Allah. Dengan demikian, bertambahlah kekuatan batinnya ketika ia mengalami cobaan dan persekusi dari warga sesukunya Quraysh, ataupun musibah dan tantangan berat berupa kematian orang-orang yang sangat dikasihinya. Dengan pengalaman Isra' dan Mi'raj itu, beliau semakin berani memperjuangkan cita-cita luhur ke-Islaman (dan kedamaian) serta mengajak segenap insan memeluk Islam. Dari perspektif dialog antaragama, kita bisa menyimak dan memahami peristiwa ini lebih dari aspek pengalaman keagamaan. Terlepas dari kebenaran historis dan teologis sebagaimana diyakini oleh sanak kerabatku yang Muslim, saya sebagai Imam dan orang Kristen coba memahami peristiwa Isra` dan Mi'raj ini dalam alur visio apokaliptik seorang Nabi Allah yang bernama Muhammad (bdk. Q.53,13-14; Q.17,1-7; Q.70,1-3). Nabi Muhammad sedang mengalami tekanan persekusi dari orang sesukunya, Quraysh. Secara psikologis, khususnya psikologi keagamaan, sang Nabi tentu saja mendambakan keakraban atau kedekatan bahkan persatuan mesra dengan Allah yang memanggil dan mengutusnya sebagai Nabi. Sedangkan dari perspektif literer, kisah Isra` dan Mi'raj dapat kupahami dan kuterima dalam relasinya dengan genus literer apokaliptik yang umum terdapat dalam lingkup dunia semitik. Genus literer serupa itu dijumpai pula dalam literatur biblis, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Oleh karena itulah, maka saya sangat berbahagia ketika mendapat berita bahwa sanak kerabatku yang di Kupang bersepakat merayakan syukuran perak imamatku ini pada hari pesta Isra' dan Mi'raj bersama sanak kerabatku yang Muslim dan Muslimat. Bagi sanak kerabatku yang Muslim dan Muslimat, kusampaikan "Selamat Merayakan Isra' dan Mi'raj. Mari kita saling mendoakan. Nusalli ba'duna bi-ba'din". (aris ninu)

Pos Kupang Minggu, 19 Juli 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda