Presidenku

Parodi Stuasi Oleh Maria Matildis Banda


KALAU Obama jadi salah satu Capres RI, tentu dia bakal terkaget-kaget mendengar bagaimana kubu Capres RI baku hantam langsung soal siapa yang terbaik dan pantas dipilih rakyat menjadi presiden. Obama bakal capek lahir batin melihat dirinya sendiri, apalagi mengamati perilaku oknum tim kampanye dan pendukung yang tidak segan-segan saling menjatuhkan dengan entengnya.

Apalagi soal janji-janji politik! Dalam salah satu pidatonya ketika berkampanye, Obama mengatakan: dirinya capek mengikuti debat mengenai pendidikan. "Orang selalu melihat dari sisi yang bertentangan, Republik vs Demokrat, voucher vs status quo, butuh anggaran lebih vs butuh reformasi. Kenapa mesti dipertentangkan? Masing-masing memiliki sisi yang baik!" Demikianlah Rara menjelaskan apa yang diketahuinya tentang Obama yang capek mengikuti debat soal pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lain-lainnya.

***
"Aku pasti jadi Mendiknas!" Kata Jaki langsung nyambung. "Pasti presiden kita nanti bakal memilih aku, sebab pekerjaanku sama dengan mantan pengawas sekolah di Chicago, Anne Duncan, yang ditunjuk menjadi Menteri Pendidikan dalam kabinet Presiden Barack Obama. Aku sama dengan Duncan yang selama ini berjuang menggolkan hal-hal yang kuyakini dapat memperbaiki kualitas pendidikan. Aku yang pengawas sekolah ini pasti jadi Mendiknas. Pasti!"

"Kamu yakin bisa jadi menteri?" Tanya Jaki sambil tertawa.
"Ya, pasti. Saya ini pengawas sekolah seperti Anne Duncan yang menjadi satu-satunya pengawas pendidikan yang berani melakukan perubahan. Sama seperti Duncan saya juga berpendapat bahwa sekolah-sekolah harus dikelola secara transparan, demi kemajuan para murid.

Tapi, sekolah juga butuh investasi baru untuk memperbaiki klinik kesehatan, butuh guru baru, dan pelatihan bagi para guru. Ini akan menjadi kebijakanku sebagai menteri!" Rara meyakinkan Jaki yang disambut Jaki dengan terpingkal-pingkal.
"Kamu mimpi atau mimpi?" Nona Mia menyambung.
"Ini kenyataan bukan mimpi. Sama dengan Duncan umurku juga 44 tahun. Duncan alumnus universitas terkenal, aku juga!

Sosoknya di bidang pendidikan dikenal cukup menonjol, di Chicago, aku juga menonjol di kotaku. Aku baca di internet, tulisannya Iwan Qodar Himawan, Duncan itu tak segan-segan merekomendasikan untuk menutup sekolah yang tak kunjung membaik kualitasnya, atau memecat guru yang gagal menjalankan KBM dengan benar! Aku juga dapat melakukan hal yang sama. Kamu tahu bukan, reputasiku sebagai pengawas sekolah selama ini!"

"Mestinya demikian," wajah Nona Mia berubah sedih. "Siapa peduli dengan peran kita sebagai pengawas sekolah? Tidak ada seorang pimpinan pun yang mengerti dengan baik peran kita. Sering kali kebijakan yang diambil pimpinan soal sekolah-sekolah tanpa mempertimbangkan sama sekali masukan-masukan yang ditemukan pengawas sekolah. Kita hanya sekadar ada, semua laporan kita hanya teronggok tanpa analisis lebih lanjut. Kita ini siapa? Mana ada pimpinan yang mau peduli?"

"Nanti kalau aku jadi Mendiknas!" Janji Rara. "Aku pasti akan memperhatikan kalian semua!"

***

"Mimpi itu penting sebagai spirit untuk meraih cita-cita," Benza mulai bicara saat Rara berkonsultasi soal cita-citanya jadi Mendiknas. "Kebanggaanmu sebagai pengawas sekolah patut diacungi jempol! Kamu hebat! Tetapi, jangan mimpi jadi mendiknas, teman! Itu tidak bakal terjadi di Republik Indonesia tercinta ini! Presiden kita bukan Obama yang memilih orang berdasarkan kapasitas dan kualitas, serta referensi kerja dan kinerja dalam bidangnya! Presiden kita nanti akan pilih menteri berdasarkan kepentingan politiknya, tim suksesnya, orang-orangnya."

"Aku yakin menang dalam kompetisi nanti," Rara berusaha meyakinkan.
"Ha ha ha. Duncan terpilih menjadi menteri pendidikan dengan mengalahkan sejumlah saingan. Kelompok Asosiasi Pendidikan Nasional, asosiasi guru terbesar, menginginkan beberapa gubernur atau bekas gubernur yang dinilai sangat memperhatikan pendidikan. Seperti ditulis Himawan, soal mendiknas Amrik, kelompok Teach for America, kumpulan lulusan sekolah elite yang membantu mengajar sekolah untuk rakyat miskin, menginginkan Joel I Klein, pengawas pendidikan New York, atau Michelle Rhee, pengawas sekolah dari Washington. Tetapi Obama punya pilihan tersendiri! Dialah Duncan yang mampu berkompetisi dan dia terpilih!" Kata Benza.

"Tetapi kompetisi itu terjadi di Amerika. Presiden Obama meyakini hal itu. Jangan mimpi ada kompetisi sehat di negara kita. Kita sudah bisa duga sejak sekarang, siapa yang bakal jadi mendiknas, siapa yang bakal jadi menteri dalam kabinet mendatang," Nona Mia juga berusaha meyakinkan Rara.

***
"Jadi, aku tidak mungkin jadi menteri?" Rara tampak kecewa. "Kalau begitu kita pilih siapa? Mega Prabowo, SBY Budiono, atau JK Wiranto? Siapa presiden yang berani memilihku menjadi Mendiknas?" Tanya Rara. "Siapa yang bakal menang?" Semua mata memandang Benza. Semua inginkan jawaban pasti.

"Mega Prabowo nomor satu, SBY Budiono nomor dua, JK Wiranto nomor tiga! Satu, dua, tigaaaaa sama dengan aba-aba lomba lari," kata Benza. "Kita tunggu di garis finish saja, siapa presiden kita!" *


Pos Kupang Minggu 5 Juli 2009, halaman 01

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda