Semuel Hauteas, Arahkan Anak Sesuai Bakat


FOTO ISTIMEWA
Semuel Hauteas Bersama Kedua Anaknya


MENJADI orangtua tunggal (single parents) bagi dua anak bukanlah pekerjaan yang mudah. Apalagi, pekerjaan di kantor juga membutuhkan perhatian yang serius. Inilah yang dijalani oleh Semuel Hauteas yang dituntut untuk menjadi ayah sekaligus ibu untuk dua anaknya.

Meski harus membesarkan dan mendidik buah hatinya seorang diri, Semuel hampir tidak menemukan kendala, sebab semua dilakukan dengan senang hati serta tidak mengeluh dengan keadaan ini. Alhasi, berkat ketekunan dan kesabaran ia bisa membesarkan dan mendidik anaknya dengan baik.

Pria kelahiran Oni-TTS, 19 Desember 1959 ini dengan enjoy menghadapi kehidupan ini. Dua anak pria yang biasa disapa Sem memiliki anak-anak yaitu si sulung, Widya Hauteas, lahir di Kupang, 13 Mei 1989, saat ini duduk di bangku semester VI Fakultas Theologia, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang.

Putri keduanya, Madoriska Hauteas, lahir di Kupang, 25 April 1992, saat ini duduk di bangku kelas II, SMA Kristen Mercusuar Kupang.

Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Rabu (15/6/2009), Sem yang menjabat sebagai Kepala Bidang (Kabid) Pemuda Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini mengatakan, kedua anaknya memang dilahirkan secara sesar. Namun, ia berterima kasih anak-anaknya diberkati dan diberikan Tuhan talenta yang luar biasa sehingga bisa tumbuh sehat dan cerdas.

Menurutnya, sebagai seorang PNS yang sibuk dengan seabrek kegiatan di kantor maupun di luar kantor, ia tetap meluangkan waktu untuk bersama kedua buah hatinya. Walau harus berperan sebagai bapak maupun mama dalam mengurus anak dan rumah tangganya, pasca perceraian dengan sang istri tahun 2000 silam, ia tetap bertekad untuk menyekolahkan anaknya sampai tuntas.

Menurutnya, perceraian bukanlah sebuah alasan untuk menelantarkan anak-anaknya. Itu sebabnya, sejak ditinggalkan sang istri tahun 1989, ia berupaya keras untuk menyekolahkan anaknya. Ia ingin anak-anaknya harus diberi dasar yang kuat sejak kecil. Dengan demikian ketika dewasa, bisa secara dewasa dan bertanggung jawab memutuskan sesuatu sesuai dengan talenta dan bakat yang dimilikinya.

Pria jangkung yang mengawali kariernya sebagai Sekretaris Camat di Malaka Barat, Kabupaten Belu, tahun 1990 ini mengatakan, karena keluarganya adalah broken home, ia memilih menyekolahkan anaknya di sekolah yang benar-benar disiplin. Si sulung ia masukkan ke sekolah Katolik di Belu dan tinggal di asrama yang dipimpin oleh pastor dan suster. Padahal, ia sendiri dan kedua anaknya beragama Kristen Protestan. Kerja kerasnya menuai hasil. Kedua anaknya adalah anak yang cerdas, tetapi juga penurut.


Kini anak-anaknya mulai beranjak dewasa. Dia tidak ingin anak- anaknya dikekang. Karena itu ia memberikan kebebasan kepada kedua anaknya untuk memilih disiplin dan profesi apa nantinya dipilih untuk masa depan mereka. Ia tidak memberikan batasan- batasan khusus agar anak-anaknya menjadi begini atau begitu.

Sehingga, si sulung walau sudah menamatkan sekolah Katolik sampai SMA, namun tetap memilih masuk sekolah teologia untuk menjadi seorang pendeta. Ia tidak kuasa melarang karena semua itu adalah pilihan dan keputusan anak.

Sementara putri keduanya ingin menjadi dokter. Dia memberikan pilihan kepada anaknya, apakah masuk di SMAK Giovanni atau Mercusuar. Anaknya memilih SMA Mercusuar.

Yah, sebagai PNS tentunya gaji saya sangat kecil, tetapi saya akan berupaya semaksimal mungkin untuk memenuhi keinginan anak-anak. Yang terpenting mereka harus belajar dengan tekun agar cita-cita mereka terwujud," kata Sem yang pernah menjadi Kepala Seksi Pendidikan dan Pemetaan di BP-7 Atambua ini.

Karena niatnya yang sangat besar menyekolahkan anaknya minimal sampai S2, Sem rela mengurungkan niatnya untuk melanjutkan studi untuk pengembangan kariernya. "Saya ingin anak-anak ini sekolah, jadi harus sungguh-sungguh sampai tuntas dan tidak setengah-setengah,” kata pria yang menjadi Kepala Seksi Kesegaran Jasmani dan Rekreasi Dinas PPO tahun 2001 ini.

Sem yang pernah menjadi Kepala Sub Bidang Pengkajian Dampak Lingkungan Bapedalda Propinsi NTT tahun 2005 ini, mengatakan, anak adalah anugerah yang diberikan oleh TYME, sehingga harus dijaga dan dididik menjadi anak yang baik dan taat. Sejak awal, katanya, ia sudah bertekad kalau anak sulungnya adalah anak Tuhan, sehingga ketika pilihannya menjadi pendeta, Sem benar-benar senang. (nia)


Pos Kupang Minggu 28 Juni 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda