Stres Bisa Menyebabkan Orang Jadi Gila

Dokter Valens Yth,


Syalom…Salam sejahtera. Saya Ratna, Seorang ibu muda dengan pendidikan sekolah menegah saja. Umur saya 24 tahun. Kehidupan dalam keluarga cukup tenang, mengalir apa adanya. Suami saya bekerja sebagai pegawai biasa di suatu instansi pemerintah. Kami memiliki seorang anak umur 2 tahun. Hidup kami juga seperti biasa. Cuma memang suami saya tidak banyak omong.

Akhir-akhir ini dia agak stres”. Kadang juga kalau saya bikin salah sedikit , dia selalu bilang: Hei Jangan bikin saya stres”. Jadi kata "stres" sudah sering saya dengar di rumahku sendiri. Tapi dokter, ketika di jalan ada orang gila, banyak orang mengatakan dia gila karena stres, padahal orang itu menurut saya masih muda juga, ya sekitar dua puluhan tahun.

Lebih aneh lagi ketika ada seorang pegawai di kota kami meninggal, orang mengatakan meninggal karena stroke. Apa itu stroke saya tidak tahu tapi juga saya dengar orang itu kena stroke karena stres. Ah jadi stres itu berbahaya.

Karena itu saya tulis surat ini ke dokter untuk bertanya agar bisa lebih jelas. Apakah stres itu suatu penyakit? Kalau penyakit, apa obatnya? Kalau bukan penyakit, kenapa stres bisa bikin orang jadi gila atau mati? Apakah anak- anak juga bisa kena stres? Apakah ada gejala yang menunjukkan bahwa orang itu sedang stres? Soalnya, orang muda yang gila itu masih ada hubungan keluarga dengan suami saya. Mudah-mudah dokter mau membalas surat saya ini. Salam hormat senantiasa.
Ratna di Flores




Saudari Ratna yang Baik,
Salam sejahtera buat Anda. Semoga saja Anda tidak sedang stres karena mengetahui bahwa stres menjadi epidemi di mana-mana. Dalam kehidupan sehari-haripun manusia berteman dengan stres. Semestinya stres tak perlu dirisaukan karena stres sebenarnya juga menjadi tantangan yang mendorong manusia untuk terus berkarya.
Stres merupakan keadaan dimana jiwa dipenuhi beban, dan tubuh memberikan reaksi atas keadaan tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh psikiater Prof. R Kusumanto Setyonegoro, MD, PhD, bahwa hidup ini sebenarnya penuh dengan stres, maka dalam banyak hal, stres sebenarnya merupakan kondisi normal.

Bahkan menurut Wartomo Priyosembodo, psikolog lainnya, stres itu sehat karena tanpa stres manusia sulit menghidupi kehidupannya”. Lebih jauh Al Bachri Husin (psikiater) mengatakan, stres bukan musuh seperti yang dikatakan banyak orang. Stres bisa menjadi sahabat untuk proses maturasi atau pematangan seseorang”.

Kondisi-kondisi seperti di atas oleh Kusumanto Setyonegoro menyebutnya sebagai eu-stress yaitu kondisi di mana stress memacu dan merangsang orang untuk bergerak maju memenuhi ambisi-ambisinya. Jadi stress bisa menjadi tantangan dan dapat berubah menjadi energi, semangat dan tenaga. Tapi, bila tubuh dan jiwa tak mampu menahan beban stress maka stress akan berubah menjadi ancaman yang tak jarang meluluh-lantakan hidup manusia. Inilah kondisi yang tidak normal lagi yang oleh para ahli disebut sebagai dis-stress.

Keadaan demikian orang akan bisa ngawur, defensif dengan perubahan sikap dan tingkah laku yang tampak aneh. Bila orang tidak lagi beristirahat sejenak untuk meletakan bebannya, malahan membiarkan ancaman menumpuk sehingga beban semakin tidak tertahankan, maka pada tahap yang selanjutnya dia akan menjadi sulit tidur dan tidak berkonsentrasi.

Lama kelamaan orang akan masuk pada fase kelelahan (exhausted). Pada keadaan kelelahan ini yang bersangkutan mengalami depresi, gelisah, takut berdebar- debar dan sudah memerlukan pengobatan. Kalau pada stadium ini masih dibiarkan, ia bisa meledak, ngamuk dan bisa buat yang aneh-aneh.

Dia bisa bunuh diri atau membunuh orang lain, yang oleh Anda sendiri menyebutnya sebagai gila. Dalam satu seminar sehari di Semarang, tentang stres dan penyakit jantung di kalangan eksekutif ”, dikemukakan bahwa stres, selain dapat mengakibatkan seseorang mengalami gangguan jiwa, bisa membuat penderita mati mendadak karena serangan jantung.

Pertanyaan Anda, apakah stres dapat diobati, bisa saya jawab bahwa upaya untuk mengobati stres sudah banyak dilakukan oleh psikiater. Ada pengobatan jangka pendek untuk menghilangkan gejala dengan obat-obatan, Namun untuk kasus berat dan membutuhkan penganganan jangka panjang maka perlu dicari sumber penyebabnya dan harus diobati dengan cara psikoterapi.

Selanjutnya, pertanyaan Anda, apakah stres bisa kena pada orang muda, dapat dijelaskan disini bahwa menurut studi dr. Dadang Hawari, ketua Ikatan Dokter Ahli Jiwa Indonesia (Idaji), bahwa data menunjukkan adanya peningkatan kasus pada orang-orang muda yang menderita penyakit-penyakit yang ada kaitannya dengan stres, seperti penyakit tekanan darah tinggi,migrain, sakit kepala kronis, tukak lambung, radang usus, eksim, asma, sembelit kronis.

Semakin ke depan penyakit ini akan makin sering dijumpai pada usia produktif, antara 15 – 45 tahun. Nah, Saudari Ratna yang baik, bila Anda sudah bisa mengetahui betapa kehidupan ini akrab dengan stres oleh karena itu orang harus mengenal bagaimana cara mengelola hidup dengan stres tanpa harus mengalami dis-stress atau dapat disebut sebagai manajemen stres.

Dalam jaman modern dimana orang senantiasa dituntut untuk bekerja dengan batas waktu tertentu (enhanced sense of time urgency ), orang perlu sekali mendapatkan waktu untuk istirahat sekedar sebagai saat untuk recharge tenaga dan pikiran yang sudah kelelahan. Tidur (nyenyak) adalah suatu fase istirahat yang sangat baik untuk memulihkan energi yang telah digunakan.

Kenyataan bahwa di saat ini di mana dunia masih dilanda krisis ekonomi, semakin banyak orang yang tidurnya tidak nyenyak. Selanjutnya Rekreasi, seperti olah raga, piknik atau karaoke juga akan memberi banyak arti untuk melepas beban stress, karena kesibukan dan keruwetan hidup lainnya.

Seorang peneliti Jepang, Matsumoto menyimpulkan bahwa, orang Jepang itu lebih kurang stress dibanding orang Amerika, padahal tekanan pekerjaan di Jepang tidak jauh beda dengan di Amerika. Hal ini terjadi karena sifat orang jepang, cara mereka bekerja dan cara menyalurkan stress dan struktur sosialnya lebih meandukung daripada di AS.

Konon, kaum eksekutif jepang yang mengalami banyak tekanan pekerjaan gemar singgah di rumah minum (pub) sepulang kerja untuk mabuk. Sewaktu mabuk ia berteriak- teriak, memaki-maki atasannya dan melampiaskan ketegangannya. Seandainya atasannya ada di tempat itu, ia tidak akan marah karena menganggap orang itu sedang mabuk.

Puas melampiaskan kekesalan akibat tekanan pekerjaan, sebelum pulang ke rumah, ia akan membeli seikat kembang untuk istrinya. Di pintu, istrinya akan menyambut dan membukakan sepatunya. Cara lain me-manage stress adalah dengan meditasi dan relaksasi seriperti Yoga. Bagi orang beriman, menyalurkan ketegangan dengan banyaklah beribadah.

OK, Saudari Ratna, saya kira semua pertanyaan Anda sudah saya jawab, mudah-mudahan stress bukan lagi menjadi sesuatu yang sulit untuk dimengerti. Bila kelak Anda mengalami stres, Anda sudah tahu bagaimana harus berbuat. Semoga sukses..
Salam, dr. Valens Sili Tupen, MKM


Pos Kupang Minggu 5 Juli 2009, halaman 13

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda