Surat Cinta Terakhir

Cerpen Robert Lemaking

TERIK mentari membakar bumi, gersang hati, mencari dan terus mencari di mana sumber mata air. Di lembaran yang biru ini akan ditulis selama nurani masih berbisik, buat merangkai sederet kalimat. Dari sinilah perjalanan pahit hidup, akan ditulis dengan sejuta kejujuran.

Perjalanan hidup yang panjang sering meletihkan dan membosankan. Ada saat tertawa namun ada saat dimana kita harus tersungkur dan menangis. Hidup itu indah apabila terjadi dinamika cerita cinta di dalamnya.

Namun satu hal yang harus di perhatikan adalah bagaimana menjaga agar cerita cinta itu jangan sampai putus tanpa alasan yang jelas. Sebab sesungguhnya sakit yang diakibatkannya lebih perih dari segala sakit yang pernah ada di muka bumi ini.

Jemi dan Lilis adalah sepasang kekasih yang sama-sama telah mengarungi lautan asmara dengan bahtera cinta yang anggun. Keduanya telah bersumpah sehidup semati. Namun siapa dapat melihat dengan jelas apa yang akan terjadi esok, ketika pagi menyapa? Semuanya tak dapat kita pastikan selain satu hal, yakni mentari tetap akan kembali bersinar.

Berikut ini merupakan rintihan hati seorang Jemi yang begitu mencintai Lilis yang tercurah dalam suratnya yang terakhir sebelum peristiwa itu terjadi.
Lilis yang terkasih....

Di saat kau membaca suratku ini, aku ingin kamu tahu betapa aku masih sangat mencintaimu. Karena perasaan cinta inilah, aku berani menulis surat ini untukmu. Meski aku tahu suratku akhirnya menjadi penghuni tong sampah bila kau telah selesai membacanya.

Tetapi ijinkanlah dia bersamamu walau hanya sedetik saja. Ijinkanlah dia menyampaikan sejuta penyesalan dan maaf dariku.

Ketika kuterima dan kubaca sepenggal nota darimu, rasanya sulit bagiku untuk mempercayai keputusanmu. Terlalu berat bagiku untuk menerima kata pisah darimu. Memang kuakui sejujurnya kalau Akulah yang bersalah., aku akui kalau aku telah menyakiti perasaanmu. Dan aku akui kalau pertengkaran yang sering terjadi antara kita telah membuat hatimu terluka.

Namun adakah itu yang membuatmu tak bisa memaafkanku? Adakah ini harus membuatmu tak memberi aku kesempatan untuk membenahi diriku?

Adakah kerena pertengkaran itu, kau tega mengakhiri hubungan yang sudah sekian lama kita bangun bersama? Adakah kerena kesalahanku, kau tega mengorbankan perasaan tulusku selama ini untukmu? Adakah karena pertengkaran itu kau tega melupakan dan menghapus segala kenangan yang telah kita ukir bersama? Jawaban terpulang pada dirimu......
Lilis...

Aku telah mencoba melupakanmu seperti apa yang kau inginkan. Aku telah mencobanya beberapa hari ini, namun rasanya aku tak bisa. Yang paling aku harapkan saat ini adalah kamu sudi kembali padaku. Aku tak bisa begitu saja melepaskan diri dari cintamu. Betapapun sukar untuk menggapai harapan ini, tetapi aku tak pernah berhenti apalagi harus menyerah.

Bagaimanapun juga aku tak pernah akan membiarkan segalanya berakhir, sebab dua tahun adalah waktu yang terlalu lama untuk mempertahankan sebuah kebersamaan. Dua tahun adalah saat-saat yang teramat melelahkan untuk menulis kenangan demi kenangan. Adakah pertengkaran sehari harus membunuh semuanya ini?

Aku tak harus mengemis cinta darimu, tetapi apabila kau mengnginkannya aku rela melakukannya. Aku sangat meyesalkan bila hubungan kita harus berakhir.

Aku lngin meyakinkanmu betapa aku sangat menghargai hubungan kita. Kita terlalu jauh melangkah dan kita harus sadari bersama telah sejauh mana hubungan yang kita jalani. Aku tak ingin membuatmu menanggung sendiri perasaan dan penderitaanmu yang lebih dalam, bila cinta harus kita akhiri. Aku tahu kamu akan sangat terluka dan menderita lebih dari apa yang sedang kamu rasakan saat ini. Dan aku tak pernah rela hal itu menimpa dirimu, sebab aku sangat menyayangimu.

Lilis yang terkasih....
Ini adalah ungkapan terjujurku yang coba kutumpahkan dari lubuk jiwaku yang paling dalam. Aku masih mencintaimu. Aku masih mengharapakan dengan sejuta kerinduan, kembalilah padaku. Meski aku harus memohon di hadapan mu aku rela.

Asal kamu sudi kembali dan memaafkanku. Bersama derai air mataku yang tumpah, tuk meratapi perpisahan yang telah kau inginkan, aku minta ketulusan dan kesediaanmu, berilah aku kesempatan untuk yang terakhir kali dan sekali ini saja. Aku janji padamu, yang lalu takan pernah ku ulang kembali..... Lilis, tolong cobalah untuk mengerti.

Andai kamu tak pernah rela, izinkan aku tetap mencintaimu meski tanpa memilikimu. Tetapi aku sangat ingin kelau cinta ini takan pernah berhenti, sebab aku lebih memilih mencintaimu dan memiliki dirimu. Semua takan pernah sama dan membahagiakan diriku, selain dirimu.

Akhinya satu yang harus kamu ingat tentang beban rasa yang harus ku tanggung saat ini. Apa yang harus kukatakan pada keluargaku dan juga keluargamu, bila mereka bertanya tentang hal ini. Apa yang harus ku jawab bila hubungan kita sungguh - sungguh berakhir.

Apa yang harus ku perbuat bila kita sudahi hubungan ini? Apa yang harus ku katakan dan apa yang akan ku katakan? Lilis, cobalah untuk mengerti. Jangan kamu terus terbuai oleh embusan kata - kata sahabat - sahabatmu, yang ingin menyaksikan kehancuran cinta kita.

Dalam segala suka dan duka, kita tak boleh melupakan bahwa itulah cinta kita. Segala persoalan yang kita hadapi haruslah kita selesaikan sendiri, sebab cinta akan sanggup membuat kita mengerti apa yang terbaik untuk kita. Dan cinta itu hanya dapat kita maknai apabila kau dan aku menyatu menjadi kita dan bukan mereka.

Ku harap kamu boleh memahaminya, bukan sekedar untuk memaafkanku tetapi lebih untuk dan atas nama cinta.

Lilis yang terkasih....
Di kebuntuan jalan menggapaimu kembali, ijinkan aku bertanya untuk yang terakhir kalinya. Adakah hubungan kita masih dapat kita pertahankan, ataukah aku harus bertepuk sebelah tangan? Aku menanti jawaban terakhirmu.

Bila masih mungkin kita pertahankan, maka aku berharap kamu sudi menjumpaiku untuk yang terakhir kalinya. Bila kamu memilih tuk teguh meningglakanku, aku sangat mengharapakan agar kita dapat mengakhirinya dengan indah, seperti dulu lagi.

Akhinya dalam kesedihan yang kini sedang kujalani, aku ingin jika disuatu senja saat aku kembali mencari pelipur lara dan kudapati pintu asramaku telah tertutup, aku berharap kamu sudah berada di dalamnya.
Lilis, aku masih mencintaimu

Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun pun terus berlalu namun batin Jemi belum kunjung bahagia sebab Lilis kini telah pergi dan tak tahu di mana rimbanya. Namun Jemi masih ingat senyum dan tawa Lilis yang selalu membayang di pelupuk mata Jemi. Dulu setiap hari Jemi melihat Lilis tapi kini sukar baginya walaupun cuma sekilas bayangan wajah kekasihnya itu.

Jemi terus mengenang di mana dulu mereka bercanda dan tertawa berdua, namun kini hanyalah sepi dan duka yang dialaminya. Jemi seakan terlantar dalam sepihnya hati dan terpenjara dalam kehidupan yang di ciptakan sendiri, karena keputusan Lilis menjauh dari dirinya dan semua yang di milikinya dulu.

Kekecewaan yang menuntutnya harus pergi, namun ketabahan dan penderitaan tuk terus berkayu biduk kehidupan itu, melewati karang, menempuh badai yang selalu menghimpit dirinya. Penyesalan demi penyesalan ia dapati dan terus mewarnai hidupnya yang selalu mendung. Tak ada yang mampu menghibur dirinya.

Deru derap keramaian kota karang, di antara bunyi dan keramain kota membuatnya semakin tak peduli dengan suasana seperti itu. Bahkan Jemi merasa semakin terlantar dan jauh dari orang - orang yang pernah ia miliki. Impian akan sebuah mahligai cinta yang terurai benang kasih, ternyata segalanya menjadi sia - sia.

Mungkin Lilis sedang mengimpikan kilauan permata dan harta sedangkan Jemi di campakan bersama cinta dan air mata. Dengan bermodalkan ketulusan dan keiklasan.Jemi hanya berdiam pasrah sembari termenung.

Jemi baru tersadar, kalau ternyata semuanya itu kini tinggal ilusi yang menjadi hayalan belaka sebab Lilis sudah tak lagi bersamanya. Takdir telah mempertemukan mereka, namun takdir pulalah yang memisahkan mereka.

Semangat cinta yang masih menyimpan sejuta harapan yang bertolak belakang dengan realitas membuat perasaan Jemi seperti berada di persimpangan jalan, sejalan dengan itu pula dalam hati kecil Jemi hanya mengucapakan sebait doa buat Lilis "Semoga engkau bahagia dengan pilihan hatimu."


Inilah pengalan surat dan doa terakhir dari nurani seorang Jemi untuk kekasih jiwanya, Lilis. Kini Jemi telah tiada, ia telah kembali ke pangkuan sang khalik dengan membawa bongkahan cinta yang kelabu. Jemi meninggal karena kecelakaan sepeda motor.

Dari dalam dompetnya ditemukan sepucuk surat cinta ini. Ia telah pergi untuk selamanya namun doa terakhirnya tetap hidup dan menaungi derap langkah Lilis di atas wadas bumi ini... (*)


Pos Kupang Minggu 5 Juli 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda