Tentang Yum

Cerpen Charles Rudolf Bria

WAJAHNYA semakin hari seperti semakin kuyu, kecantikannya yang dulu perlahan hilang. Garis-garis kecoklatan satu-satu tergambar di wajahnya yang dulu seputih sutra. Bibirnya yang dulu indah seperti pecah retak dihantam terik matahari kota. Dia telah melupakan lipstick dan wewangian semenjak dua masa perkawinan berakhir tragis. Saumi yang pertama selingkuh lalu pergi bersama anak-anank mereka. Sementara suami yang kedua meninggal akibat over dosis minuman keras di sebuah lokalisasi.

Dari pernikhana yang kedua, Yum memiliki dua orang anak. Perempuan pertama sudah memutuskan mengakhir masa remaja ketika hamil di bangku kelas dua SMU. Sementara tinggal si bungsi, dia cacat sejak lahir. Anak-anak dari sumai pertama dan kedua tidak pernah mengunjungi ibunya bahkan sama sekali tidak ingin mengenalnya.

Anak permpuan dari semua kedua ternyata memiliki seorang suami brandalan dan pemabuk bahkan isterinya sering mendapat perlakuan kasar.
Yum, merasakan jejak langkah yang terlupakan sebagai seorang ibu juga sebagai seorang isteri. Dia sering menyalahkan rahimnya yang telah melahirkan. Dia marah terhadap dirinya yang terlalu emosional untuk memiliki anak. Dia juga sempat menyesali kecantikannya manakala akhirnya dia tercampak. Kecantikannya seperti sebuah sobekan baju tua di almari reot. Dalam lukanya dia sungguh menyesali kecantikannya.

Yum tidak tidak memiliki pekerjaan tetap seperti kebanyakan wanita lain. Dari seorang isteri muda yang dulunya cantik jelita dan selau tampil modis serta eksotis kini harus merambah dunia yang mengerikan. Dia menawarkan kerupuknya dari warung ke warung. Memungut sisa kaleng bekas untuk dijual kepada para penabah barang bekas. Dia juga mengais rejeki dari rumah ke rumah sebagai tukang cuci dan seterika keliling. Bahkan pernah ada seorang mucikari hampir saja menjebloskan dia ke sarang laki-laki hidung belang. Untung saja dia masih memiliki rumah peninggalan almarhum suami kedua.

Malam-malam baginya adalah ratapan dan gertakan. Dia ingin sekali menukarkan air matanya dengan cahaya bintang. Dalam kegerahan dia merangkak mencari cahaya yang mulai terkesan sombong. Padahal dia hanya meminta cukup semalam saja dia bias merasakan tidur dengan cahaya menggantung di ranjangnya. Pernah ada laki-laki yang datang menawarkan untuk menikahinya tapi dia terlanjur trauma dengan cinta. Hari-hari selepas itu tidak ada lagi yang pernah datang menawarkan diri untuk menikahinya. Kecantikannya telah dilumat habis oleh penderitaan yang dia tanggung dalam setiap menit hidupnya.

Dia sungguh terlempar dari hidup dan merasa tertatih untuk memungutnya kembali.
Suatu malam saat gerimis, tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu depan. " Tidak biasanya ada tamu malam-malam begini," batinnya dalam hati. Kemudian dia melangkah dekat pintu dan terdengar lagi ketukan kedua. Jantungnya berdetak kencang, antara takut dan penasaran. Perlahan dia meraba gagang pintu lalu membuka pintu lebar-lebar.

Yum mendapati sosok laki-laki tua dengan wajahnya sedang menunduk lesu. Laki-laki itu sedang sedang mengapit seorang bocah kecillucu dan tampan. Setalah Yum persis ada di depannya, sedetik kemudian dia rebah ke tanah. Yum berubah pucat dan tegang.Yum kebingungan belum lagi bocah kecil langsung menangsi sejadi-jadinya. Yum berusah menenangkan bocah itu lalu dengan sekuat tenaga mengangkat laki-laki itu berpindah tempat di dalam rumah.

Semua terjadi secara kebutulan seperti semua kebetulan dalam hidupnya yang selalu saja membawa masalah. Sungguh diluar dugaanya sama sekali. Yum mulai kebingugan melayani tamu misterius itu. Makanan dia tak punya, karena untuk makan sehari saja dia mengalami kesulitan. Di dapur hanya tersisa satu kilogram beras dan tiga potong ikan asin untk persiapan sarapan pagi Yoga. Namun karean keadaan akhirnya Yum juga rela memberikan dalam kekurangan.

Setelah menyiapakan Yum berusaha menyadarkan kakek itu dengan sebotol mintal gosok. Perlahan kakek itu membuka matanya dan lama kelamaan kembali pulih. Yum segera menawarkan makananya. " saya hanya ada ini saja tidak ada yang lain lagi, saya bantu bapak dan adik ini makan." Ucap Yum sambil membungkuk di depan laki-laki dan bocah itu. Tidak ada pembicaraan apa-apa malam itu karean laki-laki tiu kembali tidur setelah kenyang. Malam semakin larut dan suasana seperti di pantai sepi dan arus tenangnya menenggelamkan. Dan ketika fajar masih sepotong terdenganr suara yang aneh dari pojok rumah tua itu.

Yum berteriak sekeras-kerasnya dan membanting diri ke lantai, mengacak rambutnya seperti orang gila. Dia mengambil seember air lalu menyiramkan ke seluruh tubuhnya. Seolah-olah dia ingin membaptis dirinya sebagai perempuan kelam. Dia merasakan suara Tuhan sayup di telinganya dan akhirnya hilang begitu saja. Dan dia benar-benar akan gila dengan semua ini. Dalam keterpurukannya dia baru mengerti kenapa manusia bisa menjadi gila.

Kemudian, dia mengacak seluruh isi rumahnya. Dia mencari sesuatu, mungkin mutiara atau benda berharga lainnya. Dia panik dan tidak peduli dengan semua mata yang menatapnya diam, Mata-mata itulah mata manusia pembunuh dan pendendam. Dia bertambah takut karena manusia telah dilengkapi dengan senjata yang siap membunuh. Lalu dia melihat banyak permpuan telanjang yang menari-menari sambil menangis. Teriakannya semakin bertambah keras dengan nada yang cukup panjang. Semua telah mati baginya termasuk Yoga satu-satunya emas yang dia miliki selama ini. Dia menangisi Yoga dari bibir ranjang, kenapa semua seperti mati olehnya. Kenapa dia selalu merasa menjadi miskin dan terus saja sengasara.

Tiba-tiba dia berteriak keras menghadap ke seluruh mata yang mati lalu berteriak keras. " Mana orang tua itu? " sambil matanya melotot tajam. " Dia ke sini membunuh Yoga, pasti Agus menyuruh dia membunuh Yoga karena Agus malu memiliki seorang anak cacat. Sambil mengacungkan tangannya tingg-tingi. " Agus penjahat dan orang tua itu pembunuh. Lalu dia mencari-cari seseorang. " Pak RT Bantu saya cari orang tua itu, tadi malam dia tidur di sini tapi dia sudah hilang, tangkap dia Pak RT. " Suaranya semakin tinggi.

Sepertinya semua orang kebingungan menjari jejak pembunuh. Manusia saat ini pintar menghilangkan apa pun yang bisa mengancam kebahagiaanya. Dan semua oran gmeras mati mengerikan itu biasa karena itu takdir. Semua orang tidak lagi mampu membedakan kekerasan dan kebaikan karena memang mereka lahir di dunia yang kasar dan bertopeng.

Yum benar-benar menjadi gila karean tekanan emosi dan frustrasi yang dalam. Dia kembali meraung di bawah ranjang Yoga. Suaranya perlahan hilang dan hanya terdengar sayup dari celah giginya lalu lenyap. Seperti melihat sesuatu yang besar dan mengerikan, tiba-tiba Yum terkejut. Dia hendak meloncat dari atas tempat tidurnya. Matanya samar-samar melihat sosok laki-laki tua ada di sebelahnya. Yum terkejut setengah mati.

"Anak tadi mimpi jelek berteriak dan mengais lalu Bapak berusaha bangunkan." Ucapa laki-laki tua itu tenang sambil tersenyum kecil. Yum segera mencari Yoga setelah dia tahu Yoga tidak lagi tidur di sampingnya. Laki-laki tua itu berdiri lalu pergi dan kembali menggendong Yoga. Yum segera mengmabil Yoga dari pelukan laki-laki lalu memeluknya erat. Air matanya mengalir sampai ke ranjang tidurnya.
Semua beban seperti patah setelah Yoga bisa berada dalam pelukannya. Anak cacat itu sepertinya telah memberikan kedamaian dalam kekarungannya sebagai manusia yang tidak sempurna. Perlahan matahari mulai menyengat pori-pori sampai terasa seperti cabe -mendidih- dan membikin panas. Laki-laki tua memohon diri melanjtukan perjalanan mereka. Selepas tamu itu pergi, Yum mengusir kegelisahanya dengan membersihkan isi rumahnya.

Tiba-tiba dia menemukan kantong plastik hitam persis di tempat laki-laki tadi tidur. Yum kebingungan kemana dia harus mencari laki-laki itu lagi. Perlahan dia membuka plastik itu. Ternyata sepasang kebaya dan selendang merah muda. lalu ada sebuah tulisan dengan kertas lusuh diatasnya. Isi potongan kertas itu mebuat Yun seperti mendapati surga yang indah, " Bapak kasi ini, anak harus bisa pakai ini dan anak akan terlihat seperti semula tapi dengan kecantikan yang berbeda dan anak harus tetap terus menjadi seorang perempuan dan ibu untuk anak ini.

Sekarang surga sudah dekat jangan takut, dan ketika kita bertemu anak tidak akan menangis lagi. Bergembiralah dalam hidup ini. Salam..."
Yum tiba-tiba seperti terbang melayang karena merasa meraih sepotong surga dari semua lukanya selama ini. Dia menoleh ke belakang melihat Yoga sedang menggesek-gesek bokong di lantai untuk berusah mendekatinya. Tidak yan glebih berharga dari anak ini. Perjuanganku hanya untuk dia. Semua orang melihatnya sebagai penggangu tapi Yum pagi itu mendapati kesempurnaan dalam diri anaknya. Dia membungkuk dan menggendong Yoga erat-erat. Dia kembali merasa seperti terbang melayang-layang. Semua samra-samar baginya, perlahan lukanya mulai tertutup satu per satu. (*)

Minggu 19 Juli 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda