Agustusan

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

AGUSTUSAN adalah tradisi melakukan perayaan hari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus. Ini salah satu moment terbaik untuk mencairkan semua sekat komunikasi antarwarga yang berbeda latar belakang sara. Saatnya melihat ke satu fokus, agustusan, merdeka dari segala bentuk tekanan dalam satu kesatuan Negara Republik Indonesia. Inilah salah satu situasi di mana demokrasi benar-benar menemukan tempat, ruang, dan waktu yang sebenarnya.

***
Sebagaimana biasanya, tradisi agustusan di kampung kita yang paling di tunggu-tunggu warga adalah panjat pinang. Bukan soal panjatnya, tetapi soal hadiahnya yang menggiurkan. Bayangkan! Tahun ini hadiah utama yang digantung di pucuk pinang adalah uang lima juta rupiah kontan, langsung petik di pohon dan masuk kantong. Hadiah kedua, uang tiga juta rupiah, dan hadiah ketiga kontan dua juta rupiah. Selebihnya bergelantungan banyak hadiah hiburan termasuk sepeda dayung ukuran besar, kecil, dan sedang. Siapa tidak mau? Batang pinang sudah dibuat licin selicin minyak pelumas, entah jenis minyak apa, tidak masalah. Yang penting bagaimana strateginya agar lima juta rupiah dalam kantong.
***
"Kita mesti tolong menolong bahu membahu biar bisa sampai ke pucuk pinang dengan mudah, dan dapat hadiah lima juta. Hadiah lima juta kita bagi rata," begitulah Rara mulai rencana panjat pinang besok setelah upacara bendera. Dia akan panjat lebih dulu sambil menggosok-gosokkan kakinya agar batang pinang perlahan-lahan bebas dari minyak pelicin. Aturannya, kalau Rara terjatuh sebelum sampai ke puncak, Jaki segera menyusul. Kalau Jaki jatuh, Benza menyusul, dan jika Benza pun terjatuh melorot ke bawah, Nona Mia akan pasang kuda-kuda dan segera panjat, demikian seterusnya.

Mereka harus bergerak cepat agar tidak didahului orang lain. Mereka juga buat kesepakatan agar di muka umum, tampak tidak kenal satu sama lain. Hal yang paling penting adalah bergerak cepat. Rara yakin bahwa paling lama dalam putaran ketiga batang pinang bebas pelicin dan salah satu dari mereka akan memenangkan hadiah utama. Selanjutnya, hadiah lain pasti bisa diraih dengan enteng.

"Ingat! Pegang Janji! Kita harus demokratis membagi-bagi hasil perjuangan kita bersama nanti!" Benza memberi peringatan jelas.

"Demokrasi? Maksudnya gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara?" Tanya Rara. "Kalau itu sih saya sudah hafal luar kepala!"
"Ya, kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat!" Sambung Jaki.
"Kongkretnya demokrasi untuk urusan kita adalah, kekuasaan tertinggi ada pada kesepakatan bersama dan semangat menjalankan kesepakatan," kata Nona Mia.

***
"Siapa pun pemenang pertama yang dapat lima juta, tetap harus bagi rata begitu?" Rara memastikan. "Itulah kesepakatan yang paling demokratis, toooosss!" Rara, Jaki, Benza, Nona Mia pun menyatukan tangan. "Kita harus belajar pada negara soal demokrasi, kita pun harus mewujudnyatakan makna demokrasi dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita harus sepakat untuk membagi hasil panjat pinang secara demokratis! Harus, tidak ada seorang pun yang boleh melanggar kesepakatan ini." Demikian Rara berapi-api.

Ternyata strategi yang diatur Rara cukup jitu. Rara dapat lima juta. Benza, Jaki, dan Nona Mia masing-masing pegang hadiah hiburan tiga buah sepeda dayung. Sepeda segera diuangkan menjadi dua juta rupiah sehingga uang yang ada tujuh juta rupiah. Kalau dibagi empat, hasilnya masing-masing satu juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Agustusan kali ini benar-benar pesta meriah.

Rara langsung bersorak riang gembira karena keluar sebagai pemenang utama. "Lima juta rupiaaaaah," begitulah Rara loncat ke sana ke mari dan menjadi pusat perhatian dan dikerumuni begitu banyak orang di tengah lapangan upacara. Bendera merah putih berkibar-kibar diterpa angin meluapkan kegembiraan Rara yang sejadi-jadinya.
***
"Halo teman, bagaimana pembagiannya?" Jaki langsung ke masalah utama. "Bagi rata. Setiap orang mendapat satu juta plus tujuh ratus lima puluh ribu rupiah!" Benza dan Nona Mia pun sudah berdiri di hadapan Rara.

"Uang siapa punya?" Tanya Rara. "Apakah kamu tidak tahu bahwa saya ini pemenang utama?" Rara pasang tampang marah tanpa kompromi.
"Kita sudah sepakat!" Nona Mia menyambung.

"Sepakat soal apa? Siapa yang jadi saksi? Saya menang lima juta dan kamu semua kalah! Ribuan orang jadi saksi mata bagaimana saya berjuang keras mendapat lima juta. Panitia penyelenggara pun sudah mencatat nama saya sebagai pemenang utama. Oooh, maaf saja ya, saya tidak pernah buat kesepakatan dengan kamu kamu! Saya pemenang, dan kamu kalah!"

"Ini bukan soal kalah menang tetapi soal kesepakatan dan soal demokrasi yang mesti dijunjung tinggi!" Benza menyambung.

"Oh ini bukan soal proses tetapi soal hasil, teman! Jelas-jelas saya pemenang utama, saksi mata lengkap," sambung Rara. "Coba tunjuk kesepakatan tertulis! Mana! Mana buktinya?" Rara bertingkah. "I dont understand!" Rara mengangkat bahu. "I 'm sorry," Rara mulai gara-gara. "Bagaimana temanku Jaki? Kapan kita pernah buat janji buat kesepakatan secara demokratis? Ada bukti tertulis? Apa itu demokrasi? Aku tak tahu..." Rara mengedipkan mata dan Jaki paham apa artinya.

***
"Tidak ada janji, tidak ada kesepakatan, apalagi soal demokrasi dan demokratis. I dont know..." Jaki dan Rara saling merangkul dan menjauh saat itu juga. Tinggal Nona Mia dan Benza hanya menganga kecewa. Tanpa ada yang memberi komando, keduanya melempar pandangan ke atas, ke bendera merah putih yang berkibar dibuai angin. Selamat siang Indonesia. (*)

Pos Kupang Minggu 16 Agustus 2009, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda