Buaya Bajawa

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

RUPANYA gagal nonton MU berlaga melawan Indonesia All Superstar di Jakarta, tidak membuat pencinta bola yang satu ini patah semangat. Terbang ke Bajawa nonton sepak bola. Siapa tahu di sana juga ada MU dan Indonesia All Star versi Nusa Tenggara Timur. Bukan tidak mungkin! Tetapi bagaimana cara atasi dingin Bajawa?

"Gampang! Kalau pagi sampai siang tidak masalah. Kita cukup pakai baju hangat. Kalau mulai gelap kita berdua pakai satu sarung biar hangat, bagaimana?" Jaki mengangguk setuju tetapi dalam hati dia mengejek ajakan Rara. "Bagaimana mungkin dua laki-laki satu sarung. Maaf saja ya," demikian pikir Jaki. "Kalau satu sarung dengan Nona Mia, biar sampai mati, saya nekat! Tetapi satu sarung dengan Rara? Bisa kiamat ini dunia!"
"Kamu pegang siapa?"
"Bajawa!"

"Memang dasar orang Bajawa! Biar kabut turun ke bumi, biar dingin menusuk tulang, biar makan jagung goreng minum dengan moke. Biar maju kena mundur kena tetap Bajawa. Kalah menang tetap Bajawa! Kalau soal bola, jangan marah ya orang Bajawa bisa jadi Buaya Komodo. Lihat saja!"

***
"Buaya Komodo? Ini bukan soal Buaya Bajawa tetapi Buaya Komodo! Sungguh-sungguh Komodo," sambung Nona Mia! Dengan wajah merah karena kecewa dan sakit hati Nona Mia bercerita dengan wajah pucat soal Buaya Komodo yang akan ditangkap sepuluh ekor dan dipindahkan ke Bali. "Aduh, Tuhan! Moga-moga Pemprop NTT pegang prinsip menolak permintaan Menteri Kehutanan RI MS Ka'ban untuk pindahkan buaya-buaya kita ke Bali. "Aduh, Pak Estthon, Pak Frans tolong! Jangan pernah izinkan buaya kita pindah ke Bali. Saya akan menyesal seumur hidupku telah pilih kalian berdua jadi gubernur dan wagub!" Nona Mia menarik nafas panjang.

"Lebih baik pikir Buaya Bajawa di Stadion Lebijaga. Buat apa pikir Buaya Komodo? Memangnya kamu orang Manggarai Barat?" Tanya Jaki tidak peduli.

"Memang dasar orang Flores!" Nona Mia marah. "Kalau soal bola, Bajawa pikir dia punya Bajawa, Ende pikir dia punya Ende, Ruteng pikir dia punya, Mborong pikir dia punya, Labuan Bajo pikir dia punya, Maumere pikir dia punya, Larantuka pikir dia punya, Danga pikir dia punya, Lewoleba pikir dia punya Lewoleba! Kapan pernah bersatu dan membangun persahabatan lewat bola?"

"Ya! Ini bukan soal Rinca, Komodo, Wae Wuul di Mabar dan Riung Ngada! Ini bukan soal Fidelis Pranda Mabar! Ini soal kita semua. Bagaimana mungkin memindahkan habitat asli unggulan dunia yang hanya ada di Flores andalan pariwisata internasional itu ke Bali Pulau Dewata? Bagaimana mungkin? Apakah Bali sudah kehilangan daya tarik sehingga mesti bawa buaya darat Komodo ke sana? Ataukah orang kita yang tidak tahu kelola pariwisata, tidak tahu menjaga Buaya Komodo, sampai perlu diselamatkan ke Bali? Ooooh jangan-jangan karena Pulau Komodo punya kandungan emas dan mau ditambang sampai habis? Jadi buaya diamankan di Bali?"

***
"Biar sajalah! Kamu orang Timor turunan Sumba Sabu Rote Alor, buat apa pikir masalah Flores?" Rara tidak mau peduli. Yang ada di kepalanya hanya bola dan Buaya Bajawa! Tidak ada yang lain.

"Memang dasar kamu orang Timor!" Nona Mia sambung lagi. "Kalau soal bola SoE pikir dia punya SoE, Kefa pikir dia punya Kefa. Atambua pikir dia punya Atambua. Rote Sabu Alor juga pikir dia punya diri sendiri. Selamanya kita tidak pernah maju karena angkuh wilayah angkuh etnis dan mungkin juga angkuh agama, hanya karena bola! Kapan olahraga jadi arena kekeluargaan? Kapan bisa pikir sama-sama soal komodo?

Apakah kamu tidak tahu bahwa buaya komodo itu keunggulan NTT? Kalau Timor hanya pikir dia punya Timor dan Flores hanya pikir dia punya Flores, kita hanya akan menjadi satu NTT semu!"

"Tetapi saya bukan orang Timor, saya ini orang Sumba Asli!" Jaki tersinggung dengan kata-kata Benza.
"Sama dengan! Waingapu, Waikabubak, Weetebula dan orang Sumba Tengah juga sama dengan kalian! Hanya pikir diri sendiri! Lihat lurus ke depan tidak ada waktu untuk toleh kiri kanan lihat tetangga sebelah!"

"Kamu kalau omong seenak perutmu sendiri!" Jaki tersinggung. "Jadi, kamu maunya bagaimana? Sekarang kita lagi nonton bola. Lagi kejar buaya Bajawa, lagi taruhan siapa yang jadi benar-benar jadi buaya Bajawa sesungguhnya di Bajawa kali ini!"
"Kita semua mesti kompak, bersatu menentang upaya apa pun untuk pindahkan buaya komodo ke Bali. Hari ini kita bertemu Bupati Fidelis Pranda!"

"Oh ya saya tahu! Bupati Pranda katakan bahwa sebaiknya rencana Menhut pindahkan 10 ekor komodo ditunda karena sedang ada kontes pemilihan New Seven Wonders," Rara mulai bersemangat.

"Sampaikan ke Bupati Pranda! Pindah dari Wae Wuul ke Komodo, boleh saja! Tetapi kalau pindah ke Bali, maaf saja! Kita semua harus berjuang pertahankan buaya komodo milik kita! Ayoh kita berangkat!"

***
"Tetapi kita nonton bola dulu!" Ajak Benza sambil menggigil kedinginan. "Dingin apa dingin Bajawa. Ambil kain panas selimut badan. Bola apa bola Bajawa. Bola Bajawa siapa berani lawan," demikian Benza berpantun.
"Kira-kira siapa yang jadi Buaya Bajawa dalam ETMC Bajawa tahun ini?"

"Siapa saja yang jadi Buaya Bajawa, kita undang ke Wae Wuul untuk rame-rame tangkap buaya dan bawa ke Komodo..." *

Pos Kupang Minggu 26 Juli 2009, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda