Dr. Dachamer Munthe, S. H, M.H.


POS KUPANG/ALFRED DAMA
Dr. Dachamer Munthe, S. H, M.H.

Berikan Motivasi kepada Keluarga dan Institusi

PADA pertengahan Juli lalu, Dachamer Munthe melengkapi gelar pendidikan dengan gelar Doktor di Universitas Padjajaran- Bandung. Gelar dalam bidang hukum ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi pria yang kini menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Propinsi NTT ini.

Memberi yang terbaik bagi institusi Kejaksaan Republik Indonesia dan masyarakat merupakan cita-cita Dr. Dachamer Munthe, S. H, M.H. Salah satu langkahnya adalah mengambil program doktor (S3). Mengambil jenjang pendidikan tertinggi ini tentu tidak sekadar mendapat jabatan, melainkan untuk menambah kualitas diri sekaligus memberikan kontribusi pada lembaga tempatnya mengabdi.

Kepada Pos Kupang yang menemuinya di Kantor Kejaksaan Tinggi NTT beberapa waktu lalu, Kepala Kejaksaan Tinggi Propinsi Nusa Tenggara (NTT) ini mengatakan, niatnya menempu jenjang pendidikan program doktor dalam ilmu hukum adalah untuk memberikan motivasi kepada anak-anaknya.

Ia ingin menunjukkan pada anak-anaknya bahwa meski sudah tua, dia masih memiliki semangat belajar. Dengan ini dia berharap anak-anaknya tidak berhenti belajar.
Sementara untuk rekan kerja atau juniornya, Dachamer Munthe ingin menunjukkan bahwa jabatan dan pangkat bukan akhir dari proses belajar.

Berikut petikan perbicangan Pos Kupang dengan Dr. Dachamer Munthe, S. H, M.H.

Apa motivasi Anda menyelesaikan kuliah sampai S3?
Yang pertama, saya ingin menunjukkan kepada anak-anak saya bahwa dalam usia lima puluh sekian tahun, saya masih mau belajar. Saya ingin memotivasi anak saya yang sekarang sedang kuliah. "Bapa sudah begini saja masih ingin sekolah, kalian ini masih muda, bagaimana? Gito loh. Jadi tidak hanya dengan omongan, tetapi menunjukkannya dengan perbuatan.

Dengan demikian, kalau saya menyuruh mereka atau pun menegur mereka, tentu saya ada alasan. Pada zaman sekarang, anak-anak tidak hanya dengan omongan saja, tapi kita harus tunjukkan sikap dan perbuatan kita sehingga bisa dicontohi.
Pada zaman dulu, orangtua bilang begini kita takut, kalau sekarang tidak. Apalagi anak saya di Jakarta. Oleh karena itu, saya tunjukkan sikap, saya tunjukkan dengan konkret, ini loh papa, gini-gini masih sekolah. Nah kalian bagaimana?.

Kedua, saya juga ingin memberikan yang terbaik bagi institusi saya yaitu Kejaksaan. Di Kejaksaan itu, masih dihitung dengan jari yang bergelar doktor.

Apakah sudah banyak aparat lembaga Kejaksaan yang sudah mengenyam pendidikan hingga S3?
Sampai saat ini doktor di Kejaksaaan Agung baru ada empat, termasuk dengan saya. Saya ingin berbuat yang terbaik untuk institusi saya, meraih gelar doktor. Kan saya memberikan kontribusi untuk institusi saya. Nanti saya bisa mensyeringkan pengalaman, bisa menjadi tenaga pengajar di Pusdiklat.

Kalau ada hal-hal yang penting sebagai pembicara dari Kejagung, saya bisa tampil di situ, di forum-forum nasional dengan kapasitas saya sebagai doktor sejajar dengan akademisi. Jadi, kalau orang akademisi, wajar dia ambil S2, S3. Kalau saya kan praktisi. Ketiga, memberikan motivasi untuk junior saya. Kalau bisa mereka juga menambah pengetahuan. Pengetahuan bisa komplit apabila dibarengi dengan kapasitas akademik. Jadi ilmu akan sempuran apabila pengalaman praktik ditunjang dengan akademisi. Dengan demikian, kita akan lebih bijak untuk melihat sesuatu.

Apakah pengetahuan ini relevandengan bidang yang Anda jalani?
Soal penerapan hukum tentunya akademisi akan kalah dengan praktisi. Nah, saya sudah luar kepala bagaimana membuat dakwaan, bagaimana memeriksa orang. Orang akademisi tidak, karena dia berteori. Kalau saya kan mulai dari laporan di koran, saya bisa memformulasikan menjadi satu berkas. Kalau akademisi kan tidak bisa, bagaimana dia mulai. Laporan di koran, ada kebocoran dana APBD di Propinsi NTT yang diprediksi sekian miliar.

Saya dengan data itu sudah bisa bergerak. Saya himpun data- data. Saya mintai keterangan. Saya konfirmasi ke sini. Saya melakukan penyelidikan, penyidikan. Jadi berkas. Kemudian saya bikin dakwaan, dilimpahkan ke perkara. Jadi itu bedanya sama akademisi. Tetapi, alangkah idealnya kalau praktisi juga ditunjang dengan akademisi. Ilmu kan berkembang terus, sehingga ilmu-ilmu yang kita dapatkan di perguruan tinggi akan memperkaya kita dalam penerapan tugas kita.

Sibuk, tugas sebagai pejabat negara pindah ke sana kemari. Bagaimana upaya Anda hingga program doktor ini bisa rampung?
Kita memang harus berkorban. Inilah pengorbanan. Kadang- kadang keluarga protes. Saya kan kuliah Jumat, Sabtu dan Minggu. Jumat pukul 17.00 Wita, Sabtu full day. Untuk mengejar semesteran, Minggu kadang-kadang pagi kuliah, tergantung dosen. Di rumah juga dikomplain anak-anak. Jadi kita harus korban sedikit. Itu masih kuliah. Begitu selesai kuliah, habis teori, saya mulai riset (penelitian). Ini juga butuh waktu. Kalau tadi saya mengambil waktu anak dan keluarga sedikit, tapi hari kerja saya tidak curi waktu, saya selesaikan setelah jam kerja. Misalnya di sini, jam lima atau jam enam, mereka sudah pulang, saya kadang sampai jam 10 malam masih ada.

Saya pesan makanan di kantor. Kalau lagi mood untuk tulis, kadang sampai jam 12. Kadang diganggu anak-anak sudah jam 12 pak (malam). Lagi asyik nulis, karena lagi datang dari otak ekspresikan. Kalau lagi nggak datang susah. Pas lagi asyik tulis, sampai tengah malam tidak terasa.

Balik lagi bagaimana manajemen waktu. Memang keluarga agak terusik saat masih kuliah. Tetapi, kadang-kadang Minggu sore saya ganti. Pulang gereja saya ganti kebersamaan dengan keluarga. Jadi kita ganti dengan malam Senin. Seharusnya malam Minggu acara untuk keluarga, tetapi saya ganti. Keluarga mengerti kok.

Kegiatan kantor, akhir pekan disambung dengan kuliah. Kapan istirahatnya?
Nah itulah. Saya sering flu itu. Saya tambahkan dosis suplemen. Kalau nggak, kita nggak kuat. Bisalah, kita jaga kesehatanlah.

Berarti tidak olahraga lagi?
Kadang-kadang olahraga pagi saja sebentar, pemanasan dan rileks badan setengah-setengah jam. Otomatis Jumat, Sabtu, Minggu nggak ada olahraga. Bagaimana mau olahraga? Nggak ada olahraga. Paling tidak Senin, Selasa, Rabu, Kamis, kita setengah jam bangun tidur lemas-lemasin, keringat sedikit sudah. Padahal basic saya pemain tenis dan sekarang beralih ke golf. Di sini kalau saya tidak pulang ya, ke El Tari. Jalan di situ, 9 hole kali 9 hole sudah 81 hole, sudah enam kilometer. Sembilan hole sekitar dua kilometer lebih. Kalau pergi pulang, sekitar lima kilometer lebih. Panas lagi. Kaki sudah pegal, tetapi lemak sudah dibakar.

Anda sibuk kuliah, sibuk kerja juga. Bagaimana kalau ada acara keluarga?
Istri saya yang sering mewakili. Jadi kalau ada acara keluarga, pesta ponakan, istri saya yang tampil selalu. Inilah peran istri. Jadi istri saya yang meyakinkinkan omnya bahwa saya lagi sekolah. Mohon maaf ya. Jadi kalau kawinan di keluarga ya, istri saya yang tampil. Nah, itulah gunanya, bagi tugas kan? Istri saya juga memahami dan mendukung penuh kepada saya. Nah itulah hebatnya istri saya. Dia dukung supaya di keluarga kita tidak diomongin, tetapi di kantor kita juga maju.

Sebagai pejabat Kejaksaan, bagaimana proses perkuliahan. Apakah ada kemudahan dari dosen karena Anda seorang jaksa?
Nggak lah. Di situ sama semua, mas. Dibantai juga kita. Perlakuan dosen sama semua. Sama semualah, tidak ada yang khusus. Polisi, bankir, hakim agung juga banyak yang kuliah. Di situ rata-rata sudah bekerja semua. Sama semualah. Mana dia (dosen-Red) mau tahu. Karena saya jaksa, jadi dia beri kemudahan, tidaklah. Tugas bikin paper ya, tetap bikin paperlah. Setelah bikin paper, ujian jugalah secara tertulis. Kalau dapat C, kita dikasih kesempatan untuk ulang lagi. Disuruh dosen coba bikin paper satu lagi, biar bisa nambah nilai you. Kita bikin paper lagi. Papar yang dulu kita anggap gagal, kita bikin yang baru. Dengan ini dia nilai otoritas untuk tambah. Dosen tutup mata saja, dia punya otoritas tersendiri di situ. Ya, kesempatan juga lah buat dosen. Kalau ada penulisan yang buruk di surat kabar tentang kejaksaan atau kepolisian, kesempatan dia hantam kita. Jadi tidak ada perlakuan khusus.

Bagaimana pendapat Anda tentang pandangan masyarakat terhadap upaya-upaya penegakan hukum? Misalnya kasus- kasus korupsi. Apakah masyarakat belum terbuka dan sebagainya.
Ya, kadang-kadang upaya penegakan hukum, dalam hal ini penindakan kasus-kasus korupsi, kan lebih ngetrend untuk publik. Masyarakat sebenarnya mengharapkan sangat banyak terhadap institusi kita sebagai garda terdepan memberantas korupsi. Namun di sisi lain, kita punya kendala-kendala. Misalnya di NTT, personel kita sangat kurang. Kajari-Kajari mengeluh sama saya, pak tolong ditambah dong jaksanya. Jaksa kami hanya ada tiga, empat. Dia sudah sibuk dengan perkara dari polisi (pidum) yang mana administrasinya juga harus dikerjakan.

Kalau dia tidak kerjakan dengan baik, administrasinya nanti kalau ada sesuatu diskriminasi, dia bisa dikenai PP 30. Itu sudah ribut mereka. Nah ditambah dengan penanganan perkara korupsi yang mulai dari penyelidikan dan penyidikan. SDM-nya kita kurang, kualitas SDM-nya juga begitu. Apalagi kita daerah pinggiran. Timor ini kan daerah pinggiran. Baik kalau di Jawa sana, mereka banyak stoknya. Karena orang itu berlomba-lomba ke Jawa, orang sini sendiri ke Jawa. Ya, maksudnya bagus karena ingin ada penyegaran, ada suasana yang berubah. Dengan berubah ada gairah baru dan semangat baru.

Apa kesan Anda tentang tugas sebagai jaksa?
Saya pindah-pindah terus. Pertama, saya ditempatkan di bidang operasi di Kajaksaan Agung, kemudian dipindahkan di Suasio, Maluku Utara. Sebagai jaksa pertama kali pada tahun 1988. Saya sidang pertama kali. Bagaimana saya keringat, apalagi kasus pembunuhan. Nah, itu saya tidak bisa lupakan. Pengacaranya banyak, saya jaksa baru dan sendiri. Apalagi di situ hanya ada dua jaksa. Saya pernah dikasih tangani perkara di mana saya harus berhadapan dengan tiga pengacara dari Ternate. Ternate itu agak maju dari tempat tugas saya Suasio.

Saya jaksa masih baru.
Tangani kasus pembunuhan, yang jelas saya jadi kurang PD (percaya diri). Setelah itu saya pindah ke Kuningan, Jawa Barat, sebagai Kasipidsus. Daerahnya segar, dekat gunung, hampir sama dengan Ruteng. Di situ saya sebagai Kasipidsus, saya banyak belajar dari Kajarinya.

Kajarinya orang operasional yang menuntun saya dalam teknis- teknis penyidikan. Walau saya dapat teknis penyidikan dalam tataran teori di Pusudiklat, teori dan praktik kan berbeda. Saya tidak bisa lupa Kajari saya, karena dia memberikan ilmu yang sama kepada saya dan saya belajar sungguh-sungguh dari dia.

Dia bimbing saya sehingga saya lebih PD lagi dalam kasus- kasus. Di situ saya mulai berani mengungkapkan kasus-kasus di KUD, KUT di Kuningan. Kajari saya memang orang operasional, sehingga dia senang sama saya. Sampai kerja dia bawa rokok, kopi. Orang Jawa sih, kerja pakai mesin ketik, tidak ada komputer. Kita semangat, disuruh apa aja saya kerja. Setelah itu saya masuk pendidikan perdata di Pusdiklat Kajagung tiga bulan. Pulangnya, saya dapat SK jadi Kasidatum di Tasikmalaya.

Rupaya kami angkatan pertama ini diprioritaskan untuk mengisi Kasidatum. Dulu belum ada, karena bidang baru, dikasih orang- orang yang sudah dididik. Di sini satu tahun setengah. Kemudian masuk Kasi Intel di Jakarta Selatan, saya dipercayakan menangani kasus-kasus. Reformasi terjadi saat itu. Sayalah yang menangani kasus Tommy Soeharto dan Bedu Amang. Mungkin kalian masih ingat kasus tukar guling (ruislag).

Anda memeriksa anak mantan Presiden RI, Tommy Soeharto. Apa yang Anda lalukan?
Orang tidak pernah membayangkanTomy diperiksa. Bagaimana memeriksa menteri, kita sudah mulai. Kasih kesempatan kepada saya dan sekitar lima jaksa. Dua di antara jaksa ini sudah pensiun. Saya lapis kedua dari mereka. Jadi ada tukar guling (ruislag), melibatkan Prof. Bedu Amang sebagai Kepala Bulog, saat itu developernya Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto bersama Rikardo Galael. Dan saat itu, kita sudah menyidik, juga menyidangkan. Saya kebagian tugas menangani Rikardo Galael, Fahmi, Tommy Soaherto. Penyidijkan kita sama- sama, ini kasus KKN pertama pasca Soeharto jatuh. Ini pertama kali kita memanggil dan memeriksa Tommy. Dulu mana berani memeriksa Tommy.

Apa yang Anda rasakan?
Boro-boro memeriksa Tommy, pengawalnya saja mana ada yang berani macam-macam. Tapi karena kita murni, kita temui para tersangka ini. Kita sampaikan, kita hanya menjalankan tugas dan dijawab, ya, silakan mas. Kita sama-sama respek.

Kalau masih ingat, kasus yang kita tangani inilah yang sampai ada hakim yang ditembak mati. Ya, pada saat itu kita juga agak- takut. Bagaimana tidak, diteror juga kita. Tetapi mungkin dulu saya masih muda, berani saja. Sekarang sudah tua, sudah agak takut-takut. Dulu mana berani urus Tommy. Kita dibilangin wartawan hati-hati loh, tetapi saya tidak takut. Pada saat sidang, ada pengerahan massa dari Jakarta Selatan. Aku dalam hati bilang, mati kita. Tapi kita terus saja.

Karena perkara itu layak dijual oleh pers, karena menyangkut anak Soeharto, ada pejabat, ada konglomerat. Kita dikejar-kejar pers, akhirnya pimpinan bilang kalian harus cepat. Dan saat diekspos di depan Jaksa Agungnya, saat itu Andi Galib, kita ditanya, siapa jaksanya. Diberitahukan bahwa kita yang tangani. Lalu, Pak Andi Galib bilang ya, sudahlah, jaksanya jangan diganti-ganti. Akhirnya kita bertiga rundingan.

Saya, Fahmi, satu lagi senior saya Suharjono. Yang menangani Bedung Amang adalah Suharjono, yang nanganin Tommy adalah Fahmi dan saya menangani Rikardo Galael. Mereka rebutan karena dua orang ini lebih populer. Saya disuruh tangani Rikardo, bagi saya tidak apa-apa. Akhirnya berhasil. Itulah pengalaman yang paling menarik dalam kehidupan saya. Karena begitu saya menyidik, menangani, mengeksekusi saya juga.

Apa yang membuat Anda senang menjadi jaksa. Padahl harus berhadapan dengan pejabat dan sebagainya?
Ada satu kebanggan kalau menangani kasus-kasus yang sulit, kasus yang menyangkut orang besar. Saya terpacu untuk fight dan pasti pengacaranya handal-handal. Secara tidak langsung, dengan kehadiran mereka, saya terpacu untuk belajar lebih banyak, jangan sampai kalah sama dia.

Malu dong kalau sampai kalah, di depan umum lagi. Otomatis saya harus membekali diri labih bagus lagi. Makanya saya beruntung juga kuliah banyak dan bahan-bahan teori saya banyak untuk hantam mereka. Jadi ada rasa bangga, dan membuat kita semangat. Setelah itu baru kita takut, seperti tangani kasus Tommy. Kalau saya ditembak pas lagi pulang, gimana? Tapi kok,dulu saya tidak mikir begitu semangatnya. Saya alasan ya, profesional sajalah. Kalau mati ya, mati.

Cuma kalau kasusnya perdata, tekanananya tidak terlalu banyak, kan dia hanya mengejar aset di situ. Tetapi kalau kasus pidananya, korupsi dipecat ya, bahaya. Apalagi kalau selesai sidang, langsung ditodong oleh pers dalam negeri maupun luar negeri. Jadi ada kepuasan tersendiri. Tapi kalau saya omong pasti ditertawain, soalnya pers live. Salah ngomong, pasti dibilang goblok dan pimpinan tahu, ya diganti. Tapi untunglah Tuhan menolong, jawaban saya itu mengalir gitu kepada pers. Namanya pertanyaan wartawan ni kan banyak yang ngawur-ngawur juga, banyak jebakan, ciptakan konflik, macam-macam. Ada yang pengacara kasih jawaban, dia yang tanya. Mati sudah. Kalau saya nggak pintar memelintir, habislah, saya terjebak.(apolonia dhiu/alfred dama/yosep sudarso)


Termotivasi dari Scuter Sang Ayah

KENANGAN masa kecil terhadap perilaku aparat kejaksaan terjadap sang ayah membuat Dr. Dachamer Munthe, S. H, M.H sangat ingin menjadi jaksa. Motivasinya adalah ingin mengetahui apa saja tugas kejaksaan.

Menurut Munthe, dia anak seorang sipir penjara di Medan. Ayahnya memiliki sebuah sepeda motor scuter (vespa). Suatu ketika, ia melihat ayahnya pulang ke rumah tanpa sepeda motor kesayangannya itu. Ia pun bertanya perihal sepeda motor tersebut. Ayahnya menjelaskan bahwa sepeda motor itu disita oleh aparat Kejaksaan.

Menurutnya, saat itu aparat kejaksaan memiliki kewenangan yang tinggi, sebab saat itu belum ada KUHAP. Panduan pelaksanaan hukum menggunakan HIR. "Saya ingat betul dulu polisi di bawah kontrol jaksa langsung. Jadi perkara-perkara pidana umum ditangani langsung oleh jaksa. Pada zaman HIR sebelum KUHAP, pembunuhan, penyidikan pidana umum, langsung ditangani jaksa," jelasnya.

"Jadi, orangtua saya, ibu pedagang, sedangkan bapa saya pegawai di Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Suka Mulia Medan. Jadi ketika bapa pulang dari kantor, Vespa-nya tidak ada lagi. Saya tanya, di mana pak scuternya. Bapa bilang scuter disita karena utang-piutang. Pada saat itu utang-piutang dibikin perdata, dibilang penggelapan," jelasnya.

Penjelasan sang ayah membuatnya berpikir bahwa jaksa saat itu sangat semena-mena Menurutnya, peristiwa itulah yang membuatnya begitu menggebu ingin menjadi seorang jaksa. Ia ingin mengetahui apa saja pekerjaan dan kewenangan jaksa. "Ibu saya yang punya utang-piutang, kok Vespa bapa saya yang diambil. Saya memberontak. Tapi, akhirnya saya termotivasi menjadi jaksa," jelasnya.

Selain itu, ada tetangganya yang juga seorang jaksa. Kehidupan tetangga masa kecilnya itu terlihat lebih baik dari keluarga mereka. Ini pula yang menambah dorongannya ingin menjadi jaksa. "Tetangga jauh saya jaksa juga. Saya lihat kok hidupnya bagus, dibandingkan bapa saya yang Kalapas. Saya musti jadi jaksa ni suatu saat. Saya tidak mengerti jaksa itu apa," jelasnya. (nia)

Nama : Dr. Dachamer Munthe, S.H, M. H.
Tempat Tanggal Lahir : Medan, 23 Agustus 1956
Istri : Winda Purba
Nama : Gregorius Jurisio
Adinda Natasia
Saverio

Jabatan : Kepala Kejaksaan Tinggi Propinsi NTT
Menikah : umur 30 tahun
SD-SMA : Medan
S1 : Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta (1980)
S2 : Universitas Padjadjaran (Unpad) (2000)
S3 : Universitas Padjajaran-Bandung

Disertasi : Masalah Sistem Pembuktian Perkara Tindak Pidana Korupsi Dalam Sistem Hukum Pidana Indonesia.

Pos Kupang Minggu, 16 Agustus 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda