POS KUPANG/ALFRED DAMA
Drs. H. Kasman Maman-Hj. Maimunah H Ibrah


Membangun Keluarga Sakinah

Didik Anak Hidup Sederhana

BERPROFESI guru Madrasah dengan gaji yang pas- pasan tidak membuat pasangan Drs. H. Kasman Maman dan Hj. Maimunah H Ibrah lupa akan pendidikan anak-anak demi masa depan mereka. Pendapatan yang minim, juga bukan hambatan bagi pasangan ini dalam membangun keluarga yang sakinah.

Pasangan ini senantiasa mendidik anak-anaknya untuk hidup sederhana dan mengajarkan nilai-nila agama pada anak-anak mereka sejak dini.

Kesedarhaan yang dibentuk sejak dini memetik hasil yang luar biasa karena kelima anaknya bisa menyelesaikan penididikan hingga meraih gelar sarjana. Bahkan saat ini anak-anak mereka sudah bekerja semuanya. Ini pula yang membawa pasangan ini terpilih menjadi pasangan Keluarga Sakinah Teladan Tingkat Propinsi NTT tahun 2009 dan akan mewakili Propinsi Nusa Tenggara Timur di pentas nasional mengikuti lomba Pemilihan Keluarga Sakinah Teladan tingkat nasional tahun 2009 di Jakarta.


Pasangan yang menikah di Alor, 6 Juli 1969 dan saat ini usia perkawinan memasuki 40 tahun ini memiliki lima anak.

Anak pertama, Ibrahim Muhammad Saleh, lahir di Alor, 18 Juli 1970, menamatkan kuliahnya di Universitas Widyagama Malang Jurusan Manajemen Perusahaan, saat ini bekerja di Pertamina Depot Kalabahi.

Anak kedua, Ismail Muhammad Saleh, lahir di Alor, 20 November 1972, tamat di Universitas Gajayana Malang Jurusan Statistika Terapan, saat ini bekerja di Departemen Agama Kota Kupang.

Anak ketiga, Siti Wahyuni Muhammad Saleh, lahir di Alor, 2 Juni 1975, menyeleaikan sarjana muda Perikanan di Universitas Brawijaya Malang dan menyelesaikan sarjana Biologi di Univesritas Muhammadiyah Malang, saat ini bekeja sebagai guru Biologi di SMP Negeri Pura Alor.

Keempat, Abdul Abad Muhammad Saleh, lahir di Alor, 3 Juli 1977, tamat Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Kupang, saat ini sudah bekerja di Dinas Perkebunan Kabupaten Alor. Putri bungsunya, Siti Hidayati Muhammad Saleh, lahir di Alor, 1 Agustus 1980, menyelesaikan kuliahnya di Universitas Widiyagama Malang, Jurusan Teknik Sipil, saat ini bekerja sebagai pegawai honor di Dinas Kimpraswil, Kabupaten Alor.


Kepada Pos Kupang di kantor Wilayah (Kanwil) Depertemen Agama (Depag) Propinsi NTT, Selasa (11/8/2009), Kasman yang pernah menjadi Kepala MAN Kalabahi ini, mengatakan, sejak menikah 40 tahun silam, mereka sudah bersepakat untuk menyekolahkan anaknya sampai menjadi sarjana.

Karena itu dengan penghasilan yang pas-pasan, pasangan ini mendidik anaknya untuk hidup sederhana. Makan minum dan hidup hanya dari gaji sebagai guru, karena Kasman sebagai satu-satunya tulang punggung dalam keluarga tidak memiliki penghasilan lainnya selain menerima gaji bulanan sebagai seorang guru.

Dan menyekolahkan anak di perguruan tinggi di Jawa, bagi keluarga ini, bukan hal mudah dari sisi biaya. Namun keluarga ini punya kiat. "Saya pinjam uang di Bank Bukopin dan simpan di BRI. Uang di BRI ini bisa diambil kapan saja untuk keperluan anak-anak. Saya cicil pinjaman di Bukopin. Nanti, setelah lunas di Bukopin, saya pinjam lagi di Bank BRI dan simpan di Bukopin. Ini saya lakukan terus. Jadi uang untuk anak- anak saya bisa dipenuhi," jelasnya.

Bagi keluarga ini, sangat sulit ketika tiga anaknya harus duduk di perguruan tinggi. Namun, berkat ketabahan dan kerja keras serta disiplin yang dilakukan pasangan ini, ketiga anaknya bisa sukses kuliah di Malang dan bisa pulang dan mendapatkan pekerjaan dan kembali membantu orangtua.

Pria kelahiran Alor Kecil, tahun 1947 ini, mengatakan, karena ketiga anaknya sudah kuliah, maka anak keempat terpaksa menunda dua tahun untuk masuk ke perguruan tinggi. Namun, setelah ketiga anak mereka tamat perguruan tinggi di Jawa, anak keempat meminta kuliah di Kupang saja. Inilah yang membuat pasangan ini sedikit lega.

Alumnus Undana tahun 1985 ini mengatakan, tidak ada yang luar biasa yang dilakukan pada anak-anaknya. Keluarga ini hanya menginginkan agar anak-anak mereka bisa menjadi orang yang berguna bagi keluarga, bangsa, negara dan Tuhan. Mantan guru di Pendidikan Guru Agama (PGA) Namosain ini selalu menekankan kepada anaknya agar menggunakan uang seperlunya jika benar-benar dibutuhkan untuk keperluan kuliah. (nia)


Khawatir tapi Percaya

H. Kasman Maman mengawali kariernya tahun 1967 saat diangkat menjadi PNS ini. Sebagai orang tua, katanya, ia dan istrinya tentu kerap mengkhawatirkan keadaan anak-anak mereka yang kuliah di Pulau Jawa. Namun, pasangan ini yakin pendidikan dan bimbingan yang dilakukan keduanya di rumah bisa menjadi dasar bagi anak-anaknya untuk hidup sederhana dan menjaga kepercayaan keduanya.



Saat masih duduk di bangku SD sampai SMA, katanya, rumahnya kebetulan dekat sekolah dan asrama sekolah sehingga suasana sekolah sangat mempengaruhi anak- anaknya. "Anak-anak saya terbawa dengan situasi sekolah dan asrama sehingga mereka bisa belajar tepat waktu dan bisa belajar dengan baik, tanpa harus diingatkan terus," kata Kasman yang menjadi anggota Khatib pada Masjid Agung Al Fatah Kalabahi 1998 sampai sekarang.

Sebagai orang tua, apalagi sebagai guru, ia selalu mengecek anak-anaknya saat belajar. Jika ada pekejaan rumah yang sulit atau ada pelajaran yang sulit, biasanya ia membantu anak-anaknya.

Menurutnya, sebagai keluarga muslim, pasangan ini selalu menekankan kepada anak-anaknya untuk melakukan sholat lima waktu. Di sela-sela kesibukan sebagai guru, ia tetap mengajarkan kepada anak- anaknya untuk tidak lupa menunaikan sholat lima waktu maupun membaca Al'Quran. Hal ini dilakukanya sejak anak-anak masih usia dini, sehingga ketika anaknya memilih untuk melakukan perkuliahan di Malang, keduanya yakin anaknya bisa sukses dan pulang mebawa ijasah.

Untuk mengefektifkan komunikasi dengan anak di tempat yang jauh, dia memanfaatkan telepon sekolah. "Dulu belum ada handphone seperti sekarang, makanya susah setengah mati. Kalau tidak pakai surat yang dikirim melalui kantor pos, biasanya saya meminta izin kepada kepala sekolah menggunakan telepon sekolah untuk menelepon anak-anak di Jawa. Syukur, kepala sekolahnya mengerti kesulitan saya," katanya.

Dalam setiap komunikasi dengan anak-anak, biasanya ia mengingatkan anak-anak agar bisa belajar dengan baik dan tidak lupa sholat lima waktu. Selain itu, ia juga mengecek kondisi anak-anak maupun keuangan mereka.

Dikatakannya, pendidikan dalam keluarga memang sangat keras bahkan ia bisa menggunakan fisik jika anak-anaknya nakal, tetapi semua itu dilakukan dalam bingkai pendidikan. Alhasil, kelima anaknya sudah menggapai apa yang mereka cita-citakan saat ini.

Hal itu dilakukan ketika anaknya masih berusia SD sampai SMP. Saat sudah menduduki bangku SMA apalagi kuliah, keduanya hanya bisa mengarahkan dengan kata-kata tanpa melakukan kekerasan fisik. (nia)

Pos Kupang Minggu 16 Agustus 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda