Goresan Jiwa

Cerpen Vinsen Making

HARI ini terasa amat berat untuk dilalui. Masa lalu kadang membuat hancur segala keindahan yang saat ini telah tercipta. Aku telah menemukan cinta sejatiku saat ini dan aku amat mencintainya. Aku tak mungkin meninggalkannya. Makanya aku terus memberikan yang terbaik baginya. Aku sulit mengungkapkan siapa diriku yang sebenarnya.

Aku takut melukai persaannya. Aku takut melukai hatinya dan lebih lagi aku takut kehilangannya. Sebab, sekali lagi aku amat mencintainya. Aku benci masa laluku, aku muak dengan kebodohan dan ketakberdayanku. Dan, satu lagi aku benci atas ketidakjujuranku padanya. Tapi di satu sisi, aku tak mau dia sakit. Aku tak mau ada air mata di pipinya. Sebab, aku amat mencintainya....

Virgilya berhenti membaca tulisan ini. Matanya berkaca-kaca. Terlihat jelas kabut kegelisahan di wajah ayunya. Hatinya gunda gulana, letih jiwanya menyandarkan nuraninya pada peraduan yang tak pasti. Ia dilema. Tetes air matanya jatuh berderai basahi tulisan tangan yang ada di panguannya. Ia tengah menangis. Dalam benaknya kini hanya ada satu wajah yakni wajah kekasih jiwanya, Roland.

Hari ini genap lima bulan usia hubungan mereka berdua. Virgilya merebahkan badannya ke atas tempat tidur. Ia mencoba memejamkan matanya barang sedetik untuk mereviuw kembali kenangan bersama Roland. Memorynya yang kuat, meneropong kembali detik awal perjumpaan merekaà, Di sana di bawah rindangnya ketapang, di temani dengan gemuruh ombak yang menghempas karang, Roland menyatakan cintanya kepada Virgilya. Suatu pernyataan yang sangat ditunggu-tungu oleh Virgilya.

Maklum Roland adalah type cowok yang menjadi idaman Virgilya. Kedewasaan, kelembutan dan keramahan yang ditunjukkan oleh Roland selama kebersamaan mereka beberapa minggu sebelumnya membuat hati Virgilya menyerah dan tertawan dalam lingkaran lengan kekar Roland. Ketapang satu merupakan tempat bersejarah dalam hidup seorang Virgilya. Hatinya yang selama ini tertutup rapat ternyata mampu terbuka oleh dentingan melodi cinta yang di mainkan Roland. Keduanya saling mencintai dan menyayangi.

Bintang-bintang menari membuat lingkaran gelombang asmara, bulan tersenyum di balik kegelapan. Geliat malam di kota karang saat ini begitu dirasakan oleh nurani seorang Virgilya. Ia seakan tengah ikut berpawai bersama kupu-kupu malam di pinggiran selokan berbau amis. Jiwanya seakan sedang menari bersama para lelaki hidung belang di diskotik yang erotis. Hingar bingar musik yang berpadu dengan kerlap kelip lampu diskotik menambah kusut pikiran Virgilya.

Virgilya, seorang gadis berusia 19 tahun adalah anak seorang pengusaha sukses di Kota Kasih. Kehidupan yang mapan membuat anak tunggal ini melakukan apa saja menurut keinginannya. Cara berdandannya juga selalu mengikuti trend terkini. Pakian yang ia kenakan serba seksi dan terkesan sedikit erotis. Hal inilah yang selalu di koreksi oleh Roland. Berbeda dengan Virgilya, Roland lebih dewasa dalam segala hal. Mulai usia hingga tata kerama dan sopan satun. Maklum Roland berasal dari keluarga yang apa adanya.

Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya. Inilah kalimat yang pernah ia lontarkan kepada Roland ketika Roland memintanya untuk merubah penampilan dan gaya hidupnya. Ketidak cocokan keduanya sering menyulut pertengkaran kecil.

Masalah-masalah tersebut selalu saja dapat segera di atasi. Soalnya Roland selalu mengalah untuk Virgilya. Sikap Roland yang rendah hati dan penyabar inilah yang membuat Virgilya sulit melepaskan Roland. Sebagai pria dewasa Roland mampu memberikan yang terbaik untuk seorang Virgilya. Bagi Virgilya, Roland adalah mahkluk yang sempurna. Benarkah demikian? Atau adakah sesuatu yang terselubung dalam diam yang diperankan oleh Roland?...,

Siapa yang mampu menyelami hati seorang manusia selain dirinya sendiri? Manusia adalah mahkluk sempurna yang amat sangat dinamis. Ia berubah menurut waktu, sebab ia ada dan hidup dalam lingkaran waktu tersebut. Tak ada satu manusia pun yang hidup tanpa memiliki lukisan masa lalu. Dengan melihat lukisan masa lalu, seseorang mampu berkaca diri dan berusaha membuat lukisan baru yang lebih bagus dan menarik.

"Virgil.., hari ini genap lima bulan jalinan cinta kita. Namun sepertinya kita semakin tidak cocok...," Virgilya mengerutkan keningnya. Dalam nada manjanya ia balik berkata "Ia Kak.., saya rasa juga begitu. Bagaimana kalo kita putus sekarang???..," wajah Roland merah padam. Ia tak menyangka kalimat ini dapat meluncur dari bibir kekasihnya.

"Apa kamu sudah siap untuk berpisah sayang???" kembali Roland memancing. "Hehehe..., saya cuma becanda.... Saya tak rela dan tak akan mungkin mau berpisah dari kaka...," jawab Virgilya dengan mantap. Roland menarik nafas dalam-dalam. Nafas yang ditarik tersebut enggan di hembuskannya karena jalan nafasnya buntu akibat sebuah beban berat yang tiba-tiba menindih tengkuknya.

"Apakah kamu siap seandainya...," kalimat ini terhenti sebab sebuah mobil berhenti tepat di belakang mereka. Beberapa orang bertubuh kekar turun dari atas mobil tersebut. Mereka berjalan menuju taman kota kearah Roland dan Virgilya. Tanpa banyak kata seorang dari mereka mengeluarkan sepucuk surat dan menyerahkannya kepada Roland. Virgilya terpaku di tempatnya. Mulutnya terkatup dan jiwanya serasa mati suri. Setelah membaca sepintas Roland menggenggam tangan Virgilya, mengangkatnya perlahan dan dengan penuh cinta di kecupnya tangan mulus tersebut. "Virgilya..., maafkan aku....," Kata-kata ini diakhiri dengan sebuah kecupan manis di kening sang kekasih.

Virgilya tak dapat berkata apa-apa. Ia hanya menatap dengan tatapan kosong kearah Roland yang berjalan beriringan dengan orang-orang tak di kenal tersebut kearah mobil. Sebelum berbalik tadi, tangan Roland menyelipkan sesuatu ke dalam tas milik Virgilya. Senja itu, menjadi senja yang amat kelabu dalam hidup seorang Virgilya. Dunia seperti tengah kiamat ketika mobil tersebut melaju meninggalkan arena taman kota karang.

Hari ini, terkuak sebuah misteri yang selama ini terpendam jauh di dasar samudra dan sangat di jaga oleh pemiliknya. Roland pria sempurna kebanggaan Virgilya, ternyata menyimpan sebuah misteri yang sulit di mengerti. Pria asli Sulawesi ini, sebenarnya baru tiba di kota karang setahun yang lalu. Ia datang seorang diri dan tinggal bersama dengan kerabatnya. Di kota karang ia berprofesi sebagai wiraswata, membantu salah satu kerabatnya di sebuah PT. Pembawaanya yang tenang dan kalem membuat semua orang senang berkenalan dan bergaul dengannya. Namun siapa sangkah seorang Roland adalah....

Virgilya mengusap matanya yang tengah berlinang air mata. Tanganya yang lunglai di paksa mengangkat diary kecil yang ada di atas pangkuannya. Inilah diary milik Roland yang sengaja di selipkan dalam tas Virgilya senja tadi. Ia lanjut membacanya...,

Virgilya..., ketika engkau membaca goresan pena jiwaku ini, mungkin aku telah berada di balik jeruji besi, untuk selanjutnya siap ditembusi timah panasà., Apa pun itu aku telah siap. Sebab sesungguhnya aku telah menemukan arti sebuah kehidupan lewat cinta tulus yang lahir dari nuranimu yang bening...., Virgilya tak mampu melanjutkannya.

Isak tangisnya semakin menjadi-jadi. Ia tak percaya Roland, belahan jiwanya ternyata terlibat dalam aksi teroris terkeji yang pernah terjadi di negri ini. Virgilya memeluk erat diary kecil tersebut, sebab sesungguhnya di sana, di dalam diary itu, tersimpan sebagian jiwa Roland yang telah berubah. (*)

Pos Kupang Minggu 9 Agustus 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda