Ir. Marthen L Dira Tome


POS KUPANG/FRANS KROWIN
UJIAN -- Ir. Marthen L Dira Tome

Menjangkau yang Tak Terjangkau

DALAM tiga tahun terakhir, eksistensi PLS (pendidikan luar sekolah) demikian mem-booming di Nusa Tenggara Timur (NTT). Program-programnya menyata dari kota sampai ke desa. Siapakah di balik semua ini? Dialah Ir. Marthen L Dira Tome, Kepala Bidang Bina PLS Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) Propinsi NTT.

Berikut petikan wawancara Pos Kupang dengan sosok pria yang familiar ini dalam perjalanan dari Desa Ui Tiuh Tuan, Pulau Semau, menuju Pelabuhan Tenau Kupang, pertengahan Mei 2009 lalu.


PLS sekarang ini seperti primadonanya masyarakat. PLS begitu menyatu dengan wong cilik. Ada apakah gerangan, sehingga PLS begitu mudah mendapat tempat di hati masyarakat?
Begini. Sebenarnya yang namanya program pemerintah itu, semuanya mudah diterima masyarakat. Sebab program yang dirancang itu bermuara pada kepentingan masyarakat. Itu yang ada selama ini. Artinya, pemerintah senantiasa membuat program yang diarahkan sebesar-besarnya untuk kepentingan umum, untuk kemaslahatan masyarakat. Begitu juga dengan program- program yang diusung oleh PLS. Hanya saja, ada yang beda dari program-program yang dilaksanakan oleh PLS dalam beberapa waktu belakangan ini.

Seperti apa perbedaan itu?
Program yang kami rancang itu sifatnya umum. Sedangkan aplikasinya kami libatkan masyarakat. Masyarakat kami ajak untuk ikut ambil bagian secara aktif. Kami libatkan mereka sejak awal, sehingga mereka juga lebih menyatu dengan program yang dibuat dan yang akan diterapkan itu. Jadi, ada unsur timbal balik. Dan pada tataran ini, kami sebagai pengelola, memfasilitasi semua keinginan masyarakat untuk suatu perubahan. Perubahan menuju kondisi yang lebih baik.

Perlu saya kemukakan, bahwa kami sedang menghadirkan paradigma pendidikan yang pro masyarakat. Kami lakukan itu sesuai pola pendidikan yang kami bidangi, yakni mendidik masyarakat di luar jenjang pendidikan formal. Yang namanya PLS seperti itu, karena yang didik dan dibina, adalah masyarakat yang rata-rata sudah punya pekerjaan, sudah berumah tangga, sudah berusia lanjut, namun mereka itu tak punya pendidikan yang memadai.

Sejauh ini, program yang dilaksanakan PLS cenderung pada sektor ekonomi produktif. Padahal, ada instansi teknis yang sesungguhnya punya gawe di sektor tersebut. Bukankah ini akan menjadi preseden kurang baik? Saya perlu luruskan dulu asumsi tersebut. Yang namanya pendidikan itu menembus ruang dan waktu. Tak ada sekat pemisah. Soalnya yang dididik adalah masyarakat di semua lapisan. Hanya saja, bidikan PLS itu masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan seperti yang diharapkan. Ada yang putus sekolah, ada yang bersekolah tapi tidak melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi, karena terbentur biaya. Ada

juga yang tidak bersekolah. Mereka-mereka itu dididik sesuai kualifikasi pendidikan terakhir yang dipunyainya. Bahwa PLS cenderung masuk pada dunia ekonomi produktif, itu tidak bisa ditawar-tawar. Karena rata-rata anak didik PLS, adalah mereka yang berusia produktif. Jadi, penetrasi program PLS harus sejauh itu, sehingga peserta didik yang umumnya bersumber daya rendah, namun berusia produktif, tergerak dan ikut ambil bagian dalam program yang diusung. Mengingat PLS merebos masuk ke sektor ekonomi, maka kami memiliki banyak program pemberdayaan masyarakat. Ada kelompok tani yang membudidayakan jagung, sayur mayur, peternakan dan perikanan. Ada juga yang menggeluti dunia perbengkelan, baik las, mebel, reparasi motor dan lainnya.

Ada juga yang mendalami keterampilan seperti menenun, menyulam, mendaur ulang sampah, garmen, digital printing, tata rias (salon kecantikan) dan masih banyak lagi. Semua jenis keterampilan itu kami dalami, sehingga anak-anak binaan PLS bisa memiliki keterampilan. Bila mereka sudah punya keterampilan, mereka bisa berkreasi, dan itu dapat menjadi pegangan untuk membantu menopang hidup keluarga.

Sejauh program yang Anda jalani, apa kesimpulan yang diambil setelah melihat keberadaan masyarakat dengan aneka ragam latar belakang kehidupannya?
Ada beberapa hal yang saya mau sampaikan. Selama ini, banyak yang bilang, NTT ini masih tertinggal bila dibandingkan daerah lain di Indonesia. Itu asumsi orang yang tak bisa kita batasi. Dan, kenyataannya mungkin seperti itu. Saya juga mau sampaikan bahwa ada hal yang menonjol di daerah ini. Masih banyak warga kita yang hidup dalam keterbatasan. Mereka hidup dalam kekurangan dan itu sudah berlangsung selama ini.

Saya harus jujur mengatakan, bahwa dalam banyak kesempatan, ketika saya turun ke lapangan dan bertemu dengan masyarakat kecil, mereka selalu menceritakan banyak hal, termasuk aneka program pemerintah. Ada begitu banyak program yang dirancang pemerintah demi masyarakat, tetapi program itu tidak bisa dirasakan secara langsung. Soalnya, lain yang dibutuhkan, lain yang diberikan. Lain yang diminta, lain pula yang didapatkan. Saya juga tidak bermaksud menyatakan bahwa program-program PLS itu sudah sangat bagus, sudah sangat hebat. Saya hanya mau mengatakan bahwa sudah banyak hal yang telah kita buat, tetapi itu belum menjangkau semuanya. Dari aneka program yang kami buat itu, ada dua cara untuk mengaplikasikannya. Dua cara itu, yakni penyadaran dan pemberdayaan.

Penyadaran selalu kami utamakan, tapi selalu juga kami imbangi dengan pemberdayaan. Tatkala dua aspek ini berjalan seiring seirama, ternyata masyarakat sangat termotivasi untuk maju. Apalagi mereka saban hari didampingi oleh para motivator yang handal, yang punya kemampuan menggerakkan orang untuk bekerja lebih giat. Hasilnya, ada perubahan di tengah masyarakat. Mereka memperlihatkan karakter dasar yang ingin berubah, ingin hidup lebih baik, ingin maju dari kondisi yang dilalui tahun-tahun sebelumnya. Seperti halnya yang kami lakukan di Desa Uitiu Tuah, Kecamatan Semau Selatan, Kabupaten Kupang.

Ketika PLS masuk dengan budidaya bawang merah, masyarakat setempat memperlihatkan kinerja yang sangat bagus. Mereka aktif bekerja secara berkelompok mengolah lahan sekitar satu hektar untuk mengembangkan tanaman tersebut. Ternyata hasilnya lumayan banyak. Satu hektar itu menghasilkan bawang merah sekitar 10 ton. Kalikan saja kalau harga bawang merah itu Rp 10.000,00/kg.

Berangkat dari kondisi seperti itu, apa yang ingin Anda lakukan ke depan?
Kalau berbicara tentang itu, sesungguhnya ada banyak soal yang ada dalam benak dan pikiran saya. Saya ingin menjangkau mereka yang tak terjangkau. Mereka yang tak terjangkau itu harus dijamah, sehingga mereka bisa bangkit dari keterpurukan, bangkit dari kondisi kelam yang dialami selama ini.

Kami tentu saja konsisten dengan program yang kami usung, yakni menggandeng masyarakat agar bekerja sambil belajar, belajar sambil bekerja. Kami juga akan berusaha agar menjadikan mereka agar terampil dalam bidangnya. Kalau mereka memiliki keterampilan, maka yang namanya pengangguran, pelan-pelan bisa ditekan. Kita tahu bahwa masih banyak pengangguran di NTT. Tapi kita juga harus mengatakan bahwa di daerah ini bukan tidak ada lapangan kerja.

Yang ada ialah kurangnya keterampilan. Karena itu, melalui pendidikan luar sekolah, kami coba meningkatkan kompetensi seseorang melalui pendidikan keterampilan. Ada banyak kursus yang kami buat. Kami bisa melatih mereka bagaimana menguasai lahan pertanian, perbengkelan kayu bengkel sepeda motor, dan lainnya. Setelah dilatih, mereka itu dilepas ke pasar kerja. Mereka itu pasti akan bisa bersaing dan perlahan-lahan bisa mandiri. Saya juga perlu sampaikan bahwa apa yang akan kami lakukan selama ini merupakan upaya menjabarkan program pemerintah pusat, yang kami selaraskan dengan Anggur Merah (Anggaran Untuk Rakyat Menuju Sejahtera) yang diluncurkan duet pemimpin NTT, Gubernur Drs. Frans Lebu Raya dan Wakil Gubernur, Ir. Esthon Foenay, M.Si. Seingat saya, gubernur pernah berjanji membuka lapangan kerja seluas-luasnya untuk masyarakat. Itu bukan berarti pemerintah membuka kantor baru kemudian menampung semua tenaga kerja yang ada di sini.

Yang dimaksud, adalah dengan potensi yang ada di NTT ini, kita bisa membuka beribu-ribu lapangan pekerjaan untuk anak-anak daerah ini. Caranya, yang kurang terampil kita dididik, yang bodoh kita bimbing. Kalau cara ini dilakukan dengan optimal, cepat atau lambat mereka bisa membuka lapangan kerja sendiri. Jika sudah seperti itu, maka pengangguran di daerah ini pun perlahan-lahan bisa ditekan, bisa diatasi. (kro)

Data Diri :
--------------
Nama : Marthen Luther Dira Tome
Tempat/Tanggal Lahir : Sabu, 21 Juli 1964

Riwayat Pendidikan:
- TK Dorkas Seba di Sabu
- SD Negeri 3 Seba di Sabu
- SMP Negeri Seba di Sabu
- SMA PGRI Seba di Sabu
- Fakultas Peternakan Undana-Kupang

Isteri : Irna Kristin Mahmud Dai
Anak : 1. Dhavid Dira Tome
2. Jordan Dira Tome
3. Raja Dira Tome

Orang Tua : Nicolas Dira Tome
Welhelmina Wadu (alm)


Pos Kupang Minggu 26 Juli 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda