Jonias Toisuta dan Lucia Mandala

Aktifkan Komunikasi dengan Anak

MEMILIKI anak semata wayang tentunya susah-susah gampang dalam membina, mendidik dan membesarkannya. Apalagi bila anak masih berusia di bawah lima tahun (balita). Membutuhkan perhatian dan bimbingan yang serius dari orangtua. Namun, akan sangat sulit bagi orangtua yang sibuk dengan berbagai pekerjaan di kantor dan di luar rumah. Membutuhkan cara-cara tersendiri agar anak tidak merasa ditinggalkan.


Hal inilah yang dialami pasangan Jonias Toisuta dan Lucia Mandala. Pasangan yang menikah empat tahun silam ini sama-sama sibuk, sehingga harus memanfaatkan setiap kesempatan agar bisa berkomunikasi dengan anak.
Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Jumat (7/8/2009), Lucia Mandala, yang menjabat Kepala SMKN 3 Kupang ini, mengisahkan banyak hal tentang putri semata wayangnya. Pasangan ini memiliki satu anak, yakni Engel Toisuta, lahir di Kupang, 30 Januari 2005.

Ia menuturkan, anaknya saat ini baru berusia tiga tahun lebih sehingga membutuhkan perhatian serius dari keduanya. Namun, apa hendak dikata, keduanya sama-sama bekerja sehingga banyak waktu yang yang dibuang diluar rumah. Kadangkalah anaknya komplain. Mengatasi agar anaknya tidak sering komplain dan membiarkan anaknya kesepian menunggu di rumah dengan pembantu, pasangan ini biasanya mengaktifkan komunikasi melalui hand phone (HP)/telepon genggam.

Dikatakanya, sebagai kepala sekolah yang tingkat kesibukan pekerjaannya tinggi, apalagi sekolahnya mengelola sebuah restoran sekolah, sering ia pulang sampai larut malam. Kadangkalah ia pulang anaknya sudah tidur, bahkan ketika ia berangkat ke sekolah di pagi hari, anaknya belum bangun. "Rutinitas saya memang padat, sehingga seringkali meninggalkan anak di rumah sendirian. Karean itu, sedapat mungkin untuk menciptakan komunikasi yang efektif melalui HP kalau di luar rumah. Memang seringkali dia komplain, tetapi mau bagaimana lagi," kata alumni FKIP Biologi, Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang tahun 1992 ini.

Dikatakanya, kalau sudah sampai di sekolah ia harus kembali menelpon ke rumah untuk menayakan keadaan anaknya atau berbicara langsung dengan anak. Kalau memang pekerjaan sudah terlalu padat, biasanya ia menyampaikan kepada anaknya bahwa sedang ada pekerjaan yang banyak di kantor, namun kala pekerjaanya longgar dan tidak sempat pulang ke rumah, seringkali ia mendatangkan anaknya untuk bersama di sekolah.
"Yah, kalau saya tidak bisa pulang ke rumah, yah saya bawa saja dia ke sekolah. Di sekolah dia bisa bermain karena lingkungan sekolah yang agak luas," katanya.

Jalan Bersama
Sementara itu, untuk mengurangi komplain dari anak, pasangan ini memanfaatkan waktu di hari minggu untuk jalan-jalan bersama. Biasanya ia membawa anak semata wayangnya ke mall atau ke pantai untuk mendekatkan diri dengan anak dan memberikan suasana baru kepada anaknya.

Menurutnya, situasi di rumah yang sepi hanya dengan pembantu dan menghadapi suasana rumah yang begitu-begitu saja setiap hari dapat membuat si anak "stress" bahkan jiwanya kesepian. Sehingga, kadang sebagai orang tua harus pandai-pandai memanfaatkan peluang dan menciptakan suasana rumah yang sesuai dengan kehidupan dunia anak.

Jika, anak sudah merasa stress di rumah, terpaksa ia meminta bantuan pembantunya untuk bersam sang anak ke mall, karena di sana banyak hiburan anak. Hal ini dilakukan agar anak bisa mencari suasana yang menyenangkan baginya. "Kadang kalau sudah ke mall dengan pembantu, saya telepon menanyakan tentang situasi di sana. Biasanya dia mengatakan senang dan mengatakan banyak teman-teman di sana," katanya.

Diakuinya, di usia emas seperti itu memang banyak hal yang ia lewatkan, tetapi apapun halanganya ia akan berusaha semaksimal mungkin agar menciptakan suasana dan komunikasi yang menyenangkan bagi anaknya.

Memahami Keinginan Anak
Usia tiga tahun memang usia yang menyebelkan karena kadang anak rewel dan suka ngambek, apalagi kalau keinginanya tidak terpenuhi. Untuk itu, keduanya berusaha untuk selalu memahami keinginan anak dan berusaha mengarahkan anaknya mengenai sesuatu yang baik dan tidak.

Misalnya, saat ini anaknya sangat gemar bermain robot,layang-layang, mobil dan katapel. Memang anaknya agak tomboy. Namun, disinilah peran keduanya dalam memberikan fondasi yang pas agar jangan sampai anak bertumbuh ke depan menjadi anak yang tomboi.

"Biasanya saya memberikan arahan. Kebetulan saya senang sekali karena anak saya
juga penurut kalau diberitahu. Saya katakan kalau anak perempuan seperti dia mainanya adalah boneka, masak-masakan dan mainan-mainan yang berbau feminim. Awalnya dia marah, tetapi saat ini dia perlahan-lahan mulai meninggalkan kebiasanya," katanya.

Perhatikan Makan
Soal asupan makanan di usia saat ini, Lusia yang mengawali kariernya di SMA Negeri 4 Kupang selama 14 tahun ini (1993-2008), mengatakan, anaknya termasuk tipe anak yang suka makan apa saja, sehingga tidak ada persoalan makan.

Untuk mengatasi agar anak tidak seterusnya merasa beta di rumah, katanya, saat ini ia memasukan anaknya di PAUD. Menurutnya, inilah salah satu cara agar menciptakan situasi yang baik dan mengisi hal-hal yang baik kepada anak. Apalagi di PAUD ia mulai mengenal banyak teman dan di sana banyak hal-hal yang mendidik bagi anak, dikontrol oleh tenaga yang profesional dan banyak permainan-permainan edukatif.

"Kebetulan usia sudah tiga tahun lebih sehingga saya masukan saja di PAUD, karena di rumah hanya dengan pembantu saja. Di PAUD, anak bisa belajar untuk bersosilaisasi dan beradaptasi dengan teman-temanya," katanya. (nia)

Pos Kupang Minggu 9 Agustus 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda