POS KUPANG/ALFRED DAMA
TAMPIL--Grup Band Modern Etnis saat tampil dalam Final Festival Band Kota Kupang di Kingstone Restaurant Kupang, Sabtu (1/8/2009) lalu


LAGU-LAGU tradisional tidak sebatas dinyanyikan dengan baik oleh para orangtua atau mereka yang berada di kampung-kampung. Lagu tradisional juga bisa dibawakan dengan sangat baik oleh anak muda masa kini. Bahkan, dengan sentuhan gaya musik modern, lagu-lagu tradisional ini bisa dibawakan dengan baik oleh anak- anak muda Kota Kupang yang tergabung dalam grup band.

Ini dibuktikan oleh 10 grup band finalis Festival Band Kota Kupang yang digelar Vanganzha Indo Production (VIP) Kupang di Kingstone Restauran dan Karauke Kupang.

Persyaratan yang diberikan oleh panitia, yaitu pada babak final, tiap band harus membawakan dua lagu masing-masing satu lagu dari band-band yang sudah terkenal dan satu lagu daerah yang harus diaransemen, bukan menjadi hambatan. Bahkan, harus mengarasemen lagu tersebut merukan kreativitas mereka dalam mengaransemen lagu-lagu tersebut.

Sepuluh grup band ini menunjukan kemampuan mereka bermusik, tidak mampu memainkan musik-musik band-band masa kini, tetapi juga dalam mengarasemen lagu-lagu lokal menjadi lagu-lagu yang memiliki daya pikat tersendiri. Bahkan, ada band yang bisa membawakan lagu-lagu daerah dengan gaya rock dan funky.

Seperti halnya Modern Etnis Band. Grup band yang terdiri dari Alan Hana (vokal), Adi Topan (gitar 1), Lens Benu (gitar 2), Bram Kalla (keyboard), Ronald (bass) dan Kevin Palit (drum), ini berhasil unggul dan menyisihkan sembilan grup band finalis
Grup ini mampu menunjukan performa terbaik mereka dalam bermusik. Sebuah lagu dari grup rock band Boomerang dan satu lagu asal Rote dibawakan dengan gaya modern. Para penonton pun terkesimak dengan penampilan grup band ini.

Alan, sang vokalis yang ditemui di sela-seala festival band menjelaskan, grup band ini membawakan lagu Nusa Manusuek dari Rote. Lagu ini daerah ini dikemas dalam nuansa funky. Lagu diaransemen sendiri oleh grup band ini. "Kita sendiri yang aransemen dengan gaya kita masing-masing. Dan, akhirnya kita menemukan model musik yang pas untuk kita bawakan," tutur Alan.

Sebelumnya pada malam final, masing-masing grup band membawakan dua lagu, masing-masing satu lagu dari band-band yang sudah terkenal, baik band nasional maupun band dari mancanegara. Dan, satu lagu lainnya dimana band-band tersebut harus membawakan lagu daerah yang sudah diaransemen dengan gaya modern.

Seperti yang disaksikan Pos Kupang, sebagian besar band-band tersebut membawakan lagu berirama cepat baik dalam bahasa Inggris mapun lagu berbahasa Indonesia. Mereka mengadopsi lagu-lagu yang sudah terkenal dan dibawakan dalam gaya mereka sendiri. Sedangkan lagu tradisional, pada umumnya band-band ini membawakan lagu tradisional Rote Ndao. Lagu-lagu yang dipilih antara lain Ovalangga, Mai Fali.ee, Ita Esa Dale, Nusa Manusuek dan beberapa lagu lainnya.

Pada umumnya lagu-lagu tersebut dibawakan dalam bentuk funky dan pop alternatif. Apalagi, rauangan dan distorsi lied gitar membuat lagu-lagu menjadi lebih modern sehingga sebagian penonton mengira lagu yang akan dibawakan adalah lagu-lagu rock atau funky.

Manajer VIP, Anky mengatakan pihaknya sebagai penyelenggara memberikan syarat pada grup band yang tampil di final untul membawakan lagu daerah dalam nuansa modern. Artinya, tiap-tiap band harus membawakan lagu daerah yang sudah diaransemen menjadi musik populer.

"Ini maksudnya agar band-band ini bisa mengenal lagu tradisional sekaligus mencintai lagu-lagu tradisional. Lagu daerah ini juga adalah bagian dari kekayaan budaya kita. Menyanyikan lagu daerah berarti kita juga sudah melestarikan budaya kita," jelasnya.

Selain itu, lagu daerah yang diaransemen menjadi lagu dengan musik populer akan disukai oleh anak muda. Dan, lagu-lagu ini menjadi gaul dengan tidak ketinggalan jaman.(alf)

Pos Kupang Minggu 9 Agustus 2009, halaman 13

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda