FOTO POS KUPANG/ALFRED DAMA
BENDUNGAN TILONG--Air yang tertampung di Bendungan Tilong harus digunakan secara maksimal untuk mengatasi kemarau panjang tahun ini.



WILAYAH Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun 2009 ini kembali memasuki masa kemarau panjang. Musim kemrau yang panjang tidak merupakan dampak dari fenomena El Nino yang secara periodik melanda wilayah NTT.

Bila pada masa lalu, kemarau panjang secara periodik terjadi antara 10 tahun hingga 20 tahun sekali, maka dalam beberapa tahun ini, fenomena kemarau panjang di wilayah NTT terjadi lebih sering dan dikhawatirkan ke depan, kemarau panjang ini akan menjadi lebih sering.

Pengamat Ekonomi dan Pertanian dari Universitas Nusa cendana (Undana) Kupang, Dr.Ir.Fred Benu, M.Si, kepada Pos Kupang di Kampus Undana Kupang, Kamis (6/8/2009), menjelaskan masalah kekeringan di NTT baru kali ini saja.
NTT yang merupakan bagian dari belahan bumi juga terkena dampak global warming atau pemanasan global. Ini berdampak pada kekeringan di NTT yang semakin sering terjadi atau musim panas akan semakin panjang sedangkan musim hujan semakin pendek.

Bila biasanya, musim kemarau panjang terjadi antara lima tahun hingga 10 tahun sekali, namun periode musik kemarau panjang semakin kecil artinya kemarau panjang akan sering terjadi.

Untuk mengantisipasi masalah kekeringan ini, pemerintah harus memaksimalkan peran Badan Penanggulangan Bencana. Dan, dampak kekeringan ini juga merupakan bencana. Hal-hal yang perlu dilakukan pemerintah dalam jangka pendek ini adalah memeriksa cadangan pangan milik pemerintah yang akan diberikan ke masyarakat, selain itu pemerintah juga perlu memeriksa lumbung-lumbung milik masyarakat.

"Harus ada political wil dan komitmen pemerintah untuk mengantisipasi kekeringan ini. Apakah kita sudah akibat dari bencana ini, apakah kita sudah periksa ketersediana pangan di lumbung-lumbung masyarakat?. Bagaimana dengan stok pangan kita," ujar Kepala Lembaga Penelitian Undana ini.
Menurutnya, Badan Penanggulangan Bencana sebaiknya segerah mengambil langka- langka untuk mengantisipasi bencana kekeringan ini dengan mendata semua daerah yang berpotensi terkena dampak kekeringan ini, mendata daerah mana yang harus menjadi prioritas dan bantuan apa yang segera diberikan.

Strategi
Kekeringan di wilayah NTT kemungkinan akan menjadi hal rutin yang terjadi setiap tahun akibat dampak global warming ini. Sehingga langka antisipasi perlu dilakukan oleh pemerintah dan segenap masyarakat NTT. Dr. Fred Benu, menyampaikan dua strategi yang bisa dilakukan oleh Pemerintah Propinsi NTT.

Strategi pertama adalah program jangka pendek. Dalam program ini, kata Fred, petani harus mengetahui tentang kekeringan dan memberi petunjuk pilihan varietas bibit yang cocok ditanam pada saat curah hujan sangat minim. "Misalnya, petani diberi bibit jagung yang cocok untuk kondisi curah hujan yang minim. Bibit jagung yang bisa tahan dengan kekeringan," ujarnya.

Selain itu, pemerintah bisa memberikan konpensasi dari kondisi yang dialami oleh petani akibat minimnya curah hujan ini. Ia mencontohkan di Australia juga mengalamai hal yang sama yaitu kekeringan. Menurutnya, pemerintah Australia memberikan perlindungan kepaad petani gandum yang menanam pada musik kemarau denga menganjurkan penggunaan varietas untuk musim panas. "Jadi tidak ada hujan, mereka bisa tanam. Kebutuhan air untuk tanaman ini hanya didapat dari embun pagi saja. Tapi pemerintahnya memberikan perlindungan," katanya.

Perlindungan yang diberikan adalah para petani mengasuransikan lahan yang sudah ditanam dan penjaminnya adalah pemerintah. Dengan demikian, bila terjadi gagal tanam atau gagal panen, maka pemerintah akan membayar klaim kerugian petani ini.
Sementara program lainnya dilakukan oleh pemerintah adalah mengajak petani menanam tanaman holtikultura. Tanaman holkultura seperti sayur-sayuran ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan embung atau sumber air yang masih ada.

Sementara program jangka panjang yang bisa dilakukan oleh mengajak masyarakat memulai menanam tanaman umur panjang. Menurut Fred, tanaman umur panjang yang dikembangkan di NTT akan sangat membantu petani menghadapi musim kemarau. Ia mencontohkan petani di Kabupaten Flores Timur yang menanam jambu mete tentu kurang terpengaruh dampak kekeringan. "Di Flores Timur, petani tidak mengeluh dengan kekeringan karena di sana merekam sudah menanam jambu mete," jelasnya.


Pemerintah juga mengembangkan ekonomi kerakyatan yang bersifar produktif yang tidak tergantung pada iklim. Dengan ini maka petani tidak tergantung pada cuaca yang tidak menentu.

Perlu Sosialisasi El Nino
Fenomena El Nino di NTT perlu juga disosialisasikan oleh pemerintah kepada masyarakat NTT. Masyarakat harus tahu akibat El Nino ada apa saja yang harus dilakukan untuk menghadapi kenyataan ini. Menurut Fred, masyarakat harus mengetahui akibat kekeringan dan langka-langka apa saja yang harus diambil untuk menghadapi kenyataan ini.

Pemerintah pun harus memberikan sinyal saat-saat mana saja yang bisa mulai menanam atau saat mana yang harus ada penundaan penanaman. Informasi tentang varietas yang tepat juga harus diberikan oleh pemerintah sehingga petani tidak terjebak dalam ketidaktahuan para petani tersebut. (alf)


Pemerintah Siapkan
Dana untuk El Nino

PEMERINTAH menyiapkan dana cadangan senilai Rp 1 triliun hingga Rp 2 triliun untuk mengantisipasi dampak fenomena iklim El Nino terhadap pertanian Indonesia pada tahun 2010.

Pelaksana Tugas (Plt) Menko Perekonomian, Sri Mulyani, usai rapat di Kantor Kepresidenan di Jakarta, Selasa lalu mengatakan, dana cadangan itu dimasukkan dalam postur RAPBN 2010 untuk menjaga stabilitas ketahanan pangan. "Postur APBN ditambahkan dana cadangan saja, untuk Raskin dan lain-lain. Subsidi tetap untuk pupuk, benih, sesuai dengan yang selama ini diupayakan untuk ketahanan pangan," jelasnya.

Fenomena iklim El Nino diperkirakan memuncak pada tahun 2010 dan diprediksi akan menyebabkan sekitar 80 ribu hingga 150 ribu hektar tanaman padi kekeringan dan sekitar 10 ribu hingga 35 ribu hektare lahan yang kekeringan itu akan puso atau gagal panen.

Akibatnya, potensi produksi padi yang hilang sekitar 750 ribu ton gabah kering dan 300 ribu petani akan kehilangan mata pencaharian pada 2010. Pada 1997, fenomena El Nino yang membawa gelombang udara kering dan panas membawa dampak kerusakan sebanyak 9,7 juta hektar hutan di Indonesia.

Dampak El Nino yang menyebabkan penurunan produksi beras bersamaan dengan masa awal krisis moneter pada masa itu, mendorong peningkatan harga besar sebesar 30 persen. Saat itu, pemerintah sampai harus mengimpor beras lebih dari lima juta ton untuk menjaga ketahanan pangan, terutama untuk masyarakat kelas bawah.

Sementara itu, Menko Kesejahteraan Rakyat, Aburizal Bakrie, mengatakan dana cadangan untuk El Nino sebesar Rp 1 triliun hingga Rp 2 triliun hanya digunakan pemerintah apabila dampak iklim itu menyebabkan kesulitan.

Menurut Aburizal, penelitian terakhir tentang dampak El Nino pada 2010 terhadap pertanian Indonesia akibatnya masih sangat lunak. "Kalau dilihat dari BMKG itu mengatakan sangat lunak akibatnya. Nanti pada Agustus ini akan ada penelitian lagi tentang prediksi akibat El Nino di Indonesia. Mudah-mudahan prediksinya akan tetap baik sehingga dengan demikian akibatnya akan sangat lunak bagi Indonesia," katanya.

Selain mempersiapkan dana cadangan untuk mengantisipasi dampak El Nino, Menko Kesra mengatakan, pemerintah juga tetap menyediakan subsidi beras untuk keluarga miskin sebanyak 15 kilogram per bulan serta subsidi pupuk dan benih dengan skema yang lebih mengena kepada petani pada 2010.(ant)

Pos Kupang Minggu 9 Agustus 2009, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda