Malam Itu

Cerpen Lyms Sese

MALAM itu, kira-kira pukul 11.00 Wita, aku terjaga dari tidurku. Aku segera bangun dari tempat tidurku dan berjalan menghampiri kursi tua yang terletak di sudut kiri kamar itu. Aku duduk, dan tiba-tiba tanganku bergerak menuju sebuah kotak kecil, di sudut meja kecil, berbentuk segi empat yang di dalamnya terdapat ballpoin. Aku memilih snowman VI. Aku segera mengambil diariku yang tersimpan di antara buku-buku bacaan yang cukup usang.

Malam itu sunyi sekali. Sekali-kali terdengar olehku lolongan anjing dari kejauhan dan suara binatang malam yang berlomba-lomba menunjukkan suaranya untuk memuji Sang Pencipta. Kadang-kadang bulu kudukku berdiri, karena aku takut jangan-jangan ada orang jahat yang mendatangi kamarku. Aku teringat cerita kakakku bahwa dulu, tiga tahun yang lalu, di tempat kost yang sekarang aku tinggal, ada seorang mahasiswa yang terbunuh oleh sekelompok orang yang tak dikenal.

Meski dalam perasaan takut, aku mencoba untuk mengolah diariku, dengan snoman VI. Aku mencoba menulis semua pengalaman, baik suka maupun duka yang telah kulewati ketika masih di SMU dulu. Pengalaman bersama teman-teman dan lebih khusus pengalaman bersama orang yang paling aku cintai. Pengalaman bersama kawan-kawan yang suka melucu ketika masih tinggal seasrama di SMU dulu.Yah, pokoknya, pengalaman yang unforgetable, kata orang Inggris.

Tiba-tiba saja aku merasa sedih. Aku menangis. Aku sendiri merasa heran mengapa aku bisa menangis. Semakin laju snowman VI melaju, semakin deras deraian air mata yang membasahi pipiku. Air mataku adalah air mata yang merindukan kebersamaan, kehangatan dan kebahagiaan yang dulu pernah dibangun.

Malam itu aku merasa hati teramat sedih. Hatiku hancur bak diiris sembilu. Aku meratapi masa laluku. Aku meratapi kesepianku yang hanya ditemani oleh suara binatang malam. Aku benar-benar mengenang masa laluku yang begitu indah.

Aku diam membisu, sambil snoman VI terus melaju. Aku memang diam membisu dalam kamar yang berukuran kira-kira 2x3 meter, yang merupakan milik kakak sepupuku yang sekarang masih berlibur di Flores bersama kedua orangtuanya, tapi pikiranku melayang jauh ke belakang untuk mengintip masa laluku yang indah itu.

Laju snoman VI kuhentikan sebentar. Kupandangai konfor bekas yang terletak di sebelah kananku, dan sebuah ember air yang bertuliskan 'ironis anak kost' yang terletak telak di samping konfor bekas itu. Di atas meja yang kupakai untuk mengolah ladang putih terdapat sebuah cermin pecah yang berbentuk segi tiga, dan di sampingnya terdapat sebuah sisir kecil warna merah yang giginya sudah banyak rontok.

Di belakangku terdapat tempat tidur tua yang hanya terdapat kasur tanpa sepreinya, yang menyebabkan tidur malamku tidak aman. Di bawah meja yang kupakai terdapat buku-buku yang kebanyakan berhaluan ekonomi dan manajemen milik kakak sepupuku yang sedang belajar di STIM Kupang.

Malam semakin larut. Kesunyian semakin menakutkanku. Suara binatang malam sudah tiada. Hanya detak jarum jam, yang tergantung pada sebuah paku karat pada dinding bebak di depanku, memecah kesunyian malam itu. Jam telah menunjukkan pukul 24.00 malam. Aku sadar bahwa sudah larut malam. Namun aku tidak merasa ngantuk sedikitpun.

Aku memutuskan untuk kembali mengolah ladang putih dengan snoman VI. Aku kembali mengingat pengalaman dulu ketika di SMU. Pengalaman itu seakan menarikku kuat-kuat, sehingga aku ingin agar semuanya itu berulang. Aku tak ingin semuanya itu pergi begitu cepat. Apalagi ketika aku mengingat kekasihku yang manis, cantik dan baik hati. Namanya Suryanti. Tapi kawan-kawannya di sekolah memanggilnya Yanti. Aku dan Yanti begitu dekat, sehingga sampai detik ini darahnya seolah masih mengalir dalam diriku. Aku benar-benar mencintai dan merindukan dia. Dia begitu baik dan sempurna di hadapanku. Kami memang 'seidas bagai benang, sebentuk bagai cincin'.

Aku teringat hari-hari terakhir menjelang tamat SMU. Aku dan Yanti pernah berbincang tentang rencana studi kami setelah tamat. Aku ingat dia memutuskan studinya di UI Jakarta. Ia ingin mengambil jurusan kedokteran. Ia memang cocok menjadi dokter. Orangnya pintar dan berasal dari keluarga yang berada.

Sedangkan aku memilih untuk menjadi biarawan. Aku ingin menjadi seorang imam. Mendengar bahwa saya akan mengambil hidup membiara, Yanti marah kepada ku. Ia tak pernah membayangkan kalau aku memutuskan untuk memilih jalan itu.
"Lian, kamu jahat. Kalau kamu ingin mengambil jalan ini, kenapa kamu tega mengambil hati dan cintaku? Apakah kamu tidak tahu bahwa aku sungguh mencintaimu? Aku telah mengorbankan seluruh diriku demi mencintaimu. Aku telah berharap agar kamu menjadi teman hidupku.

Tapi kamu tega mengianatiku dengan keputusan ini. Kamu memang manusia pembohong. Janjimu adalah palsu, cintamu adalah dusta," demikian Yanti mengkataiku dengan nada marah lalu meninggalkan aku sendirian.

Aku hanya terpekur sendirian. Aku kembali membayangkan kata-kata amarah Yanti yang diiringi dengan deraian air mata. Aku sadar bahwa dia sangat sakit. Ia begitu menderita. Hatinnya memang benar-benar terluka oleh keputusanku. Dia memang harus menangis dan menyesal, sebab ia telah memberikan cintanya seutuhnya kepadaku. Ia memang telah mengorbankan seluruh dirinya hanya untuk mencintaiku.

Aku sadar bahwa aku salah. Aku telah menyakiti hatinya. Aku telah menikmati cinta dan pengorbanannya, tapi aku tega membuang cinta dan pengorbanan itu dengan mengambil keputusan yang membuatnya sakit. Aku sadar bahwa cinta dan pengorbanannya bukanlah sebatang rokok yang diisap lalu dibuang.

Cintanya memang sungguh agung dan mulia, sebab ia memberi cintanya dari seluruh diri, perasaan dan keberadaanya.
Aku memang mencintai dia. Tapi mengapa aku mengambil keputusan yang seolah-olah aku tidak mencintainya? Aku memang sungguh mencintai dia, tapi aku juga sungguh mencintai jalan panggilan yang telah kupilih. Aku seolah berada dalam dua pilihan yang sama-sama berharga di mataku. Aku berada dalam dilema: apakah aku harus memilih menjadi imam, tapi aku melukai orang yang sangat kusayangi. Ataukah aku memilih keputusan lain yang menyenangkan orang yang paling saya sayangi, tapi saya mencederai cita-cita yang telah aku dambakan sejak kecil. Aku sungguh bingung.

Sore itu aku berniat untuk bertemu Yanti. Akhirnya di bawah pohon evergreen kami berteduh. Yanti tampak cantik, tapi raut wajahnya sangat kentara menunjukkan bahwa dia sedang menyimpan beban yang begitu berat. Aku duduk telak di samping Yanti. Yanti hanya tertunduk. Ia tidak bersuara. Suara burung pipit yang bertengger di atas dahan pohon evergreen yang rimbun seolah mengejek kami berdua yang sebelumnya sangat mesrah dan banyak berbicara kalau kami sedang berdua, tapi sekarang diam seribu bahasa.

"Yanti...", aku mencoba memecahkan kebisuan kami berdua dengan menyapanya penuh kasih sayang. Namun ia diam saja. Ia terus tertunduk. Air matanya kembali membasahi pipinya. Ia menangis.

"Maafkan aku Yanti." Aku mencoba memberanikan diri mengucapkan kata-kata ini dengan muka penuh belas kasihan.
Yanti diam saja. Dalam hati aku berpikir bahwa dia sedang marah padaku. Ia tidak mau lagi percaya pada kata-kata yang keluar dari mulutku. Ia mungkin sudah terlanjur membenciku.
"Maafkan aku, sayang..., sekali lagi aku meminta maaf."

Yanti mengangkat mukanya. Aku senang karena sekarang Yanti yang sejak tadi tertunduk mengangkat mukanya dan memandangi aku. Ia pasti akan menerima ucapan maafku gumanku dalam hati.

"Jangan memanggil aku sayang, karena aku tahu bahwa kamu tidak lagi menyayangiku lagi. Kalau engkau menyayangiku, mengapa engkau menyakitiku? Bukankah engkau pernah berjanji bahwa kita akan naik ke pelaminan satu saat nanti?" Kata Yanti dengan nada marah dan air mata.

Dugaanku sungguh meleset. Ternyata Yanti mengangkat muka untuk memarahiku. Aku sangka ia akan memaafkan aku, karena selama ini, yang kutahu bahwa Yanti adalah seorang pemaaf. Rupanya kali ini ia sungguh sudah berubah. Mungkin karena ia sungguh marah padaku.

"Yanti, dengarlah dulu penjelasanku. Berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya ini padamu, sayang. Please. Berikan aku waktu untuk menjelaskan ini," pintaku pada Yanti.

"Okey, silahkan jelaskan padaku," kata Yanti dengan muka sedikit cemberut.
"Yanti, aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kamu selalu sedih seperti ini. Aku mau agar kamu selalu bahagia. Aku mau hubungan kita tetap seperti dulu. Aku dan kamu sudah terlanjur saling mencintai. Karena itu, aku akan selalu mengikutimu, guna mencintaimu," jelasku pada Yanti yang sangat aku sayangi itu.

Mendengar penjelasanku, Yanti lalu memandangku dalam-dalam. Demikian juga aku padanya. Kami berdua saling beradu pandang. Dari aura wajah Yanti sudah kutahu bahwa Yanti sungguh percaya padaku. Hatinya yang tadinya membatu kini luluh di hadapan kata-kataku yang tulus itu. Setelah cukup lama kami beradu pandang, aku langsung merangkulnya dengan penuh kasih sayang, demikian pun dengan Yanti.

Tangannya begitu erat memelukku. Inilah tandanya bahwa ia sungguh memaafkanku. Tak lama kemudian Yanti membisik pada telingaku, "Sayang, please, jangan menyakitiku lagi. Aku sangat mencintaimu."

Mendengar itu aku sangat senang dan segera mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang. Ia pun tersenyum manis padaku sambil berpesan kepadaku. Pada saat itu perasaan cemas dan gelisaku pun sirna ditelan kemesraan.

"Yanti, aku sangat mencintaimu," kuucapkan kata-kata ini sambil menghentikan laju snoman VI. Tak kusadari bahwa aku telah menulis sebuah cerita masa lalu yang indah dan mengharukan. Teristimewa masa bersama Yanti, kekasihku yang cantik dan baik hati itu. Malam semakin larut. Kupandangi jam dinding yang tergantung di dinding kamar. Telak pukul 01.00 pagi. Kuputuskan untuk beristirahat. Mataku sudah berat. Rupanya aku sudah mengantuk.

Kurebahkan tubuhku pada tempat tidur yang beralaskan kasur tanpa seprei. Kupejamkan mata. Tapi tiba-tiba aku teringat akan kejadian tadi sore. Tadi sore aku mendengar berita dari Fery, teman akrabku, bahwa aku tidak lulus seleksi STPDN. Dari kabupatenku hanya tiga orang yang lulus, termasuk Fery.

"Lian, kamu tidak boleh menyesal, apalagi putus asa. Kamu harus bangga bahwa Tuhan tidak memilih kamu untuk menjadi mahasiswa STPDN. Tuhan sedang membutuhkan kamu untuk melakukan sesuatu yang lebih besar yang akan Ia berikan kepadamu," demikian pesan Fery sebelum ia menutup telefon.

Aku pun merenung kegagalanku dan kata-kata Fery ini, sembari mengingat keluargaku yang telah mengharapkan aku berhasil. Pengorbanan mereka sirna begitu saja. Aku juga mengingat Yanti yang meminta dan berpesan agar aku ikut testing STPDN, ketika aku mengecup keningnya di bawah pohon evergreen kala itu. Aku sadar bahwa Yanti pasti akan menangis kalau ia mendengar kalau aku gagal. Aku tidak bisa meluluskan harapannya untuk bertemunya di Jakarta.

Semua harapan itu tinggal kenangan sejarah yang pasti tidak akan dilupakan.
Malam itu aku memutuskan untuk mengambil jalan lama. Jalan yang telah kupilih dulu. Jalan yang membuat Yanti menangis. Jalan yang Tuhan kehendaki agar aku lalui. Pada titik ini, aku sadar bahwa kehendak Tuhan lebih kuat dari kehendak manusia. Kehendak Tuhan lebih kuat dari kehendak Yanti. "Yanti, maafkan aku jika aku harus mengambil jalan ini. Jalan yang telah membuatmu menangis. Namun aku yakin bahwa jalan ini adalah jalan Tuhan.

Tuhan yang menghendaki agar aku melalui jalan ini. Doakanlah aku Yanti agar aku dapat menjadi seorang imam yang baik di masa yang akan datang," gumanku dalam hati. Aku harap semoga Yanti mendengarnya lewat mimpinya malam ini.
Malam semakin larut. Udara semakin dingin. Aku memejamkan mata perlahan. Tapi sebelumnya aku meminta agar Tuhan sudi membangunkan aku besok pagi, karena besok pagi aku akan meninggalkan Kota Karang.

Aku akan meninggalkan harapan lama, menjadi mahasiswa STPDN, menuju harapan baru, menjadi seorang imam. Aku pun tertidur pulas malam itu.*

Pos Kupang Minggu 2 Agustus 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda