Pacarku Inginkan Seks Pranikah

Dokter Valens Yth.
Salam jumpa. Saya Bimbi, umur 23 tahun, tamat SMU dan sudah bekerja sebagai karyawan honor pada salah satu BUMN di Kota Kupang. Sudah lima bulan berkenalan dengan Barito dan baru dua bulan ini bisa dikatakan serius pacaran. Barito rajin datang mengapeli ke rumah.

Kebetulan saya tinggal dengan salah seorang dari kakak perempuan saya dan Barito juga sudah saya perkenalkan pada kakak saya. Semua berjalan baik dan indah. Belakangan ini Barito sering ajak saya ke Pantai Lasiana. Katanya di pantai itu lebih sepi dan bisa berduaan tanpa banyak diganggu orang lain.

Mulanya saya curiga, jangan-jangan Barito mencoba menghindar dari pacarnya yang lain sehingga saya harus dibawa jauh-jauh. Tapi saya akhirnya mengerti kalau Barito memang pemuda yang senang dengan suasana romanatis. Sudah beberapa kali kami jalan-jalan di tempat yang sunyi. Barito sering usil cubit-cubit mesra begitu.

Saya juga senang dimanja dan diperhatikan seperti itu. Dokter, dia tuh ganteng kok. Cuma belakangan ini Barito kadang agak kasar cara omongnya dan kadang bikin kaget. Pernah ketika kami sedang duduk berduaan di pantai yang sepi, Barito mengajak saya berhubungan seks. Mula-mula saya tidak menjawab.

Dia ajak lagi sambil menarik badan saya dengan kasar. Saya akhirnya mengatakan dengan agak keras bahwa saya tidak mau. Barito waktu itu berhenti dan tidak melanjutkan kenakalannya. Barito pernah bilang kalau saya tidak mau berhubungan seks berarti saya tidak mencintai dia. Pernah juga dia katakan, kalau saya tidak mau, maka kami lebih baik putus dan dia cari pacar lain.

Ketika pulang sampai di rumah saya kadang pikir dan bertanya dalam hati, apakah perlu kami melakukannya untuk menunjukkan rasa saling mencintai. Suasana hati saya kadang mengiyakan, namun kadang menolaknya.

Saya sering terganggu oleh perasaan ini. Akhirnya saya menulis surat ini, mudah-mudahan dokter bisa membantu saya menunjukkan langkah mana yang harus saya lalui. Terus terang, Barito memang ganteng dan sudah bekerja sebagai karyawan di suatu perusahaan mebel. Saya juga khawatir jangan sampai Barito dapat lagi perempuan lain. Tapi bagaimana ya, permintaannya kok begitu. Mudah-mudahan surat saya ini bisa di balas. Terima kasih.
Salam, Bimbi, Oesapa-Kupang.

Saudari Bimbi yang Baik,
Salam sejahtera buat Anda. Setelah membaca surat Anda saya jadi sedikit lega karena Anda masih utuh jiwa dan raga. Saya akan sangat kecewa manakala mengetahui bahwa baik fisik maupun perasaan Anda sudah terluka oleh sesuatu yang tidak Anda inginkan.

Ketika Anda mengatakan Barito sebagai pria yang romantis, saya sedikit tersenyum, akan tetapi ketika tahu bahwa di pihak lain Barito menyukai pantai yang sepi, dia tak ingin diganggu oleh orang lain dan dia mulai berbuat kasar. Ini agaknya paradoksal atau hal yang berlawanan.

Dua orang psikolog, Lucy Sanna dan Kathy Miller (1995), mengatakan bahwa pria yang romantis tampak dari perlakuan dia terhadap Anda. Pria yang romantis senantiasa menghormati dan memanjakan serta memperlakukan Anda sangat istimewa di manapun kalian berada (jadi bukan cuma di tempat yang sepi). Pria romantis selalu memberi kejutan-kejutan indah dan menyenangkan, kadang bisa membuat Anda serasa melambung di angkasa.

Kemudian, masih dalam lingkaran seks dan romantika cinta, menurut seksolog Paul Hauck: Seks bukanlah hal terpenting dalam suatu pertalian cinta, seperti halnya juga dengan penampilan ataupun kekayaan.

Satu-satunya kualitas pertalian terpenting adalah rasa persahabatan. Psikolog Eric Fromm mengatakan: "gairah seksual, menurut pendapat orang kebanyakan, adalah sesuatu yang melekat pada cinta, sehingga mereka dengan gampang terjerumus dengan mengartikan bahwa mereka telah saling menginginkan secara fisik. Untuk mencintai orang bukanlah semata-mata perasaan yang kuat (feeling so strong) saja. Cinta adalah keputusan, pertimbangan dan janji."

Nah, saudari Bimbi, Anda mengatakan, ketika pulang rumah Anda terus merasa dilematis, mengiyakan atau menolak bujuk rayunya Barito. Namun setelah memahami betapa para pakar ini mengurai rinci tentang cinta dan seks sebagaimana tersebut di atas, Anda boleh berada pada satu titik prinsip yakni kontak seksual setelah ada pertimbangan, keputusan dan janji (di depan penghulu)! Studi empiris menunjukkan bahwa kontak seksual pranikah seorang gadis dengan seorang pria pada saat baru pacaran mengurangi kesempatan bagi gadis itu untuk menikah dengan pria yang bersangkutan.

Artinya begitu banyak gadis yang kecewa karena direnggut kegadisannya oleh seorang pria sedangkan dia akhirnya menikah dengan pria yang lain. Hal ini akan menjadi beban yang terbawa seumur hidup.

Selanjutnya, perihal sikap Anda pada Barito, yang berubah menjadi antipati atau menjauh; nasihat saya adalah, kalian berdua masih muda, oleh karena itu kekeliruan dan kekurangan adalah milik sah Anda.

Anda berdua bisa saling memaafkan dan saling berkomunikasi untuk memperbaiki kualitas hubungan kalian. Membangun persahabatan yang baik, saling membantu, memberi dan menerima idealisme Anda masing-masing. Jalan-jalan bersama untuk saling mengetahui sifat dan kepribadian masing-masing, sembari membangun cita-cita bersama.

Akan tetapi Anda berdua pun harus ingat, jodoh ada di tangan Tuhan. Untuk itu selain berencana Anda pun perlu banyak berdoa semoga Tuhan berkenan. Kemungkinan yang paling tidak diinginkan adalah manakala Barito tetap bersikukuh pada dorongan libidonya (kalau tidak hubungan seks maka pacaran putus dan dia cari perempuan lain). Anda harus berani melawan ini semua.

Cinta tak identik dengan seks dan cinta tidak mesti memiliki. Kalau dia bersikukuh, Anda perlu koreksi ulang penilaian Anda terhadap Barito. Artinya dia bukan mencintai Anda, CINTA-nya sama dengan Cuma Ingin Nikmati Tubuh Anda.

Apabila besok ketika kalian telah bersama dan fisik tubuh Anda mengalami perubahan, cinta Barito-pun hilang. Oleh karena itu saran saya bila Barito tetap tidak berubah keinginannya maka Anda harus yakin bahwa Barito bukanlah jodoh Anda.

Anda masih muda, hari pun masih "pagi", bila Anda bisa bersabar maka bukan cuma satu, tapi masih banyak "Barito-Barito" lain yang akan dijumpai di "siang" dan "sore" nanti. Semoga sukses.
Salam, dr. Valens Sili Tupen, MKM

Pos Kupang Minggu 2 Agustus 2009, halaman 13

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda