Patah Tulang, Pilih Dokter atau Dukun?


Foto ilustrasi/detik.com
Sebagian masyarakat Indonesia masih memilih cara tradisional untuk menyembuhkan atau memulihkan patah tulang



PRAKTIK dukun yang mengobati pasien patah tulang boleh jadi lebih banyak diminati masyarakat dibanding dokter ahli ortopedi. Hampir di setiap daerah terdapat praktik seperti ini. Biasanya dukun akan membebat tulang yang patah dengan kain yang diolesi minyak tertentu. Bahkan ada dukun yang "mengobati" bagian yang trauma dengan cara menarik bagian tulang.

Menurut dr.Andri Lubis Sp.OT, spesialis Ortopedi dan Traumalogi dari FKUI/RSCM, penyembuhan trauma yang tidak tepat di dukun bisa menyebabkan deformitas (perubahan bentuk) tulang atau osteorthritis secondary (patah tulang sendi yang sembuhnya tidak sempurna).

"Patah tulangnya bisa saja sembuh tapi setelah sembuh justru mal union atau tulang menyambung dengan tidak sempurna. Misalnya saja pendek sebelah," kata dokter yang mengambil sub spesialis Lutut, Pundak, dan Ortopedi Sport Medicine, ini.
Andri menjelaskan, pada dasarnya tulang bisa menyembuhkan dirinya sendiri dan tumbuh menjadi jaringannya. "Kalau hanya retak, diurut mungkin bisa sembuh," katanya.

Namun pada kasus trauma tertentu, ia menyarankan agar pasien berobat ke rumah sakit. Misalnya, patah tulang dengan luka terbuka. "Pasien harus dirujuk ke rumah sakit karena lukanya bisa menimbulkan infeksi. Bila ini terjadi jaringan di sekitarnya bisa mati sehingga harus diamputasi," paparnya.

Penanganan dengan cara tradisional juga jangan dilakukan terhadap trauma di daerah sendi seperti di panggul, lutut, maupun di daerah tulang belakang karena di sana terdapat struktur syaraf pusat. Bila penanganan salah, karena saraf motorik menyangkut pergerakan tangan dan kaki, bisa terjadi cacat seumur hidup. Dampak lebih jauh yakni tak berfungsinya alat-alat vital seperti untuk kencing atau buang hajat.

"Kalau treatment awal sudah salah, biaya pemulihannya lebih besar. Terlebih bila terjadi deformitas, bentuknya sudah sudah diperbaiki," kata Andri.
Masyarakat juga dihimbau untuk tidak khawatir berobat ke dokter. "Selama ini banyak yang beranggapan kalau ke dokter pasti akan dioperasi, padahal itu tidak benar," cetus Andri. Dijelaskan olehnya, sebelum memutuskan terapi untuk patah tulang, dokter akan menilai konfigurasi patahnya. "Biasanya hanya digips. Operasi baru dilakukan bila tulangnya hancur," katanya.(kcm)


Osteoarthritis, Apa Itu?
KITA sering mendengar istilah Osteoporosis, yaitu proses pengeroposan tulang. Lantas, ada pula istilah Osteoarthritis. Osteoarthritis atau dengkul kopong adalah infeksi sendi dan tulang akibat proses pengapuran tulang. Biasanya, gangguan yang berkenaan pula dengan penyakit tulang rhematik ini hanya terjadi di lutut. Berbeda dengan Osteoporosis yang merupakan pengeroposan hampir di seluruh sendi tubuh.

Gejala yang timbul biasanya berupa kesulitan untuk berjalan, cepat lelah, kesulitan untuk jongkok, dan gampang jatuh. Timbul juga nyeri yang menyebabkan keterbatasan gerak, ketergantungan kepada obat dan orang lain, bahkan depresi.

Keluhan ini biasanya disebabkan cedera akibat keseleo, bekerja terlalu berat, terjatuh atau melakukan olahraga berat. Dr Franky Hartono, Sp.OT mengatakan dalam pengertian Osteoarthritis, kerja sendi lutut yang normal mengalami gangguan akibat tertekuk atau terpelintir. Sendi yang tidak normal berbunyi seperti engsel yang rusak, "kretek, kretek..."

"Kelihatan juga dalam penampilan secara fisik seperti jalannya pincang atau bentuk dengkul O atau X," ujar dr Franky dalam diskusi bertajuk "Pinggang Kecetit dan Dengkul Kopong" di Jakarta.

Biasanya, keluhan ini lebih banyak melanda perempuan, terutama pada masa menopause di mana tulang-tulang mulai rapuh. Osteoarthritis dapat disembuhkan dengan berbagai cara tergantung pada tingkat kerusakannya. Pada tingkat yang ringan, penderita cukup mengatasinya dengan banyak istirahat dan mengubah pola makan serta posisi tubuh saat beraktivitas.

Pada tingkat menengah dan berat, dokter dapat melakukan beberapa tindakan mulai dari memberikan obat rematik atau anti inflamJangan Anggap Remeh Nyeri Tulang Belakang



RDIasi, suntik dengkul hingga tindakan operasi. Dr Franky mengharapkan penderita langsung mendatangi dokter tulang jika mengalami gejala tersebut. Pasalnya, banyak pasiennya datang dalam kondisi kerusakan tulang rawan yang berat pada sendi.
"Ingat, tulang rawan bukan seperti tulang atau kulit yang bisa menyambung dan melekat kembali jika patah atau robek. Tulang rawan tidak bisa," tandas dr Franky.(ant)


Nyeri Tulang Belakang Bukan Masalah Sepele.
SELAMA ini masyarakat kurang memerhatikan kesehatan tulang belakang. Nyeri atau gangguan lain yang dirasakan pada tulang belakang terkadang masih dianggap remeh dan tidak diindahkan. Padahal, masalah yang terjadi pada tulang sebenarnya bukanlah masalah enteng.
Dokter Peni Kusumastuti, SpRM, seorang spesialis rehabilitasi medik, menjelaskan, permasalahan tulang belakang adalah suatu hal yang rumit. "Tulang belakang sendiri terdiri dari struktur yang kompleks, yaitu terdiri dari tulang belakang itu sendiri, jaringan bantalan, otot jaringan ikat, persendian, dan syaraf," terangnya di sela media gathering yang bertajuk "Solusi Problem Tulang Belakang Secara Terpadu" di Jakarta.

Ia menerangkan, kalau salah satu struktur rusak maka struktur lain akan ikut terganggu. Jika ada bantalan yang rusak atau sakit, akan memengaruhi sistem persendian. Tulang belakang atas dan tulang belakang bagian bawah akan menekan bantalan tersebut dan menyebabkannya tidak stabil. Jika keadaan tersebut terus dibiarkan, lama-kelamaan akan terjadi pengapuran pada tulang belakang.
"Belum lagi kalau ada syaraf yang terjepit, permasalahannya akan semakin akut. Rasa sakitnya bukan dapat terjadi pada bagian tulang belakang, bisa juga dirasakan pada ujung kaki," tambah dia. Jika hal terus dibiarkan, lanjut dia, produktivitas seseorang dapat terganggu. "Rasa nyeri pada tulang belakang dapat menganggu seseorang dalam bekerja dan berdampak pada perusahaan juga," kata Peni.

Masalah nyeri tulang belakang adalah hal yang rumit, untuk mengatasi permasalahan tersebut memerlukan penatalaksanaan yang tepat. "Kita tidak bisa langsung memutuskan cara penanganan dalam waktu yang singkat, dan memerlukan tim terpadu yang terdiri dari multidisiplin ilmu untuk menentukan penyebab dan penanganan yang tepat," terang Peni.

Pada kesempatan yang sama dr Riris Himawati, SP RAD, spesialis radiologi, mengatakan, pemeriksaan awal yang akan dilakukan sebanyak tiga tahap, yang pertama adalah foto rontgen biasa, yang kedua MRI untuk mengetahui jaringan lunak, dan yang terakhir adalah CT scan untuk mengetahui bentuk tulang belakang. "Setelah itu baru dapat ditentukan tindakan apa yang dapat dilakukan, agar tepat penanganannya" terang Riris.(kompas.com)

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda