Puisi Aldo Tapoona

Balleo Lamalera-Ku

Lamalera-Ku...
Harum nan indah
Menebar sejuta pesona
Menghiasi setiap sanubari
Mengundang hasrat
Setiap hati para insan

Lamalera-Ku
Merona merah oleh sang surya
Diapit Sarabia dan Baufutung
Memendam sejuta kisah
Menyimpan beribu misteri
Menguak sejarah tena laja

Leva nuang tiba
Ritual 'Tobu Nama Vatte' digelar
Berkumpul berembuk memohon
Dengan hati penuh harap
Ridho dewa lera wulan

Ladang Ocean Sawu
Preman balleo bergulat
Bergumul penuh peluh
Mengais rezeki
Demi sesuap nasi
Untuk hidup anak cucu

Berita duka
Budaya balleo terancam punah
Ditelan modernisasi
Kebijakan picik sang penguasa
Sepihak menguntai kata
Dengan dalih hukum dan perlindungan

Tidak
Harga mati
Menolak WWF
WWF tidak mengerti mamalia
WWF lebih mengerti satwa liar
WWF lebih mengerti hidup
Dengan bertanya pada ikan paus

Arek-arek Balleo
Sehati sesuara lantang dan berani
Bagai lamafa siap tegar tanpa takut
Menolak konservasi laut Sawu
Hingga tetes darah penghabisan

Keterangan:

Sarabia dan Baufutung : Dua tanjung yang mengapit Desa Lamalera

Balleo : Ajakan atau teriakan dan semangat (sebutan khas untuk para nelayan Lamalera)


Tena laja : Tena = perahu, laja=layar (dalam satu kesatuan artinya peledang atau perahu
bercadik yang digunakan masyarakat Lamalera untuk berburu ikan paus)


Leva nuang : Musim berburu ikan paus (Mei-Agustus atau tiga bulan)


Tobu nama vatte : Ritual adat dan musyawarah yang digelar masyarakat dengan berkumpul di pantai, berembuk, mencari kata sepakat dengan tetap melestarikan budaya agar asli).


Lera wulan : Dewa matahari dan bulan sebagai penguasa tertinggi langit dan bumi serta segala isinya


Lamafa : Juru tikam ikan paus, pemimpin dan pengendali dalam setiap peledang.


Preman Balleo : Sebutan khas untuk nelayan Lamalera (penembak)



Pos Kupang Minggu 9 Agustus 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda