Selamat Datang El Nino


POS KUPANG/ALFRED DAMA KEKERINGAN--Persawahan Oepoi-Kupang akan terkena dampak dalam akibat el nino tahun ini .


BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan sebagian besar wilayah Indonesia bagian timur akan terkena dampak fenomea alam el nino. Bila demikian adanya maka wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) patu mengucapkan Selamat Datang El Nino.

El nino merupakan fenomena alam dan bukan badai. Secara ilmiah diartikan dengan meningkatnya suhu muka laut di sekitar Pasifik Tengah dan Timur sepanjang ekuator dari nilai rata-ratanya dan secara fisik el nino tidak dapat dilihat.
Menurut Kepala Seksi Observasi dan Informasi, Kantor BMKG Stasiun El Tari-Kupang, Agus C.Iswahyuanto, el nino merupakan fenomena alam yang terjadi secara periodik beberapa tahun sekali. Dan, secara periodik, el nino kembali terjadi di Indonesia termasuk wilayah NTT.

Dijelaskannya, el nino terjadi karena suhu laut di Samudra Pasifik bagian timur lebih hangat dibadingkan Pasifik bagian barat. Akibatnya, uap air laut dalam bentuk awan bergerak ke barat sehingga di wilayah tersebut terjadi hujan yang banyak, sementara di bagian timur terjadi kekeringan atau intensitas hujan yang rendah. Lawan dari fenomena alam tersebut dikenal dengan istilah la lina.


Munurut Iswahyuanto, dampak dari el nino sangat dirasakan oleh daerah-daerah tropis. Dan, NTT termasuk salah satu wilayah yang akan terkena dampak serius dari fonemena alam ini. Sebab, musim kemarau akan terasa lebih panjang dari musim hujan. Untuk wilayah NTT, musim hujan tahun ini diperkirahkan baru akan terjadi pada bulan Desember nanti. Kondisi ini akan memicu kekeringan hebat di wilayah ini. "Yang jelas, musim kemarau tahun ini akan lebih panjang dari tahun lalu jelasnya," katanya.

Pengaruh Global Warming
Iswahyuanto juga menjelaskan, dampak global warming juga sudah sangat terasa di wilayah NTT. Ini di tandai dengan pola cuaca yang berubah-ubah. Ia mencontohkan, terkadang kondisi sudah siap hujan namun tiba-tiba berubah. Isu global warming ditandai dengan hal-hal ini. "Kita di kalangan prakirawan ini juga selalu resah dengan perubahan cuaca, kita sudah memperkirakan cuaca hari ini demikian, tetapi bisa berubah lagi. Di rumah saja, kita terus memantau cuaca dan terus was-was dengan keadaan ini," jelasnya.

Menurutnya, akibat global warming bisa saja terjadi hujan akibat cuaca yang sulit diprediksi. Ia mencontohkan beberapa hari lalu terjadi hujan di wilayah NTT. Menurutnya, itu terjadi karena awan yang melintas di dekat wilayah NTT tiba-tiba berbelok ke wilayah NTT sehingga terjadi awan di atas wilayah ini sehingga udara di wilayah ini berawan bahkan ada daerah yang mengalami hujan.

Pemanasan Global juga menyebabkan gelombang laut di wilayah NTT tidak beraturan. Hal ini harus menjadi perhatian pengguna dan penyedia jasa transportasi laut dan para nelayan. Cuaca yang berubah-ubah dengan sendirinya berpengaruh pada gelombang laut. (alf)


Siap Masuk Kemarau Panjang

FENOMENA el nino di wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akan memberi dampak langsung pada pola pertanian di wilayah ini. Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Lasiana, Ir. Purwanto, yang ditemui ruang kerjanya, Jumat (31/7/2009), menjelaskan, fonomena cuaca el nino sudah melanda wilayah NTT. Kenyataan ini tentu tidak bisa ditolak oleh siapapun yang ada di NTT.

El nino yang terjadi di wilayah NTT jelas menyebabkan kemarau panjang tahun ini. Kemarau akan berlangsung hingga Desember, bahkan tidak menutup kemungkinan hujan baru akan terjadi pada pertengahan, akhir atau bahkan awal tahun 2010 nanti.

Meski demikian, tidak semua daerah yang wilayah ini akan terkena dampak serius dari fonomena cuaca ini. Beberapa daerah yang kemungkinan terkena dampak cukup serius adalah wilayah Rote, Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan dan beberapa wilayah di daratan Timor.

Menurut Purwanto, El Nino yang terjadi secara periodik tiga hingga enam tahun sekali ini akan berdampak serius pada pertanian tadah hujan atau yang sangat bergantung pada air. Namun, daerah-daerah pertanian dengan sistim irigasi yang baik tentu bisa melewati kondisi ini dengan baik. "Tidak semua wilayah NTT akan terkena dampak el nino ini. Daerah pertanian tadah hujan akan terkena dampak serius, seperti gagal tanam atau gagal panen," jelasnya.

El nino bukan berarti hujan tidak terjadi. Menurut Purwanto, hujan kemungkinan akan turun, namun dalam intensitas yang sangat kecil. Hujan dengan kondisi yang demikian tidak menjadi jaminan untuk kegiatan tanam sebab air hujan kemungkinan hanya mencapai 20 mm dalam sebulan atau di bawah normal. Kondisi ini jelas tidak bisa menjadi dasar para petani untuk memulai musim tanam.

"Kondisi normal, curah hujan harus mencapai 60 mm dalam sebulan. Asumsinya, bila curah hujan mencapai 60 mm, maka kemukinginan air hujan bisa meresap ke dalam tanah dan bisa diserap oleh tanaman. Bila hujan hanya di bawa 60 mm, maka air hujan yang jatuh ke bumi, kemungkinan akan menguap lagi atau tidak sampai meresap, sehingga tanaman tidak menyerap air ini," jelasnya. Bila kondisi demikian, maka para petani akan mengalami gagal tanam.

Menurut Purwanto, pemerintah sebaiknya segera mensosialisasikan keadaan ini sehingga para petani tidak terjebak dengan keadaan alam yang mendung yang seolah-olah ada hujan, padahal hujan belum tentu terjadi.

Pemerintah juga harus bersiap menghadapi kemarau panjang yang akan terjadi di wilayah NTT. "Pemerintah perlu mengantisipasi keadaan ini sehingga tidak terjadi gagal tanam, gagal panen hingga akibat dari gagal panen itu," jelasnya.
Di NTT, musik kemarau juga selalu berdampak pada kekurangan pangan di daerah-daerah tertentu sehingga hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah.

Selain masalah pertanian, yang tidak kalah penting adalah ketersediaan air bersih. Musim kemarau panjang jelas mengakibatkan masalah pada persediaan air bersih. Kekurangan air bersih di Kota Kupang jelas terasa bila musim kemarau panjang. Lebih parah lagi adalah kekurangan air bersih akan menyebabkan mewabahnya penyakit menular. Kondisi ini juga perlu diwaspadai. (alf)

Pos Kupang Minggu 2 Agustus 2009, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda