Senyum dan Rintihan Petani di Puncak Kemarau


POS KUPANG/THOMAS DURAN
NOELBAKI -- Persawahan di Noelbaki yang mendapat pasokan air dari Bendungan Tilong.


SOLEMAN Ndu Ufi, ketua kelompok tani di Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), tetap tersenyum meski terik matahari timur terasa begitu menyengat kulit. Pesona senyum para petani di Desa Noelbaki, seakan tak sirna meski sudah memasuki puncak musim kemarau yang membawa dampak kekeringan terhadap areal pertanian rakyat.

"Kami tidak khawatir meski di puncak musim kemarau sekalipun, karena distribusi air dari Bendungan Tilong ke irigasi tetap saja lancar," kata Soleman Ndu Ufi kepada Antara di Desa Noelbaki, sekitar 20 km timur Kupang, Minggu (2/8/2009).

Areal persawahan lainnya di wilayah Kecamatan Kupang Timur, misalnya, sebagian besar sudah ditinggalkan oleh para petani, karena sumber air yang digunakan untuk mengairi persawahan mereka, mulai mengering akibat kemarau. Lahan persawahan yang ada, dimanfaatkan petani untuk menanam tanaman palawija, karena sejumlah sumber mata air yang digunakan, seperti sumur bor dan air kali, debitnya sudah tak cukup lagi untuk mengairi areal persawahan secara keseluruhan.

Soleman Ndu Ufi mengakui sebelum Bendungan Tilong dibangun, para petani di Desa Noelbaki selalu kekurangan air untuk mengairi ratusan hektare areal persawahan yang ada jika sudah memasuki musim kemarau. Namun, sejak bendungan tersebut dibangun pada masa pemerintahan Gubernur NTT Mayjen TNI (Pur) Herman Musakabe (1993-1998), pasokan air ke areal persawahan mereka lancar. "Sebelum ada bendungan, kami selalu mengalami kekurangan air. Akibatnya, banyak petak sawah dibiarkan begitu saja oleh petani," ujarnya.

Sebelum ada Bendungan Tilong, para petani mengandalkan tampungan air hujan serta sejumlah sumber mata air di sekitarnya, seperti mata air Sagu dan mata air Dendeng. Sistem suplai air yang dilakukan untuk mengairi hamparan sawah di Desa Noelbaki itu diatur secara bergilir untuk setiap kelompok, yakni dua hari dalam sepekan yang dilakukan oleh petugas yang telah ditentukan. "Sistem distribusi air ini sangat membantu kami mengairi ratusan hektare persawahan," kata Ndu Ufi.

Bendungan Tilong yang menjadi sumber air kehidupan para petani di Desa Noelbaki itu, debitnya pun sudah mulai menyusut seiring makin panjangnya kemarau. Pada Minggu (19/7/2009), debit air di bendungan tersebut sudah berada di bawah angka nol berdasarkan hitungan elevasi permukaan air, sehingga sisa genangan itu menjadi arena memancing bagi para pengunjung yang berkunjung ke Bendungan Tilong.

Bendungan Tilong
Luas genangan Bendungan Tilong mencapai sekitar 154,97 hektare dengan volume waduk mencapai 19,07 juta meter kubik, sedang volume efektif waduk 17,31 juta meter kubik dengan elevasi permukaan air normal melebihi 100 meter dan elevasi permukaan air banjir sekitar 102,37 meter. "Setiap musim kemarau tiba, debit air di bendungan ini, pasti akan berkurang, tetapi tidak mempengaruhi fungsi bendungan," kata Jonathan Liufeta, petugas pintu alir irigasi Bendungan Tilong kepada Antara.

Ia mengemukakan, turunnya debit air di bendungan tersebut biasanya mulai dari Mei atau Juni dan berlangsung terus hingga tibanya musim penghujan pada Desember atau Januari. Sumber air di bendungan tersebut, digunakan untuk kepentingan irigasi pertanian untuk mengairi ratusan hektare sawah di empat desa yang ada di sekitarnya serta sebagai sumber air baku untuk kebutuhan air minum bagi masyarakat di Kota Kupang dan sekitarnya. "Meskipun debitnya airnya terus menyusut, namun tidak terlalu berpengaruh terhadap sistem distribusi air untuk kebutuhan irigasi bagi para petani sawah setempat," katanya.

Jangkauan daerah aliran sungai (DAS) dari bendungan tersebut mencapai sekitar 36,47 kilometer dengan panjang tanggul 162,05 meter dan tinggi tanggul 44,50 meter, namun masih terus berfungsi untuk mengaliri sawah-sawah milik petani di Desa Oelnasi, Oelpua, Noelbaki dan Desa Oetafi. "Persawahan di empat desa tersebut tetap kita layani, apalagi di puncak musim kemarau, sekitar bulan Oktober sampai pertengan bulan Desember nanti. Distribusi untuk sektor pertanian tetap diprioritaskan," kata Jonathan.

Sementara untuk sumber air baku, juga tidak mengalami hambatan, kendati dilakukan secara berkala ke tempat penampungan di mata air Desa Baumata. Penyaluran berkala tersebut menggunakan metode singgahan, di mana air dari Bendungan Tilong terlebih dahulu disuplai ke tempat penampungan di mata air Desa Baumata untuk disterilkan, sebelum didistribusikan kepada para konsumen di wilayah Kota Kupang dan sekitarnya.

"Untuk sumber air baku kita pakai sistem seperti itu. Tidak langsung ke rumah tangga pelanggan," kata Jonathan dan menambahkan, distribusi air baku untuk konsumen itu hanya 0,15 meter kubik per detik.

Rintihan Petani
Senyum petani Desa Noelbaki, tidak bisa dilakukan para petani di Desa Olenasi, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, yang berada di tepian Bendungan Tilong itu.
Meskipun lokasi pemukiman mereka tak jauh dari Bendungan Tilong, para petani di desa itu merintih kesulitan mendapatkan fasilitas air bersih dari bendungan tersebut."Air dari Bendungan Tilong hanya untuk mengairi areal persawahan di desa ini, sedang penyediaan air baku bagi kebutuhan hidup masyarakat sehari-hari, tidak pernah didistribusikan kepada masyarakat di desa ini sejak 1996," kata Fransisco Liuvera, seorang penduduk setempat kepada Antara.

Ia mengatakan, perjuangan warga Desa Oelnasi untuk mendapatkan fasilitas air besih dari Bendungan Tilong sudah dilakukan sejak bendungan itu dibangun pada 1996, namun sampai saat ini belum juga dipenuhi oleh pemerintah Kabupaten Kupang. "Pemerintah Kabupaten Kupang tampak sangat masa bodoh dengan kondisi yang kami hadapi. Perjuangan kami untuk mendapatkan fasilitas air bersih dari Bendungan Tilong, sama sekali tidak dihiraukan," katanya.
Ketika bendungan itu dibangun, hampir semua kepala keluarga di desa itu, juga membangun bak penampung, dengan harapan bisa mendapatkan distribusi air baku dari Bendungan Tilong untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Kami berharap sumber air baku dari Bendungan Tilong dapat didistribusikan ke bak penampungan yang dibangun secara swadaya oleh masing-masing kepala keluarga. Tetapi, harapan itu sirna dan bak-bak yang ada jadi rusak termakan usia," katanya.

Untuk kebutuhan air irigasi, menurut Liuvera, hanya dialiri untuk dua dusun dari lima dusun yang ada di Desa Oelnasi, meski 80 persen warga Olenasi memiliki mata pencaharian sebagai petani. Masyarakat setempat hanya menggantung harapan pada sumur gali sebagai sumber air kehidupan, meski debitnya selalu tidak stabil jika tibanya musim kemarau.

Ny. Ana, salah seorang warga lainnya mengatakan, masyarakat Desa Oelnasi hanya menggunakan air irigasi untuk mencuci dan mandi, sedang untuk masak menggunakan sumur gali. "Biasanya warga di sepanjang irigasi ini, menggunakan sumber air irigasi untuk cuci dan mandi, sedangkan untuk minum dan memasak, menggunakan air sumur," katanya.
Bendungan Tilong yang diharapkan mampu mengatasi kesulitan air bersih serta membantu sistem irigasi bagi masyarakat desa di sekitarnya, masih tetap saja menyisahkan senyum dan rintihan bagi para petani di wilayah sekitarnya. (antara/lorensius molan)

Pos Kupang Minggu 16 Agustus 2009, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda