Tentang Tatapan Ibu

Cerpen Wendly Jebatu

KALAU kamu pernah mendengar kisah seorang ibu yang tega memberi anaknya kala jengking ketika anak itu meminta ikan, jangan tanyakan kepadaku apakah ceritra itu benar? Aku tak akan menjawabnya karena aku sendiri tak mengalaminya.

Kalau kamu sempat mendengar kisah seorang ibu yang menenggelamkan anaknya ke dalam baskom air karena kesal, jangan tanyakan kepadaku mungkinkah seorang ibu tega berbuat seperti itu? Jangan tanyakan kepadaku karena aku tak pernah mengalaminya. Aku yang merasakan bagaimana manisnya kasih ibu menganggap itu tak masuk akal.

Kalau kamu pernah mendengar kisah seorang ibu tua yang mendidik banyak anak dan tak pernah angkat seutas lidi untuk memukul anak-anaknya, kamu boleh tanyakan kepadaku.

Kalau kamu sempat mendengar kisah seorang ibu yang mempunyai senjata tatapan mata yang menikam untuk menyadarkan anaknya, temuilah ibuku.

Kamu akan menemukan pada matanya sebuah tatapan yang tajam dan menikam lubuk hatimu yang dalam dan kamu pun akan tunduk padanya. Dia ibuku yang mempunyai mata yang bisa merobek hati dan menembus jantung.

Dari rahimnya lahir sembilan orang anak dan semuanya sudah beranjak dewasa. Ketika orang bertanya kepadanya tentang bagaimana dia mendidik kami anak-anaknya, dia hanya menjawab, "Aku mendidik mereka dengan tatapanku!" Banyak orang yang pernah bertanya seperti itu dan keheranan mendengar jawaaban itu. Ada yang tak percaya.

Memang benar! Tatapan ibuku begitu lembut, menyejukan tapi juga menikam setiap hati yang salah. Kalau dia menatapku, aku merasakan kesejukan itu. dan saat berbuat salah tatapan itu seperti tikaman belati yang merobek hati dan diriku pun seolah-olah begitu kecil dan terjepit dalam genggamannya.

Ketika aku membuat kesalahan fatal dia tidak pernah marah, dia tak mengeluarkan kata-kata kutukan atau makian. Ia masuk kamar dan menatap mataku dengan lembut dan senyuman yang tulus. Tak pernah ada kata marah untuknya. Kakakku yang sulung berkisah bahwa semenjak dia bocah, ibu tak pernah mencacinya.

Yang ada hanyalah tatapan mata yang begitu lembut tapi menikam. Kakak-kakakku yang lain juga berkisa demikian. Mereka menceriterakan hal yang sama tentang ibu yang punya senjata pada tatapan mata. Dan aku, anak bungsunya pun mengalami hal yang sama. Hanya tatapannya yang terus mengawasi aku dan kadang menghakimi. Penghakiman ala ibuku adalah penghakiman dengan tatapan mata yang lembut.

Aku sering merasakan bahwa aku tak pantas ditatap begitu lembut. Di kala susah, tatapan lembut itu begitu sejuk dan aku ingin terus menatapnya karena aku mersakan kedamaian. Tetapi saat berbuat salah, tatapan mata itu begitu tajam dan seakan mengadiliku.

Pernah terjadi padu suatu hari Minggu dia mengetahui kalau aku tidak pergi gereja. Waktu itu memang aku dengan tahu dan mau tidak mau pergi. Aku keluar dari rumah bersama-sama dengannya.

Tapi di depan gereja aku berbelok arah ke tempat lain dan ibu tak memperhatikanku. Ketika misa selesai dia mencariku dan menungguku di pintu gereja tetapi tidak ditemukannya. Dia baru sadar bahwa aku telah mengibulinya. Ia pun pulang ke rumah sendirian! Sesampainya di rumah dia mencariku tapi tak didapatnya pula. Maka dia menunggu sampai sore karena ia yakin bahwa aku pasti kembali.

Ketika aku tiba di rumah pada senja itu, dia sudah duduk sendiri di depan rumah. Langit mendung saat itu.. Aku tak bisa lari lagi. Mau tak mau aku harus menghadapnya. Parasnya tak menunjukkan kemarahan atau pun kekecewaan. Ia tak menyambutku dengan kemarahan dan tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dia menyambutku dengan senyum tulus dan tatapan mata lembut. Tatapan itu begitu lembut sampai aku merasakan hatiku tertusuk belati dan jantungku ditikam golok.

Aku malu di depan mata itu. Aku tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Mata itu menghakimiku dan senyuman tulusnya memintaku untuk mengaku salah. Aku tetap membisu. Aku merasa tak sanggup menatap mata itu; terlalu lembut untuk hati seorang anak yang suka membangkang. Aku tak pantas menerima tatapan itu dan tak pantas mendapat senyumannya tulus.

Sungguh aku tak pantas! Yang pantas buatku adalah kata-kata cercaan bahkan tamparan sekalipun. Tapi mama tak melakukannya.

Setelah itu dia masuk ke dalam rumah mendahuluiku tanpa sepata kata pun keluar dari mulutnya; dan aku hanya bisa mengekor dengan kepala tertunduk. Aku telah menyakiti dan menipunya hari ini.Tapi kok dia tak marah juga?

Apakah tatapan lembut dan senyuman tulus itu adalah sebuah ekspresi kekecewaan atau kemarahan? Tak tahu. Hanya ibu yang tahu. Tapi yang ku lihat, mata itu masih memancarkan ketulusan dan kelembutan hati.
Ibu tak pernah marah! Aku tak tahu mengapa sifatnya begitu.

Aku sering bertanya, apakah ini namanya cinta? Aku saat itu masih kecil sehingga aku tak tahu jawabannya. Yang jelas bahwa aku menikmati kebersamaan kami. Dia tak pernah marah tapi juga tak memanjaiku walaupun semua saudaraku sudah tinggal jauh. Aku ingat betapa seringnya aku menyakitinya. Tapi aku tak pernah merasakan cambukan.

Sebagai anak yang nakal, aku kadang merasa tak pantas menerima perlakuan yang terlalu lembut itu. Aku bahkan mendambakan sesekali bila dibolehkan biarkan aku merasakan cambukannya, biar aku tahu seberapa sakitnya cambukan itu. Tapi tak pernah dilakukannya.
Senjata utama ibu hanyalah tatapan matanya.

Aku ingat pada sebuah subuh, ia membangunkanku. Aku melihatnya dengan kepala terikat sal. ,Nana, mama sakit! Temani mama ke bidan punya rumah. Mama mau berobat!" ,

Aku tak mau!" Jawabku. Aku malah menutup tubuhku rapa-rapat dengan selimut.
Ia tak memaksa dan memilih pergi sendirian. Jalannya sempoyongan karena pening.

Tak lama berselang seorang anak memanggil-manggilku dari depan rumah. "kaka! Mama tua ada jatuh dan sekarang masih berbaring di rumah tetangga!. Aku hafal baik suara itu. Itu suara Yudi sepupuku yang masih kecil itu. Aku panik! Aku pun bangun dan langsung lari menemui bidan untuk memintanya datang menolong ibu.

Sepulang dari rumah bidan aku mendapati ibu sudah duduk tapi badanya masih lemah. Ketika dia melihatku, dia hanya tersenyum dan matanya langsung menatap mataku. Aku tertunduk malu. Aku tak berani menatap mata itu. Lalu dia mengulurkan tangannya dan memelukku ketika dia tahu bahwa aku sudah memanggil bidan.

Tapi aku masih takut pada tatapannya. Aku merasa tak pantas saja. Semua ini karena kesalahanku. Dalam pelukannya waktu itu aku hanya berbisik meminta maaf padanya dan dia tersenyum lembut dan menciumku.

Ketika aku merasakan kehangatan ciuman itu, aku berani menatap matanya dan aku merasakan hatiku kembali damai.
***
Sekarang aku sudah dewasa dan aku tinggal jauh dari ibu. Dan sekarang dia tinggal sendiri di rumah. Walaupun jauh aku masih merasakan kehadirannya. Tatapannya masih terus mengawasi gerak gerikku. Sering kali terjadi dalam menjalankan tugas atau dalam pergaulan dengan teman-temanku, aku bebuat salah.

Saat itu, tatapan mata mamaku seolah-olah nyata dan menghakimiku. Aku menjadi sangat bersalah.
Ketika subuh aku selalu ingat padanya, pada suara lembutnya. Ia biasa membangunkanku.
"Nana bangun, matahari sudah bersinar! Ingat hari ini kamu sekolah kan?"

Seperti biasa kadang aku mengikutinya tapi tak jarang aku melanggarnya dan malah tidur terus. Tatapan itu selalu mengintaiku dan aku merasa nyaman dibuatnya. Ketika aku dalam gundah, aku membayangkan saja senyuman dan tatapan mata mama sehingga aku bisa tenang kembali.

Beberapa hari yang lalu, dia meneleponku dan menceriterakan panennya yang gagal.
Aku sempat bergurau padanya, aku mau pulang bantu ibu. Dia menjawabku, "aku bahagia sekali kalau ada bersama anak-anakku! Tapi aku akan lebih bahagia lagi kalau anak-anakku meraih apa yang dicita-citakan!" Aku pun diam. Begitu indah dan begitu tulus.

Kelembutan suaranya terus terngiang di telingaku. Tentang kegagalan panenannya dia tak mengeluh. Dia mempersalahkan dirinya. Dia bilang padaku bahwa kegagalan itu karena dia sendiri tak mengontrolnya secara rutin. "Kalau begitu mama tidak bisa kerja sendiri!" Kataku saat itu.

Dia hanya menjawab bahwa sendiri atau banyak orang tidak menjadi soal. Sama saja kalau banyak orang tapi semua ikut kemauan sendiri dan tak mau mendengarkan kata-kata mama. Demikian jawabnya sambil tertawa renyah lewat telepon.
"Bijak sekali! Tapi kena juga ne!" Balasku.
Dia hanya tertawa dan berpesan supaya aku jangan memikirkan dia yang hidup sendiri di rumah.

"Mama memang sendiri di rumah dan kamu tahu aku sangat sepi. Tapi aku tak menyesal dengan kesendirianku! Yang terpenting aku sudah berhasil menanamkan kepada kamu apa yang menjadi kebajikan yang aku hidupi. Kamu boleh menambahnya dengan kebajikan yang kamu temukan dari orang lain dan dari apa saja yang kamu dapat. Mama bahagia walau hidup sendiri. Mama akan sangat kecewa dan sakit hati kalau kamu datang menemui mama dan mau tinggal dengan mama dengan bekal ceritra tentang kegagalan kamu yang disebabkan oleh kelalaian kamu melanggar kebajikan yang aku beri dan kamu terima dari orang lain. Ingat nak, kamu bukan anak kecil lagi!"

Lalu dia pamit dan menutup teleponnya. Aku duduk merenung. Mata itu terus menatapku. Belum pernah ibu memesan dengan kata-kata bijak seperti ini. Dari dulu dia mengajari dan menasihati kami dengan tatapan mata dan tindakan nyata. Apakah mama berubah? Tidak! Ini karena kami tak lagi tinggal bersama.

Tapi apakah ibu tak tahu bahwa dia selalu hadir dalam keseharianku? Apakah ibu tidak tahu bahwa tatapannya masih mengawasiku sampai saat ini? "Mama! Engkau memang jauh tapi masih dekat di hati."
Aku membayangkan betapa sulitnya hidup yang dijalaninya. Sekarang dia sendiri dengan keberhasilan yang tak tentu dan kegagalan yang selalu mengintai dan siap menghadang.

Tapi aku tahu, ibu orangnya tegar. Ceritera kegagalan panen hanyalah ceritera kecil dari ziarah hidupnya. Ada banyak hal yang lebih berat dari itu. Penderitaan pertamanya saat dia harus menghadapi kematian suaminya, ayahku dan membesarkan anak sembilan orang sendirian. Dan penderitaan lebih besar lagi saat dia menghadapi sembilan orang anak yang mempunyai karakter yang berbeda.

Ada yang nakal, ada yang sopan. Ada yang suka omong banyak dan mengomel dan ada yang tenang-tenang saja. Ada yang pembangkang dan ada pula yang penurut. Semuanya dipimpinnya bukan dengan tangan besi tetapi dengan tatapan dan senyuman. Tatapan dan senyuman itulah senjatanya dan ternyata berhasil.

Mamaku selalu berperinsip bahwa kekerasan hanya bisa ditaklukkan dengan kelembutan. Itulah sebabnya dia tak pernah mendidik kami dengan tamparan, cercaan dan makian. Dia mendidik kami dengan tatapan dan senyuman. Ah........tatapan itu! Penuh kasih dan mendewasakanku! *
Nicepleat-Ledalero, April 2009

Pos Kupang Minggu 16 Agustus 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda