WS Rendra

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda


APAKAH memang demikian sudah jalannya, Mbah Surip, 16 korban Merpati di Papua, WS Rendra, Yoakim Langoday dan Noordin M. Top yang menjadi fokus minggu ini? Tentu tidak ada hubungan satu dengan lainnya.

Namun bisa juga dihubung-hubungkan, untuk menarik benang merah tentang porsi pemberitaan, interes media, fokus dan locus persoalan yang melatarbelakanginya.


"Kalau saya jadi Noordin M. Top! Hebat sekali saya. Bertahun-tahun sanggup mengecoh polisi. Bertahun-tahun hidup dalam target menyerang dan menghancurkan. Tidak peduli. Anak buah saya tersebar di seluruh pelosok bumi untuk secara berantai melanjutkan perjuanganku. Wah, apakah cukup pantas saya jadi Noordin?" Tanya Jaki pada Rara yang disambut dengan serius.

"Lebih enak jadi Mbah Surip!" Sambung Rara.
"Lebih enak Noordin! Penuh sensasi yang menggetarkan dan menggemparkan dunia! Kalau Mbah Surip biasa-biasa saja. Saya lebih suka jadi Noordin! Diburu, jadi target, dan menyita perhatian! Mengeco pihak keamanan? Buat geger dunia! Hebat bukan?"

***
"Dari rumah yang sempit itu, di malam yang dingin tanganku yang rapuh menggapai, surgaMu. Aku akan tidur di mataMu yang mengandung bianglala dan lem bah kasur beledu. Ketika angin menyapu rambutMu yang ikal dan panjang, aku akan berlutut di pintu telingaMu, dan mengucapkan doaku" dengan sangat khusuk puisi Rendra dikumandangkan Nona Mia dengan penuh perasaan. Namun sayangnya tidak digubris oleh Rara dan Jaki.

"Aku dapat SMS dari seorang temanku di Papua. Dia merasa sedih karena dua hari penuh Mbah Surip dan Tak Gendong jadi fokus di TV, sementara pada saat yang sama 16 penumpang merpati tewas di Papua tanpa pemberitaan yang berarti," kata Benza.

"Sepertinya soal kecil saja, tetapi temanku merasa sepi dan tidak penting untuk publikasi dan mendapat simpati. Yang pasti menurut keyakinanku Mbah Surip dan korban Merpati sama-sama akan tertidur di mata Tuhan bahkan sama-sama dilindungi rambutNya yang ikal dan panjang. Aman dan tentram".

"Bagaimana ya kalau aku jadi Mbah Surip? Tak gendong kamu kemana-mana ya Nona Mia," Jaki membuyarkan konsentrasi Nona Mia dan Benza. "Tak gendong kamu. Enak toh? I love you full Nona Mia ha ha ha," Jaki menirukan kata dan gaya Mbah Surip bernyanyi.
***
"Tuhan telah terserang lapar, batuk dan selesma, menangis di tepi jalan. Wahai! Ia adalah teman kita yang akrab! Ia adalah teman kita semua: para musuh polisi, para perampok, pembunuh, penjudi, pelacur, penganggur, dan peminta-minta..." Nona Mia mengutip puisi karya Rendra lagi.

"Aku dapat telpon dari Lewoleba. Temanku prihatin dengan hilangnya nyawa Langoday Yoakim oleh orang-orang dekatnya. Bahkan hilangnya nyawa Yoakim direncanakan oleh aktor intelektual di belakang musibah. Benar-benar Tuhan terserang lapar, batuk, dan selesmas dan menangis di tepi jalan menyaksikan ulah anak-anakNya yang buta oleh korupsi, kolusi, nepotisme dan manipulasi. Begitulah".

"Hidup ini adalah puisi yang sangat terikat pada kata dan makna!" Apresiasi Nona Mia. "Kata dan makna adalah suara yang tidak dapat disembunyikan. Gaungnya merayap jauh kemana-mana mencari sumbernya. Baik atau pun buruk akan bertemu dengan tujuannya! Karena itulah suara Langoday selamanya akan tetap menjadi suara yang selalu mengejar!"

"Kalau aku jadi Yoakim Langoday? Aduh! Aku tak mau," Rara tersentak dengan pikirannya sendiri. "Lebih baik jadi Mas Bambang Mbak Erni Mas Bedi Mas siapa lagi ya para tersangka! Meskipun baru tersangka dengan praduga tidak bersalah, aku tetap tidak mau. Aku mau jadi pak Polisi saja, yang sedang menangangi kasus mereka! Tak gendong kemana-mana..."
***

"Masing-masing saling menipu - Dengan gelas-gelas yang tinggi - kita membunuh waktu dalam dosa. Bila begitu: manusia sama saja dengan cerutu - bistik, ataupun wiski-soda - Berhadapan dengan waktu - jadi tak berdaya..." puisi Rendra lagi.

"Apakah benar Noordin M.Top terbunuh dalam penyerbuan dan penyergapan polisi semalam dan sesiang suntuk? Waktu untuk Noordin telah dihentikan dan akhirnya tak berdaya. Yang pasti begitu banyak air mata dan jeritan derita yang telah ditinggalkan teroris.

Begitu lama berkibar berkeliaran bebas dan begitu lama juga pihak keamanan pusing setengah mati mengatur strategi untuk melumpuhkan laki-laki yang dicari-cari dunia itu!"

"Sepertinya aku lebih cocok jadi WS Rendra ya?" Rara bertanya pada ketiga temannya. Aku bisa baca puisi Rendra sehebat Nona Mia baca puisi...Ajal! Ajal! Betapa pulas tidurnya di relung pengab dalam! Siapa akan diserunya? Ajal-ajal..."

***
"Sebaiknya memang untuk saat ini kita semua perlu menjadi Rendra! Mengambil waktu jeda untuk menulis, mengekspresikan pikiran dan perasaan terdalam dalam membaca tanda-tanda jaman yang dihidupkan Noordin M. Top, Mbah Surip, Yoakim Langoday dan semua hal menyangkut mereka..." Ajak Nona Mia.

"Apa yang sudah terjadi dan mengapa mesti begini?" Sambung Benza.
"Sebab Rendra adalah Lelaki yang Luka...dalam Tobat.... Puisi Rendra lagi!"

"Aku tobat Tuhanku, Telah kuinjak mulut-Mu dan juga jantung-MU". *

Pos Kupang Minggu 9 Agustus 2009, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda