Pekan Olahraga

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda


SEBAGAI ketua kontingen, beliau dipesan oleh pimpinan wilayah, supaya dalam setiap rapat evaluasi, bicara yang enak dan menyejukkan semua atlet. Dua belas cabang olahraga, kempo, taekwondo, karate, tinju, silat, sepakbola, bola voli, sepak takraw, bulu tangkis, tenis meja, tenis lantai, dan cabang atletik. Semua cabang harus mendapat perhatian pimpinan kontingan Benza mendengar semua nasehat bos dengan saksama.

***
Namun Benza lebih paham apa yang mesti disuarakan kepada rombongan. Maklumlah sudah lama Benza malang melintang dalam dunia olahraga, dari tingkat RT, RW, desa, lurah, kecamatan, kabupaten, propinsi ditambah lagi dengan klub-klub berbagai jenis olahraga yang ditanganinya. Dia tahu persis bagaimana menghadapi pimpinan setiap cabang maupun atlet-atletnya.

Sejak zaman dulu, pekan olahraga dan sejenisnya selalu memunculkan masalah. Besar kecilnya, tergantung pada siapa penyebab masalah. Begitu pula tahun ini, saat pekan olahraga -Pordafta- berlangsung di Maumere, sudah diprediksi masalah apa yang bakal membuat masalah. Lebih dari itu, siapa yang menjadi biang keroknya.
***
"Ini kesempatan tunjuk berprestasi dengan sportivitas tinggi. Kesempatan bagi teman-teman untuk tunjukkan bisa bersatu atau tidak," kata Benza si pemimpin kontingen kabupaten.

"Prestasi artinya sanggup meraih hasil optimal dari perjuangan yang telah dilakukan sejak masa persiapan sampai pertandingan berlangsung dan sampai keberhasilan itu dicapai. Saya yakin, Anda semua sanggup. Sportivitas mesti tetap dikedepankan.

Menang dengan jujur, kalah dengan jiwa besar. Kita mesti sanggup menunjukkan bahwa kemenangan lawan adalah bagian dari kebesaran jiwa kita. Prinsip menghargai kelebihan orang lain dan mengakui kekurangan diri sendiri!"

"Pokoknya kalau saya prinsipnya vini, vidi, vici alias aku datang, aku lihat, aku menang!" Jaki pemimpin salah satu cabang olahraga yang dipordaftakan melontarkan suara dengan lantang.

"Itu bagus! Namun tetap dalam nuansa prestasi dan sportivitas!" kata Benza sambil menatap tajam langsung ke dalam bola mata Jaki. Selanjutnya Benza tersenyum kecut saat Jaki membuang muka, tidak sanggup mendapat tatapan langsung. "Bagus Jaki!

Vini, vidi, vici hmmm, semangatmu luar biasa!" Benza menarik nafas untuk tetap sabar. Maklum, dia tahu persis bahwa cabang yang dikomandoi Jaki yang paling mengkhawatirkan. Hasil pantauannya selama ini, memang parah kondisinya. Rekrutmen atlet, persiapan, latihan-latihan, berjalan amburadul. Tetapi Jaki selalu membuat laporan semua beres. Rupanya yang penting bagi Jaki adalah kebutuhan dana yang diajukannya jelas, lengkap, terpenuhi, dan terpakai habis.

Uang masuk kantong, itu prinsip Jaki. Pekan olahraga baginya adalah kesempatan untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Dari awal Benza ingin membatalkan keberadaan Jaki dan cabang olahraganya. Namun rupanya Jaki lebih ahli dalam hal pendekatan langsung ke bos pimpinan wilayah. Anehnya, bos juga percaya begitu saja. Padahal semua orang juga tahu, kalau Jaki yang pegang, sama dengan uang habis dan prestasi gagal total. Ya, apa boleh buat... kalau untuk selamanya prestasi dan sportivitas bersama Jaki akan berjalan maju kena mundur kena.

"Ya, vini vidi vici prinsipmu!" Benza mengangguk-angguk dan tanpa sadar Jaki menggeleng-geleng. "Pegang janjimu ya! Letakkan vini vidi vici pada tempatnya!"

"Ha ha ha," tiba-tiba Rara meledak tertawa. "Vini vidi vici untuk siapa? Untuk dirimu sendiri ya? Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan kamu dapat medali?"

"Aku jamin seratus persen. Medali emas akan kusabet semuanya. Lihat saja nanti!" Jaki berdiri sambil mencakar pinggang. "Kamu mau cari gara-gara ya?" Jaki langsung menyambar kerah baju Rara dan dengan sekali dorong, Rara pun melenggang ke belakang. Waduh! Apa yang terjadi? Dalam kontingen sendiri saja tidak ada sportivitas dan kekeluargaan. Bagaimana mungkin mau meraih prestasi? Vini vidi vici-nya ke mana? Rupanya salah lokus dan keliru fokus, sehingga spirit olahraga jadi kacau balau begini.

***
"Apa yang mau engkau sampaikan Rara?" Benza berusaha dengan cepat mengalihkan persoalan Jaki Rara.

"Aku dengan prinsip kekeluargaan dan sportivitas!" Rara berusaha sabar, meskipun wajahnya memerah menahan marah. "Menang kalah bukan satu-satunya tujuan. Yang penting tanding dengan tetap penuh semangat!"

"Bagus!"

"Tampil dan raih prestasi terbaik, itu prinsipku!" Nona Mia juga meyakinkan segenap anggota kontingen. "Pokoknya jangan buat malu dan jangan malu-maluin. Tentu saja dengan semangat sportivitas dan kekeluargaan!"

"Bagus!"
***

"Bagaimana hasil pertandingannya Jaki?" tanya Nona Mia dan Rara serempak.

"Anggota cabangmu kalah ya? Gugur di babak penyisihan ya? Kalah telak tanpa perlawanan ya? Waduh apa yang terjadi?" tanya Nona Mia bertubi-tubi.

"Vini vidi vici," jawab Jaki sekenanya. "Aku datang, aku lihat, dan aku maunya menang, tetapi nyatanya aku kalah...siapa berani menghukum aku? Kamu?"

"Bagaimana prestasi atletmu Nona Mia?"

"Tampil prima dan masuk babak selanjutnya!"

"Bagaimana cabangmu, Rara!"

"Anti buat malu! Berjuang dengan sportivitas tinggi!"

"Untung ada kamu Rara dan Nona Mia!" Benza memuji. *

Pos Kupang Minggu 27 September 2009, Halaman 1 Lanjut...


Prof. Ascobat Gani, MD, MPH,DrPH


Siapa Bilang NTT Miskin?

HAMPIR setiap kali datang ke NTT, kenalan, sahabat dan rekan kerjanya selalu berkomentar pendek, "Prof Ascobat pulang kampung". Pasalnya bagi Centre Health Economics and Policy Analisys Faculity of Public Health Universitas Indonesia ini, NTT sudah menjadi "rumahnya".

Di sini, di NTT, Prof Ascobat mulai merintis kariernya sebagai dokter muda hingga memutuskan mengambil spesialis kesehatan masyarakat. Karena itu NTT, bagi putera Serambi Mekkah ini, sudah jadi bagian dari perjalanan hidupnya. Bagaimana pandangan Prof.

Ascobat tentang perkembangan pembangunan kesehatan di NTT? Berikut petikan wawancara Pos Kupang denganya, di sela-sela kegiatan road show KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) di daratan Flores, belum lama ini.

Bagaimana pandangan Prof tentang NTT?
Saya menganggap NTT sangat kaya. Keindahan alamny luar biasa. Banyak orang bilang NTT miskin, tapi saya bilang NTT kaya. Sumber daya alam dan sumber daya manusia NTT cukup membanggakan. Banyak orang NTT hebat-hebat di Jakarta sana dan di tempat-tempat lain. Ini membuktikan bahwa orang tua dulu melakukan
investasi anak secara baik meski dengan cara amat sederhana. Mungkin dalam tataran tertentu saja NTT miskin, terutama pengelolaan sumber daya alamnya.

Lihat saja mutiara di Larantuka. NTT punya potensi tapi pengelolanya bukan orang nagi tapi orang asing. Atau hotel di Labuan Bajo mayoritas milik warga asing. Karena itu kadang-kadang amarah saya meledak-ledak kalau ada orang bilang NTT miskin, karena saya sudah merasa sebagai orang NTT.

NTT tidak miskin. Asal penduduk NTT bisa mengelola kekayaan non manusianya. Contohnya orang Flores jual pisang bertruk-truk, mengapa tidak bisa dikelola dengan baik di sini? Akibatnya kita jual pisang tapi kemudian beli kerupuk pisang dengan harga lebih mahal dari satu sisir pisang. Padahal isi dalam kemasan kerupuk pisang tadi hanya setengah sisir saja.

Jika demikian bagaimana Prof?
Kita kadang-kdang dibodohi bahwa pemerintah itu tidak perlu. Itu pandangan tidak benar. Di mana-mana pemerintah itu selalu perlu tapi pemerintahan yang baik. Tugas kita, bantu supaya pemerintah itu baik. Kita ajak supaya pemerintah bisa berpikir melakukan pengembangan manusia. Maaf saya bukan ahli ekonomi. Yang saya lihat di China biasanya pemberian modal untuk usaha.

China biasa memelihara para pengusaha kelas menengah. Sementara kita, yang dipelihara adalah bandit-bandit konglomerat. Setelah dapat uang dari bank, dia kabur. Pemerintah perlu berpikir pro-publik dengan mengembangkan potensi dan sumber daya yang ada. Beri pelatihan keterampilan pengelolaan pasca panen. Datangkan tenaga ahli untuk latih para petani kita.

Persoalan kita jusru ada pada komitmen adakah keberpihakan yang jelas dari pemerintah untuk masyarakat atau tidak. Kadang memang ada tapi akselerasinya lamban.

Ke depan NTT seperti apa Prof?
Saya bicara dalam kapasitas saya saja, khususnya aspek kesehatan masyarakat NTT. Agar kekayaan orang NTT tetap bestari dan berdayaguna, perlu investasi modal manusia NTT secara baik pula. Tema kegiatan kita adalah Human Capital Investment. Artinya menyiapkan investasi modal manusia. Mengapa demikian? Karena generasi penerus harus disiapkan agar sehat jasmani dan rohani dan intelek.

Saya melihat ini jawaban yang tepat bagi kita semua, baik di NTT khususnya maupun di Indonesia umumnya. Kita invest manusia pasti menghasilkan manusia bermutu. Kalau kita sebar angin ya kita tuai badai, tetapi kalau kita invest manusia pasti mendapatkan generasi manusia NTT yang bermutu.


Caranya?
Kita perlu berubah paradigma berpikir dalam rangka mencapai MDG. Tujuanya MDG tentunya tidak akan tercapai apabila masalah kependudukan termasuk aspek pelayanan kesehatan reproduksi, keluarga berencana serta perlindungan hak-hak reproduksi tidak ditangani dengan baik.

MDG menjadi masukan penting dalam rangka penyusunan program pembangunan nasional atau RPJMN. Dalam tataran aplikasi
sesungguhnya kesehatan itu bukan cari orang sakit lalu diobati, anak gizi buruk kita obati, tetapi yang paling penting adalah investasi modal masusia itu disiapkan secara baik.

Konkretnya?
Kita harus sadar bahwa investasi modal manusia akan berdampak pada penanggulangan kemiskinan dan kelaparan, penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan. Karena itu perlu disiapkan dengan baik setiap kelahiran baru sejak masih dalam rahim ibu, termasuk merencanakan jumlah anak, jarak lahir dan pertumbuhan anak itu sendiri.

Tujuannya agar setiap anak yang dilahirkan tidak asal lahir, tetapi memiliki kualitas yang baik. Anak yang memiliki prospek masa depan yang baik. Karena itu road show KIA yang kita lakukan selama hampir sepuluh hari ini bertujuan membangun kesadaran dan komitmen bersama untuk meningkatkan derajat kesehatan manusia NTT. Misalnya setiap ibu hamil kita beri perhatian secara baik terhadap tahapan dan perkembangan kehamilan termasuk perlakuan khusus bagi ibu hamil. Ibu hamil harus jadi manusia istimewa.

Jadi ber-KB termasuk investasi modal manusia?
Adakonsep pemahaman yang keliru tentang KB. Padahal KB tidak bermaksud membatasi kelahiran baru, tetapi bagaimana setiap kelahiran manusia baru itu disiapkan secara baik. Membangun kesadaran pasutri untuk ikut KB tentunya melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat. Tidak bisa harapkan dinas kesehatan saja. Saya secara pribadi memberi aplaus kepada tokoh agama di Flotim karena gereja turut terlibat dalam gerakan KB melalui suara gembala pastoral.

Apa strategi agar investasi modal manusia itu berhasil?
Investasi manusia tidak bisa hanya mengandalkan dinas kesehatan, tetapi lintas sektor. Komitmen bersama dan keterlibatan secara aktif. Bupati jadi komandan. Gerakan program kesehatan bertujuan membangun kesadaran bersama. Dengannya target pengurangan kesenjangan sosial, ekonomi dan kesehatan bisa diatasi.

Untuk itukah Prof bersama Dr. Robert Tilden datang ke NTT?
Tentunya misi kami advokasi. Kami datang secara sukarela karena memiliki keyakinan bahwa NTT sangat potensial dan ingin menyumbangkan pikiran demi kemajuan NTT. Saya berterima kasih kepada rakyat NTT. Saya berkesempatan bekerja di sini, suatu kebahagiaan buat saya. Saya juga belajar banyak di NTT.

Selain NTT, dimana lagi Prof bersama Dr. Robert Tilden melakukan advokasi?
Jauh sebelum kegiatan road show advokasi kesehatan ibu dan anak di daratan Flores, kami berdua sudah ke daerah-daerah lain. Misi kami tetap sama melakukan kegiatan advokasi KIA tadi. Kami keliling Bengkulu, Aceh, Sulawesi Utara dan beberapa daerah lain. Tujuanya sama membangun paradigma berpikir kita tentang investasi modal manusia.

Komentar Prof tentang kemajuan di NTT?
Zaman (gubernur) Pak Ben Mboy, El Tari, Fernandez dan Herman Musakabe itu kan fase-fase sentralistik. Semua kebijakan dari pusat. Daerah tinggal melaksanakan saja. Contoh kegiatan KB, inpres desa tertinggal dan beberapa kegiatan lainnya. Artinya kemajuan-kemajuan dulu adalah kemajuan top down. Sejak tahun 1999-2000 sudah berubah ke erah desentralisasi.
Sekarang ini tantangan lebih berat. Siapa saja bisa jadi bupati, walikota, DPRD. Preman bisa jadi bupati. Tukang gunting bisa jadi Dewan. Latar belakang macam-macam. Muncul tokoh-tokoh baru. Pilkada misalnya, dari sisi sistim bagus, hanya eksesnya. Misalnya suara rakyat dia beli dengan cara janji-janji atau serangan fajar sehingga memerlukan banyak uang. Biang kerok persoalan justru karena biaya politik yang besar itu. Tentunya biaya yang sudah dikeluarkan itu harus ditutup kembali, apalagi uang itu bukan milik pribadi. Ini soalnya. Akhirnya anggaran yang seharusnya dipergunakan untuk bangun SDM dihabiskan untuk pembangunan fisik. Kalau fisik ada tender dan rekanan. Rekanan ada kasak-kusuk. Dampak lanjutan pada kebijakan publik, termasuk bidang kesehatan. Kebijakan bisa saja bergantung pada peran serta orang-orang yang telah mengantar seseorang itu menduduki jabatan tertentu.

Menurut Prof, apakah itu hanya terjadi di NTT saja?
Semua wilayah. Di sana-sini masih kuat terasa. Itulah akses dari pemilihan langsung.

Apakah urusan kesehatan bisa diserahkan kepada swasta?
Yang kita bangun ini 'kan sektor goverment. Bidang kesehatan tidak bisa diserahkan ke swasta. Hanya sebagian kecil dari kesehatan itu yang bisa kita serahkan ke mekanisme pasar.

Bagaimana kritik Prof, terhadap alokasi anggaran di bidang kesehatan?
Umumnya wilayah yang sudah kita lakukan advokasi investasi modal manusia, hampir pasti alokasi anggaran masih kecil. Anggaran masih berorientasi pada pembangun fisik. Advokasi justru hendak membangun kesadaran bersama agar perjuangan alokasi anggaran kesehatan bisa ditingkatkan. Fakta yang kita peroleh mulai dari Labuan Bajo sampai Larantuka anggaran kesehatan masih sangat kecil. Juga daerah-daerah lain di NTT yang sudah saya datangi. Karena itu government untuk kesehatan harus kuat. Orang tidak bisa cari untung banyak dari sektor kesehatan itu. Kesehatan dan pendidikan menjadi sentral investasi modal manusia itu.

PAD di NTT bersumber dari rumah sakit. Bagaimana pandangan Prof?
Memang untuk kesehatan membutuhkan keterlibatan semua eleman dan ini butuh kesamaan persepsi. Tentunya apa yang kita lakukan termasuk Pos Kupang adalah dalam rangka membangun kesadaran bersama tadi. Rumah sakit membutuhkan biaya besar, namun bukan menjadi alasan dana yang sudah diinvest itu harus dikembalikan. Tetapi kalau orang mau bedah plastik, tentu harus bayar dong. Dalam konteks ini
rumah sakit boleh cari untung, masa mau gratis. Produk rumah sakit ada yang disebut public good.

Barang-barang publik tidak boleh cari untung di situ. Tapi kalau privat silakan, rumah sakit untung dari situ. Jadi memang harus diperinci di sini. Rumah sakit jangan hanya ke arah menyediakan yang tadi itu, tapi harus melayani masyarakat.

Bagaimana pandangan Prof tentang rumah sakit?
Yang paling penting masalah kesehatan tidak bisa selesai dengan rumah sakit, Tidak bisa. 80-90 persen akar masalah itu bukan di rumah sakit. Bukan di pengobatan puskesmas, tetapi lintas sektor dengan sub-sub sektor di dalamnya.

Dulunya rumah sakit hanya sebatas obat orang sakit. Sekarang kesehatan dilihat sebagai investasi. Dan ini, tentunya membutuhkan kesamaan persepsi agar kegiatan di bidang kesehatan menjadi gerakan bersama. Misalnya, jika akar masalah kesehatan di suatu lingkungan adalah air bersih, maka Dinas Kimpraswil yang bergerak. Atau perilaku hidup sehat di sekolah dengan menanamkan kebiasan cuci tangan, tentunya Dinas Pendidikan yang harus bergerak.

Bagaimana dengan keluhan kekurangan tenaga medis?
Kita harus akui bahwa bangsa Indonesia ini tidak memiliki perencanaan ketenagaan yang baik. Mestinya kita bisa hitung jumlah tenaga medis yang dibutuhkan sehingga bisa diproduksi. Kekurangan tenaga medis yang terjadi beberapa wilayah NTT dan Indonesia umumnya karena perencanaan jelek. Mengapa jelek karena tidak ada kepedulian dan komitmen. Kekurangan bidan, misalnya, kita berasumsi hanya urus orang beranak saja. Padahal berdampak pada pengurangan kemiskinan. Jika ada perencanaan bisa disiasati. Dinas Kesehatan NTT perlu bicarakan. Pemda harus bayar, harus ada revolusi. Sekolahkan putera daerah, nantinya jika tamat harus kerja bagi daerah yang sudah biayai dia.

Pernahkan Prof sampaikan pemikiran itu kepada pejabat di NTT?
Waktu Pak Frans Lebu Raya mau maju jadi gubernur, saya pernah diskusi. Saya sarankan tolong perhatikan aspek kesehatan masyarakat dalam rangka investasi modal manusia NTT. Kalau manusia NTT mau memiliki mutu hidup yang baik maka aspek kesehatan harus diperhatikan secara serius. Mengapa saya tekankan aspek kesehatan, karena faktanya tingkat pertumbuhan penduduk di NTT cukup tinggi. Kita harapkan ibu-ibu di NTT bisa lahir normal dan sehat dengan jarak lahir yang direncanakan.

Adakah tokoh di NTT yang dipandang berhasil di bidang pembangunan kesehatan?
Adadua tokoh yang sering saya sebutkan yakni, Umbu Mehang Kunda dan Ans Takalapeta. Takalapeta termasuk sosok pemimpin yang selalu mendengarkan. Kita beri advis dia laksanakan. Misalnya program pemberantasan vilaria. Dia sangat sukses. Bukan itu saja, Takalapeta itu sosok pencinta lingkungan serta buat yang konkret untuk rakyat. Sementara Umbu Mehang Kunda itu sosok mencintai rakyat.

Waktu Umbu Mehang jadi bupati penyakit malaria mewabah di sana. Mehang Kunda berhasil membasmi malaria melalui kerjasama lintas sektor. Kayaknya Bupati Mabar itu orang cinta rakyat, sering kunjungi rakyat, omong blak-blakan. Kita harapkan Bupati Mabar bisa buat lebih baik. Saya harus akui pula banyak pemimpin di NTT punya semangat seperti dua tokoh yang saya sebutkan tadi. Sudah banyak. Kita harapkan komitmen tidak hanya sebatas rencana tapi aksi nyata.
(kanis lina bana)



Dari Dagang Beras Hingga Profesor

MASA kecil diwarnai desingan peluru. Karena itu tertanam dalam dirinya cita-cita menjadi tentara. Namun nasib bicara lain. Lantaran tidak cukup umur untuk masuk tentara, Ascobat Gani, yang dilahirkan dari keluarga pegawai perusahaan Belanda di Aceh ITU, masuk Universitas Indonesia mengambil jurusan teknik dan kedokteran.

Dorongan keluarga cukup kuat agar memilih menjadi dokter akhirnya Ascobat Gani memilih kuliah di Fakultas Kedokteran UI. Semasa mahasiswa termasuk aktivis kampus sehingga kuliah menjadi molor. Sebagai keluarga pas-pasan, maka Ascobat bekerja sebagai pedagang beras, mendirikan koran dan kegiatan lain yang bisa mendatangkan uang.

Semasa kuliah sudah memiliki mobil dari hasil kerja kerasnya. Namun karena kekurangan uang maka mobil dijual diganti dengan sepeda motor. Sepeda motor dipakai untuk antar koran, mencari berita dan kegiatan lainnya.
Dan, ketika bekerja di Atapupu, cita-cita mengambil spesialis kebidanan berubah ke bidang kesehatan masyarakat sehingga dia bertualang ke Amerika menimbah ilmu di sana. Sepulang dari Amerika sebagai doktor pertama UI di bidang public health, Prof Emil Salim menariknya bekerja di Kementrian Kependudukan dan Lingkungan Hidup.

Sepeninggalan dari urusan kantor selain memberi kuliah di UI, Ascobat Gani bekerja sebagai konsultan di beberapa bank di Jakarta. Kebiasaan naik motor terusik kembali ke masa-masa sulit sehingga ketika melakukan road show advokasi KIA di beberapa tempat selalu menggunakan sepeda motor.

Perjalanan paling jauh ketika road show di daratan Flores. Mulai dari Denpasar hingga Larantuka sejauh 1.640 Km. Meski usia sudah di atas 60, namun semangatnya tetap membara menyumbangkan pikiran dan tenaga bagi kemajuan manusia NTT.

Kegemarannya naik motor selain hiburan juga bernostalgia keemasan masa kuliah. Sebab dengan motor pula dirinya bisa sukses. (lyn)

Pos Kupang Minggu 27 September 2009, halaman 3 Lanjut...


POS KUPANG/APOLONIA MATILDE DHIU
Yosefina Ladjar


Ajari Anak Selalu Bersyukur

SELALU bersyukur akan apa yang diterima sebagai penyelenggaraan Ilahi adalah salah satu tips yang diajarkan pasangan Donatus Dewa Lejab dan Yosefina Ladjar kepada anak-anak mereka.

Pasangan yang menikah 1992 ini menginginkan anak- anak mereka hidup sederhana dengan apa yang dimiliki. Keduanya memiliki dua putra, si sulung, Hedwigh Lejab, lahir di Kupang, 16 Oktober 1993, saat ini Kelas II SMAK Giovanni-Kupang. Kedua, Eugenius Lejab, lahir di Kupang, 21 Juni 1999, saat ini Kelas V, SDK St. Yosep Naikoten-Kupang.

Memiliki dua anak laki-laki yang masih labil, membutuhkan perhatian serius dari orangtua. Maklum, si sulung masuk usia remaja dan anak kedua sedang nakal-nakalnya dan membutuhkan bimbingan dari keduanya.

Namun, apa hendak dikata, sang suami harus meninggalkan kelurga karena bertugas di Alor, menjabat sebagai Kepala Tata Usaha (KTU) Departemen Agama (Depag) Kabupaten Alor.

Maka untuk tugas mendidik dan membesarkan anak untuk sementara waktu diambilalih sang istri, Yosefina Ladjar, yang bertugas di Kupang sebagai guru SDK St. Yosep Naikoten.

Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Kamis (17/9/2009), Yosefina Ladjar guru yang adalah wali kelas VI ini, mengatakan, untuk sementara dia menjadi single parent (orang tua tunggal) bagi kedua anaknya, namun ia mengaku tetap enjoy. Karena apapun yang terjadi ia tidak pernah akan menggantikan posisi suaminya, suami adalah kepala keluarga.

Kendati suaminya bertugas di Alor, namun komunikasi dengan keluarga, terutama dengan kedua anaknya tetap berjalan. Biasanya kalau ada dinas ataupun liburan, suaminya selalu pulang untuk berkumpul bersama keluarga.

Di sinilah, biasanya keduanya memanfaatkan waktu untuk berdiskusi dengan anak-anak.

Alumni SPG Podor, Larantuka tahun 1991 ini, mengatakan, biasanya keduanya memberikan arahan- arahan kepada anaknya dengan menceritakan realitas yang ada di sekitar rumah.

"Saya ceritakan apa adanya tentang apa yang mereka lihat setiap hari di lingkungan sekitar rumah. Dari sinilah saya mengarahkan anak-anak untuk selalu bersyukur akan apa yang dimiliki.

Karena tidak semua orang bisa hidup layak seperti yang mereka alami," katanya.

Menurutnya, kedua anaknya memiliki karakter yang berbeda. Si sulung pendiam dan penurut, tetapi anak keduanya termasuk anak yang cerewet dan keras kepala. Butuh bimbingan ekstra.

Misalnya, kalau anaknya selalu minta uang setiap hari atau menginginkan hal-hal yang berlebihan, Onci, begitu akrabnya, akan menceritrakan kehidupan orang- orang yang tidak mampu seperti penjual sayur, pemulung atau pendorong gerobak, yang setiap hari harus berkeliling Kota Kupang di panas terik dan baru bisa membeli makanan ataupun kebutuhan lainnya.

Itupun didapatkan dengan hasil yang pas-pasan.
Dikatakannya, jika sudah menceritakan hal-hal demikian, biasanya putra keduanya mengerti dan ia bersyukur anaknya mau berubah.

Selain itu, katanya, ia juga selalu ketat dalam pembagian jatah uang jajan dan uang transpor. Jatah untuk kedua anaknya biasanya dikasih setiap bulan satu kali.

Untuk itu, katanya, anak-anaknya harus bisa memanfaatkan uang yang diberikan itu untuk jangka waktu satu bulan. Karena, jika dalam satu bulan uang tersebut sudah habis, maka anaknya harus menanggung resiko.

Apa yang dilakukannya itu, katanya, sebagai bentuk pembelajaran kepada anak agar hidup hemat dan disiplin dalam memanfaatkan uang.

"Kalau si sulung memang sangat penurut sehingga uang saku sebulan masih bisa ditabung. Bahkan dia jarang minta uang pada saya. Yang menjadi soal adalah yang nomor dua. Makanya, saya selalu berusaha mengarahkan dia untuk memanfaatkan uang untuk hal- hal positif atau yang benar-benar dibutuhkan, bukan diinginkan," kata Onci yang melanjutkan studi ke jenjang S1 di PGSD Undana ini.

Dikatakannya, menghadapi putra keduanya yang agak keras kepala, biasanya ia membalasnya dengan kelembutan dan kesabaran, dan ia bersyukur saat ini perlahan-lahan anaknya mulai berubah.

"Kalau sudah berlebihan, biasanya saya bandingkan dia dengan teman-teman lainnya di sekolah yang pintar- pintar. Saya biasanya katakan, coba lihat temanmu, mereka orang tidak mampu tetapi mereka pintar dan baik hati. Biasanya dia menjadi malu. Saya berharap akan terus berubah seiring bertambah usianya," katanya. (nia)

Pos Kupang Minggu 27 September 2009, halaman 12 Lanjut...

Kekompakan di San Jose Idol



POS KUPANG/APOLONIA MATILDE DHIU
BERI DUKUNGAN -- Orang Muda Katolik (OMK) memberi dukungan kepada para finalis San Jose Idol di Aula Blasius, Paroki St. Yosep Naikoten-Kupang, Kamis (24/9/2009).



KAMIS, 24 September 2009, pukul 19.30 Wita, aula St. Blasius, Paroki St. Yosep Naikoten mendadak ramai. Alunan keyboard yang dimainkan Ferdy Nubatonis menghentak langit-langit ruangan los panjang tersebut.

Tepukan tangan dan siulan menggemuruh dari ratusan penonton, baik orang tua, remaja maupun anak-anak, menyambut kehadiran calon Idol. Ya, 12 finalis yang akan mengekspresikan segenap kemampuan, adu kemampuan olah vokal untuk menjadi sang jawara.

Saat yang dinanti-nantikan pun tiba. Sebanyak 12 peserta parade menuju panggung utama yang dibuat ala kadarnya oleh para sponsor, namun tetap menampilkan kesemarakan.

Mereka maju sambil melantunkan 'Menuju Puncak' yang dibagi dalam beberapa suara. Parade ini cukup menggugah para penonton yang rata-rata adalah para pendukung dari masing-masing wilayah dan stasi di Paroki St. Yosep Naikoten Kupang.

Usai parade, presenter langsung memperkenalkan satu persatu finalis. Tampil sebagi pembuka adalah Antonius Majid dari Wilayah Sembilan dengan lagu wajib You Rise Me up' dengan nada dasar E=Do, dan lagu pilihan Bunda Maria.

Peserta pertama ini mampu menghipnotis para undangan, terutama para pendukung dari Wilayah Sembilan. Suasana hening ketika peserta pertama membawakan You Rise Me Up dan Bunda Mari.

Usai melantunkan dua lagu ini suasana aula kembali hingar bingar. Mereka memberikan aplaus dan teriakan sebagai wujud dukungan kepada para peserta.

Finalis berikutnya adalah Elisabet Sadipun yang menembangkan Miss and Grace dan lagu pilihan Seperti yang Kau Ingini, dan berturut-turut, Kristianus D Talo, Yovita Nepi, Emanuel Messu, Wiwie Ferney, Marianus Soter Bura, Yuliana Simovera Gurang, Yohanes Ome, Maria Herlina, Hendrik Parera. Para Finalis ini berlomba memberikan yang terbaik kepada juri dan penonton agar bisa menjadi sang Idola.

Tampil sebagai juri, Gabriel Langgu, Sr. Yatie, RVM, dan Andre Masemanna.

Para penonton kemudian diingatkan presenter untuk memberi dukungan dengan mengirim short massage service (SMS) ke nomor 2254 untuk memilih sang Idola dan peserta favorit.

Bagaikan dalam ajang pemilihan Indonesia Idol yang diselenggarakan salah satu televisi swasta, seperti itulah suasana di aula St. Yosep Naikoten. Maklum, setiap peserta berusaha bersaing menampilkan yang terbaik bagi wilayah dan stasinya masing-masing.

Begitupun para pendukung ingin memberikan dukungan penuh kepada para peserta agar tampil meyakinkan juri dan menjadi Idol.

Itulah San Josep Idol yang diselenggarakan oleh Organisasi Muda Katolik (OMK) Paroki St. Yosep Naikoten.

Ketua panitia kegiatan, Gabriel Busa mengatakan, San Josep Idol merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan yang diselenggarakan OMK Paroki St. Yosep Naikoten untuk memeriahkan Bulan Kitab Suci Nasional Tahun 2009.

Menurut Busa, bulan Kitab Suci yang diperingati setiap paroki biasanya jatuh pada bulan September. Kegiatan ini, kata Busa, merupakan perlombaan yang dilakukan antar wilayah dan stasi. Di Paroki St. Yosep terdapat 19 wilayah dan dua stasi, yakni Labat dan Batu Plat.

Busa mengatakan, selama ini kegiatan-kegiatan dilakukan OMK di wilayah dan stasi masing-masing. Melalui ajang tersebut kaum muda Katolik diajak untuk tidak saja mengkespresikan bakat dan minat tetapi juga menjalin keakraban, persatuan dan kebersamaan di antara para pemuda.

"Yah, hitung-hitung refresing dan ajang mengekspresikan bakat dan minat. San Josep Idol menjadi wadah bagi para pemuda menyalurkan bakat dan minat. Banyak anak-anak muda katolik yang berpotensi, tetapi tidak tahu kemana harus menyalurkanya," kata Busa.

Sementara itu, beberapa remaja yang datang sebagai pendukung dari 12 finalis, yakni Benya, Servan, Elsa dan Yovita, mengatakan, memuji para penyelenggara.

Menurut mereka, San Josep Idol merupakan kegiatan positif yang bisa mendorong para pemuda untuk bangkit dan mengekspersikan apa yang dimiliki.

"Yah, dengan ajang seperti ini membuat anak muda terpacu untuk menampilkan prestasi. Walau terlihat kecil karena hanya dalam skala paroki, tetapi minimal bisa ada wadah penyaluran. Dari pada kita ke diskotik atau tempat-tempat hiburan lainnya yang identik dengan hal-hal negaitif, mendingan ke gereja," kata para remaja ini tegas.

Benya misalnya menyorotkan jika kegiatan-kegiatan ini juga ajang gaul bagi para remaja dan anak muda. "Siapa bilang mau gaul haru jalan-jalan ke mall, pakai pakaian dan aksesoris yang lagi ngetrend, atau harus dalam komunitas tertentu yang selalu menggunakan komunikasi dengan bahasa gaul.

Ke gereja dan ikut kegiatan-kegiatan seperti ini kan juga gaul," kata Benya, yang mengaku sebagai mahasiswa ini. (nia)

Pos Kupang Minggu 27 September 2009, halaman 13 Lanjut...

Gadis Tegar Itupun Menangis

Cerpen Sr. Sebastiana, CIJ

KAMPUS itu lengang dan sunyi, yang tertinggal hanya bebarapa satpam penjaga kampus. Langkah kakinya lambat seakan sarat beban yang harus dipikulnya. Tapi pandanganku tertuju pada wajahnya yang ayu nan cantik meski ia tak tahu aku sedang memperhatikannya. Dalam hatiku aku bergumam, "Ah, gadis cantik yang malang, betapa tragisnya hidupmu."

Mawar, itulah namanya. Seindah dan secantik orangnya, namun tak seindah jalan hidupnya yang penuh dengan liku-liku perjuangan dan air mata. Aku kenal dia sejak pertama kali kami masuk universitas. Ia gadis peramah dan lincah dan lumayan smart di semesterku. Seiring dengan berjalanya sang waktu, akhirnya aku mengenal Mawar, yang di balik kecantikan dan keramahanya memikul beban yang sangat berat.

Ia sebenarnya lahir dari keluarga terpandang dan berpenghasilan cukup, karena ayahnya seorang yang cukup berpengaruh di kantor pemerintahan di kabupaten itu.

"Kak, aku benci papaku yang beristri lagi," curhatnya padaku di suatu sore ketika dosenku tak masuk.

"Ia tak pernah pedulikan ibu, aku dan adik-adikku lagi. Kini kami hidup melarat. Gaji papaku semuanya diambil istri mudanya. Kami benar-benar telantar. Kak, aku ingin dia mati saja," katanya penuh geram. Aku diam, dalam hati berkata," malang sekali nasibmu, Mawar."

Perjalanan waktu membuatku semakin mengenal Mawar. Ia gadis yang berjiwa besar, kuat dan tak pernah putus asa. Tetapi, aku sendiri tak mampu untuk berbuat lebih sekedar menolongnya, sebatas menjadi sahabat, yang setia mendengarkan dan memberi semangat pada saat ia putus asa. Yah, hanya itu yang bisa kulakukan.

"Kenapa wajahmu pucat? Kamu sakit ya, sebaiknya kamu pulang istirahat, Mawar. Jangan paksa kuliah, nanti pingsan dalam kelas." Setelah aku bujuk akhirnya ia pun kembali ke rumahnya.

Mawar adalah gadis tegar, ia tidak pernah menyerah pada keadaan sulit. Dengan semangat ia belajar karena cuma satu tekadnya ia ingin membahagiakan ibunya dan dapat membiayai adik-adiknya kelak.

"Kak, aku harus pulang cepat, pekerjaanku belum selesai. Besok aku harus kembalikan kepada pemiliknya." Dalam kebingungan aku menganggukkan kepalaku.

"Oh, hati-hati ya, sampai jumpa besok." Aku masih bingung dengan sikapnya, tapi aku tahu dia sibuk karena ia tinggal bersama tantenya. Jadi harus membereskan segala urusan rumah tangga termasuk masak dan mengurus kebersihan rumah.
Siang ketika kami mengikuti kuliah logika, aku tak melihat dia di antara teman- teman.

Kupikir dia mungkin terlambat karena lalu-lintas macet. Jam kuliah pun selesai, tapi ia juga tak ada di antara teman-teman. Aku gelisah dan bertanya pada teman yang lain, apakah Mawar datang kuliah, tapi aku mendapatkan jawaban bahwa ia tidak datang.

"Hai, selamat pagi, Kak. Maaf, kemarin aku tak datang kampus karena semalam aku tidur telat untuk habiskan pekerjaanku," katanya penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa karena kemarin dosen masuk hanya untuk memberikan tugas akhir semester. Minggu depan kita kumpul untuk diambil nilainya, sebagai nilai ujian akhir semester," kataku. Kemudian aku mengajaknya untuk ke kantin sekedar makan bakso. Sementara makan, ia menceritakan keadaan ibunya yang mulai sakit-sakitan di kampung.

"Kak, aku lelah, capai dan putus asa. Bayangkan, aku tak punya waktu untuk bersenang-senang seperti teman-teman lain, bisa pergi pesiar, bercerita santai dan bebas mendapatkan kasih sayang orangtua tanpa dibebani berbagai tuntutan hidup yang keras dan kejam. Mereka tinggal sms atau telepon orangtua ketika membutuhkan uang atau tanpa diminta pun orangtua memiliki kewajiban untuk mengirimkan uang membiayai anak-anak mereka. Sedangkan aku? Aku harus duduk semalaman untuk bekerja, menerima terjemahan dari orang-orang untuk kukumpulkan uang itu sebagai uang foto kopi modul atau uang sekolah. Bahkan sisanya aku kirim untuk membeli obat untuk mama yang sedang sakit di kampung."

Hatiku terenyuh, ingin menangis rasanya, tapi kukumpulkan segenap kekuatanku untuk tetap tersenyum bangga padanya, meski dadaku terasa sesak. Kulihat butiran air matanya mengalir deras, di sela tangisan ia berkata," Kak, kenapa Tuhan begitu kejam padaku? Apa salahku? Kenapa ia mengambil semua kebahagiaan ini di saat aku sangat membutuhkanya.

Kadang aku cemburu pada teman-temanku, mereka selalu tersenyum, tertawa bebas, dan menikmati apa artinya masa muda, tetapi aku setiap saat memikirkan bagaimana membayar SPP, bemo, foto kopi modul yang dosen berikan setiap kali masuk kuliah. Aku ingin mati saja biar beban ini hilang dari hidupku."

"Mawar, kamu tahu, aku bangga padamu!" kataku di saat ia berhenti menangis. "Di usiamu yang masih muda, kamu sudah belajar menghadapi kekerasan hidup ini. Kamu wanita luar biasa. Tunjukkan kepada kedua orangtuamu bahwa kamu adalah anak kebanggaan mereka."

Seiring berjalannya waktu, masa kuliah pun berakhir. Mawar adalah salah satu mahasiswa berprestasi di kampusku dengan bergelar S.Pd Bahasa Inggris. Ketika MC menyebut namanya, ia salah seorang mahasiswa berprestasi, dari sudut gedung terlihat senyum bangga seorang ibu dengan tangisan dan air mata haru. Aku tersenyum dan mengangkat kedua jempolku.

"Sahabat, aku bangga padamu. Kamu luar biasa." Kini tak ada lagi air mata sedih, yang ada hanyalah senyuman bangga dan puas karena Tuhan pasti memperhitungkan setiap air mata dan derita para hambanya. (*)

Pos Kupang Minggu 27 September 2009, halaman 6 Lanjut...

Puisi Amanche Franck

Pantun Pesta Perak Seminari Oepoi

Kami mengenang nostalgia suci
Di rumah kami Seminari Oepoi
Ketika panggilan suara Ilahi
Menyentuh kalbu menggerakkan hati


Pagi merekah beranjak hari
Desah kami doa terlantun
Kami menanti pelajaran Latin
Hic et nunc, di sini dan kini

Kami menimba air mandi
Di sumber air yang sudah dekat
Agar cepat di pagi hari
Mereguk nikmat sumber rahmat

Kacang ijo protein jasmani
Kami santap setiap pagi
Ekaristi suci gizi rohani
Kami rayakan saban hari

Scientia et sanctitas
Ilmu pengetahuan dan perihal kudus
Sanitas, sapientia, et solidaritas
Kesehatan, kebijaksanaan dan persaudaraan tulus

Kalau gadis itu Puella
Maka mawar artinya Rosa
Jika Ecclesia adalah Gereja
Maka sumber dan puncak di Liturgia

Selama hayat dikandung badan
Selalu ada pengharapan
Selama Gereja butuh panggilan
Calon imam jadi harapan

Cita-cita kami di rahim Rafael
Ikut Kristus hingga kekal
Cinta kami di Seminari Oepoi
Bagi Gereja dan bangsa ini

Dalam kepakkan sayap Rafael
Dalam rangkulan kasih Kristus
Seturut ajaran Gereja Kudus
Kami mengabdi lokal universal

Pro Patria et Ecclesia
Untuk tanah air dan Gereja
Kami menyerahkan jiwa raga
Menjadi bentara sabda selamanya

Malaikat Rafael tabib agung
Dokter surgawi penyembuh Ilahi
Sembuhkan kami calon imam Kupang
Agar hidup kami selalu suci

Dari berbagai penjuru persada
Utara selatan timur dan barat
Seluruh hidup untuk imamat
Dari Oepoi untuk Gereja

Flores Sumba Timor dan Alor
Rote Sabu Semau dan Solor
Sehati sejiwa kami bersama
Menggapai cita serta cinta

Di antara pucuk-pucuk lontar permai
Hasrat menjulang amat tinggi
Antara Penfui dan Oepoi
Kami menggantung kecapi kami

Sepak bola dan bola voli
Persaudaraan kami kuatkan raga
Menjadi atlet untuk Gereja
Dalam tubuh nan sehat jiwa pun murni

Kami lahir di era digital
Terkadang tingkah sangat nakal
Tapi kami tak sekedar berkaul
Ikut Kristus hingga kekal

Di bawah rimbun rumpun pisang
Kami menimbun jantung pisang
Kawan muncul rambut keriting
Tertawalah kami bunyi giring-giring

Selalu ada niat untuk bolos
Namun kadang tidaklah lolos
Kandidat Imam tak harus plontos
Asal niatnya selalu polos

Bukan kami ya Romo bukan kami
Melainkan kehendak Dia yang terjadi
Aku ini hina dina hamba-Mu
Jadilah padaku seturut Sabda-Mu

Bila hari telah senja
Matahari beranjak pergi
Di dalam bait-Mu bertelut kami
Di dalam doa bersama Bunda

Angin sepoi di sela angsana
Terdengar lirih dendang surga
Nun jauh di Oepoi dalam kapela
Calon imam lantunkan Salve Regina

Maafkan kami Ibunda Rafael
Sering kami berlaku jahil
Bahkan nyaris ternina bobo
Karena godaan moleng makao

Hari yang satu ke hari yang lain
Malam yang satu ke malam berikut
Kami kisahkan sampai berlarut-larut
Ikutlah Kristus berduyun-duyun

Tiada kata yang tersisih
Dalam iman harap dan kasih
Kami ucapkan terima kasih
Sbab kami diasah diasuh diasih

Ujung kata kalimat akhir
Beta tak bermaksud main bibir
Dirgahayu untukmu terukhir
Jayalah Seminari Oepoi hingga akhir

Komunitas Sastra Seminari Oepoi


Pos kupang Minggu 27 September 2009, halaman 6 Lanjut...

Selamat Idul Fitri

Parodi situasi Oleh Maria Matildis Banda



"SOLAT Id selesainya jam berapa ya?" Laki-laki yang satu ini mempersiapkan diri luar dalam. Pagi-pagi benar sudah bersih-bersih, mandi, pakai pakaian terbaik, dan duduk di depan rumah sambil lihat jam beberapa kali.

Sebentar-sebentar dia berdiri untuk memastikan tuan kost dan tetangga lainnya sudah pada pulang solat Id.
"Solat Id selesainya jam berapa ya?" Tanyanya sekali lagi dengan suara lebih keras agar temannya segera keluar kamar dan bergabung dengannya.

"Waduh Mister Rara, pagi-pagi sudah rapi begini? Ada urusan apa bolak-balik tanya solat Id selesainya jam berapa?" Jaki memperhatikan penampilan Rara dari ujung kaki sampai ujung rambut.

"Biasalah, merayakan Lebaran!" Jawab Rara singkat dan jelas.

"Haaah aku tahu sekarang. Kamu mau ke rumah Siti Nurmala kan?" Jaki menggoda. "Pantas rapi jali begini. Ada udang di balik batu nih!"

"Biasalah, namanya juga hari raya. Kita pergi mengucapkan salam bahagia di hari nan fitri, sekalian juga mohon maaf lahir batin, minal aidin wal waidin," kata Rara. "Rencanamu bagaimana?"

"Aku rencananya makan pagi di rumahnya Siti Nurmala, makan siang di rumahnya Buyung Abdullah, makan malamnya di rumah Arief Rahman. Lumayanlah dua hari ini aku bisa gantung kompor!" Jaki berterus terang.
"Waduh, rencanamu rapi benar! Benar-benar gantung kompor nih!" Rara tertawa.

***
Begitulah Rara dan teman-temannya. Anak-anak kost yang bersahaja. Kuliah berjalan lancar, pandai atur pergaulan, bersahabat dengan semua pihak, suka menolong, toleransi, dan tentu saja memiliki banyak sahabat dan kenalan baik.

Jadi kalau musim hari raya, mereka gembira bukan main. Istilah gantung kompor Natal, Paskah, Galungan, Kuningan, Waisak, Lebaran, sudah biasa bagi Rara dkk. Silahturahmi menjadi penting bagi anak-anak kost ini. Tidak hanya hari raya sebenarnya, tetapi pada setiap waktu. Tidak heran kalau mereka selalu diterima dengan senang hati di setiap keluarga lingkungan tempat tinggal.

"Kamu juga ikut?" Tanya Rara ketika Benza dan Nona Mia bergabung.

"Baiknya kemana dulu ya?" Tanya Nona Mia.
"Intinya makan pagi di Nurmala, siang di Buyung, malam di rumahnya Arief. Antara pagi dan siang, siang dan malam, malam sampai jam sepuluh, kita buat daftar nama. Ini sudah kusiapkan semua!" Rara penuh semangat.

"Wah, kalau soal gantung kompor, temanku Rara rajanya ya," Nona Mia tersenyum.

"Kamu mau ikut atau tidak?" Rara pura-pura tersinggung soal gantung kompor.

"Gantung komporlah!" Jawab Nona Mia ringan.
"Ini urutan nama keluarga pada Lebaran kedua. Ini Haji Usman, Haji Ali, Sofiah, Ibu Daeng, Bapak Agil Ambuwaru, dan baca sendiri nih!" Rara membagi-bagikan lembaran nama pada ketiga temannya.

***
Benza merasa lucu dengan istilah gantung kompor, sekaligus bangga berteman dengan Rara, Jaki, Nona Mia. Memiliki teman baik seperti Sofiah, Arief, dan Nurmala. Mengenal dari dekat keluarga Ibu Daeng, Bapak Agil Ambuwaru dan masih banyak lagi. Bangga juga rasanya berteman dengan Gede Putra, Ni Nyoman Arnati, Bapak Wayan Simpen.

Belum lagi keluarga Budha yang merayakan Waicak, dan keluarga Tionghoa yang rayakan Imlek. Sahabat dan keluarga yang juga ikut berhari raya bersama Natal dan Tahun Baru setiap tahun dengan caranya masing-masing. Sebenarnya sepanjang tahun adalah tahun yang penuh rahmat bagi kehidupan bersama di kampung halamannya. Saling mengerti, saling menghargai, saling memberi tempat, saling silaturahmi sepanjang waktu.

***
"Assalamulalaikum wahrahmattulahi Wabarakatu," suara Rara yang paling jelas terdengar. Jaki, Benza, dan Nona Mia mengekor di belakangnya.

"Wallaikum salam," jawab Nurmala dengan gembira.
"Minal aidin wal waidzin, Nurmala! Aduh kamu cantik sekali dengan jilbab merah mudamu itu," satu-persatu keempat sahabat mengucapkan salam kepada Nurmala dan segenap keluarganya.

"Ini teman-teman kuliah saya," Nurmala memperkenalkan teman-teman kepada orang tua dan keluarganya. öPada gantung kompor ya anak kost ha ha ha," Nurmala membuat suasana benar-benar cair.

"Setelah ini kemana? Aku ikut sekalian ya?"

"Kamu bersama keluargamu dulu. Nanti siang kita ke rumah Buyung dan malam ke rumah Arief!" Kata Nona Mia. "Nurmala, makan pagi! Ketupat gurih!"
"Ayoh, langsung ke ruang makan di dalam," Nurmala menggiring teman-temannya ke bagian yang aman yang nyaman di rumah. "Pada belum makan ya? Besok seharian kita jalan sama-sama lagi ya. Aku sudah mohon ijin orang tua. Pokoknya besok aku bawa mobil, kita satu mobilsaja!"

"Ya Nur, biar kamu tidak perlu pakai helm dan jilbab, cantikmu itu menarik perhatiannya Arief," sambung Rara diikuti Jaki. "Nur, sekalian bungkus kue keringnya ya. Yang banyak buat teman belajar selama sebulan."

"Natal tiga bulan lagi, orang pertama yang harus kamu ingat, aku ya? Gantung kompor, kue kering, jagung bose, ketupat, pokoknya lengkap!"

***
Hari raya sungguh membanggakan. Semoga persahabatan ini berlangsung terus sepanjang hidup para orang muda ini. Pelan tetapi pasti menanamkan dalam pikiran dan hati, betapa pentingnya hidup berdampingan dengan damai.

Selamat gantung kompor. Selamat Bahagia. Selamat Idul Fitri. Maaf lahir batin. *

Pos Kupang Minggu 20 September 2009, halaman 1 Lanjut...

Ir. Joseph Dharmabrata

Kelola Pariwisata, Libatkan Masyarakat


PROPINSI NTT memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA) yang luar biasa. Potensi SDA yang punya prospek menjanjikan, antara lain, sektor pariwisata dan pertanian. Jika potensi ini dikelola dengan baik, akan memberi kontribusi cukup besar bagi penerimaan daerah dan peningkatan ekonomi masyarakat. Tetapi, pengelolaan potensi pariwisata di NTT belum maksimal dan kurang melibatkan masyarakat secara aktif. Banyak masyarakat terpinggirkan dari keterlibatannya dalam pembangunan sektor pariwisata.

Potensi sektor pariwisata di NTT diakui oleh Komisaris Utama PT Mandala Airlines, Ir. Joseph Dharmabrata. Meski hanya tiga hari di NTT, Joseph menangkap banyak kesan bahwa potensi sektor pariwisata di NTT ini luar biasa. Namun, belum dikelola maksimal karena terkendala beberapa faktor, antara lain, kerja sama lintas sektor belum efektif, belum ada payung hukum, ketersediaan sarana dan prasarana yang belum memadai.

Tetapi, menurut Joseph, kendala utama dalam pengelolaan pariwisata dan potensi SDA lainnya di NTT, yakni kualitas sumber daya manusia (SDM) yang kurang mendukung. Kualitas SDM di sini lebih ditekankan pada kemampuan masyarakat mengelola potensi pariwisata yang ada. Untuk memacu pengembangan sektor pariwisata, manajamen Mandala Airlines akan memberi dukungan. Bagaimana bentuk dukungan itu? Berikut petikan percapakan wartawan Pos Kupang Hyeron Modo dan Obby Lewanmeru, dengan Joseph Dharmabrata, Agustus 2009 lalu di Kupang.

Tujuan Anda ke Kupang, apakah sekadar rekreasi atau ada sesuatu yang ingin Anda lakukan?
Tujuan utama berkaitan dengan ekspansi Mandala Airlines ke Kupang, dan kerja sama dengan PT TransNusa Air Services, sebuah perusahaan penerbangan yang berkantor pusat di Kupang. Kerja sama itu fokus pada pengangkutan penumpang. Pesawat TransNusa mengangkut penumpang dari daerah-daerah di wilayah NTT, baik tujuan Kupang maupun ke kota-kota lainnya di Pulau Jawa, seperti Surabaya dan Jakarta. Untuk meneruskan perjalanan para penumpang dari daerah-daerah di NTT ke sejumlah kota di Pulau Jawa, akan diangkut oleh pesawat Mandala Airlines. Tujuan lainnya, saya ingin melihat lebih dekat bagaimana pertumbuhan ekonomi di daerah (NTT) yang dilayani Mandala Airlines. Ini erat hubungannya dengan bisnis transportasi udara. Apakah kehadiran kami di sini (penerbangan pesawat Mandala ke Kupang/NTT) memberikan prospek baik terhadap pertumbuhan ekonomi di NTT. Apakah saling menguntungkan, baik bagi Mandala maupun masyarakat di daerah ini?

Apa yang Anda lihat setelah berkunjung di daerah ini, khususnya di Alor?
Yang pertama saya bergembira sekali berkesempatan berkunjung ke Kupang (NTT). Saya sempat ke Alor. Tentunya berkunjung dua atau tiga hari di Kupang/NTT tidak cukup untuk melihat apa yang sebetulnya menurut pandangan saya bisa dikembangkan di daerah ini. Tetapi, sepintas saya melihat dan boleh memberi kesan yang belum didukung fakta, saya kira NTT ini mempunyai potensi yang besar sekali. Saya lihat kecantikan panorama alam di Alor, terutama keindahan lautnya yang merupakan salah satu obyek wisata andalan di daerah itu. Saya lihat Alor itu sungguh indah. Obyek wisata bahari seperti di Alor, itu pasarnya orang asing. Orang Indonesia kadang-kadang belum berminat ke alam, menikmati keindahan alam. Orang Indonesia lebih cenderung melihat keindahan kota dan keramaian di mall-mall atau supermarket di suatu kota. Di Alor saya sempat mengunjungi obyek wisata pantai dan laut (untuk diving di Selat Pantar) di Jawatoda Watu di Kecamatan Pantar Timur, Pulau Pantar. Obyek wisata itu dikelola sejak tahun 2006 oleh Mr. Gill, seorang warga Perancis. Saya kagumi keindahan alam laut di sana. Masih 'cantik- cantik'. Untuk menampung wisatawan yang ke sana, Mr. Gill membangun delapan home stay bernuansa alami, back to nature. Di sana apa yang kita butuhkan ada, kecuali televisi dan musik, tidak ada. Itu karena turis-turis asing yang ke sana tidak mau ada musik dan televisi. Mereka hanya mau mendengarkan suara alam, keindahan alam. Obyek wisata alam itu pasarnya untuk turis asing. Salah satu kiat untuk memajukan sektor pariwisata, masyarakat harus dilibatkan secara aktif dalam mengelola obyek-obyek wisata, khususnya obyek wisata alam dan budaya yang ada di NTT.

Kesan Anda sekembalinya dari Alor?
Meksi hanya satu hari di Alor, tapi banyak potensi yang saya lihat punya prospek untuk mendukung perekonomian masyarakat di sana, seperti kenari, kemiri dan buah-buahan. Saat saya di Kalabahi ada satu pedagang kenari mengatakan, dia harus menghadapi permintaan pasar 15.000 ton kenari per bulan, tetapi dia hanya bisa mengumpulkan sekitar 3.000 ton sampai 4.000 ton kenari per bulan untuk memenuhi permintaan pasar. Kenyataan ini mencerminkan bahwa petani kenari di Alor tidak ada perencanaan dalam produksi komoditi tersebut. Artinya, tidak ada sistem produksi yang baik. Ke depannya, harus ada perencanaan yang matang dalam hal produksi. Saya belum lihat secara keseluruhan di NTT, tapi petani di Alor yang saya lihat belum menjadi petani yang benar. Belum berkebun yang benar. Aktivitas mereka masih sebatas angkut-angkut mengambil hasil hutan. Artinya, kalau perlu baru ambil lalu dijual. Petani di NTT belum berpikir lebih jauh bagaimana untuk meningkatkan produksi. Itu saya kira masalah yang perlu diperhatikan oleh pemerintah daerah.

Jika itu yang Anda lihat, apa masalahnya?
Masalah utama yang saya lihat adalah kualitas sumber daya manusia (SDM) yang kurang memadai untuk menggarap potensi-potensi yang ada. Masalah kualitas SDM ini menurut saya merupakan kendala yang besar. Dalam pandangan saya penanganan gizi SDM itu sangat mendasar. Saya mendengar banyak anak di sini (NTT) yang kurang gizi sehingga perkembangan otaknya terbatas. Masalah kurang gizi merupakan satu hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah dan masyarakat. Faktor kedua adalah pendidikan. Kesehatan (gizi) dan pendidikan itu merupakan dua faktor kunci yang sangat berpengaruh terhadap kualitas SDM. Kalau dua aspek ini sudah dicapai (cukup memadai), maka NTT menjadi lahan subur untuk investor, dan masyarakat bisa terima dengan baik.

Apa yang mau dibuat manajemen Mandala untuk daerah ini?
Ya. Itu juga pertanyaan kami selanjutnya. Apa yang perlu kami buat untuk NTT ke depannya. Salah satu yang kami lakukan adalah mempromosikan potensi pariwisata daerah ini kepada masyarakat mancanegara (luar negeri) dan daerah lainnya di Indonesia. Kami promosi potensi pariwisata melalui majalah Mandala yang dibagikan kepada penumpang saat berada di pesawat. Di majalah Mandala itu kami tulis tentang potensi pariwisata di NTT. Ini dengan asumsi dalam sehari pesawat Mandala mengangkut sekitar 10.000 orang penumpang dari dan ke berbagai kota tujuan di Indonesia. Dalam setahun mengangkut sekitar 3,5 juta orang penumpang. Disamping itu, Mandala merupakan satu-satunya airlines (armada) penerbangan yang diberi izin untuk melayani penerbangan ke negara-negara Uni Eropa. Mudah- mudahan dengan mengantongi izin operasi ke Uni Eropa, wisatawan dan inverstor asing lebih banyak datang ke Indonesia, termasuk ke NTT menggunakan jasa penerbangan Mandala.

Bidang lainnya yang mau dilakukan Mandala untuk NTT?
Pemberdayaan ekonomi rakyat sangat penting. Itu mungkin yang akan kami coba bantu. Jika pemberdayaan ekonomi rakyat berkembang, maka banyak pedagang dari luar NTT yang akan datang ke sini. Saya melihat ada dua hal yang perlu dilakukan berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi rakyat dan SDM. Pertama, bagaimana kita meningkatkan pengetahuan masyarakat petani dan peternak. Saya yakin pemerintah daerah di NTT sudah melakukan itu. Saya juga yakin, di sini sudah banyak penelitian dan penyuluhan tentang pertanian dan peternakan. Tetapi, kadang- kadang penelitian dan penyuluhan tidak jalan karena penyuluh dan peneliti hanya memberikan penyuluhan secara teknis. Itu karena tidak disertai dengan usaha yang lain pada saat yang sama, yaitu mengubah pola pikir masyarakat untuk melepaskan mereka dari masa lalu. Artinya, masyarakat harus menerima suatu perbaikan dengan memberikan pengetahuan praktis sesuai bidang usahanya.
Kedua, untuk mengubah pola pikir masyarakat petani perlu persiapan. Sama dengan kalau kita mau menanam bibit, lahannya harus disiapkan. Demikian pula kalau kita mau menanam bibit ilmu pengetahun dan perubahan untuk suatu masa depan yang lebih baik, maka lahan yang ada di alam pikir masyarakat harus disiapkan. Kalau tidak demikian, bibit ilmu pengetahun yang diberikan akan masuk ke lahan yang tandus. Tidak tumbuh dan akhirnya semua orang putus asa karena tidak berhasil dalam usahanya. Ini satu hal yang mesti kita lakukan. Selama beberapa hari berada di Kupang dan Alor, saya melihat banyak gereja dan mesjid. Sebetulnya untuk mengubah pola pikir masyarakat (petani) perlu bekerja sama dengan pemuka-pemuka agama. Gereja dan mesjid menjadi salah satu alat komunikasi yang sangat efektif dalam mengubah pola pikir masyarakat petani.

Apa bentuk dukungan Mandala dalam pemberdayaan ekonomi rakyat NTT?
Mandala itu satu usaha jasa penerbangan. Kami fokusnya transportasi udara untuk mengangkut orang dari satu daerah ke daerah lainnya. Melalui jasa angkutan udara Mandala, kami bisa bawa orang-orang yang punya pengalaman dan pengetahuan ke Kupang untuk memberikan ceramah dan seminar dengan materi sesuai potensi daerah ini. Atau bisa juga kami angkut orang dari NTT untuk mengikuti seminar dan pelatihan di Jakarta. Opsi ini lebih diarahkan bagi organisasi lembaga swadaya masyarakat (LSM) di bidang pemberbedayaan SDM dan SDA yang ingin meningkatkan pengetahuan. Mereka bisa ke Mandala untuk bertukar pikiran. Apa yang perlu dibantu guna memajukan pengetahuan masyarakat di sini. Dengan cara seperti itu diharapkan orang-orang yang mengikuti pelatihan atau ceramah bisa meningkatkan ekonomi daerah. Dengan begitu pula Mandala akan semakin sibuk karena banyak penumpang yang menggunakan jasa angkutan Mandala. Jadi, sharing keuntungannya seperti itulah.

Menurut Anda model pengembangan ekonomi rakyat NTT bagaimana?
Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk pengembangan ekonomi rakyat. Di sektor pariwisata, misalnya, saya akan mencoba mengembangkan pariwisata dengan cara yang berbeda dari yang dilakukan banyak orang selama ini. Pada September 2009 ini kami (Joseph dan istrinya) akan berkunjung ke Mongolia. Di sana kita akan melihat festival budaya di Ulaanbaatar, seperti pacuan kuda dan keterampilan burung elang menangkap mangsanya. Selama di sana menginap di rumah penduduk, bukan di hotel. Tinggal di rumah penduduk paling berharga bagi para turis sehingga dia mengetahui lebih dekat budaya orang-orang Mongolia. Kalau kita menerapkan pola pengelolaan obyek wisata seperti di Mongolia, maka inilah bentuk pemberdayaan ekonomi rakyat sesungguhnya. Karena rakyat menikmati langsung pembangunan bidang pariwisata, maka mereka akan menjaga keindahan alam wisata yang ada. Dengan kiat itu, maka turis yang ingin menikmati keindahan alam akan lebih lama tinggal di obyek wisata tersebut. Jika kiat ini yang diterapkan di NTT, otomatis eco turism (eko wisata) akan terjaga. Eco turism itu hanya akan ada kalau kita mampu mengikutsertakan rakyat dalam pengelolaannya sekaligus mereka ikut merasakan manfaatnya. Menyiapkan masyarakat sangat penting dilakukan pemerintah di daerah ini. Konsep eco turism dalam pengembangan sektor pariwisata dengan melibatkan masyarakat secara aktif tidak membutuhkan modal besar dibandingkan membangun hotel bintang lima. Keindahan alam yang masih asli yang dicari oleh turis-turis asing. Mereka tidak mencari keramaian di supermarket, tidak mencari hiburan dan fasilitas yang mewah di sebuah hotel berbintang. Inilah yang harus disiapkan orang NTT bagi para turis. Saya sudah minta kepada Bapak Gubernur NTT memberi kesempatan kepada saya untuk melakukan penelitian. Dari penelitian ini kita akan mengambil kesimpulan bersama. (oni/yel)

Berawal dari Bengkel Las

SEDERHANA. Itulah kesan pertama ketika bertemu dengan Joseph Dharmabrata. Dia adalah Komisaris Utama PT Mandala Airlines, salah satu perusahaan penerbangan swasta nasional. Dari penampilan dan tutur katanya, Joseph, merupakan tipe pemimpin yang low profile. Cara ia berpakaian juga tidak mencerminkan sebagai seorang komisaris utama pada perusahaan penerbangan.
Mengenakan baju bunga biru dan celana panjang warna krem, suami dari Fransiska Setiati, ini mudah diajak bicara. Meski hanya tiga hari berada di NTT (Kupang dan Alor), tapi ia cukup tahu tentang potensi yang terkandung di perut bumi Flobamorata. Ia begitu bersemangat ketika ditanya tentang kesannya selama berada di NTT. "Saya melihat alam di NTT sangat indah. Keindahan itu saya lihat dan nikmati ketika berada di salah satu obyek wisata di Alor. Obyek wisata di Jawatoda Watu di Kecamatan Pantar Timur, Pulau Pantar yang dikelola sejak tahun 2006 oleh Mr. Gill, seorang warga Perancis," tutur Joseph Dharmabrata, saat bincang-bincang dengan Pos Kupang di lantai tiga kantor pusat PT TransNusa Air Services-Kupang, Senin (10/8/2009).
Didamping istrinya, Fransiska Setiati, Joseph menceritakan perjalanan kariernya sejak tahun 1968. Ketika mengambil keputusan untuk terjun ke dunia bisnis, tak sedikitpun keraguan yang ada dalam alam pikirannya. Visinya begitu kuat sehingga sejak terjun ke dunia bisnis tahun 1968, Joseph hampir tidak terlalu banyak mengalami kesulitan. Perjalanan karier saya sepertinya sudah diatur. Saya tidak punya perencanaan sebagaimana umumnya dilakukan oleh pengusaha sukses lainnya. Bisnis saya berawal dari usaha bengkel las. Las pagar, pintu halaman rumah dan kursi. Usaha bengkel las itu ditekuni Joseph sejak tahun 1968.
Joseph menyadari usahanya berkembang karena saat itu persaingan di bisnis bengkel las belum ketat. Karena orang yang membuka usaha bengkel las masih kurang. Ini mungkin karena saat itu orang melihat usaha bengkel las tidak punya prospek. Joseph membuka usaha bengkel las karena latar belakangan pendidikannya sarjana teknik mesin. Ia meraih gelar sarjana teknik mesin dari Universitas Trisakti Jakarta tahun 1968.
Pada tahun 1972, Joseph mendirikan perseroan terbatas, namanya PT Dranako. Perusahaan ini bergerak di bisnis jasa konstruksi. Bisnis utama perusahaan ini bidang instalasi minyak dan gas bumi (migas). Melalui PT Dranako, Joseph ekspansi ke bidang enginering dan pengadaan logistik atau peralatan untuk instalasi migas yang dikelola Pertamina. Sampai sekarang perusahan itu masih jalan, tetapi tidak lagi mengerjakan konstruksi. Lebih menekuni bidang enginering, pengadaan peralatan Pertamina dan sektor finansial.
Setelah lama menekuni usaha jasa konstruksi dengan bisnis utama instalasi migas, kini PT Dranako lebih berkecimpung di bisnis enginering dan pengadaan peralatan Pertamina. Lalu, membidik usaha pendanaan, investasi di sektor finansial. Membuka usaha ini karena memang dimungkinkan oleh undang-undang. Pada tahun 2007, Joseph terjun ke bisnis jasa transportasi udara dengan bendera usaha PT Mandala Airlines.
Cita-cita saya sejak kecil mau mandiri. Visi saya untuk mewujudkan impian itu begitu kuat. Untuk mewujudkan suatu impian, seseorang harus punya visi yang kuat. Visi sangat penting bagi seseorang. Yang saya lihat sekarang ini seperti petani di Alor, tidak ada visi untuk meningkatkan produksi pertanian atau komoditi yang diusahakannya. Petani kita cepat puas dengan apa yang sudah dihasilkan tanpa memikirkan ke depannya bagaimana.
Pengagum Warren Buffet, pemimpin perusahaan investasi Berkshire Hatteway ini menuturkan, visi itu menggambarkan life style (gaya hidup) seseorang yang berbeda. Kalau boleh saya memberi saran, Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) NTT harus menggambarkan profil keluarga NTT di tahun 2015. Kalau hanya cerita saja, mungkin orang tidak percaya. Tetapi, kalau kita buat audio visual tentang profil keluarga petani NTT, maka orang akan percaya. Melalui audio visual tentang cara hidup seseorang, masyarakat diharapkan mendapat impian akan masa depannya yang lebih baik.
Mungkin salah satu model penyampaian visi adalah melalui audio visual tentang profil keluarga NTT ke depannya. Tidak usah yang muluk-muluk, tapi yang realistis saja. Tetapi, kalau orang tidak punya visi atau tujuan akhir dari apa yang dia lakukan, maka apapun yang dilakukan tidak akan terwujud. Satu pertanyaan kunci yang selalu dilontarkan masyarakat, kalau saya berubah, saya dapat apa. Kalau kita omong saja, masyarakat tidak mungkin merekam semuanya. Jika kita sampaikan melalui audio visual yang menarik, masyarakat akan lebih cepat mengerti dan mereka tentu ingin cepat berubah.
Saya menyadari meski berpedoman pada visi saya yang begitu kuat, tetapi keberhasilan yang saya raih dalam menjalankan bisnis tidak terlepas dari campur tangan Tuhan. Ya, sebagai insan beriman, kita tentu harus mendekatkan diri kepada Tuhan. Saya juga berhasil dalam dunia usaha, karena bapa saya seorang pengusaha kosmetik yang cukup berhasil di Malang, Jawa Timur. Saya tidak meneruskan usaha orangtua karena saya ingin lebih besar dari yang diusahakan oleh orangtua saya. Di situlah visi saya. Itulah impian saya ketika saya membuka usaha bengkel las.
Pada tahun 2000 sampai 2003, Joseph dipercayakan oleh Bambang Trihatmodjo (Bambang Tri), pemilik Bimintara Citra (Bimantara Grup), untuk menangani Bimantara Citra. Saya diminta Bambang Tri mengubah bidang usaha Bimantara Citra yang mencakup 26 perusahaan.
"Ya, kebetulan saya kenal dengan Bambang Tri. Lalu, mereka minta saya untuk menangani manajemen Bimantara Grup. Saya diberi waktu tiga tahun untuk mengubah bidang usaha Bimantara Grup. Itu saya bisa lakukan sehingga Bimantara Grup tidak hanya fokus menangani proyek-proyek, tapi juga merambah bidang logistik, telekomunikasi dan transportasi. Selama tiga tahun (2000 - 2003) itu saya menjadi Dirut Bimantara Citra. Ini memperkaya pengalaman saya menangani bisnis," ujar putra pertama dari tiga bersaudara itu.
Bimantara adalah perusahaan yang kinerja keuangannya sehat. Jadi, saya tidak mengubah perusahaan yang tidak sehat menjadi sehat. Yang saya lakukan hanya mengubah bidang usahanya. Yang sebelumnya lebih fokus pada proyek, sejak 2000 hingga sekarang difokuskan pada sektor retail dan jasa-jasa pelayanan kepada publik, seperti media, logistik, transportasi dan telekomunikasi. Kebetulan recovery krisis tahun 1997 di industri-industri tersebut sangat cepat. Kondisi itu menyebabkan nilai Bimantara meningkat dengan cepat pula. Selama saya menangani Bimantara, tidak ada kiat khusus, tapi saya memilih fokus pada bidang usaha yang tepat. (oni/yel)


Biodata

Nama : Ir. Joseph Dharmabrata (putra pertama dari tiga bersaudara)
Tempat/Tgl Lahir : Malang,Jawa Timur, 17 November 1941
Istri : Fransiska Setiati
Anak : 1. Elisabeth Dharmabrata (sudah nikah dan kini menetap di Singapura)
2. Fransiskus Dharmabrata (tingggal di Jakarta)
Ayah : Vidia Dharmabrata (pengusaha kosmetik)
Ibu : Tien Lestari
Pendidikan : - S-1 Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Trisakti-Jakarta tahun 1968
- SMA St. Albertus-Dempo Malang 1960
- SMP St. Jusuf Malang tahun 1957
- SD Santa Maria-Malang tahun 1954.
Organisasi : Selama mahasiswa aktif di PMKRI

Pos Kupang Minggu 20 September 2009, halaman 3 Lanjut...


FOTO ISTIMEWA di Foto Minggu, 20 September 2009
Dominggus Hauteas dan Istri

Dukung Bakat dan Minat Anak

MEMILIKI anak yang cerdas dan penurut menjadi kebanggaan tersendiri bagi orangtua. Apalagi anak-anaknya memiliki minat dan bakat yang unik dan mendukung kreativitas hidupnya.

Sebagai orangtua, pasangan Dominggus Hauteas, S.T, dan Enggelina Hauteas-Benu, tentunya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Sebagai orangtua yang baik, keduanya mendukung bakat dan minat anak-anaknya di bidang musik. Makanya, apapun yang yang diinginkan anaknya, mereka berusaha menyediakan alat-alat musik di rumah agar anaknya bisa berkreasi.

Kepada Pos Kupang di kediamannya di Jalan Tiflosar, Kelurahan Oebufu - Kupang, Jumat (18/9/2009), pasangan yang menikah tahun 1986 ini mengatakan, setiap orangtua menginginkan agar anak-anaknya tumbuh dan berkembang menjadi dewasa dengan masa depan yang baik.

Untuk itu, kata Kepala Seksi Pemeliharaan, Perbaikan, dan Pengendalian UPTD PSDA Wilayah Sumba ini, wajib mendukung bakat dan minat anak-anaknya.

Pasangan ini punya empat anak, putra sulung, Ginsi Hauteas, lahir di SoE, 7 Desember 1987, saat ini semester VII Fakultas Hukum, Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Yogiarto Hauteas, lahir di SoE, 1 September 1991, kelas III SMK Kristen Kupang, Rizky Hauteas, lahir di Kupang, 29 Januari 1994, saat ini kelas III SMP Negeri 2 Kupang dan Nade Hauteas, lahir di Kupang 8 Juni 1997, saat ini kelas I SMP Negeri 13 Kupang.

Dominggus mengatakan, anak-anaknya memiliki grup band bernama SKY Band. Band ini merekrut beberapa temannya dari luar dan sudah malang melintang sejak tahun 2005 di jagat musik di Kota Kupang. Tidak heran, kalau band ini juga sering meraih beberapa juara dalam perlombaan baik di Kota Kupang maupun di daratan timor. Terakhir, band anaknya ini tampil sebagai salah satu band pembuka pada Konser Grup Band Padi di lapangan Polda NTT, September 2009.

Menyadari hobi anak-anaknya yang suka akan musik keduanya sepakat untuk mengadakan peralatan musik di rumah, sehingga anak-anaknya dan beberapa temannya yang tergabung di band ini bisa berlatih bersama di rumah. Menurutnya, tujuanya adalah agar anak-anaknya tidak berkeluyuran di luar rumah.

Dominggus dan Yane mengatakan, biasanya band diidentikan dengan narkoba dan kegagalan, sehingga setiap kesempatan bersama di rumah, keduanya selalu mengarahkan anak-anaknya. Keduanya selalu memotivasi anaknya agar melalui band mereka juga bisa sukses dan meraih masa depan yang baik.

Selain arahan-arahan motivasi yang diberikan, keduanya juga menguatkan anak- anaknya dengan hal-hal kerohanian yang kuat. Dengan demikian mereka yakin dengan dasar dan fondasi iman yang kuat dari rumah, anak-anaknya tidak akan melangkah ke hal-hal negatif di luar rumah.

"Memang ada kekhawatiran ketika mereka sudah memasuki masa remaja dan dewasa seperti saat ini. Namun, kami tetap yakin pendidikan kerohanian menjadi dasar pijak bagi mereka untuk melangkah ketika berada di luar rumah. Anak-anak ini setiap hari lebih banyak berkecimpung di dalam rumah. Kalaupun mau latihan band, biasanya teman-temanya yang datang ke rumah. Inilah yang memudahkan kami untuk mengontrol mereka.

Selain itu, katanya, jika ada jadwal latihan di luar atau ada perlombaan dan tour ke luar daerah mereka selalu menginformasikanya kepada kami, baik secara langsung maupun melalui media komunikasi seperti Handphone," kata Alumnus Fakultas Teknik Undana tahun 2000 ini.

Keduanya merasa bangga karena apa yang diajarkan bisa diikuti dengan baik oleh keempat anaknya. Sehingga sebelum tampil di luar rumah jika ada perlombaan, anak- anaknya dan rekan-rekanya akan melakukan doa penyerahan bersama di rumah. Selanjutnya, jika sudah selesai tampil, anak-anaknya dengan sendirinya kembali ke rumah untuk melakukan doa pengucapan syukur sebelum membagi-bagi berkat yang mereka terima.

Soal jadwal belajar, Dominggus dan Yane, mengaku anak-anaknya sudah tahu dan sadar akan jam belajar masing-masing sehingga tidak sulit untuk mengatur. Sebagai orang tua, keduanya hanya bisa mengarahkan dan memberikan motivasi kepad anak- anaknya agar bisa terbuat yang terbaik dalam kehidupan mereka.

Dominggu sdan Yane mengatakan, biasanya putra sulungnya yang selalu memberikan contoh kepada adik-adiknya. Selain kegiatan ngeband di rumah anak- anaknya juga mengikuti program olah raga fitness.

Menurut keduanya, sebanyak apapun kegiatan di luar rumah atau walaupun memiliki bakat dan minat luar biasa di salah satu bidang, namun keduanya selalu mengatakan bahwa belajar dan sekolah adalah nomor satu.Dengan begitu, anak-anaknya pun merasa termotivasi dengan apa yang mereka bicarakan. (nia)

Pos Kupang Minggu 20 September 2009, halaman 12 Lanjut...

Tentang Nama dan Sejarah


Oleh Fr. Yonatas Kamlasi & Fr. Amanche Franck OE Ninu

25 Tahun Seminari Menengah St. Rafael Oepoi Kupang
Sumber Air Panggilan Gereja di Tengah Kota Kupang

OEPOI adalah sebuah kawasan di pusat Kota Kupang. Oepoi, secara etimologis adalah kata dalam bahasa Dawan, Oe artinya air, Poi atau Mpoi artinya keluar, menyembul, atau muncul.

Gabungan kata Oepoi ini artinya air yang muncul, air yang keluar, atau air yang menyembul, bisa juga berarti sumber air yang terus meluap dan menyembul. Di kawasan jantung kota inilah, berdiri dengan megah panti pendidikan menengah calon Imam Keuskupan Agung Kupang, Seminari Menengah Santu Rafael.

Sampai hari ini, Oepoi adalah sumber air yang menyembulkan dan memunculkan putra-putra Gereja Flobamora yang terpanggil untuk menjadi imam Gereja lokal dan universal. Panti pendidikan kebanggaan umat Keuskupan Agung Kupang ini, kini memasuki usianya yang ke dua puluh lima.

Menurut catatan sejarah Gereja Katolik Keuskupan Agung Kupang, Seminari ini berdiri tepat tanggal 15 Agustus 1984, saat Keuskupan Agung ini memasuki usia sweet seventeenth (17). Mgr. Gregorius Manteiro, SVD, Uskup Agung Kupang pertama adalah pendiri, perintis, dan penjasa, serta figur beriman yang meletakkan dasar bagi tegaknya Seminari Santu Rafael, sebagai jantung dan biji mata Keuskupan Agung Kupang.

Nama Rafael sebenarnya diambil dari nama salah satu malaikat dari tiga malaikat agung dalam Gereja Katolik, (Mikhael, Gabriel dan Rafael). Nama ini juga didedikasikan secara khusus untuk salah seorang misionaris Portugal yang punya andil besar dalam penyebaran iman Katolik di Keuskupan Agung Kupang, yakni Pater Rafael De Viega, OP (Ordo Dominikan).

Seminari di jantung kota propinsi ini mempunyai motto sebagai spirit, jiwa, dan motivasi bagi para anak-anak calon imamnya, yakni Mens Sana In Corpore Sano Ad Plantandum Semina Verbi Dei. Artinya Di Dalam Tubuh Yang Sehat Terdapat Jiwa Yang Kuat Untuk Menanam Benih-Benih Sabda Allah. Spirit ini yang terus dihidupi oleh anak-anak Malaikat Rafael, di pesemaian (Seminarium) Oepoi, sumber air panggilan Gereja.

Para Pekerja yang Tekun
Pekerja pertama yang berkarya di pesemaian sumber air Oepoi ini adalah seorang Imam Serikat Sabda Allah, yang kini kembali masuk dan memimpin rumah Oepoi. Dialah Pater Yulius Bere, SVD. Imam kelahiran Manumean, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), yang sedikit lagi akan merayakan panca windu imamatnya ini adalah Praesses/Direktur Pertama Seminari Menengah Santu Rafael. Kesulitan awal dalam hubungan dengan fasilitas dan situasi yang mendera saat tahun 1984 membuat Pater Yulius harus juga merangkap sebagai Koordinator Prefek.

Angkatan perdana Oepoi berjumlah lima belas orang. Dari kelima belas putra-putra ini, akhirnya lahir dari rahim Oepoi imam sulung seminari ini, yakni Romo Leo Mali, Pr. Setelah Pater Yulius, tercatat ada beberapa imam yang menjabat Praesses yang turut berjasa mendidik para calon imam Oepoi, yakni Pater Lukas Lusi Betan, SVD, Romo Daniel J. Afoan, Pr, dan Romo Videntus Atawolo, Pr.

Imam-imam yang pernah menjadi prefek, pembina, dan fondator di Seminari Rafael, yakni Romo Krisostomus Taus, Pr, Pater Simon Bata, SVD, Pater Willem Laga Udjan, SVD, Romo Stefanus Mau, Pr, Romo Leo Enos Dau, Pr, Romo Hilarius Penga, Pr, Romo Yerimias Siono, Pr, Romo Kristo Crezens Bano Taslulu, Pr, dan Romo Fransiskus Umar Atamau, Pr.

Seminari ini juga didukung oleh para guru awam, yang mendedikasikan diri mereka untuk kebutuhan ilmu pengetahuan dan kepribadian putra-putra gereja. Ada juga kongregasi suster-suster CIJ, yang sejak dulu membantu dalam penyediaan tenaga guru, pegawai, dan urusan dapur.

Untuk mendukung pendidikan dan pembinaan para calon imam, maka seminari ini menjalankan dua kurikulum, yakni kurikulum SMA untuk ilmu pengetahuan yang setara dan sama dengan SMA pada umumnya, dan kurikulum khas seminari yang berisi ilmu pengetahun yang khas Gereja seperti Bahasa Latin, Kitab Suci, Liturgi, Sejarah Gereja, dan Etiket.

Pada awal berdirinya, para seminaris calon imam Oepoi mengikuti kurikulum SMA di SMA Katolik Giovanni Kupang hingga tahun 1992. Dan, tepatnya tanggal 20 Juli 1992, tahun ajaran 1992/1993, Seminari St Rafael sudah mendirikan dan mengelola SMA sendiri, yang satu dan terintegrir dengan pendidikan calon imam Seminari Menengah. Romo Krisostomus Taus, Pr, adalah kepala sekolah pertama SMA Seminari Santu Rafael.

Lima S
Sebagaimana seminari-seminari lain, Seminari Menengah Santu Rafael, juga sangat memperhatikan aspek-aspek fundamental pembinaan calon imam. Tuntutan akan kualitas calon imam yang kelak menjadi imam menjadi alasan utama dalam pembinaan setiap calon imam.

Aspek-aspek itu terangkum dalam Lima S, Scientia (Ilmu Pengetahuan), Sanctitas (Kekudusan), Sanitas (Kesehatan), Sapientia (Kebijaksanaan), dan Solidaritas (Persaudaraan/Sosialitas). Kelima aspek ini harus terintegrir dalam proses pembinaan sehingga nantinya output-output Oepoi dapat diandalkan dan mampu berkarya sesuai kebutuhan Gereja dan tuntutan zaman.

Sebagai calon imam, kualitas intelektual, kerohaniaan, kesehatan, kepribadian, dan persaudaraan sangat ditekankan, bahkan menjadi kekayaan diri yang berguna bagi Gereja dan tanah air. Konkritnya, integritas aspek ini melahirkan pribadi calon imam yang cerdas, beriman, sehat jasmani rohani, berkepribadian luhur, dan memiliki semangat persaudaraan yang tinggi.

Idealisme dan optimisme Seminari Menengah Santu Rafael untuk melahirkan dan memunculkan pribadi-pribadi calon imam yang beriman dan berilmu, tentu didukung oleh sarana dan prasarana, ketenagaan, serta aspek-aspek pembinaan, yang secara faktual ada dalam pergumulan tata harian di Komunitas Seminari Oepoi.

Sebagai panti pendidikan calon imam di tengah ibu kota propinsi, model pembinaan seminari yang selaras dengan lingkungan perkotaan harus terus diperhatikan. Aspek-aspek tadi selain sebagai tuntutan dan perhatian dalam pembinaan dan pendidikan, sekaligus menjadi tolok ukur bagi kualitas output Sepoi (Seminari Oepoi).

Dalam semangat doa, ekaristi, karya cinta dan pengorbanan, Seminari Oepoi terus berbenah dan bertumbuh dalam rahim Gereja Keuskupan Agung Kupang. Aspek-aspek pembinaan tadi hendaknya juga menjadi perhatian, bukan saja oleh para pembina, pendidik, dan pengajar, tetapi terutama menjadi tugas dan tanggung jawab setiap pribadi terpanggil di Seminari Rafael. Setiap pribadi calon imam sekiranya tahu dam mau akan berbagai tuntutan gereja dan dunia, dan serta merta membenahi diri lewat panca aspek tadi.

Untuk Gereja dan Tanah Air
Hingga kini, ketika memasuki usia peraknya (25 tahun), Seminari Santu Rafael Oepoi telah menghasilkan 64 imam untuk gereja lokal dan universal. Ada di antara mereka yang memilih mengabdi untuk gereja lewat Serikat Sabda Allah, dan ada yang memilih untuk mengabdi di gereja lokal Keuskupan Agung Kupang dan keuskupan-keuskupan lain di Indonesia.

Sebagai lembaga pendidikan calon imam yang sangat memperhatikan kualitas kemanusiaan, Seminari Oepoi juga melahirkan alumnus-alumnus awam, yang kemudian mengabdi dalam berbagai bidang hidup.

Jika kita melihat visi seminari dalam terang Imamat Yesus Kristus, maka Seminari Oepoi telah memberi kontribusi bagi tersedianya imam-imam Kristus di dunia. Juga kalau kita melihat secara jujur misi seminari untuk mendidik pribadi-pribadi handal, maka almamater Seminari Santu Rafael juga telah memberi putra-putra jebolannya secara nyata bagi bangsa dan tanah air. Ini juga adalah kebanggaan yang patut dihargai, sekaligus harapan dan tantangan untuk diwujudnyatakan oleh putra-putra Rafael. (*)


Secuil Harapan untuk Almamater

DI tengah tuntutan zaman, yang mengharuskan kompetisi dan kompetensi dalam berbagai bidang, Seminari Menengah Santu Rafael seharusnya pula tetap menjaga citra dan kualitasnya sebagai lembaga pendidikan menengah calon Imam.

Di satu sisi, kualitas para calon imam yang selaras zaman harus terus digalakkan, di sisi lain Seminari sebagai panti pendidikan calon imam, yang menekankan kualitas kepribadian dan kerohanian harus pula diperhatikan dan dijunjung tinggi. Idealnya, para calon imam diasah untuk terampil dalam ilmu pengetahuan, tetapi tidak dengan mengesampingkan pembinaan kerohanian dan kepribadian yang memadai sebagai calon pemimpin gereja masa depan.

Calon imam harus tahu tentang dunia dan isinya, karena ia ada dalam dunia, tetapi
ia harus sadar, tahu, dan mau bahwa semangat, jiwa, dan orientasinya bukan dari dunia ini. Ia ada dalam dunia tetapi bukan dari dunia. Hendaknya pula dalam seluruh proses harian di seminari, para fondator, pembina, dan pengajar di Seminari Oepoi hendaknya tahu kebutuhan gereja akan calon imam masa depan.
Momen dua puluh lima tahun ini adalah sebuah saat hening sejenak untuk refleksi dan introspeksi. Pesta perak ini hendaknya menjadi satu kebangkitan baru untuk bergerak menuju pendidikan calon imam yang ideal, yang selaras zaman, berpegang teguh pada gereja, dan yang dikehendaki Allah Sang Pemilik panggilan Imamat. Kesempatan ini bukan sekadar nostalgia almamater, tetapi sebuah saat kairos untuk tetap berbenah menuju cita-cita panggilan gereja, yakni menjadikan Seminari Santu Rafael sebagai rumah pembinaan yang beriman dan berilmu bagi para biji mata dan jantung gereja.

Semoga sumber air Oepoi terus menyembulkan air panggilan bagi gereja dan dunia. Kiranya Santu Rafael, malaikat agung pelindung kita, senantiasa mengawal kita para calon imam. Bunda Maria Ratu para imam dan calon imam, senantiasa mendoakan para calon Imam Oepoi. Dan, kiranya pula, Tuhan Yesus memberikan berkat melimpah bagi panggilan gereja. Selamat Pesta Perak dan dirgahayulah rumah kita, Seminari Menengah Santu Rafael Oepoi Kupang. (*)

*. Kedua penulis adalah Alumnus Angkatan XV dan Frater TOP Seminari Menengah Santu Rafael 2007-2009, kini tinggal di Unit Filadelphia Seminari Tinggi Santu Mikhael Penfui Kupang.

Pos Kupang Minggu 20 September 2009, halaman 11 Lanjut...

POPULASI manusia adalah ancaman terbesar dari masalah lingkungan hidup di Indonesia dan bahkan dunia. Setiap orang memerlukan energi, lahan dan sumber daya yang besar untuk bertahan hidup.

Kalau populasi bisa bertahan pada taraf yang ideal, maka keseimbangan antara lingkungan dan regenerasi populasi dapat tercapai.

Tetapi kenyataannya adalah populasi bertumbuh lebih cepat dari kemampuan bumi dan lingkungan kita untuk memperbaiki sumber daya yang ada sehingga pada akhirnya kemampuan bumi akan terlampaui dan berimbas pada kualitas hidup manusia yang rendah.

PBB memprediksi bahwa populasi dunia pada tahun 2050 akan mencapai antara 7.9 miliar sampai 10.9 miliar, tergantung ada apa yang kita lakukan sekarang.

Dapatkah Anda bayangkan berapa banyak bahan pangan, lahan untuk pertanian, lahan untuk perumahan, dan barang konsumsi lainnya yang dibutuhkan oleh penduduk yang begitu banyak?

Dengan tingginya laju pertumbuhan populasi, maka jumlah kebutuhan makanan pun meningkat padahal lahan yang ada sangat terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan makanan, maka hutan pun mulai dibabat habis untuk menambah jumlah lahan pertanian yang ujungnya juga makanan untuk manusia. Konversi hutan menjadi tanah pertanian bisa menyebabkan erosi.

Selain itu bahan kimia yang dipakai sebagai pupuk juga menurunkan tingkat kesuburan tanah. Dengan adanya pembabatan hutan dan erosi, maka kemampuan tanah untuk menyerap air pun berkurang sehingga menambah resiko dan tingkat bahaya banjir.

Perkembangan urbanisasi di Indonesia perlu dicermati karena dengan adanya urbanisasi ini, kecepatan pertumbuhan perkotaan dan pedesaan menjadi semakin tinggi. Pada tahun 1990, persentase penduduk perkotaan baru mencapai 31 persen dari seluruh penduduk Indonesia.

Pada tahun 2000 angka tersebut berubah menjadi 42 persen. Diperkirakan pada tahun 2025 keadaan akan terbalik dimana 57 persen penduduk adalah perkotaan, dan 43 persen sisanya adalah rakyat yang tinggal di pedesaan.

Dengan adanya sentralisasi pertumbuhan dan penduduk, maka polusi pun semakin terkonsentrasi di kota-kota besar sehingga udara pun semakin kotor dan tidak layak.

Kota-kota besar terutama Jakarta adalah sasaran dari pencari kerja dari pedesaan dimana dengan adanya modernisasi teknologi, rakyat pedesaan selalu dibombardir dengan kehidupan serba wah yang ada di kota besar sehingga semakin mendorong mereka meninggalkan kampungnya.

Secara statistik, pada tahun 1961 Jakarta berpenduduk 2,9 juta jiwa dan melonjak menjadi 4,55 juta jiwa 10 tahun kemudian. Pada tahun 1980 bertambah menjadi 6,50 juta jiwa dan melonjak lagi menjadi 8,22 juta jiwa pada tahun 1990.

Yang menarik, dalam 10 tahun antara 1990-2000 lalu, penduduk Jakarta hanya bertambah 125.373 jiwa sehingga menjadi 8,38 juta jiwa. Data tahun 2007 menyebutkan Jakarta memiliki jumlah penduduk 8,6 juta jiwa, tetapi diperkirakan rata-rata penduduk yang pergi ke Jakarta di siang hari adalah 6 hingga 7 juta orang atau hampir mendekati jumlah total penduduk Jakarta.

Hal ini juga disebabkan karena lahan perumahan yang semakin sempit dan mahal di Jakarta sehingga banyak orang, walaupun bekerja di Jakarta, tinggal di daerah Jabotabek yang mengharuskan mereka menjadi komuter.

Pada akhirnya, pertumbuhan populasi yang tinggi akan mengakibatkan lingkaran setan yang tidak pernah habis. Populasi tinggi yang tidak dibarengi dengan lahan pangan dan energi yang cukup akan mengakibatkan ketidakseimbangan antara supply dan demand yang bisa menyebabkan harga menjadi mahal sehingga seperti yang sedang terjadi sekarang, inflasi semakin tinggi, harga bahan makanan semakin tinggi sehingga kemiskinan pun semakin banyak.

Semakin menurunnya konsumsi masyarakat akan menyebabkan perusahaan merugi dan mem-PHK karyawannya sebagai langkah efisiensi, sehingga semakin banyak lagi kemiskinan.

Jadi, kita mudah saja bilang, kapan negara kita bisa swasembada? Apa bisa kalau masih mau punya banyak anak? Bagaimana dengan masa depan anak cucu kita kalau lahan sudah tidak tersedia, tanah rusak akibat bahan kimia, air tanah tercemar dan bahkan habis sehingga tidak bisa disedot lagi? Bagaimana kita mau menghemat makanan dan air kalau populasi terus berkembang gila-gilaan?

Populasi seperti hal yang besar dan politis yang diomongkan banyak orang. Tetapi hal ini juga merupakan hal yang dapat dilakukan oleh setiap orang.

Seperti yang telah kita lakukan dahulu dan berhasil, kita bisa ikut program Keluarga Berencana (KB) atau paling tidak memiliki rencana KB sebagai komposisi keluarga yang ideal.

Kalau tidak mau pusing soal KB, paling tidak pakai kondom dan jika Anda malu untuk beli kondom di tempat publik maka sekarang sudah bisa beli lewat internet melalui kondomku.com sehingga tidak perlu malu lagi untuk membeli di toko.

Krisis pangan sudah dimulai di seluruh dunia. Harga semakin melejit dan pada akhirnya bukan karena kita tidak mampu membeli makanan, tetapi apakah makanan itu bisa tersedia.

Kalau bukan kita yang bertindak dari sekarang, masa depan anak dan cucu kita bisa benar-benar hancur sehingga kita yang berpesta pora pada saat ini baru akan merasakan akibatnya nanti. (kompas.com)

Pos Kupang Minggu 20 September 2009, halaman 14 Lanjut...

Orangtua Juga Perlu Gaul

DALAM satu kesempatan diskusi mencari jati diri anak muda, salah satu mahasiswi dengan enteng menyatakan bahwa maraknya hubungan seks di kalangan anak muda hanya persoalan tren. Menurut dia, anak muda dianggap tidak ngetren kalau tidak berani berhubungan seks.

Pernyataan lugas tersebut pasti membuat banyak orangtua mengerutkan dahinya. Bahkan orang dengan mudah langsung menyalahkan si gadis ini, tanpa menyadari bahwa gadis tersebut cerminan dari kita sendiri sebagai masyarakat.

Tidak kalah menarik, ketika persoalan ini saya konfirmasikan pada generasi orangtua yang terpelajar, seorang dosen, berpendidikan doktor. Dengan yakin dia mengatakan bahwa persoalan tersebut hanya ada di tayangan televisi, tidak benar itu terjadi di kalangan anak muda kita.

Anak muda dan orangtua, sering kali tidak bisa ketemu dalam ide, pemikiran, dan pendapat sehingga perselisihan antara orangtua dan anak menjadi bagian dari keseharian kita. Beberapa kali media memberitakan orangtua yang melaporkan anaknya hilang diculik ke polisi. Beberapa pekan kemudian, terungkap bahwa sang anak lari dari rumah karena berselisih dengan orangtua.


Orangtua masih meyakini bahwa putra-putrinya akan aman dengan bentuk ancaman, larangan, dan perintah agama yang mereka wariskan, sementara anak muda selalu mencari celah untuk menikmati berbagai ruang sosial dengan perjuangan berat mempertahankan nilai-nilai warisan keluarga dan masyarakat.

Mungkin saja obligasi keluarga dan kode-kode tradisional tentang perilaku termasuk yang terkait dengan nilai-nilai religiusitas masih sering diberlakukan di rumah. Namun, di luar rumah, anak muda digoda oleh lingkungan sosial yang lain sama sekali.

Mereka mengalami keretakan atau putusnya pola hierarki dan otoritas yang berasal dari sejarah feodalisme, dan struktur lokal yang konvensional. Perubahan ini membuat anak muda mengalami disorientasi, tetapi sekaligus juga memberi kemungkinan yang menggairahkan di mana otonomi dan kebebasan menjadi lebih besar.

Bagi anak muda saat ini, persoalan narkoba hingga seks bebas bisa saja didapatkan di mana saja, bahkan di rumah orangtuanya sendiri sekalipun memungkinkan untuk mereka dapatkan, apalagi banyak orangtua di jaman ini lebih sibuk di luar rumah.

Tidak perlu tempat kos, kafe, ataupun kelab malam, kalau mereka mau, mereka bisa mendapatkannya di rumah, demikian pengakuan yang sering terlontar dari mereka.

Artinya, akar permasalahannya bukan terletak pada faktor eksternal, tetapi lebih pada faktor internal yang berkaitan dengan pengendalian diri dan penghayatan nilai.

Faktor eksternal seperti pengaruh media, perkembangan teknologi informasi, dan perubahan gaya hidup menjadi kekuatan yang tak terbendung saat ini.

Sebuah upaya yang tidak mungkin dilakukan oleh orangtua ataupun negara untuk melokalisasi generasi muda dan menjadikannya steril dari itu semua.

Karenanya, pendekatan normatif yang mengasumsikan hanya ada dunia hitam dan putih, dosa dan tidak dosa, ancaman-larangan dan perintah, sama sekali tidak akan bisa menjawab persoalan mereka.

Alih-alih malah membuat jurang pemisah antara orangtua dan anak muda semakin besar. Jurang pemisah yang semakin besar membuat pendidikan nilai dan pembelajaran dalam pengendalian diri hanya sekadar mimpi yang tidak mungkin diwujudkan.

Sudah saatnya orangtua membongkar kotak hitam dan putihnya untuk lebih memahami dunia plural anak muda. Sudah saatnya orang tua menjadi `gaul' dengan dunia anak muda dan memahaminya dari cara sang anak muda memahaminya.

Pemahaman yang lebih tepat dan kontekstual atas kondisi anak muda akan menjadi tiket masuk ke dunia mereka, untuk kemudian akan lebih mudah mengajaknya melakukan pemaknaan ulang atas berbagai hal yang mereka hadapi. Selalu mengatakan `tidak' pada anak muda hanya akan menutup semua akses masuk ke dunia mereka.

Jangan pula mencoba bertindak sebagai polisi yang siap mengawasi mereka selama 24 jam karena hal itu tidak mungkin. Menjadi sosok yang bersahabat dan memiliki pemahaman yang tepat tentang anak muda dan dunianya akan lebih mempermudah proses pendampingan untuk mereka.

Ada satu kisah menarik tentang kelompok remaja yang sedang menikmati sebuah konser grup band. Ternyata mereka menonton dengan ditemani para ibunya yang juga menikmati konser di belakang kerumunan penonton. Uniknya, mereka (para ibu dan anak-anaknya) ini berangkat dan pulang bersama.

Hanya saja saat menikmati konser mereka memilih posisi tempat yang berbeda. Terlihat kekompakan antargenerasi dalam kisah tersebut.

Ketika anak-anaknya bergabung dalam satu kelompok geng yang intensif, maka para ibunya segera pula membentuk kelompok di antara para ibu yang anaknya satu kelompok geng pula.

Jalinan relasi ini ternyata menjadi jaringan pengaman yang cukup strategis bagi generasi muda, di mana orangtua dapat mengawasi anak tanpa si anak merasa diawasi. Orangtua ini hadir sebagai sahabat yang bukan saja mengerti tetapi juga terlibat dalam ruang sosial yang dilibati anaknya.

Yang terpenting adalah kesediaan orangtua untuk menjadi tokoh panutan sesuai dengan selera anak muda, tidak harus menjadi nyentrik, tetapi cukup 'gaul' dengan pandangan yang terbuka dan bersedia untuk mendiskusikan banyak hal. Untuk kemudian akan lebih mudah mengajak mereka melihat secara lebih kritis berbagai tawaran dunia luar.

Pengasuhan yang lebih membebaskan sekaligus meminta pertanggungjawaban, suportif sekaligus menuntut, memberi batasan yang tegas dan jelas sekaligus kesempatan yang luas untuk menemukan batasannya bersama justru lebih membantu mereka menghadapi pengaruh kuat dunia luar yang beragam. (kompas.com)

Pos Kupang Minggu 20 September 2009, halaman 13 Lanjut...

Bergantung pada Awan

Cerpen Darius Baki Akamaking

RUMAH dinas yang berlokasi di Gang Melati, Jalan Hayam Wuruk No.15 Kota Batu, Malang, Jawa Timur itu semakin sepi saja. Ditambah lagi, suasana Kota Batu yang dingin menusuk membuat orang-orang yang ada di dalamnya enggan beraktivitas.


Rumah tanpa pagar ukuran sembilan kali tujuh meter itu sudah mulai rapuh. Cat putih di dindingnya terlihat pudar. Lantai jubinnya sudah banyak yang pecah. Kosen pintu dan jendelanya pun mulai lapuk termakan rayap. Begitu pula plafon dan juga beberapa meubel yang terdapat di dalamnya. Semuanya menyisakkan kesan sepi di rumah itu.

Namun di luar sana, keadaannya lain sekali. Mobil-mobil mewah berseliweran. Sepeda motor beradu gas, mengepulkan asap, membuang gas karbon dan plumbum ke udara dan juga bunyi yang memekakan kuping. Ibu-ibu kelihatan mondar-mandir di jalanan.

Mungkin saja hendak ke pasar atau sebaliknya barusan pulang dari sana. Gadis-gadis ABG belasan hingga duapuluhan tahun juga tak kalah sibuknya. Pasti saja, mereka ke sekolah atau ke kampus. Hiruk pikuk kendaraan dan manusia pagi itu membuat suasana kota begitu kontras dengan keadaan di dalam rumah Oka.

"Amy, sudah jam delapan lewat. Yuk, bangun, siap ke sekolah!" Tegur Oka sembari menggoyang-goyang tubuh Amy yang masih tertidur pulas. Memang, sepeninggal almarhum ayahnya satu tahun lalu, Oka mengambil alih tugas untuk membangunkan Amy dari tidurnya.

Semenjak itu pula Oka yang masih duduk di bangku kuliah semester enam jurusan Ilmu Hukum Universitas Negeri Malang itu pun selalu kewalahan dengan tingkah Amy, adik satu-satunya.

"Amy, sekolahmu mulai jam berapa? Ini sudah jam sembilan! Ayo, bangun!" Oka kembali membangunkannya. Amy pun terkejut dan segera bangun dari tidurnya. Ia segera beranjak ke ruang tengah. Sebuah jam dinding yang dibeli delapan tahun lalu ketika ibu mereka masih hidup terpampang di situ dengan sebuah ukiran nama,

"Yosafat-Rosalinda." Tepat dua centimeter di bawah lintasan jarum penunjuk waktunya.

"Ha..sudah jam sembilan lewat?" Amy sontak kaget. Sebentar ia tertegun kemudian langsung tertunduk. Bening-bening kristal kemudian berjatuhan membasahi pipihnya yang mungil. Anak SMP Katolik Santu Paulus Kota Batu yang sekarang duduk di kelas tiga itu menangis sejadi-jadinya.

"Kenapa kamu?" Oka bertanya dengan nada kesal.

"Hari ini ada ujian tiga mata pelajaran. Tapi, aku udah terlambat. Aku tidak mau pergi sekolah."

"Tidak. Tidak boleh. Kamu harus pergi, biar terlambat!".

"Tidak mau kak. Nanti Saya kena marah daru ibu guru."

Tak dapat menahan amarahnya, Oka melepaskan sebuah tamparan. Persis kena di pelipis Amy. Anak kecil itu tertunduk lagi. Pelipisnya memerah. Dirasakan, jiwanya seperti tercabik-cabik.

Ada luka di kalbunya ibarat disayat sembilu. Memang, baru kali ini, ia mendapatkan perlakuan seperti itu. Terbayang sudah di hadapannya, kasih sayang ibunda yang tak banyak dirasakannya.

Almarumah pergi meninggalkan mereka, menghadap Sang Kuasa ketika Amy baru berumur tujuh tahun. Almarhum ayah yang baru meninggalkan mereka setahun lalu pun tak pernah menamparnya seperti itu.

Hari-hari tanpa ayah dan ibu memang terasa menyesakkan. Lebih-lebih karena kedua kakak beradik itu sama-sama masih sekolahan. Kesulitan mereka semakin bertambah karena gaji pensiunan almarumah ibunda yang semasa hidupnya berprofesi sebagai guru PNS SMPN 5 Kota Batu tak pernah didapat lantaran tak pernah diurus almarhum ayah waktu itu. Dan sekarang, gaji pensiunan almarhum ayah pun belum kunjung tiba.

"Memang, urusannya agak rumit kak. Soalnya, SK pensiunan untuk dosen dikeluarkan langsung dari pusat," begitu kata Oka saat Darko, anak tetangganya, empat tahun lebih tua bertanya kepadanya tentang alasan keterlambatan itu.
"Ya, memang semua PNS mendapatkan SK pensiunan dari pusat kan?" Darko balik bertanya padanya.

"Ayahku juga pensiunan guru PNS dengan NIP pusat alias 130 tapi urusannya tidak serumit dan selama ayahmu. Jangan-jangan berkas administrasi sebagai persayaratannya belum lengkap. Atau, jangan-jangan, ada mafia dalam urusan ini. Namanya juga hidup," lanjut Darko sedikit sinis.

Kata-kata Darko yang terakhir ini sama sekali tak digubris Oka. Soalnya ia tahu, tak mungkin ada mafia kelas teri dalam lembaga bergengsi sekelas Universitas Negeri Malang. Apalagi semua orang yang berkompeten dalam urusan SK pensiunan pada lembaga itu tahu betul kalau alamarhum ayah mereka meninggalkan ia dan adiknya tanpa ibunda. Kesadaran itulah yang menguatkan sanubarinya untuk tetap bertahan dalam kekalutan.

Hidup tanpa sanak dan keluarga, terutama sandaran utama yakni ayah dan ibu adalah hal yang paling menggetirkan. Oka, pria yang terkenal lugu, pendiam dan pemalu ini akhirnya harus berubah akibat tekanan hidup. Demi hidup ia dan adiknya, ia rela menyisihkan waktu kuliahnya dengan berjualan ikan pada pagi hari sebelum berangkat kuliah dan menjajakan jagung bakar di trotoar pada senja hari menjelang malam.

Amy sendiri harus menggantikan peran ibunya di dapur dan mengurus rumah dinas yang kemungkinan besar akan di sita beberapa bulan ke depan. Sebagai anak yang masih belia Amy sering bertingkah seturut kemauannya yang kadang amat menjengkelkan.

Pemandangan Kota Batu senja ini amat mendung. Awan hitam pekat menyelimuti hampir seluruh langit. Oka dan Amy berjalan gontai menuju Gereja Santu Paulus, 200 meter jaraknya dari rumah tua, tempat tinggal mereka. Oka mengenakan baju biru kotak-kotak dipadu celana tissue peninggalan sang ayah. Amy sedikit menyolok dengan gaun perak yang warnahnya sudah mulai pudar. Keduanya berjalan tanpa kata. Hanya hati mereka yang terus bertanya," kapan badai ini berlalu?

Kedua kakak beradik itu mengambil tempat duduk di bagian tengah. Amy tertegun sesaat, memandang kayu salib yang bergantung di depannya, di belakang altar. Berwarna coklat kemerahan, cukup panjang. Rupanya terbuat dari jati yang dipahat. Sebagai patung, tubuh tersalib tak bergeming sedikit pun.

Ada luka di kedua telapak tangan dan kaki serta di dada, daerah sekitar jantung. Ada juga mahkota duri melingkari kepala. Tubuh tersalib merunduk, seakan sedang menangisi bumi. Baru kali ini Amy memperhatikan dengan saksama pemandangan salib seperti itu. Entah kenapa.

Tiada lama ia bermenung, air matanya berguguran lagi. Yesus yang selama ini ia agungkan itu ternyata telah bergantung pada kayu salib, entah sejak kapan. Amy tertunduk lagi, meratap pilu dalam kalbu, dimanakah dirinya dan Oka akan bergantung? Pada awan??? Yah, mungkin hanya bisa pada awan. (*)

Pos Kupang Minggu 20 September 2009, halaman 6 Lanjut...

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda