Anggota Dewan

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

MENURUT teman-temannya, Benza jadi gagah perkasa setelah dilantik menjadi anggota Dewan. Penampilannya membuat pangling semua temannya. Maklum, jas dan dasi melintang yang seumur-umur tidak pernah dipakainya, benar-benar membuat beda.

Apalagi sepatu mengkilat dan kaus kaki baru, membuat Benza jadi beda banget dengan kesehariannya selama ini. Semuanya terasa pas, kecuali satu! Cara duduk yang tidak tenang, dan keringat bercucuran sejak duduk di kursi yang menurut Nona Mia, namanya kursi panas. Itu menurut teman-temannya! Entah bagaimana menurut Benza sendiri.

***

"Selamat ya Benza, untuk pelantikan hari ini," Jaki berlatih di depan cermin. "Ah, rasanya kurang pas," Jaki memperhatikan gayanya bicara, menunduk, menggenggam tangan, sambil sedikit tersenyum. "Selamat ya Bapak Benza, eh Pak Benza," Jaki merasa lebih pas mengucapkan Pak Benza daripada hanya Benza. Begitu pula Rara. Dia merasa kebiasaannya memanggil Benza dengan Ben saja, atau Za saja, atau kamu-kamu saja, kini mesti diubahnya menjadi Pak Ben, Pak Za, atau lengkap Bapak Benza.

Yang tidak pakai latihan, hanya Nona Mia. Menurutnya, Benza yang tidak pernah pakai jas dan dasi melintang dengan Benza yang sekarang pakai jas dan dasi melintang sama saja. Tidak ada yang berubah. Benza yang dulu tidak kenal sepatu mengkilat dan sekarang pakai sepatu dan kaus kaki baru, sama saja. Jas, dasi, sepatu, dan kaus kaki tidak penting menurut Nona Mia. Yang penting baginya adalah kesempatan Benza jadi anggota Dewan. Kesempatan sahabat karibnya itu ikut ambil bagian langsung sebagai penentu kebijakan pembangunan kemanusiaan di kampung halamannya.

***
Maka, pergilah ketiga sahabat itu ke rumah Benza, ketika para tamu undangan sudah sepi. "Halo Bapak Benza, selamat ya jadi anggota Dewan," Rara tampil paling depan. Wajah Benza tegang bukan main. "Semoga Bapak Benza menjadi anggota Dewan yang sukses lahir batin!" Rara membungkuk menyambut tangan Benza yang tiba-tiba beku. "Aduh, kenapa temanku jadi kaku begini?" Benza gelagapan.

"Selamat Pak, eh Bapak Benza," Jaki mendapat giliran. "Maaf Pak, kami datang mengganggu. Hanya mau ucap selamat Pak! Maaf," Jaki gugup. "Anu, maaf Pak. Selamat sukses ya Bapak Benza, berjuanglah demi rakyat kecil yang menderita. Maksud saya maaf, biar Bapak jadi anggota Dewan yang benar. Maaf, selamat ya Bapak Benza," Jaki terbungkuk-bungkuk memberi salam hormat berkali-kali.
"Ya, Pak, maaf ya Bapak! Saya dan Jaki hanya bawa kado jas dan dasi melintang, untuk menambah koleksi jas dan dasi Bapak," Rara menyambung

***

Ternyata Benza marah bukan maen-maen menyambut perlakuan Jaki dan Rara padanya. Sebelum Nona Mia mengucapkan selamat, Benza langsung mengambil kesempatan untuk bicara.

"Nona Mia!" Kata Benza. "Apakah Nona juga mau mengucapkan selamat dengan bahasa, cara, dan gaya yang sama seperti Jaki dan Rara?" Tanya Benza dengan wajah merah menahan marah.

"Kalau ya kenapa, kalau tidak bagaimana?" Nona Mia balik bertanya. Benza menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Nona Mia.
"Kalau ya, kamu bertiga boleh pergi dari sini. Hubungan persahabatan kita putus, sebab kalian bertiga telah memperlakukan aku dengan begitu buruk!" Jawab Benza. "Kalau tidak, kita berdua bisa sama-sama menyelamatkan Jaki dan Rara yang sangat salah kapra memperlakukan saya!"

***
"Tolong, jangan mengubah diri saya," demikian Benza menuangkan isi hatinya. Selanjutnya Benza menjelaskan bahwa betapa risi dirinya mengenakan jas dan dasi melintang sepatu mengkilat dan kaus kaki baru. Betapa risi dirinya ketika satu persatu para pejabat daerah mengucapkan salam selamat, apalagi ada di antara mereka yang membungkuk-bungkuk memberi hormat. Aduh, sungguh mengerikan perasaan Benza saat itu.

Dia hanya orang biasa dengan pengetahuan dan intelektualitas yang biasa-biasa saja. Dia merasa belum banyak tahu apa yang akan terjadi, dia merasa perlu belajar dan belajar dan kemungkin besar selama lima tahun ke depan selalu belajar dan belajar menjadi anggota Dewan yang memiliki kualitas dan moralitas intelektual yang dapat dipertanggungjawabkan. Dia merasa jabatan anggota Dewan hanyalah salah satu jalan mengabdi dan melayani masyarakat, sebagaimana hakim, jaksa, polisi, pengacara, dan lain-lain.

"Syukurlah Benza, kamu mengerti posisi dirimu sekarang, aku akan selalu mendukungmu. Selamat ya Benza," kata Nona Mia.

"Syukurlah, ternyata kamu begitu rendah hati," sambung Jaki.
"Syukurlah, ternyata kamu mengerti soal mengabdi dan melayani," kata Rara.
"Syukur juga kalian bertiga tetap menjadi sahabatku yang baik. Tolong jangan
pernah panggil aku Pak Benza, Bapak Benza. Maaf, kukembalikan jas dan dasi melintang ini! Tolong, jangan membuatku malu, malu sekali!"

***
"Terima kasih kembali Pak eh, Bapak Benza!" Jaki dan Rara kembali ke posisi semula." Jas dan dasi melintang itu memang untuk Bapak!"
"Aduuuuh," Benza jadi marah bukan maen. *

Pos Kupang Minggu 30 Agustus 2009, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda