Arie Hau Dima


POS KUPANG/ADIANA AHMAD
Arie Hau Dima (gendong anak) bersama keluarga

Biogas Alat Pemicu Pertumbuhan Ekonomi

BIOGAS mungkin tidak terlalu akrab di telinga masyarakat NTT terutama Sumba. Padahal, daerah ini memiliki potensi biogas cukup besar karena merupakan daerah peternakan. Selama ini kita terlena karena dimanjakan oleh bahan bakar minyak (BBM). Karena itu, ketika terjadi krisis minyak dunia masyarakat kita tidak terkecuali masyarakat desa juga ikut merasakan imbasnya.

Berbagai pemikiran muncul untuk mencari energi alternatif. Ada yang dari tumbuhan seperti jarak, sawit dan lain. Negara bahkan rela mengeluarkan dana triliunan rupiah untuk mengembangkan tanaman jarak yang diharapkan akan menjadi penopang energi altenatif di masa depan. Namun program itu tinggal mimpi. Dana triliunan rupiah ibarat membuang garam ke laut. Tidak ada bekas dan tidak ada pertanggungjawabannya.

Dalam kondisi seperti itu muncul pemikiran untuk mencari alternatif lain yang lebih sederhana dengan risiko kecil, yakni biogas. Biogas merupakan energi yang dihasilkan dari kotoran ternak sapi.

Teknologi ini tidak hanya menghasilkan energi, tetapi juga pupuk bagi pertanian tanaman pangan. Di Sumba Timur, pemikiran ini lahir dari seorang Arie Hau Dima. Dia bukan pakar teknologi. Tetapi dari pengalamannya ia mencoba memberi solusi untuk mengatasi krisis energi di tingkat pedesaan melalui teknologi Biogas. Teknologi ini awalnya diketahui Arie dari sebuah program di sebuah televisi swasta nasional tahun 2004 lalu.

Dari situlah ia mencoba mengembangkan teknologi ini di Sumba Timur. Kepada Pos Kupang di kediamannya Jalan Kaka Tua Nomor 17, tanggal 23 Juli 2009, Ari mencoba menjelaskan sepak terjangnya memperkenalkan teknologi ini kepada masyarakat Sumba Timur.

Seperti apa upayanya agar teknologi ini bisa diterima masyarakat Sumba Timur. Ikutilah petikan wawancara Pos Kupang dengan pria berkacamata itu berikuti ini.

Selamat siang. Apa kabar. Senang bertemu Anda.
Baik. (memperkenalkan diri)

Anda termasuk salah seorang yang konsen terhadap pemberdayaan masyarakat pedesaan. Kalau boleh tahu apa yang membuat Anda tertarik kembali ke desa?
Terima kasih. Sebenarnya ketertarikan saya kembali ke desa berawal dari sebuah keprihatinan melihat ketertinggalan masyarakat di pedesaan yang ada di Sumba Timur. Padahal mereka memiliki potensi besar.

Pada awalnya, program kita lebih mengarah ke konservasi. Konservasi ini mencakup tiga aspek, yakni aspek perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan. Saya cenderung kepada pemanfaatan. Aspek pemanfaatan pun terbatas pada subsistem dan pemanfaatan ekonomi atau pasar. Dari situ kita coba kembangkan aspek teknologi, pasar dan keterampilan di masyarakat pedesaan. Kita melihat selama ini potensi-potensi yang ada di masyarakat banyak yang bisa dikembangkan tetapi terhambat kemampuan distribusi ke pasar. Dengan konsep ekonomi tradisional sangat tidak mungkin bagi masyarakat pedesaan untuk bersaing di pasar.

Pola pemberdayaan seperti apa yang Anda kembangkan?
Pola pemberdayaan dengan pendekatan masalah dan mendorong masyarakat menyelesaikan masalah dengan potensi sumber daya alam yang mereka miliki. Dengan pola ini kita mencoba membebaskan masyarakat dari ketergantungan terhadap pangan beras dan bantuan-bantuan dari luar. Kita mencoba mengembangkan sistem ekonomi yang efisien, tidak padat modal sehingga tidak membutuhkan sebuah sistem manajemen yang rumit. Intinya bagaimana masyarakat dengan sumber daya yang dimiliki mengelola dan memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya.

Seperti di Desa Nangga, setelah penguatan dari aspek pelestarian, kita dorong dengan aspek teknologi. Bagaimana mereka menjaga kawasan hutan sebagai penyedia sumber air untuk kebutuhan rumah tangga maupun pertanian termasuk peternakan. Ketika air sudah ada, bagaimana pemanfaatannya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Ketika pertanian dan peternakan ini berkembang, kita coba memperkenalkan sarana produksi lain yang bisa memberikan nilai tambah dengan memanfaatkan limbah dari sektor pertanian dan peternakan tersebut, yakni teknologi biogas.

Sebenarnya sejak kapan Anda mulai mengenal teknologi ini?
Saya mengenal teknologi biogas pada tahun 2004. Secara kebetulan saya mendapat informasi itu dari program sebuah televisi swata. Saya melihat program itu cukup bagus karena ada teknologi yang begitu memanjakan orang desa. Kemudian saya lacak informasi itu melalui jaringan kemitraan kita di tingkat nasional. Saya dan teman-teman kemudian direkomendasikan untuk belajar ke Solo, Jawa Tengah. Pada tahun 2005 kami berangkat ke Solo. Di sana kami tidak hanya belajar biogas tetapi minyak jarak. Setelah kembali ke Sumba Timur kami terapkan. Uji coba pertama satu unit dan berhasil. Lalu kami kembangkan lagi kemudian promosi ke pemerntah daerah untuk dikembangkan.

Bagaimana tanggapan pemerintah daerah dan masyarakat pedesaan saat Anda memperkanlkan teknologi itu?
Tanggapan pemerintah daerah cukup bagus. Dinas Peternakan mengembangkan setiap tahun. Bahkan badan Bimmas Ketahanan Pangan daerah pun mulai kembangkan teknologi biogas sebagai bagian dari system ketahanan pangan di Sumba Timur.

Masyarakat pedesaan juga menyambut baik. Hanya saja mereka masih sulit untuk mengubah pol beternak mereka. Masyarakat yang selama ini terbiasa dengan pola beternak ekstensif (lepas di padang ) sanga sulit ketika dituntut untuk beternak intensif dengan dikandangkan. Padahal kotoran ternak untuk kebutuhan pembuatan biogas dibutuhkan dari ternak yang dipelihara secara intensif.

Selain energi, nilai tambah apa yang bisa ditawarkan dari teknologi ini?
Teknologi biogas selain menghasilkan energi untuk penerangan, memasak, limbahnya bisa dipakai untuk pertanian, baik lahan basah maupun lahan kering. Jadi, satu teknologi mampu menjawab beberapa persoalan masyarakat di pedesaan. Energi terpenuhi, hasil pertanian meningkat, kebutuhan dasar terpenuhi. Risiko ekonomi juga semakin kecil.

Melalui teknologi ini kita juga ingin mengajak masyarakat beternak intensif karena petani bisa langsung dapat insentif. Daripada pola peternakan lepas beresiko tinggi hilang atau mati akibat kualitas padang yang buruk, perubahan iklim dimana musim hujan semakin pendek. Ke depan prospeknya cukup bagus karena menjadi peluang ekonomi baru ketika terjadi krisis BBM.

Seiring dengan inovasi baru dalam waktu tidak lama lagi biogas bisa diisi ke dalam tabung. Cara penggunaannya nanti seperti elpiji.

Dari segi investasi lebih besar mana antara biogas dan diesel?
Dari segi investasi kalau dibilang murah sebenarnya tidak juga. Tetapi jika dibanding dengan diesel lebih murah biogas. Untuk satu unit alat pembuat biogas kapasitas sembilan kubik dengan konstruksi beton investasi awal minimal Rp 20 juta dengan usia bisa mencapai 100 tahun. Ada yang lebih murah yakni konstruksi dari drum, ada juga yang dari plastic dan fiber. Tapi waktu bertahan tidak lama. Hanya tiga sampai empat tahun. Untuk alat dengan kapasitas sembilan meter kubik ini mampu menghasilkan listrik 450 watt ditambah dua unit kompor. Kalau sistem parallel di desa, 450 watt ini sudah bisa untuk 4-5 rumah. Kalau untuk alat berkapasitas 18 kubik bisa untuk lampu petromaks dan kompor untuk 10 rumah. Kalau untuk listrik saja bisa sampai 20 rumah. Untuk listrik sudah kita coba di Matawai Maringu dan mulai beroperasi sejak dua tahun lalu.

Apakah selama ini Anda pernah berkoordinasi dengan pihak lain untuk pengembangan teknolgi ini selain pemerintah daerah?
Tidak pernah. Teknologi ini sifatnya masih terbatas. Tujuan kita mengembangkan teknologi hanya sebagai alat pendekatan untuk membangun system peternakan intensif dan memacu pertumbuhan ekonomi di pedesaan. Gas itu sendiri hanya sebagai insentif, bukan tujuan utama karena program kita arahnya ke konservasi. Kita hanya membuka jalan bahwa masyarakat mempunyai alternative dan tidak bergantung pada PLN. Kita berharap ini ditindaklanjuti pemerintah daerah sehingga di daerah-daerah terpencil ada instalasi listrik biogas yang dikelola secara terpadu oleh desa. Kita sudah mencoba untuk melakukan pendekatan dengan Dinas Pertambangan. Namun Dinas Pertambangan lebih tertarik dengan diesel daripada biogas.

Kendala apa yang Anda hadapi ketika menerapkan teknologi ini?
Yang paling besar mengubah kebiasan masyarakat. Misalnya masyarakat harus kandangkan ternak dari sebelumnya beternak liar. Kemudian, masyarakat belum berpikir ekonomis. Jadi aktivitas-aktivitas yang dilakukan masyarakat di pedesaan hanya menjawab kebutuhan sesaat. Sehingga untuk menekuni sebuah profesi dalam konteks ekonomi masih sulit. Orientasi masih social dan kebutuhan sesaat. Belum orientasi pasar.

Anda mempunyai ide untuk mengubah kebiasaan ini?
Perlu program terpadu antara pemerintah dan LSM dalam membangun paradigma ekonomi sehingga masyarakat mempunyai ketetapan hati untuk melakukan aktivitas utama. Yang terjadi di masyarakat kita, mengaku petani tetapi luas lahannya hanya 25 are. Artinya, ketika seseorang mengaku petani perilakunya juga harus ditunjukan sebagai petani. Ruang aktivitas petani juga harus setara dengan kebutuhan dan perencanaan. Yang terjadi rencana 10, yang berhasil lima. Selain itu, kendala psikologis.

Karena itu program pemberdayaan harus melihat hal-hal yang bersifat psikologis yakni bagaimana mengubah cara pandang masyarakat. Misalnya menenun ketika menenun seorang penenun harus melihat dari sisi konsumen bukan dari sisi penenun. Tetapi yang terjadi di Sumba , para penenun cenderung menarik konsumen untuk berpikir sama seperti dirinya. Sehingga memaksakan konsumen untuk menerima produk tenunan apa adanya. Faktor-faktor ini yang harus dilihat sebagai sasaran pemberdayaan baik pemerintah maupun LSM. Kalau tidak, kondisi masyarakat kira akan tetap seperti ini.

Selain biogas, Anda juga menekuni pemberdayaan untuk usaha kecil. Sebenarnya program Anda berkiblat ke mana?
Masalah di masyarakat desa itu kompleks sehingga dengan lebih dari satu isu program bisa menjawab lebih banyak permasalahan yang dihadapi masyarakat. Misalnya biogas. Dengan penerangan yang bagus bisa memacu perkembangan ekonomi. Waktu produktivitas masyarakat meningkat. Dari segi pendidikan, jam belajar anak lebih panjang. Pemberdayaan ekonomi yang kita lakukan berdasarkan permasalahan yang ada pada masyarakat. Bagaimana mencari jalan keluar untuk memecahkan masalah yang ada di desa berdasarkan potensi yang ada di desa itu. Misalnya, masyarakat pada umumnya petani. Bagaiman kita menciptakan sumber ekonomi dari pertanian dengan biaya rendah. Biogas bisa menjadi solusi karena tidak hanya energi tetapi juga manfaat untuk pertanian tanaman pangan dan lain-lain.

Apa harapan Anda dari teknologi ini?

Biogas harus menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi di pedesaan. Dari Biogas, kebutuhan energi masyarakat desa terpenuhi. (adiana ahmad)


Tertarik Kehidupan di Desa

LAHIR dan besar di ibukota negara tidak membuat Arie Hau Dima, lelaki kelahiran Jakarta, 18 Februari 1965 lupa akan kampung halamannya. Ketertarikannya pada kehidupan pedesaan dimulai sejak menjadi salah satu fasilitator IBRD (program bantuan Bank Dunia) di bidang pekerjaan umum di Sumba Timur tahun 1998 lalu.
Kala itu, lelaki yang pernah mengenyam pendidikan di IKIP Yogyakarta ini (tidak selesai) melihat banyak potensi di pedesaan yang belum digarap maksimal karena rendahnya akses masyarakat desa terhadap teknologi tepat guna.

Dari pemikiran sederhana bahwa orang desa harus bisa membangun dirinya sendiri dari kekuatan yang ada padanya, ayah dari Ariel Mello Hau Dima, dan Edo Ririn Hau Dima, ini kemudian mencari informasi tentang pola pembangunan yang tepat untuk masyarakat pedesaan dan teknologi tepat guna yang bisa diadopsi masyarakat desa.

Karena itu, setelah lepas dari IBRD, dengan dorongan teman-teman LSM yang sudah ada di Sumba Timur, suami dari Debyanti Wila Djara ini kemudian mendirikan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) pada tahun 2000 lalu yang diberi nama Alam Lestari. LSM ini kemudian berganti nama menjadi Yayasan Alam Lestari (YAL). Awalnya LSM yang ia dirinya hanya berkosentrasi pada konservasi hutan.

Seiringa dengan perjalanan waktu, lelaki yang pernah bekerja di perusahaan eksport di Jakarta ini mulai mengembangkan saya ke pemberdayaan ekonomi kecil namun tetap masih berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat pedesaan. Latar belakang dari keluarga TNI dengan disiplin tinggi telah mengajarkan banyak hal kepada Arie termasuk menghadapi tantangan. Ayahnya seorang anggota TNI angkatan tahun 1945 mewariskan sikap tidak mudah menyerah dan cengeng. Itulah yang menjadi kekuatannya untuk menghadapi semua tantangan selama ia berkarya.

Berhadapan dengan mental masyarakat Sumba Timur yang masih berpikir tradisional merupakan tantangan tersendiri. Secara perlahan, Arie mencoba membaur dengan kehidupan mereka hingga akhirnya ia berhasil mengubah kehidupan beberapa desa. Awalnya, Arie hanya membina delapan desa. Namun sekarang sudah berkembang lebih dari itu. Tidak hanya pada konservasi, saat ini Ari juga bergerak pada sector pemberdayaan dan pembinaan para pengrajin tenun ikat. Salah satu pengrajin binaannya yang saat ini telah mandiri yakni Sanggar Anugerah di Kecamatan Hahar. Mengapa Tenun ikat? Arie berpendapat tenun ikat begitu akrab dengan kehidupan masyarakat pedesaan tetapi selama ini profesi menenun masih sebatas untuk keperluan social budaya dan tidak berorientasi ekonomi. Padahal tenun ikat, sesungguhnya bisa meningkatkan pendapatan keluarga. (dea)

Pos Kupang Minggu 23 Agutus 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda