POS KUPANG/ALFRED DAMA
Ayu Diandra Sari


PERILAKU masyarakat yang belum menyadari bahasa lingkungan ternyata membawa keprihatinan tersendiri bagi Ayu Diandra Sari. Runer up Puteri Indonesia 2008 dan Puteri Indonesia Lingkungan 2009 ini pun mengampanyekan penyelamatan lingkungan.

Bila banyak pihak yang berkampanye tentang lingkungan dengan melakukan aktivitas lingkungan, maka Mahasiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana-Denpasar Bali ini mengampanyekan penyelamatan lingkungan dari diri sendiri.

Ayu yang datang ke Kupang awal Agustus lalu mengatakan, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum menyadari tentang lingkungan yang bersih dan asri. Ini dilihat dari masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan.

"Sebenarnya kita bisa menyelamatkan lingkungan dari diri kita sendiri. Contohnya, jangan membuang sampah sembarangan," jelas gadis kelahiran Denpasar, Bali 4 Agustus 1998 yang biasa disapa Dea ini, saat ditemui di Hotel Sasando belum lama ini.

Meski sibuk sebagai mahasiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (Unud) Denpasar, Ayu Diandra Sari juga harus menjalani tugasnya sebagai Runner Up Puteri Indonesia 2009 sekaligus Puteri Indonesia Lingkungan 2009. Gelar yang disandangnya tersebut membawanya menjadi duta lingkungan untuk kampanye penyelamatan lingkungan di beberapa daerah di Indonesia.

Dea yang pernah berkunjung ke beberapa daerah di Indonesia ini mengatakan, dalam kunjungannya dirinya banyak menemukan perilaku masyarakat yang kurang ramah terhadap lingkungan, seperti membuang sampah. Dan, sebagai duta lingkungan, tugasnya adalah memberikan pengertian kepada masyarakat tentang upaya-upaya menyelamatkan lingkungan.

Menurutnya, menyelamatkan lingkungan harus dimulai dari diri sendiri. Bila semua orang melakukan upaya penyelamatan lingkungan dari diri sendiri, maka bisa dipastikan bahwa bumi ini akan lebih bersih, bebas polusi dan bisa diselamatkan, sehingga tidak ada ancaman-ancaman yang terkait dengan masalah lingkungan.

Salah satu daerah yang pernah dikunjunginya adalah Papua. Dea menyampaikan bahawa di Papua masyarakat belum sadar benar tentang hidup sehat. Karena itu masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengajak masyarakat tidak membuang sampah di sembarang tempat.

Ini menunjukkan masyarakat kita belum mengerti bahwa membuang sampah juga merusak lingkungan. Menurutnya, mengubah pola membuang sampah harus mulai dari diri sendiri, sebab menyelamatkan lingkungan tidak harus melakukan hal-hal yang besar, tetapi melalui diri sendiri.

Menurut Dea, apabila kita berbuat baik pada alam, maka alam pun akan berbuat baik pada kita untuk itu sudah menjadi kewajiban manusia untuk selalu hidup selaras dengan alam.

Akibat El Nino
Seperti diketahui pertengahan hingga menjelang akhir 2009 ini, wilayah NTT mengalami fenomena alam el nino. Akibat dari fenomena alam ini adalah wilayah NTT akan memasuki kekeringan yang panjang.

Menurut Dea, kekeringan yang dialami saat ini merupakan akibat dari ulah manusia juga. "Ini semua karena alam kurang bersahabat dengan kita, kalau saja kita memperlakukan alam dengan baik, maka alam pun akan baik dengan kita," jelas Dea.

Menghadapi kemarau panjang tentunya Pemerintah Propinsi NTT bersama pemerintah kabupaten kota harus mengambil langkah-langkah cepat dan tepat sehingga masyarakat tidak terkena dampak yang merugikan masyarakat. Dan, tentunya pemerintah sudah tahu apa yang harus dilakukan, tetapi harus mengupayakan agar masyarakat tidak menjadi korban.

Ke depan, perlu ada upaya-upaya penanaman pohon-pohon sehingga kekeringan tidak perlu menjadi masalah. Menanam pohon juga upaya untuk menyelamatkan lingkungan. (alf)


75 Persen Es Kutub Selatan Sudah Hilang

BEBERAPA ilmuwan Selandia Baru telah memperingatkan bahwa Kutub Selatan mencair lebih cepat daripada perkiraan. Profesor Peter Barrett dari Antarctic Research Center, Victoria University mengatakan, jumlah es yang hilang mencapai 75 persen sejak 1996, dan bertambah dengan cepat.

Hilangnya gletser di ujung Kutub Selatan mengakibatkan kenaikan permukaan air laut 0,4 Mm per tahun, tambahnya seperti dilaporkan kantor berita Xinhua. "Hilangnya es global dari Greenland, Antartika dan gletser lain menunjukkan permukaan air laut akan naik antara 80 centimeter dan 2 meter sampai 2100," kata Barett.

Direktur pusat penelitian Profesor Tim Naish, yang memimpin satu tim peneliti yang membor jauh ke dalam batu di Kutub Selatan dan menemukan catatan kuno dari yang terakhir bahwa CO2 atmosfir mencapai tingkatnya sekarang.

Mereka mendapati, 3 juta sampai 5 juta tahun lalu, permukaan air laut cukup hangat untuk mencairkan banyak bagian es Kutub Selatan ketika CO2 atmosfir hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan kondisinya hari ini. Naish mengatakan es di bagian barat Antartika akan mencair sebelum lapisan es yang lebih besar di bagian timur Kutub Selatan karena es itu berada di bawah permukaan air laut dan menghangat bersama dengan air samudra.

Namun, ia mengatakan penelitian tersebut mengangkat pertanyaan yang tak terjawab mengenai berapa banyak CO2 atmosfir perlu naik untuk mencapai temperatur sampai 2 derajat celsius atau lebih. Kondisi CO2 di atmosfir sekarang berjumlah 387 bagian per juta, naik dari sebanyak 280 bagian per juta pada awal Revolusi Industri.(ant)


42 Persen Es Kutub Utara Juga Hilang

ES di laut Kutub Utara telah menipis secara dramatis sejak 2004, dan es yang lebih tua serta lebih tebal pecah dan membuka jalan bagi es yang lebih muda dan lebih tipis, yang mencair pada musim panas di Bumi belahan utara, demikian laporan beberapa ilmuwan di lembaga antariksa AS, NASA.

Para peneliti selama bertahun-tahun telah mengetahui, es yang menutupi Laut Kutub Utara telah menyusut di satu daerah, tapi data baru satelit yang mengukur ketebalan es memperlihatkan volume es laut juga menyusut. Itu penting karena es yang lebih tebal dan lebih ulet dapat bertahan dari musim panas ke musim panas berikutnya.

Tanpa lapisan es, perairan gelap Laut Kutub Utara lebih mudah menyerap panas sinar Matahari dan bukan memantulkannya sebagaimana terjadi pada es yang berwarna cerah, sehingga menambah kecepatan dampak pemanasan.

Melalui laporan yang dikirimkan pesawat antariksa ICESat, yang digunakan NASA, para ilmuwan menggambarkan, secara keseluruhan es Laut Kutub Utara menipis sebanyak 7 inci (17,78 centimeter) per tahun sejak 2004, sebanyak 2,2 kaki (0,67 meter) selama empat musim dingin. Temuan mereka dilaporkan di "Journal of Geophysical Research-Oceans".

Seluruh daerah yang tertutup es yang lebih tua dan lebih tebal yang sintas setidaknya selama satu musim panas kini menyusut sebanyak 42 persen. Di luar itu, data baru satelit memperlihatkan, bagian es tua yang keras menipis secara bersamaan dengan meningkatnya jumlah es muda yang rapuh, keterangan yang sulit dilihat dengan jelas dari data sebelumnya.

Pada 2003, sebesar 62 persen dari seluruh volume es di Kutub Utara tersimpan di dalam lapisan es selama bertahun-tahun dan 38 persen es musiman pada tahun pertama. Sampai tahun lalu, 68 persen adalah es tahun pertama dan 32 persen es tahun-tahun berikutnya yang lebih keras.

Tim peneliti itu mengatakan, kelainan dan pemanasan global belakangan ini diduga di dalam sirkulasi es laut sebagai penyebabnya. "Kita kehilangan lebih banyak es tua, dan itu penting," kata Ron Kwok dari Jet Propulsion Laboratory di Pasadena, California, sebagaimana dilaporkan kantor berita Inggris, Reuters.

"Pada dasarnya kami mengetahui berapa banyak daerah tersebut menyusut, tapi kami tidak mengetahui seberapa tebal."
Untuk mengetahui volume es itu, pesawat antariksa NASA, ICESat, mengukur seberapa tinggi es tersebut mencuat di atas permukaan laut di Kutub Utara, kata Kwok dalam satu wawancara telefon.

"Jika kami mengetahui seberapa banyak es mengambang di atas, kami dapat menggunakan itu untuk menghitung sisa ketebalan es tersebut. Sekitar sebilan per sepuluh es itu berada di bawah air," kata Kwok.

Pengukuran ICESat tampaknya mencakup seluruh Kutub Utara, dan semua itu digabungkan dengan pengukuran volume es yang dilakukan kapal selam, yang hanya mencakup beberapa kali perjalanan di seluruh daerah tersebut.

Es Laut Kutub Utara mencair sampai tingkat paling rendah keduanya tahun lalu, naik sedikit dari tingkat rendahnya sepanjang waktu pada 2007, demikian Pusat Data Es dan Salju AS. Es Kutub Utara adalah satu faktor dalam pola cuaca dan iklim global, karena perbedaan antara udara dingin di kedua kutub Bumi dan udara hangat di sekitar Khatulistiwa menggerakkan arus udara dan air, termasuk arus yang memancar.(ant)


Pos Kupang Minggu 23 Agutus 2009, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda