Bergantung pada Awan

Cerpen Darius Baki Akamaking

RUMAH dinas yang berlokasi di Gang Melati, Jalan Hayam Wuruk No.15 Kota Batu, Malang, Jawa Timur itu semakin sepi saja. Ditambah lagi, suasana Kota Batu yang dingin menusuk membuat orang-orang yang ada di dalamnya enggan beraktivitas.


Rumah tanpa pagar ukuran sembilan kali tujuh meter itu sudah mulai rapuh. Cat putih di dindingnya terlihat pudar. Lantai jubinnya sudah banyak yang pecah. Kosen pintu dan jendelanya pun mulai lapuk termakan rayap. Begitu pula plafon dan juga beberapa meubel yang terdapat di dalamnya. Semuanya menyisakkan kesan sepi di rumah itu.

Namun di luar sana, keadaannya lain sekali. Mobil-mobil mewah berseliweran. Sepeda motor beradu gas, mengepulkan asap, membuang gas karbon dan plumbum ke udara dan juga bunyi yang memekakan kuping. Ibu-ibu kelihatan mondar-mandir di jalanan.

Mungkin saja hendak ke pasar atau sebaliknya barusan pulang dari sana. Gadis-gadis ABG belasan hingga duapuluhan tahun juga tak kalah sibuknya. Pasti saja, mereka ke sekolah atau ke kampus. Hiruk pikuk kendaraan dan manusia pagi itu membuat suasana kota begitu kontras dengan keadaan di dalam rumah Oka.

"Amy, sudah jam delapan lewat. Yuk, bangun, siap ke sekolah!" Tegur Oka sembari menggoyang-goyang tubuh Amy yang masih tertidur pulas. Memang, sepeninggal almarhum ayahnya satu tahun lalu, Oka mengambil alih tugas untuk membangunkan Amy dari tidurnya.

Semenjak itu pula Oka yang masih duduk di bangku kuliah semester enam jurusan Ilmu Hukum Universitas Negeri Malang itu pun selalu kewalahan dengan tingkah Amy, adik satu-satunya.

"Amy, sekolahmu mulai jam berapa? Ini sudah jam sembilan! Ayo, bangun!" Oka kembali membangunkannya. Amy pun terkejut dan segera bangun dari tidurnya. Ia segera beranjak ke ruang tengah. Sebuah jam dinding yang dibeli delapan tahun lalu ketika ibu mereka masih hidup terpampang di situ dengan sebuah ukiran nama,

"Yosafat-Rosalinda." Tepat dua centimeter di bawah lintasan jarum penunjuk waktunya.

"Ha..sudah jam sembilan lewat?" Amy sontak kaget. Sebentar ia tertegun kemudian langsung tertunduk. Bening-bening kristal kemudian berjatuhan membasahi pipihnya yang mungil. Anak SMP Katolik Santu Paulus Kota Batu yang sekarang duduk di kelas tiga itu menangis sejadi-jadinya.

"Kenapa kamu?" Oka bertanya dengan nada kesal.

"Hari ini ada ujian tiga mata pelajaran. Tapi, aku udah terlambat. Aku tidak mau pergi sekolah."

"Tidak. Tidak boleh. Kamu harus pergi, biar terlambat!".

"Tidak mau kak. Nanti Saya kena marah daru ibu guru."

Tak dapat menahan amarahnya, Oka melepaskan sebuah tamparan. Persis kena di pelipis Amy. Anak kecil itu tertunduk lagi. Pelipisnya memerah. Dirasakan, jiwanya seperti tercabik-cabik.

Ada luka di kalbunya ibarat disayat sembilu. Memang, baru kali ini, ia mendapatkan perlakuan seperti itu. Terbayang sudah di hadapannya, kasih sayang ibunda yang tak banyak dirasakannya.

Almarumah pergi meninggalkan mereka, menghadap Sang Kuasa ketika Amy baru berumur tujuh tahun. Almarhum ayah yang baru meninggalkan mereka setahun lalu pun tak pernah menamparnya seperti itu.

Hari-hari tanpa ayah dan ibu memang terasa menyesakkan. Lebih-lebih karena kedua kakak beradik itu sama-sama masih sekolahan. Kesulitan mereka semakin bertambah karena gaji pensiunan almarumah ibunda yang semasa hidupnya berprofesi sebagai guru PNS SMPN 5 Kota Batu tak pernah didapat lantaran tak pernah diurus almarhum ayah waktu itu. Dan sekarang, gaji pensiunan almarhum ayah pun belum kunjung tiba.

"Memang, urusannya agak rumit kak. Soalnya, SK pensiunan untuk dosen dikeluarkan langsung dari pusat," begitu kata Oka saat Darko, anak tetangganya, empat tahun lebih tua bertanya kepadanya tentang alasan keterlambatan itu.
"Ya, memang semua PNS mendapatkan SK pensiunan dari pusat kan?" Darko balik bertanya padanya.

"Ayahku juga pensiunan guru PNS dengan NIP pusat alias 130 tapi urusannya tidak serumit dan selama ayahmu. Jangan-jangan berkas administrasi sebagai persayaratannya belum lengkap. Atau, jangan-jangan, ada mafia dalam urusan ini. Namanya juga hidup," lanjut Darko sedikit sinis.

Kata-kata Darko yang terakhir ini sama sekali tak digubris Oka. Soalnya ia tahu, tak mungkin ada mafia kelas teri dalam lembaga bergengsi sekelas Universitas Negeri Malang. Apalagi semua orang yang berkompeten dalam urusan SK pensiunan pada lembaga itu tahu betul kalau alamarhum ayah mereka meninggalkan ia dan adiknya tanpa ibunda. Kesadaran itulah yang menguatkan sanubarinya untuk tetap bertahan dalam kekalutan.

Hidup tanpa sanak dan keluarga, terutama sandaran utama yakni ayah dan ibu adalah hal yang paling menggetirkan. Oka, pria yang terkenal lugu, pendiam dan pemalu ini akhirnya harus berubah akibat tekanan hidup. Demi hidup ia dan adiknya, ia rela menyisihkan waktu kuliahnya dengan berjualan ikan pada pagi hari sebelum berangkat kuliah dan menjajakan jagung bakar di trotoar pada senja hari menjelang malam.

Amy sendiri harus menggantikan peran ibunya di dapur dan mengurus rumah dinas yang kemungkinan besar akan di sita beberapa bulan ke depan. Sebagai anak yang masih belia Amy sering bertingkah seturut kemauannya yang kadang amat menjengkelkan.

Pemandangan Kota Batu senja ini amat mendung. Awan hitam pekat menyelimuti hampir seluruh langit. Oka dan Amy berjalan gontai menuju Gereja Santu Paulus, 200 meter jaraknya dari rumah tua, tempat tinggal mereka. Oka mengenakan baju biru kotak-kotak dipadu celana tissue peninggalan sang ayah. Amy sedikit menyolok dengan gaun perak yang warnahnya sudah mulai pudar. Keduanya berjalan tanpa kata. Hanya hati mereka yang terus bertanya," kapan badai ini berlalu?

Kedua kakak beradik itu mengambil tempat duduk di bagian tengah. Amy tertegun sesaat, memandang kayu salib yang bergantung di depannya, di belakang altar. Berwarna coklat kemerahan, cukup panjang. Rupanya terbuat dari jati yang dipahat. Sebagai patung, tubuh tersalib tak bergeming sedikit pun.

Ada luka di kedua telapak tangan dan kaki serta di dada, daerah sekitar jantung. Ada juga mahkota duri melingkari kepala. Tubuh tersalib merunduk, seakan sedang menangisi bumi. Baru kali ini Amy memperhatikan dengan saksama pemandangan salib seperti itu. Entah kenapa.

Tiada lama ia bermenung, air matanya berguguran lagi. Yesus yang selama ini ia agungkan itu ternyata telah bergantung pada kayu salib, entah sejak kapan. Amy tertunduk lagi, meratap pilu dalam kalbu, dimanakah dirinya dan Oka akan bergantung? Pada awan??? Yah, mungkin hanya bisa pada awan. (*)

Pos Kupang Minggu 20 September 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda