Bimtek Jakarta

Parodi Situasi Oleh Matia Matildis Banda

"BAGAIMANAPUN ikut bimtek di Jakarta itu perlu!" Demikian kata anggota dewan yang baru dilantik beberepa hari ini. Tetapi pengaruh belum pernah injak tanah Jawa, belum pernah keluar NTT, belum pernah terbang, yang bersangkutan gugup juga. Dia merasa perlu tahu satu dua hal tentang pulau, pesawat dan kota tujuan.

"Kamu jadi ke Jakarta?" Tanya Jaki.
"Jadi, tentu saja! Meskipun seumur-umur belum pernah ke Jakarta! Seperti apa kota Jakarta itu, teman?" Tanya Rara.

"Yang jelas rame seperti di tivi. Ada banyak mobil, ada jalan tol, ada banyak orang hilir mudik, ada mall, pasar swalayan, ada gedung-gedung megah dan tinggi sekali, ada orang kaya raya, ada pengemis, ada istana presiden dan tentu ada juga gubuk reot!" Jawab Jaki.

"Persis seperti di tivi ya," Rara sangat kagum sekaligus bangga akan datang ke ibu kota negara tercinta ini.

"Aku ke sana untuk bimtek alias bimbingan teknis sebagai anggota dewan yang baru. Perlu sekali!"

***
Tetapi menurut Marianus Kleden, bimtek ke Jakarta sih kurang perlu. Alasannya sederhana belaka menurutnya,

"kalau dicermati kinerja dewan, maka terlihat bahwa dalam lembaga yang terdiri atas 25 sampai 30 orang di tingkat kabupaten kota -yang bervariasi menurut jumlah penduduk - terdapat hanya empat atau lima orang yang menjadi pemikir inti yang menggerakkan seluruh fungsi legilasi, pengawasan dan anggaran".

"Apakah kamu termasuk yang empat atau lima orang itu?" Tanya Jaki.

"Pastilah!" Rara yakin. "Sejak aku terpilih aku sudah siap lahir batin untuk belajar dan terus belajar biar jadi wakil rakyat yang afdol luar dalam. Pokoknya yang namanya legilasi, pengawasan dan anggaran itu aku hafal luar kepala.

Kalau diperkuat dengan bimtek, pasti aku lebih hebat lagi! Bagaimana pun ikut bimtek ke Jakarta itu perlu! Harus ke Jakarta ya. Terus terang, aku bangga ke sana. Meskipun aku belum pernah naik pesawat dan tidak pernah jalan jauh, tetapi Jakarta adalah harus!"

"Tetapi kenapa harus Jakarta ya? Pada hal soal bimtek, soal tupoksi sebagai anggota dewan aku bisa belajar pada Benza yang sudah berpengalaman. Belajar pada Nona Mia yang sudah malang melintang di arena anggota dewan," komentar Jaki.

***

"Bagaimana menurutmu Benza?" Rara penasaran.
"Marianus Kleden, Ketua Pusat Studi Kebijakan dan Kelembagaan FISIP Unwira, juga bilang begitu lewat opininya di koran kita," sambung Benza. "Menurutnya, bimtek di Jakarta itu merugikan potensi inteligensia dan potensi ekonomi daerah."

"Benar, kalau dicermati, memang bimtek di Jakarta merugikan!" Sambung Nona Mia.

"Rugi apanya?" Tanya Rara dan Jaki bersamaan.

"Dari aspek inteligensia, NTT memiliki puluhan doktor dan profesor dengan keahlian di bidang hukum, pemerintahan, kemasyarakatan. Mereka dapat membantu anggota dewan untuk menjalankan tupoksinya, itu kata Marianus," kata Benza.

"Belum lagi yang ahli komunikasi, ekonomi, bahasa, sosial budaya, filsafat dan teologi, sosiologi, pendidikan, kesehatan masyarakat, pertanian, perikanan, dan lain-lain. Pokoknya tidak kurang ahli di NTT. Selain itu inteligensia orang kita tentu lebih berpijak pada potensi dan kearifan lokal, yang sangat menolong para anggota dewan dalam menjalankan tupoksinya," sambung Nona Mia.

"Dulu, aku dan Benza selama menjadi anggota dewan selalu belajar pada tokoh-tokoh kita di NTT."
"Bagaimana dengan aspek ekonomi?" Tanya Rara dengan kening mengkerut.

"Menurut Marianus Kleden nih, ada capital flight yang sesungguhnya bisa menggunakan jasa perhotelan dan restoran di daerah yang menjadi tempat penyelenggaraan bimtek," kata Benza.

"Jelas-jelas biaya ke Jakata jauh lebih tinggi bukan?" Sambung Nona Mia. "Kalau dua belas juta ke Jakara untuk satu orang, di daerah sendiri untuk empat orang. Uang sakunya, uang jalannya, uang lain-lainnya pasti jauh lebih irit."

***

"Tetapi aku harus ke Jakarta," kata Rara. "Apalagi aku belum pernah ke Jakarta, bukan? Jalan-jalan buat tambah pengalaman. Daripada hanya lihat di tivi, bukankah lebih baik lihat langsung?"

"Lagi pula, menurut Marianus juga, kita-kita ini bisa dapat informasi dari tangan pertama yang tak pernah dapat dipasok orang daerah!" Rara berusaha meyakinkan.

"Tangan pertama, kedua, ketiga atau ke sepuluh pun tergantung bagaimana pengetahuan itu diimplementasikan dalam kinerja," kata Nona Mia. "Awas lho, jangan sampai kamu jadi si bisu yang dicap 5 De sepanjang lima tahun. Datang, duduk, diam, dengar, duit! Berkali-kali ke Jakarta hanya jalan-jalan doang!"
"Sungguh, aku pergi bimtek!" Rara bertahan.

"Jangan lupa ole-ole ya, teman! Makin sering bimtek, makin baik!" Kata Jaki.

"Apalagi bimtek Jakarte, siapa takut!" Rara lebih bertahan. *


Pos Kupang Minggu 13 September 2009, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda