Bukan Badut

Cerita Anak Oleh Petrus Y. Wasa

SEPULANGNYA dari kegiatan pramuka di sekolah sore itu Monik mampir di rumah Nely, sahabat barunya. Nely baru pindah dari Jakarta . Nely dan seluruh anggota keluarganya pindah karena mengikuti ayahnya yang dipromosikan menjadi kepala cabang sebuah bank di kota tempat Monik tinggal.

Selain membawakan bahan pelajaran yang harus dipelajari Nely untuk mengejar ketertinggalannya, Monik juga ingin berkenalan lebih jauh dengan sabat barunya itu juga dengan anggota keluarganya.

"Wah akhirnya kamu menemukan alamat rumahku juga. Tadinya kukira kamu nyasar. Ayo, masuk", ajak Nely
"Ini kan kota kecil, Nel. Jadi dijamin tidak akan nyasar. Kalau di Jakarta ya mungkin", jawab Monik.

"Nah, sebelum kita ngobrol lebih jauh, kamu kuperkenalkan terlebih dahulu dengan ibu dan adikku. Ayahku belum pulang dari kantor. Kata ibu, ayah masih melakukan pembenahan jadi pulang agak telat"., kata Nely. Dia lalu mengajak Monik ke ruang keluarga. Tampak Ibu dan adik Nely sedang asyik menonton televise..

"Bu, ini Monik, sahabat Nely yang baru di sekolah", Nely memperkenalkan Monik kepada ibunya. Monik menyalami dan mencium tangan ibu Nely.. Namun hati Monik menjadi kecut saat hendak menyalami adik Nely. Monik sudah berusaha tersenyum semanis mungkin, namun adik Nely menatapnya tanpa ekspresi. Bahkan saat hendak disalami Monik, dia malah menarik dan menyembunyikan kedua tangannya ke balik punggung.

"Alex, ayo salamn sama temannya kak Nely", bujuk ibu. Setelah dibujuk barulah Alex mau bersalaman meski dengan raut wajah tanpa ekspresi.

* * *
"Maafkan adikku, ya Nik. Kuharapkan kamu tidak tersinggung dengan sikap adikku yang tidak bersahabat tadi. Sikapnya seperti itu bukan karena dia tidak menyukai kehadiranmu. Namun itu semata-mata karena sejak lahir adikku sudah menderita suatu gangguan yang disebut autis", jelas Nely ketika kedunya sudah berada kembali di ruang tamu.

"Autis? Apa itu?" Tanya Monik.
"Autis adalah gangguan kejiwaan yang menyebabkan penderitanya mengalami keterbelakangan mental dan emosi. Penderita aautis umumnya sulit dalam berkomunikasi dengan orang lain. Mereka lebih sibuk dengan dunianya sendiri. Dunia rekaannya sendiri", jelas Nely. Monik mengangguk-angguk mendengar penjelasan tersebut. Dia kini dapat memahami perlakuan adiknya Nely terhadapnya tadi.

"Tadinya hatiku sempat kecut juga. Kukira adikmu tidak menyukai kehadiranku. Namun setelah mendengar penjelasanmu, aku menjadi maklum',, ungkap Monik jujur.

"Perkembangan mental dan emosi mereka tertinggal, namun pertumbuhan fisiknya sama dengan rekannya sebaya yang non autis. Karena itu tidak jarang kalau adik saya dan penderita autis lainnya sering menjadi bahan olok-olokan sehari-hari teman-temannya. Mereka menjadi bahan tertawaan layaknya badut. Sementara mereka sendiri tidak bermaksud melucu di hadapan teman-temannya. Mereka bersikap seperti itu karena semata-mata menderita gangguan kejiwaan tersebut", tutur Nely sedih.
* * *
Monik dan Nely terkejut saat melihat Alex muncul di ruang tamu. Alex mendekati Monik dan memegang tangannya.
"Kak Monik, maafkan Alex ya. Tadi Alex berlaku kurang sopan terhadap kak Monik. Maafkan Alex, ya kak", Alex memohon. Monik terharu mendengar permohonan maaf yang tulus tersebut. Dalam hatinya Monik berkata, sebenarnya bukan salahmu, Lex. Tetapi autislah yang membuatmu seperti itu. Tanpa terasa air mata membasahi pipi Monik.

"Kakak sudah memaafkanmu sejak tadi kok. Jadi Alex tidak usah memikirkan hal itu lagi ya?" jawab Monik sambil menghapus air matanya.

`Sikapnya sudah berubah seperti itu karena ibu sudah menasihatinya bahwa sikapnya tadi terhadapmu kurang sopan. Nasihat itu harus dilakukan secara perlahan hingga dia memahaminya", ujar Nely.

"Berarti orangtua yang memiliki anak yang menderita autis harus lebih banyak bersabar dalam menghadapi anak mereka?" tanya Monik.

Bukan hanya orangtua saja tetapi juga kami sebagai saudara-saudaranya harus ekstra sabar dalam menghadapi para penderita autis ini. Sikap sabar dan pengertian juga diharapkan dari teman-teman serta gurunya di sekolah, juga dari segenap anggota masyarakat di lingkungan sekitar tempat penderita tersebut tinggal. Bukannya menertawakan mereka. Karena mereka bukan badut", tegas Nely. Monik mengangguk setuju

Saat pamit pulang Monik melihat Alex tersenyum ramah padanya. Dalam hatinya dia sependapat dengan Nely, penderita autis memang bukan badut.(*)

Pos Kupang Minggu 30 Agutus 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda