Donatus Dewa Lejab dan Yosefina Ladjar


POS KUPANG/APOLONIA MATILDE DHIU
Yosefina Ladjar


Ajari Anak Selalu Bersyukur

SELALU bersyukur akan apa yang diterima sebagai penyelenggaraan Ilahi adalah salah satu tips yang diajarkan pasangan Donatus Dewa Lejab dan Yosefina Ladjar kepada anak-anak mereka.

Pasangan yang menikah 1992 ini menginginkan anak- anak mereka hidup sederhana dengan apa yang dimiliki. Keduanya memiliki dua putra, si sulung, Hedwigh Lejab, lahir di Kupang, 16 Oktober 1993, saat ini Kelas II SMAK Giovanni-Kupang. Kedua, Eugenius Lejab, lahir di Kupang, 21 Juni 1999, saat ini Kelas V, SDK St. Yosep Naikoten-Kupang.

Memiliki dua anak laki-laki yang masih labil, membutuhkan perhatian serius dari orangtua. Maklum, si sulung masuk usia remaja dan anak kedua sedang nakal-nakalnya dan membutuhkan bimbingan dari keduanya.

Namun, apa hendak dikata, sang suami harus meninggalkan kelurga karena bertugas di Alor, menjabat sebagai Kepala Tata Usaha (KTU) Departemen Agama (Depag) Kabupaten Alor.

Maka untuk tugas mendidik dan membesarkan anak untuk sementara waktu diambilalih sang istri, Yosefina Ladjar, yang bertugas di Kupang sebagai guru SDK St. Yosep Naikoten.

Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Kamis (17/9/2009), Yosefina Ladjar guru yang adalah wali kelas VI ini, mengatakan, untuk sementara dia menjadi single parent (orang tua tunggal) bagi kedua anaknya, namun ia mengaku tetap enjoy. Karena apapun yang terjadi ia tidak pernah akan menggantikan posisi suaminya, suami adalah kepala keluarga.

Kendati suaminya bertugas di Alor, namun komunikasi dengan keluarga, terutama dengan kedua anaknya tetap berjalan. Biasanya kalau ada dinas ataupun liburan, suaminya selalu pulang untuk berkumpul bersama keluarga.

Di sinilah, biasanya keduanya memanfaatkan waktu untuk berdiskusi dengan anak-anak.

Alumni SPG Podor, Larantuka tahun 1991 ini, mengatakan, biasanya keduanya memberikan arahan- arahan kepada anaknya dengan menceritakan realitas yang ada di sekitar rumah.

"Saya ceritakan apa adanya tentang apa yang mereka lihat setiap hari di lingkungan sekitar rumah. Dari sinilah saya mengarahkan anak-anak untuk selalu bersyukur akan apa yang dimiliki.

Karena tidak semua orang bisa hidup layak seperti yang mereka alami," katanya.

Menurutnya, kedua anaknya memiliki karakter yang berbeda. Si sulung pendiam dan penurut, tetapi anak keduanya termasuk anak yang cerewet dan keras kepala. Butuh bimbingan ekstra.

Misalnya, kalau anaknya selalu minta uang setiap hari atau menginginkan hal-hal yang berlebihan, Onci, begitu akrabnya, akan menceritrakan kehidupan orang- orang yang tidak mampu seperti penjual sayur, pemulung atau pendorong gerobak, yang setiap hari harus berkeliling Kota Kupang di panas terik dan baru bisa membeli makanan ataupun kebutuhan lainnya.

Itupun didapatkan dengan hasil yang pas-pasan.
Dikatakannya, jika sudah menceritakan hal-hal demikian, biasanya putra keduanya mengerti dan ia bersyukur anaknya mau berubah.

Selain itu, katanya, ia juga selalu ketat dalam pembagian jatah uang jajan dan uang transpor. Jatah untuk kedua anaknya biasanya dikasih setiap bulan satu kali.

Untuk itu, katanya, anak-anaknya harus bisa memanfaatkan uang yang diberikan itu untuk jangka waktu satu bulan. Karena, jika dalam satu bulan uang tersebut sudah habis, maka anaknya harus menanggung resiko.

Apa yang dilakukannya itu, katanya, sebagai bentuk pembelajaran kepada anak agar hidup hemat dan disiplin dalam memanfaatkan uang.

"Kalau si sulung memang sangat penurut sehingga uang saku sebulan masih bisa ditabung. Bahkan dia jarang minta uang pada saya. Yang menjadi soal adalah yang nomor dua. Makanya, saya selalu berusaha mengarahkan dia untuk memanfaatkan uang untuk hal- hal positif atau yang benar-benar dibutuhkan, bukan diinginkan," kata Onci yang melanjutkan studi ke jenjang S1 di PGSD Undana ini.

Dikatakannya, menghadapi putra keduanya yang agak keras kepala, biasanya ia membalasnya dengan kelembutan dan kesabaran, dan ia bersyukur saat ini perlahan-lahan anaknya mulai berubah.

"Kalau sudah berlebihan, biasanya saya bandingkan dia dengan teman-teman lainnya di sekolah yang pintar- pintar. Saya biasanya katakan, coba lihat temanmu, mereka orang tidak mampu tetapi mereka pintar dan baik hati. Biasanya dia menjadi malu. Saya berharap akan terus berubah seiring bertambah usianya," katanya. (nia)

Pos Kupang Minggu 27 September 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda