Drs. Leonardus Nahak, M.Art


POS KUPANG/ALFRED DAMA
Leonardus Nahak

Menarik Minat Orang pada Museum

MUSEUM, bagi masyarakat Indonesia, termasuk NTT, adalah tempat kurang menarik untuk dikunjungi. Orang lebih memilih jalan-jalan ke mall ketimbang ke museum.

Padahal isi Museum Daerah NTT merupakan cerminan budaya masyarakat NTT yang tertuang dalam peninggalan-peninggalan sejarah.

Museum Daerah NTT yang berada di Jalan El Tari II Kupang hanya dukunjungi oleh para siswa kalau ada penugasan dari guru.

Padahal tempat ini selalu menjadi tujuan para wisatawan. Salah satu cara untuk mengubah minat masyarakat untuk mengunjungi museum adalah dengan mengubah wajah museum menjadi lebih menarik.

Bukan itu saja, bekeja di museum juga dianggap oleh sebagian orang sebagai pekerjaan yang membosankan.

Sebab, bekerja di tempat ini dianggap tidak lebih hanya menjaga benda-benda peninggalan sejarah.
Tidak demikian dengan Drs. Leonardus Nahak, M.Art. Master lulusan Amerika Serikat ini begitu menikmati pekerjaanya di museum. Pria humoris yang saat ini memimpin Musem Daerah NTT tengah berupaya keras menjadikan museum sebagai tempat yang menarik bag warga.

Berikut kutipan perbincangan Pos Kupang dan Leonardus Nahak, belum lama ini.

Kenapa pengunjung museum ini hanya anak sekolah atau rombongan wisatawan? Pertanyaan menarik. Ini bukan pertanyaan dari orang yang pertama. Bahkan sejak museum di Indonesia berdiri, salah satu pertanyaan dalam rapat-rapat atau event lain tentang kenapa pengunjung kurang. Kami punya satu jawaban kunci, ialah karena apresiasi masyarakat pada museum masih rendah.

Karena masyarakat belum tahu apa itu museum. Mayarakat belum tahu di museum itu orang bisa lihat apa. Masyarakat belum tahu di museum orang belajar apa. Tetapi sejak sekian tahun bersenjatakan alasan itu, kami pikir masyarakat sudah 10 tahun dengan alasan yang sama apakah dia sudah terus seperti itu.

Mungkin ada persentase kebenaran yang sudah mulai terkikis karena manusia makin belajar, media juga terus belajar di siaran televisi juga sudah menampilkan museum. Saya pikir dari hari ke hari, museum perlu mempertanyakan lagi apa yang sudah dipakai sekian tahun kenapa orang tidak berkunjung ke museum, atau kenapa hanya anak sekolah, kenapa hanya manusia dalam rombongan saja. Saya pikir itu hal yang menarik.

Sampai saat ini kami belum melakukan suatu studi tentang tingkah laku atau animo masyarakat terhadap museum. Tetapi kalau masyarakat mendapat informasi yang tepat tentang apa itu musuem, kenapa museum penting, masyarakat tahu kalau masyarakat tidak lihat museum itu rugi, itu saya pikir secara perlahan meningkatkan statistik kunjungan masyarakat.

Apakah apresiasi masyarakat terhadap isi museum juga masih kurang? Masih ada benarnya bahwa apresiasi adalah kunci. Seperti orang lapar, harus makan. Oleh karena itu banyak studi yang mencoba menghubungkan antara tingginya tingkat pendidikan, kemampuan ekonomi atau orang makan sudah kenyang, maka dia perlu rekreasi.

Bila seseorang ditanya kemana bila ingin bepergian tentu pertamke mall, kedua ke pantai dan mungkin ke 10 baru dia ke museum. Studi ini juga dilakukan oleh Huper Greenville, perempuan asal Inggris. Dia meneliti di negara maju. Dia mencari tahu perilaku masyarakat saat liburan. Ternyata museum juga tidak masuk ranking pertama.

Apakah kondisi ini terus dialami oleh museum? Ya, tetapi hal yang menarik dari pengalaman itu bahwa suatu saat pernah ada kunjungan dari satu sekolah di SoE. Saya tidak tahu, kegiatan ini dirancang oleh siapa. Ya ada semacam kewajiban dari sekolah atau orangtua itu ikut. Mereka datang tidak hanya mau lihat isi museum tetapi membawa juga alat musik. Waktu itu saya masih Kepala Seksi Bimbingan. Saya menjelaskan apa itu museum. Orang kampung itu masih bingung. Saat penjelasan itu, mereka hanya duduk diam-diam.

Guru- guru mulai mencatat, anak-anak sekolah mulai bereaksi. Yang saya amati, saya lihat ada orang kampung yang datang. Mereka datang dengan truk, gratis dari sekolah, mungkin mau lihat Kupang. Saat mereka masuk, mereka terpaku di pintu gerbang.

Karena ada patung sepasang pengantin TTS. Mereka berdiri di situ lama sekali. Dan, mereka lihat, ya inilah adat mereka ada di sini. Dan pada saat yang bersamaan, datang rombongan turis asing dan melakukan foto kesana- kemari.

Orang Timor ini heran sekali, karena apa yang mereka pakai setiap hari, ke kebun ke pasar itulah yang disukai bule-bule. Jadi mereka belajar bukan karena museum itu penting, tetapi mereka belajar wah yang kita punya ini luar biasa dan bule-bule datang dari Amerika mau foto ini. Lalu yang terjadi secara spontan, mereka menyanyi di lobi, mereka menyanyi dan menari. Mereka menyanyi bukan untuk kami, tapi mereka menyanyi bahwa mereka sadar bahwa mereka punya sesuatu. Mereka kagum saat melihat bule datang mau lihat itu.


Bagaimana caranya agar orang suka datang ke museum? Saya punya satu cerita. Dulu, saat ada pameran lontar dari Rote di tempat ini, ada satu orangtua yang sedang menggembalakan ternak. Saat itu, di sekitar museum ini hanya ada beberapa kantor dan di sekitar ini masih belukar. Penggembala itu dipanggil oleh satpam saat melintas di tempat ini.

Satpam ini mengajak si pengembala kambing ini untuk melihat pameran. Satpam lainnya memberitahukan pada satpam pertama agar jangan memasukkan orang itu karena orang tersebut adalah pencuri terkenal dari Tanah Putih. Tapi si orang tua pengembala kambing ini diajak masuk. Ini pameran ini tentang orang Rote, tentang lontar, tentang orang panjat pohon lontar, tentang orang menyanyi di atas pohon lontar, tentang lontar bisa menghidupi mereka, tentang ritual saat anak lahir di kasih nira.

Dan, orang itu menangis karena terharu dan rindu dengan Rote. Jadi ada nostalgia. Jadi yang pertama itu harus kena betul untuk orang mencintai. Jadi dari pengalaman itu, bagaimana museum ini mendisain diri agar lebih dicintai.

Sebenarnya ke museum itu, kita bisa mengenal diri kita. Karena banyak hal dan nilai-nilai budaya kita yang bisa kita lihat di museum. Kita bisa tahu banyak bahwa budaya kita ini kaya.

Apa saja koleksi Museum Daerah NTT? Ada macam-macam, antara lain koleksi biologi, arkeologi, sejarah, keramik, etnografi dan lain-lain. Jumlah koleksi kita mencapai 8.600 item. Dan, ini akan terus bertambah.

Kenapa yang datang hanya kelompok, jarang ada orang datang secara personal?
Kenapa hanya kelompok? Selama ini kelompok sangat banyak. Perna ibu-ibu camat dari seluruh kabupaten di NTT penataran di Diklat mau datang ke museum. Ibu-ibu bupati datang ke museum, rombongan DPRD dari mana- mana datang ke museum. Pertanyaannya, kapan dari satu rumah let's go to museum. Saya jujur, mungkin keluarga saya dan saya sudah berulang kali datang ke museum, mungkin juga karena saya kepala museum ini.

Saya ajak anak-anak dan istri saya ke museum. Saya tidak tahu apakah orang lain sudah begitu. Saya sudah berkali-kali. Mungkin karena anak-anak sekolahnya di sini, bapaknya kepala museum, mungkin kondisi itu. Tetapi setelah masuk ke museum, anak-anak saya jatuhnya cintanya luar biasa pada musuem. Kalau ada apa-apa, kalau mereka lihat dimana atau baca dan temukan sesuatu mereka bilang ini seperti di museum. Jadi memperkenalkan dengan tepat itu yang susah.

Apakah pameran juga upaya menarik minat orang ke museum? Ya, pameran juga merupakan upaya kami menarik minat orang datang ke tempat ini. Kami bersyukur sudah beberapa tahun kami mendapat kepercayaan dari lembaga internasional untuk melaksanakan pameran- pameran temporer yang berlangsung lima bulan, empat bulan, bisa satu tahun.

Namanya temporer, jadi bisa diganti lagi dengan pameran yang lain. Salah satu kunci penting persetujuan Ford Fondation menyelenggarakan pameran adalah mengangkat kelompok-kelompok etnis, sehingga di museum itu kelompok-kelompok ini berdiri sejajar, meski etnis itu hanya 30 orang, yang satunya dua juta orang, semuanya sama penting, tidak ada yang small, yang tidak ada yang dick, tidak ada yang power full.

Beberapa pameran yang sudah kita lakukan seperti yang paling menarik itu adalah pemaren tentang orang Ndao.

Kenapa dianggap paling menarik? Yang menarik dari orang Ndao adalah para laki-laki dari pulau ini meninggalkan tempat kelahirannya dan pergi ke berbagai daerah di NTT. Mereka tidak bawa apa-apa, hanya peralatan seperti pompa. Tapi mereka punya keahlian.

Jadi kita menyoroti sekelompok orang yang sudah bekerja sangat keras tapi hal menarik adalah semua kecantikan, perhiasan kita yang gemerlap di seluruh pulau, ternyata ada tangan lain yang mengerjakan itu. Kami cantik di Belu, tapi hampir tidak ada orang Belu yang mahir membuat perhiasan itu.

Demikian juga di Manggarai. Mamuli di Sumba itu dibuat oleh orang-orang Ndao. Jadi mereka itu berkontribusi untuk peradaban. Dan, mereka begitu kecil maka tenggelam di mana-mana, mereka juga tidak tahu berkelahi atau konflik. Lalu saya ingat, pembukaan itu oleh Pak Wakil Gubernur, saat itu, Drs. Frans Lebu Raya.

Dalam katalok untuk pembukaan pameran itu, ada tulisan saya berdasarkan wawancara dengan orang Ndao di Betun. Jadi dia katakan begini, "Kami orang Ndao diajarkan oleh orangtua kalau merantau jangan bawa barang tajam, nanti kau melukai orang". Kita lain membawa barang tajam untuk melukai diri. Ini luar biasa ini. Ini bukan seorang filsuf, ini orang kampung.

Jadi orang Ndao itu meski merantau ke mana-mana, mereka tidak punya musuh. Saya interview orang Ndao yang kerja di Baun. Dia bikin anting-anting di Oemofa-Amarasi, tidak tahu mereka jalan kaki ikut mana.

Apa yang perlu dilakukan agar museum itu menarik, selain pameran temporer tadi? Saya pikir, museum harus mempunyai nilai lebih. Kalau museum dibandingkan dengan mall, maka orang akan pergi ke mall. Kita memang dalam suasana kompetitif, sehingga museum harus bisa menonjolkan keunikannya sehingga walau sudah ke mall, harus ke museum lagi karena masih ada yang kurang. Inilah yangh harus kita akali.

Apakah pameran di museum ingin menunjukkan identitas orang NTT? Kita fokus etnik. Saya pikir, salah satu kunci kenapa Ford Fondation mau buat pameran, ya karena kita etnik, lalu dianggap menjadi sumbangan yang luar biasa dan untuk anak NTT kita terlalu banyak suku sehingga steriotip seperti Sumba dengan itunya, Belu dengan inilah, Manggarai dengan apanya. Jadi dia cap seseorang berdasarkan apa yang dilihatnya, sehingga dalam wilayah multi etnik itu, peranan museum menjadi sangat penting karena museum mendudukkan semua etnik sejajar.

Apakah ada pengaruhnya pameran dengan ketertarikan orang pada museum? Salah satu cara adalah pameran etnik. Terakhir kita buat pameran tentang Lembata, Boti dan orang dari kampung juga ikut. Jadi pekerjaan masih sangat banyak. Saya pikir ada hal yang bisa betul juga antara kehidupan keluarga- keluarga. Kalau orang makan tidak cukup, maka mana mungkin kita isi acara-acara piknik, uang tidak ada masa dia mau nonton. Sebab ke museum itu kan omong uang tranportasi, omong waktu luang. Ini kalau waktu luang tidak ada, juga tidak bisa. Soal pilihan, soal wawasan juga. Kalau orang yang mengerti pasti dia bilang, "Nak, ke museum dong, di sana kamu bisa belajar sesuatu". Saya pikir, itu semua itu mengarah pada pendidikan, ekonomi, sosial itu juga cukup berperan.

Mengapa para turis suka ke museum, sementara kita tidak? Memang, sering ada pertanyaan, kenapa orang bule suka sekali, anak-anak suka sekali ke museum sementara kita punya ank-anak tidak suka museum. Itu pertanyaan yang buat saya hampir mabuk dan ulang- ulang. Saya juga kerap bagaimana mengakali pertanyaan itu, ternyata terakhir saya dapati jawabannya. Museum-museum seperti di Amerika itu memamerkan kebudayaan seluruh dunia. Oleh karena itu semua yang masuk itu baru untuk dia. Sementara kita itu susahnya, kita anak NTT hanya pamer yang ada di NTT saja. Jadi masyarakat menanggap hal yang biasa saja, karena kalau tunjuk tenun ikat, masyaraka di desa- desa bilang sudah lihat tiap hari. Itu masalahnya.

Tidak bosan mengurusi benda-benda peninggalan di museum ini? Anda orang ke-130 yang menanyakan ini. Waktu rame- rame mutasi, bagi kami PNS ini seperti membicarakan caleg gagal. Pertanyaan apakah bosan, ah....(berpikir) jadi setelah masuk ternyata luar biasa. Jangan berpikir kami hanya menjaga benda begini, tapi dinamika di sini luar biasa.

Saya kasih contoh. Beberapa waktu lalu, saya sementara sibuk , tiba-tiba saya ditelepon oleh seseorang yang mengajak makan malam dengan sekelompok istri duta besar, konsultan bank, perusahaan besar seperti pertamina dan
macam-macam dari Jakarta.

Kemudian saya diminta untuk ceramah. Jadi kita bisa bertemu banyak orang, dari dunia berbeda dengan latar belakang berbeda, negara berbeda dan macam-macam.

Anda bisa bayangkan begitu dinamisnya kita. Saya senang, karena tidak semua orang bisa mendapat kesempatan seperti ini. Jadi setelah kita masuk di museum, jaringan kita sangat luas. Kita dikenal dan mengenal berbagai orang di seluruh kolong langit. Jadi begini, ada orang datang ke sini dan kembali ke negaranya, tentu dia becerita tentang tempat ini dan pengelolanya.

Ketika temannya mau datang ke sini, dia akan merekomendasikan untuk bertemu kita. Jadi kita dikenal, hal inilah yang membuat kita merasa nikmat. Saya jujur, coba tanya eselon tiga di NTT, siapa yang paling banyak keluar negeri?

Orang beranggapan mutasi ke musem itu dibuang. Iya, saya memberikan contoh. Saat mutasi dan rasionalisasi birokrasi, ada teman yang pindah ke sini. Minggu pertama dia menangis. Kemudian saya ketemu dia dan cerita. Lalu saya ketemu dia lagi dan saya tanya, apakah mau pindah. Perlu sedikit waktu. (alfred dama)


Punya Anak Warga AS

PENENTUAN kewarganegaraan Amerika Serikat oleh pemerintah negara tersebut berdampak pada keluarga Leonardus Nahak. Dua anak kembarnya, Claudette Maria Nahak dan Clarrisa Grecciela Nahak memiliki dua kewarganegaraan yaitu Amerika Serikat dan Indonesia.

Dua anaknya ini menjadi warga negara AS karena lahir di negeri Paman Sam dan menjadi Warga Negara Indonesia karena kedua orangtuanya warga negara Indonesia. "Sewaktu saya belajar untuk program master saya di Amerika, nah dua anak ini lahir di sana. Jadi mereka juga didaftar sebagai warga negara Amerika.

Nanti setelah 17 tahun, baru mereka menentukan kewarganegaraan," jelasnya.
Suami Sanny Ully ini, mengatakan, selama belajar di AS, begitu banyak pengalaman yang didapat. Pengalaman tersebut diantaranya, begitu tingginya penghargaan dan apresiasi orang Amerika terhadap seni. Dia berharap bisa mengembangkannya di NTT.

Sebab NTT memiliki begitu banyak seni yang perlu dijaga dan dilestarikan. Selain itu, aneka seni dan budaya merupakan warisan leluhur yang memiliki nilai yang sangat tinggi. (alf)

Data Diri
Nama : Drs. Leonardus Nahak, M.Art
Tempat tanggal lahir : Belu 3 Juli 1960
Pendidikan : SD Numbei-Kecamatan Malaka Tengah Tamat Tahun 1972
SMPK Sabar Subur Betun Tamat Tahun 1975
SMA Seminari Lalian Tamat Tahun 1980
S1 di Undana-Fakultas Ilmu Administrasi tamat tahun 1987
S2 di University Of Washington-Amerika Serikat, selesai tahun 2007


Pos Kupang Minggu 30 Agustus 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda