Ir. Joseph Dharmabrata

Kelola Pariwisata, Libatkan Masyarakat


PROPINSI NTT memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA) yang luar biasa. Potensi SDA yang punya prospek menjanjikan, antara lain, sektor pariwisata dan pertanian. Jika potensi ini dikelola dengan baik, akan memberi kontribusi cukup besar bagi penerimaan daerah dan peningkatan ekonomi masyarakat. Tetapi, pengelolaan potensi pariwisata di NTT belum maksimal dan kurang melibatkan masyarakat secara aktif. Banyak masyarakat terpinggirkan dari keterlibatannya dalam pembangunan sektor pariwisata.

Potensi sektor pariwisata di NTT diakui oleh Komisaris Utama PT Mandala Airlines, Ir. Joseph Dharmabrata. Meski hanya tiga hari di NTT, Joseph menangkap banyak kesan bahwa potensi sektor pariwisata di NTT ini luar biasa. Namun, belum dikelola maksimal karena terkendala beberapa faktor, antara lain, kerja sama lintas sektor belum efektif, belum ada payung hukum, ketersediaan sarana dan prasarana yang belum memadai.

Tetapi, menurut Joseph, kendala utama dalam pengelolaan pariwisata dan potensi SDA lainnya di NTT, yakni kualitas sumber daya manusia (SDM) yang kurang mendukung. Kualitas SDM di sini lebih ditekankan pada kemampuan masyarakat mengelola potensi pariwisata yang ada. Untuk memacu pengembangan sektor pariwisata, manajamen Mandala Airlines akan memberi dukungan. Bagaimana bentuk dukungan itu? Berikut petikan percapakan wartawan Pos Kupang Hyeron Modo dan Obby Lewanmeru, dengan Joseph Dharmabrata, Agustus 2009 lalu di Kupang.

Tujuan Anda ke Kupang, apakah sekadar rekreasi atau ada sesuatu yang ingin Anda lakukan?
Tujuan utama berkaitan dengan ekspansi Mandala Airlines ke Kupang, dan kerja sama dengan PT TransNusa Air Services, sebuah perusahaan penerbangan yang berkantor pusat di Kupang. Kerja sama itu fokus pada pengangkutan penumpang. Pesawat TransNusa mengangkut penumpang dari daerah-daerah di wilayah NTT, baik tujuan Kupang maupun ke kota-kota lainnya di Pulau Jawa, seperti Surabaya dan Jakarta. Untuk meneruskan perjalanan para penumpang dari daerah-daerah di NTT ke sejumlah kota di Pulau Jawa, akan diangkut oleh pesawat Mandala Airlines. Tujuan lainnya, saya ingin melihat lebih dekat bagaimana pertumbuhan ekonomi di daerah (NTT) yang dilayani Mandala Airlines. Ini erat hubungannya dengan bisnis transportasi udara. Apakah kehadiran kami di sini (penerbangan pesawat Mandala ke Kupang/NTT) memberikan prospek baik terhadap pertumbuhan ekonomi di NTT. Apakah saling menguntungkan, baik bagi Mandala maupun masyarakat di daerah ini?

Apa yang Anda lihat setelah berkunjung di daerah ini, khususnya di Alor?
Yang pertama saya bergembira sekali berkesempatan berkunjung ke Kupang (NTT). Saya sempat ke Alor. Tentunya berkunjung dua atau tiga hari di Kupang/NTT tidak cukup untuk melihat apa yang sebetulnya menurut pandangan saya bisa dikembangkan di daerah ini. Tetapi, sepintas saya melihat dan boleh memberi kesan yang belum didukung fakta, saya kira NTT ini mempunyai potensi yang besar sekali. Saya lihat kecantikan panorama alam di Alor, terutama keindahan lautnya yang merupakan salah satu obyek wisata andalan di daerah itu. Saya lihat Alor itu sungguh indah. Obyek wisata bahari seperti di Alor, itu pasarnya orang asing. Orang Indonesia kadang-kadang belum berminat ke alam, menikmati keindahan alam. Orang Indonesia lebih cenderung melihat keindahan kota dan keramaian di mall-mall atau supermarket di suatu kota. Di Alor saya sempat mengunjungi obyek wisata pantai dan laut (untuk diving di Selat Pantar) di Jawatoda Watu di Kecamatan Pantar Timur, Pulau Pantar. Obyek wisata itu dikelola sejak tahun 2006 oleh Mr. Gill, seorang warga Perancis. Saya kagumi keindahan alam laut di sana. Masih 'cantik- cantik'. Untuk menampung wisatawan yang ke sana, Mr. Gill membangun delapan home stay bernuansa alami, back to nature. Di sana apa yang kita butuhkan ada, kecuali televisi dan musik, tidak ada. Itu karena turis-turis asing yang ke sana tidak mau ada musik dan televisi. Mereka hanya mau mendengarkan suara alam, keindahan alam. Obyek wisata alam itu pasarnya untuk turis asing. Salah satu kiat untuk memajukan sektor pariwisata, masyarakat harus dilibatkan secara aktif dalam mengelola obyek-obyek wisata, khususnya obyek wisata alam dan budaya yang ada di NTT.

Kesan Anda sekembalinya dari Alor?
Meksi hanya satu hari di Alor, tapi banyak potensi yang saya lihat punya prospek untuk mendukung perekonomian masyarakat di sana, seperti kenari, kemiri dan buah-buahan. Saat saya di Kalabahi ada satu pedagang kenari mengatakan, dia harus menghadapi permintaan pasar 15.000 ton kenari per bulan, tetapi dia hanya bisa mengumpulkan sekitar 3.000 ton sampai 4.000 ton kenari per bulan untuk memenuhi permintaan pasar. Kenyataan ini mencerminkan bahwa petani kenari di Alor tidak ada perencanaan dalam produksi komoditi tersebut. Artinya, tidak ada sistem produksi yang baik. Ke depannya, harus ada perencanaan yang matang dalam hal produksi. Saya belum lihat secara keseluruhan di NTT, tapi petani di Alor yang saya lihat belum menjadi petani yang benar. Belum berkebun yang benar. Aktivitas mereka masih sebatas angkut-angkut mengambil hasil hutan. Artinya, kalau perlu baru ambil lalu dijual. Petani di NTT belum berpikir lebih jauh bagaimana untuk meningkatkan produksi. Itu saya kira masalah yang perlu diperhatikan oleh pemerintah daerah.

Jika itu yang Anda lihat, apa masalahnya?
Masalah utama yang saya lihat adalah kualitas sumber daya manusia (SDM) yang kurang memadai untuk menggarap potensi-potensi yang ada. Masalah kualitas SDM ini menurut saya merupakan kendala yang besar. Dalam pandangan saya penanganan gizi SDM itu sangat mendasar. Saya mendengar banyak anak di sini (NTT) yang kurang gizi sehingga perkembangan otaknya terbatas. Masalah kurang gizi merupakan satu hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah dan masyarakat. Faktor kedua adalah pendidikan. Kesehatan (gizi) dan pendidikan itu merupakan dua faktor kunci yang sangat berpengaruh terhadap kualitas SDM. Kalau dua aspek ini sudah dicapai (cukup memadai), maka NTT menjadi lahan subur untuk investor, dan masyarakat bisa terima dengan baik.

Apa yang mau dibuat manajemen Mandala untuk daerah ini?
Ya. Itu juga pertanyaan kami selanjutnya. Apa yang perlu kami buat untuk NTT ke depannya. Salah satu yang kami lakukan adalah mempromosikan potensi pariwisata daerah ini kepada masyarakat mancanegara (luar negeri) dan daerah lainnya di Indonesia. Kami promosi potensi pariwisata melalui majalah Mandala yang dibagikan kepada penumpang saat berada di pesawat. Di majalah Mandala itu kami tulis tentang potensi pariwisata di NTT. Ini dengan asumsi dalam sehari pesawat Mandala mengangkut sekitar 10.000 orang penumpang dari dan ke berbagai kota tujuan di Indonesia. Dalam setahun mengangkut sekitar 3,5 juta orang penumpang. Disamping itu, Mandala merupakan satu-satunya airlines (armada) penerbangan yang diberi izin untuk melayani penerbangan ke negara-negara Uni Eropa. Mudah- mudahan dengan mengantongi izin operasi ke Uni Eropa, wisatawan dan inverstor asing lebih banyak datang ke Indonesia, termasuk ke NTT menggunakan jasa penerbangan Mandala.

Bidang lainnya yang mau dilakukan Mandala untuk NTT?
Pemberdayaan ekonomi rakyat sangat penting. Itu mungkin yang akan kami coba bantu. Jika pemberdayaan ekonomi rakyat berkembang, maka banyak pedagang dari luar NTT yang akan datang ke sini. Saya melihat ada dua hal yang perlu dilakukan berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi rakyat dan SDM. Pertama, bagaimana kita meningkatkan pengetahuan masyarakat petani dan peternak. Saya yakin pemerintah daerah di NTT sudah melakukan itu. Saya juga yakin, di sini sudah banyak penelitian dan penyuluhan tentang pertanian dan peternakan. Tetapi, kadang- kadang penelitian dan penyuluhan tidak jalan karena penyuluh dan peneliti hanya memberikan penyuluhan secara teknis. Itu karena tidak disertai dengan usaha yang lain pada saat yang sama, yaitu mengubah pola pikir masyarakat untuk melepaskan mereka dari masa lalu. Artinya, masyarakat harus menerima suatu perbaikan dengan memberikan pengetahuan praktis sesuai bidang usahanya.
Kedua, untuk mengubah pola pikir masyarakat petani perlu persiapan. Sama dengan kalau kita mau menanam bibit, lahannya harus disiapkan. Demikian pula kalau kita mau menanam bibit ilmu pengetahun dan perubahan untuk suatu masa depan yang lebih baik, maka lahan yang ada di alam pikir masyarakat harus disiapkan. Kalau tidak demikian, bibit ilmu pengetahun yang diberikan akan masuk ke lahan yang tandus. Tidak tumbuh dan akhirnya semua orang putus asa karena tidak berhasil dalam usahanya. Ini satu hal yang mesti kita lakukan. Selama beberapa hari berada di Kupang dan Alor, saya melihat banyak gereja dan mesjid. Sebetulnya untuk mengubah pola pikir masyarakat (petani) perlu bekerja sama dengan pemuka-pemuka agama. Gereja dan mesjid menjadi salah satu alat komunikasi yang sangat efektif dalam mengubah pola pikir masyarakat petani.

Apa bentuk dukungan Mandala dalam pemberdayaan ekonomi rakyat NTT?
Mandala itu satu usaha jasa penerbangan. Kami fokusnya transportasi udara untuk mengangkut orang dari satu daerah ke daerah lainnya. Melalui jasa angkutan udara Mandala, kami bisa bawa orang-orang yang punya pengalaman dan pengetahuan ke Kupang untuk memberikan ceramah dan seminar dengan materi sesuai potensi daerah ini. Atau bisa juga kami angkut orang dari NTT untuk mengikuti seminar dan pelatihan di Jakarta. Opsi ini lebih diarahkan bagi organisasi lembaga swadaya masyarakat (LSM) di bidang pemberbedayaan SDM dan SDA yang ingin meningkatkan pengetahuan. Mereka bisa ke Mandala untuk bertukar pikiran. Apa yang perlu dibantu guna memajukan pengetahuan masyarakat di sini. Dengan cara seperti itu diharapkan orang-orang yang mengikuti pelatihan atau ceramah bisa meningkatkan ekonomi daerah. Dengan begitu pula Mandala akan semakin sibuk karena banyak penumpang yang menggunakan jasa angkutan Mandala. Jadi, sharing keuntungannya seperti itulah.

Menurut Anda model pengembangan ekonomi rakyat NTT bagaimana?
Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk pengembangan ekonomi rakyat. Di sektor pariwisata, misalnya, saya akan mencoba mengembangkan pariwisata dengan cara yang berbeda dari yang dilakukan banyak orang selama ini. Pada September 2009 ini kami (Joseph dan istrinya) akan berkunjung ke Mongolia. Di sana kita akan melihat festival budaya di Ulaanbaatar, seperti pacuan kuda dan keterampilan burung elang menangkap mangsanya. Selama di sana menginap di rumah penduduk, bukan di hotel. Tinggal di rumah penduduk paling berharga bagi para turis sehingga dia mengetahui lebih dekat budaya orang-orang Mongolia. Kalau kita menerapkan pola pengelolaan obyek wisata seperti di Mongolia, maka inilah bentuk pemberdayaan ekonomi rakyat sesungguhnya. Karena rakyat menikmati langsung pembangunan bidang pariwisata, maka mereka akan menjaga keindahan alam wisata yang ada. Dengan kiat itu, maka turis yang ingin menikmati keindahan alam akan lebih lama tinggal di obyek wisata tersebut. Jika kiat ini yang diterapkan di NTT, otomatis eco turism (eko wisata) akan terjaga. Eco turism itu hanya akan ada kalau kita mampu mengikutsertakan rakyat dalam pengelolaannya sekaligus mereka ikut merasakan manfaatnya. Menyiapkan masyarakat sangat penting dilakukan pemerintah di daerah ini. Konsep eco turism dalam pengembangan sektor pariwisata dengan melibatkan masyarakat secara aktif tidak membutuhkan modal besar dibandingkan membangun hotel bintang lima. Keindahan alam yang masih asli yang dicari oleh turis-turis asing. Mereka tidak mencari keramaian di supermarket, tidak mencari hiburan dan fasilitas yang mewah di sebuah hotel berbintang. Inilah yang harus disiapkan orang NTT bagi para turis. Saya sudah minta kepada Bapak Gubernur NTT memberi kesempatan kepada saya untuk melakukan penelitian. Dari penelitian ini kita akan mengambil kesimpulan bersama. (oni/yel)

Berawal dari Bengkel Las

SEDERHANA. Itulah kesan pertama ketika bertemu dengan Joseph Dharmabrata. Dia adalah Komisaris Utama PT Mandala Airlines, salah satu perusahaan penerbangan swasta nasional. Dari penampilan dan tutur katanya, Joseph, merupakan tipe pemimpin yang low profile. Cara ia berpakaian juga tidak mencerminkan sebagai seorang komisaris utama pada perusahaan penerbangan.
Mengenakan baju bunga biru dan celana panjang warna krem, suami dari Fransiska Setiati, ini mudah diajak bicara. Meski hanya tiga hari berada di NTT (Kupang dan Alor), tapi ia cukup tahu tentang potensi yang terkandung di perut bumi Flobamorata. Ia begitu bersemangat ketika ditanya tentang kesannya selama berada di NTT. "Saya melihat alam di NTT sangat indah. Keindahan itu saya lihat dan nikmati ketika berada di salah satu obyek wisata di Alor. Obyek wisata di Jawatoda Watu di Kecamatan Pantar Timur, Pulau Pantar yang dikelola sejak tahun 2006 oleh Mr. Gill, seorang warga Perancis," tutur Joseph Dharmabrata, saat bincang-bincang dengan Pos Kupang di lantai tiga kantor pusat PT TransNusa Air Services-Kupang, Senin (10/8/2009).
Didamping istrinya, Fransiska Setiati, Joseph menceritakan perjalanan kariernya sejak tahun 1968. Ketika mengambil keputusan untuk terjun ke dunia bisnis, tak sedikitpun keraguan yang ada dalam alam pikirannya. Visinya begitu kuat sehingga sejak terjun ke dunia bisnis tahun 1968, Joseph hampir tidak terlalu banyak mengalami kesulitan. Perjalanan karier saya sepertinya sudah diatur. Saya tidak punya perencanaan sebagaimana umumnya dilakukan oleh pengusaha sukses lainnya. Bisnis saya berawal dari usaha bengkel las. Las pagar, pintu halaman rumah dan kursi. Usaha bengkel las itu ditekuni Joseph sejak tahun 1968.
Joseph menyadari usahanya berkembang karena saat itu persaingan di bisnis bengkel las belum ketat. Karena orang yang membuka usaha bengkel las masih kurang. Ini mungkin karena saat itu orang melihat usaha bengkel las tidak punya prospek. Joseph membuka usaha bengkel las karena latar belakangan pendidikannya sarjana teknik mesin. Ia meraih gelar sarjana teknik mesin dari Universitas Trisakti Jakarta tahun 1968.
Pada tahun 1972, Joseph mendirikan perseroan terbatas, namanya PT Dranako. Perusahaan ini bergerak di bisnis jasa konstruksi. Bisnis utama perusahaan ini bidang instalasi minyak dan gas bumi (migas). Melalui PT Dranako, Joseph ekspansi ke bidang enginering dan pengadaan logistik atau peralatan untuk instalasi migas yang dikelola Pertamina. Sampai sekarang perusahan itu masih jalan, tetapi tidak lagi mengerjakan konstruksi. Lebih menekuni bidang enginering, pengadaan peralatan Pertamina dan sektor finansial.
Setelah lama menekuni usaha jasa konstruksi dengan bisnis utama instalasi migas, kini PT Dranako lebih berkecimpung di bisnis enginering dan pengadaan peralatan Pertamina. Lalu, membidik usaha pendanaan, investasi di sektor finansial. Membuka usaha ini karena memang dimungkinkan oleh undang-undang. Pada tahun 2007, Joseph terjun ke bisnis jasa transportasi udara dengan bendera usaha PT Mandala Airlines.
Cita-cita saya sejak kecil mau mandiri. Visi saya untuk mewujudkan impian itu begitu kuat. Untuk mewujudkan suatu impian, seseorang harus punya visi yang kuat. Visi sangat penting bagi seseorang. Yang saya lihat sekarang ini seperti petani di Alor, tidak ada visi untuk meningkatkan produksi pertanian atau komoditi yang diusahakannya. Petani kita cepat puas dengan apa yang sudah dihasilkan tanpa memikirkan ke depannya bagaimana.
Pengagum Warren Buffet, pemimpin perusahaan investasi Berkshire Hatteway ini menuturkan, visi itu menggambarkan life style (gaya hidup) seseorang yang berbeda. Kalau boleh saya memberi saran, Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) NTT harus menggambarkan profil keluarga NTT di tahun 2015. Kalau hanya cerita saja, mungkin orang tidak percaya. Tetapi, kalau kita buat audio visual tentang profil keluarga petani NTT, maka orang akan percaya. Melalui audio visual tentang cara hidup seseorang, masyarakat diharapkan mendapat impian akan masa depannya yang lebih baik.
Mungkin salah satu model penyampaian visi adalah melalui audio visual tentang profil keluarga NTT ke depannya. Tidak usah yang muluk-muluk, tapi yang realistis saja. Tetapi, kalau orang tidak punya visi atau tujuan akhir dari apa yang dia lakukan, maka apapun yang dilakukan tidak akan terwujud. Satu pertanyaan kunci yang selalu dilontarkan masyarakat, kalau saya berubah, saya dapat apa. Kalau kita omong saja, masyarakat tidak mungkin merekam semuanya. Jika kita sampaikan melalui audio visual yang menarik, masyarakat akan lebih cepat mengerti dan mereka tentu ingin cepat berubah.
Saya menyadari meski berpedoman pada visi saya yang begitu kuat, tetapi keberhasilan yang saya raih dalam menjalankan bisnis tidak terlepas dari campur tangan Tuhan. Ya, sebagai insan beriman, kita tentu harus mendekatkan diri kepada Tuhan. Saya juga berhasil dalam dunia usaha, karena bapa saya seorang pengusaha kosmetik yang cukup berhasil di Malang, Jawa Timur. Saya tidak meneruskan usaha orangtua karena saya ingin lebih besar dari yang diusahakan oleh orangtua saya. Di situlah visi saya. Itulah impian saya ketika saya membuka usaha bengkel las.
Pada tahun 2000 sampai 2003, Joseph dipercayakan oleh Bambang Trihatmodjo (Bambang Tri), pemilik Bimintara Citra (Bimantara Grup), untuk menangani Bimantara Citra. Saya diminta Bambang Tri mengubah bidang usaha Bimantara Citra yang mencakup 26 perusahaan.
"Ya, kebetulan saya kenal dengan Bambang Tri. Lalu, mereka minta saya untuk menangani manajemen Bimantara Grup. Saya diberi waktu tiga tahun untuk mengubah bidang usaha Bimantara Grup. Itu saya bisa lakukan sehingga Bimantara Grup tidak hanya fokus menangani proyek-proyek, tapi juga merambah bidang logistik, telekomunikasi dan transportasi. Selama tiga tahun (2000 - 2003) itu saya menjadi Dirut Bimantara Citra. Ini memperkaya pengalaman saya menangani bisnis," ujar putra pertama dari tiga bersaudara itu.
Bimantara adalah perusahaan yang kinerja keuangannya sehat. Jadi, saya tidak mengubah perusahaan yang tidak sehat menjadi sehat. Yang saya lakukan hanya mengubah bidang usahanya. Yang sebelumnya lebih fokus pada proyek, sejak 2000 hingga sekarang difokuskan pada sektor retail dan jasa-jasa pelayanan kepada publik, seperti media, logistik, transportasi dan telekomunikasi. Kebetulan recovery krisis tahun 1997 di industri-industri tersebut sangat cepat. Kondisi itu menyebabkan nilai Bimantara meningkat dengan cepat pula. Selama saya menangani Bimantara, tidak ada kiat khusus, tapi saya memilih fokus pada bidang usaha yang tepat. (oni/yel)


Biodata

Nama : Ir. Joseph Dharmabrata (putra pertama dari tiga bersaudara)
Tempat/Tgl Lahir : Malang,Jawa Timur, 17 November 1941
Istri : Fransiska Setiati
Anak : 1. Elisabeth Dharmabrata (sudah nikah dan kini menetap di Singapura)
2. Fransiskus Dharmabrata (tingggal di Jakarta)
Ayah : Vidia Dharmabrata (pengusaha kosmetik)
Ibu : Tien Lestari
Pendidikan : - S-1 Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Trisakti-Jakarta tahun 1968
- SMA St. Albertus-Dempo Malang 1960
- SMP St. Jusuf Malang tahun 1957
- SD Santa Maria-Malang tahun 1954.
Organisasi : Selama mahasiswa aktif di PMKRI

Pos Kupang Minggu 20 September 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda