Jeritan Nurani yang Terkoyak

Cerpen Karoll Tefa


NAMAKU Bentho. Umurku 21 tahun, bukan bulan, minggu, hari apalagi. Perawakanku tinggi, jangkung, manis, putih, perkasa dan rada-rada seksi. Tak ayal, cewek-cewek pun banyak yang lengket kayak perangko; sudah tempel, susah dilepas. Sekali mata kiri ditekan, dua-tiga cewek jatuh dalam pelukan. Banyak cewek alias playboy gitu loch. . .!!


Di kampus aku adalah jagoan sehingga anak-anak kampus tahu dan kenal siapa itu Bentho. Bahkan di seantero kotaku anak-anak muda tahu, kenal, enggan dan takut pada Bentho. Mungkin mereka yang sudah buta matanya, tuli telinganya dan mati raga dan rasanya yang tidak mengenal siapa itu Bentho.

Tapi itu dulu. Dulu sekali. Kini aku sadar. Aku tahu dan sadar dengan sepenuh jiwa, raga dan rasaku bahwa ternyata aku terlalu angkuh, sombong, gaya, belagu, gara-gara, gokil, over acting dan semua label serupa yang patut disematkan pada diriku. Aku tahu itu. Tapi aku harus bagaimana? Haruskah aku lari ke laut sembari mengubur unek-unek masa lalu itu di ujung samudera yang tak berujung?

Atau haruskah aku memanjat gunung dan titipkan semuanya pada sang awan untuk digantungkan pada bibir cakrawala itu? Tidak. Itu tidaklah mungkin. Bagiku semua yang ada padaku adalah kado termanis dari sang empunya hidup.

Kadang aku berpikir Mungkinkah aku punya kelainan yang tidak ada pada diri orang lain?” Di saat teman-temanku berceritera tentang rasa takut, tentang rasa cemas, tantang rasa khawatir, tentang rasa gugup mereka pada kehidupan ini dan segalanya yang patut ditakuti aku lantas bertanya pada diriku: Apa itu ketakutan?”

Karena toh aku sendiri tak pernah mengalami ketakutan itu seumur hidupku, dan memang aku tak pernah merasa takut pada kehidupan ini, pada kematian yang sering terjadi pada orang lain, apalagi takut pada Tuhan; Tuhan yang tak kelihatan itu. Tapi kutahu Tuhanlah yang menghadiahkan hidup ini padaku yang kurasa sebagai anugerah paling indah buatku.

Dengan air mata, ingin kuukir dalam catatan sejarah hidupku tentang sosok sang ayah yang adalah hantu bagiku dan senantiasa hadir dalam mimpi-mimpiku, mengumbar rasa benci, kecewa dan marah dalam diriku pada dia. Tak tahu kenapa.

Tapi setiap kulukis wajah ayahanda dalam benakku, semacam ada api yang berkobar dalam diriku, membakar darahku dan sekonyong- konyong memacu adrenalinku yang lantas membuatku sakit kepayang jauh di lubuk hatiku yang terdalam. Hatiku menjerit dan menangis. Air mataku mengucur di sudut-sudut mataku. Kalau sudah begitu aku seperti banci, pengecut, pecundang.

Kadang kucoba menghapus noktah-noktah hitam itu dari diriku dan berusaha mencintai, menyayangi, dan mengakrabi ayah yang telah melahirkan, merawat dan membesarkanku tapi tetap tidak bisa. Bila di dekat ayah aku gemetar, mulut seakan terkatup rapat enggan bersuara, nyali menciut, tegang, kendati ayah sering membuat suasana rileks dan penuh canda-tawa. Aku tak tahu kenapa begini, padahal dia adalah ayahku.

Mungkinkah ini yang dinamakan ketakutan? Ya. Pasti.... tak salah lagi. Inilah arti sebuah ketakutan. Rasa takut yang sering diceriterakan teman-temanku di rumah kontrakan. Rasa takut yang sering membuat teman-temanku tidak aman. Rasa takut yang sering membuatku bertanya-tanya Apa itu ketakutan? Barangkali Tuhan ingin agar aku pun tahu apa itu ketakutan. . . .tapi Tuhan, ini teramat berat bagiku.

Lebih berat dari pada sebuah batu kilangan diikatkan pada leherku. . . Dia ayahku. Aku mencintai dia. Hatiku seakan hendak melompat sambil meneriakkan yel-yel kebebasan di puncak bukit itu, tapi apalah daya sebuah hati yang terkoyak. Yang ada tinggallah air mata yang terus menderai di setiap lekukan tulang pipiku.

Di sela-sela rintihan nurani yang tercabik, kucoba mengupas lembaran demi lembaran kisah klasik yang telah termakan usia dan lekang oleh hari; saat di mana ayah tak henti-hentinya memukul, menyiksa, menendang, menampar, mengutak-atik tubuh mungilku hingga babak belur tak karuan. Hampir setiap hari. Tubuhku bagai menu tambahan yang wajib dibombardir tiap harinya. Malam- malamku lebih gelap dari sekedar hitam.

Di ujung rotan ada emas. . . Di ujung rotan ada emas.... Demikian barisan kata-kata yang sering terlontar dari mulut ibu tatkala menasihati dan meneguhkanku. Ibu yang selalu menangis di saat aku menangis, ibu yang sakit hati di saat aku terluka, ibu yang selalu cemas di saat malam-malamku dihiasi mimpi-mimpi tentang kegelapan.

Tapi sama saja bagiku. Di ujung rotan hanya ada kegelapan, hitam, ratap, tangis, pedih, perih. Kegelapan itu benar-benar menggiringku ke sudut kegelapan yang tak berakhir.

Tiada bedanya aku dengan orang mati karena memang aku seperti sudah mati dan terhempas jauh di kolong neraka. Air mataku begitu murah tapi sedikitpun tak meluluhkan hati ayah yang kian membatu dan tak jua menyentil rasanya yang telah mati.

Ben. . . mama sedih. Teramat sedih saat melihatmu diperlakukan seperti itu. Mama juga sakit melihatmu menangis karena mama tahu di dalam tubuhmu mengalir darah mama dan hatimu juga adalah hati mama....

Kata-kata ini yang kurasa menyembuhkanku dari luka hati yang mendalam dan membuatku tetap tegar berdiri di atas pijakan rapuh sembari terus menepuk dada menyusuri liku-liku hidup ini.

Tapi aku tak mau menyalahkan ayah karena adanya maka akupun ada. Seandainya dia tidak ada maka aku pasti tidak ada. Tapi karena dia ada maka aku kini boleh ada sebagai diriku sendiri. Aku bersyukur karena sosok sang ayah telah membuatku menjadi pribadi yang kuat dan tangkas mengarungi badai kehidupan ini.

Setajam apa pun kerikil yang terbentang di jalan hidupku, dapat kususuri tiap-tiap tapaknya. Setinggi apa pun puncak hidupku, dapat kudaki tiap-tiap tingkapnya. Aku bangga. Bangga lantaran hari-hariku dapat kubuka satu demi satu. Hanya saja aku ingin bebas. Bebas dari rasa hambar yang masih saja berurat berakar dalam darahku.

Bebas dari kelabu hati yang melekat erat dalam sanubari. Bebas dari rasa benci, amarah dan takut yang masih saja terus mengintip di sudut hati ini.

Aku sayang ayah. Aku rindu cinta ayah. Aku pun ingin berdamai dengan ayah. Tapi hati ini seakan tak ada rasa. Pintu maaf pun enggan terbuka.

Bila di dekat ayah aku ingin seperti ketika berada di dekat ibu. Ibu bagiku seperti malaikat yang menopangku di atas sayap-sayapnya yang hampir patah. Ada kenyamanan. Ada kebahagiaan. Ada kedamaian. Ada ketenangan batin. Ada kebebasan.

Sementara ayah....!! Ayah bagiku adalah hantu yang hadirnya adalah tiada bagiku. Ada kebencian. Ada amarah. Ada kecemasan. Ada ketakutan.

Hasratku hanya bergaung dalam semu kuingin berdamai dengan ayah . Tiada lagi tempat kusandarkan harapanku. Tiada lagi tepian kulabuhkan hasratku. Tiada lagi....

Mungkinkah aku harus lari dari dunia ini, menatap kisahku di batas hari ini...?? Yah.... mungkin aku harus lari.

Pos Kupang Minggu 23 Agustus 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda