Jiwa-jiwa Telanjang

Cerpen Januario Gonzaga

AKU tersentak di alun-alun kota sesepi hari ini. Terus sapaan bising menggerayangiku. Kutermakan sesaknya debu kota. Luntur bulu romaku sedapat lagi menguliti mulus tubuh kekasih jalanku. Kekasih yang tercipta dari lembaran madu sekaligus racun. Kekasih pungutan dari sisa-sisa yang basi.


Beberapa windu mengais lagi anak-anak haram itu. "Dengar sekarang negeri mandiri. Kakimu gayuh sendiri." Dari dulu kosa kata di kota selalu berdiksi kecaman. (Memang demikian kami tercipta dalam lingkungan kota.

Bahasa dan seruan hanyalah ekspresi kepentingan hukum. Yang manusiawi harus mengikuti prinsip hukum. Entahlah, apakah hukum ada untuk manusia, ataukah manusia ada demi hukum).

"Jangan berpantun. Bisa-bisa negerimu yang mati berdiri." Balas anak-anak haram mulai memasuki kota yang lazim dijuluki Kota KASIH. Mereka akan bosan juga bila aku yang beradu menatap. Katanya bengis. Tega dan ruwet bercampur. Hanya membawa nestapa. Kata orang, duka menanti suka, namun dijemput luka.
"Sekemarin, sekini, seesok, tiada lunglai" Otak kiriku ikut berpantun.

"Sesantun, sealim, sekalem, tiada memulai" Mereka pandai, walau tak pernah kenal sekolah.
Meri meneriaki aku bujangan kerajingan.

"Hantu-hantu di kota milik siapa kalau bukan bocah-bocah yang berteriak di balik pintu mikrolet. Bocah-bocah karatan yang menanti akhir pesta buat memungut botol-botol aqua yang dibuang istri dan pembantu kalian?"

Meri belum datang. Citranya saja yang mendulang kalimat itu. Kalimat retrospektif yang baru pertama kudengar di kota ini. Tak seberani itu antek-antekku mengoreksi diriku. Mereka hanya mengangguk dari atas kursi empuk.

Dan aku hanya tahu arti setuju bila kudamaiakan dengan setumpuk lembaran rupiah. Aku menggemulai tepat buat membalas kerumunan mereka.

"Mereka seperti mencicit kegelisahan, berdekut laksana burung pipit." Aku mengulang kutipan dari salah satu ayat dalam Kitab Nasrani. Kupersenjatai konsep-konsep abstrak agar mereka tersinggung lalu menghunus langkah keluar dari kota ini.

Kekasihku. Tiada paradise di sini. Buanglah impianmu mendapatkan keadilan. Itu hanya membuang-buang waktu. Semuanya telah hilang beringsut bersama jiwa-jiwa kami.

"Nafkah untuk kalian bukan di perempatan ini. Bukan pula di hotel-hotel tempat kami ber-RAKERDA. Apalagi di dapur-dapur kami."

Suara Meri masih membuntut sambil mencium sisa oli mobil avansaku. Dari balik kaca spion, ada setandu manusia lewat. Hanya berkarung botol-botol dari merek aqua dan viquam, frutang dan frutamin.

"Pandir betul anak-anak ini. Kami risih dengan kalian". Kesabaranku telah memuncak melihat gerombolan anak-anak yang mencemari kotaku dengan kemelaratan mereka. Dasar degil.
"Tapi di Jawa banyak seperti kami koq. Bahkan di bawah kolong-kolong jembatan."

Mereka membela diri. "Ah.. Persetan. Dasar pemulung jalanan! Kalian tak indah di mata kota ini yang serba KASIH." Aku meledak.

"Tapi mereka di Bali, akur-akur aja. Bahkan disukai bule-bule!" Suara resistensi mereka memanjang terus.

"Itu bukan budaya kita. Kita punya budaya malu. Budaya sopan. Budaya yang beradab."

"Siapakah yang tidak tahu budaya malu? Malu berkerja atau malu mencuri?" Mereka menggerutu menyerupai unta kelaparan.
Meri kekasihku dari tumpukan kesadisan kota.

Kenali sajalah aroma mobilku. Beranjaklah dari rayap-rayapnya membau. Aku pasti menjemputmu dari pencuri-pencuri yang mau memindahkan kotaku ini. Aku mau membawamu dengan baling-baling kometku. Terbang ke dunia lain.

***
Hari ini Meri akan berjualan di pendopo kota. Dia hendak menyambung hidupnya. Katanya mau mandiri dan berdikari.

Kekasih-kekasih gelapnya ikut pula. Mata mereka terjumbai di tangga dasi motif safari yang kukenakan siang itu. Mungkin mereka terkejut dengan kain linen yang berwarna-warni nan elok.

Aku memang pencinta lokal, sebab bagiku perihal lokal merupakan kearifan yang harus dipertahankan. Montok, subur, bergairah, segar, seperti diriku bila difantasikan Meri hari-hari kemarin.

Mungkin kini ada perang. Perang dengan inginku buat berkeloyak di kulit-kulit mereka. Tapi otot-otot dada mereka teramat besar. Menandai kekalahan awal bagiku.

Otot-otot yang membengkak seperti orang yang selalu bekerja keras siang dan malam. Bila kota-ku rapih, apik, bersih, akan kubayar saja gelojoh mereka. Aku tahu tujuan kota. Sejahtera lahir bathin. Masyarakat harus damai.

Sementara Meri dan teman-temannya, mereka hanyalah kumpulan anjing-anjing koreng yang merusak aroma kota setiap hari. Logisnya, mereka adalah manusia-manusia pencari kebrutalan.

Pencuri kedamaian. Subfersif sifat mereka. Dari lubang-lubang kota Meri mulai lagi merayap dini hari ini. Telapaknya memar membiru. Palit benar fitrih wajahnya. Kalau diingat-ingat, dulu aku pun seorang philanthropical*.

Namun itu hanya sifat dasariahku sebelum kugauli urusan kota ini. Aku lebih tertarik pada birokratisasi yang tendang aling-aling dan glamouristik.

Angin sore nanti akan berderak-derak lagi. Beberapa teman Meri memelanai sayap-sayap angin. Hanya di kotaku mereka singgah.
"Sangkamu hatinya saja yang ibah, berahinyapun ibah."

Begitulah suara mereka menembusi telingaku yang teramat peka dengan kalimat-kalimat berbau seks. Pertanda mereka tak mampu menyuruh angin berhenti. Aku telah tahu rahmat akan berganti kutukan.

"Dasar penggarong tubuh warga kota" Suaraku menahan langkah mereka yang semakin cepat.

"Jangan salah, berikan botol-botol di sampah dapurmu. Cepat habiskan pesta porakmu. Kami mau membungkus botol-botol aqua lalu pergi. Atau kutulari saja penyakit-penyakit kelamin ini di kotamu?" Mereka menggelegar. Suara gadis-gadis belasan tahun meledak. Lengkingan tenornya seperti Christopher Abimayu saat bernyanyi. Merdu menggairahkan.

"Akan kami lukai kotamu hingga busuk bernanak" Semakin serius mereka mengancam.

"Kalian tak perlu tahu obat apa di kota ini" Balasku tegas.

"Penipu ulung. Kami belum sembuh-sembuh juga. Obatnya apa selain menabur sperma-sperma di jalanan? Memamerkan lemak-lemak perut kalian yang bersimbah kerakusan. Menggeletakkan uang di brangkas-brangkas bank. Hanya untuk menggali lubang buat peti-peti harta? (Semoga tidak untuk menguburkan diri). Itu kan resep kalian buat meniduri kami.

Mengerayangi tubuh kami. Sangkamu kami tidur dengan proyek-proyek besarmu yang akan melambungkan nama besarmu? Pembangunan tak pernah tuntas, lalu beradu nasib di ruang contreng.

Di mana hasilnya? Uangnya mengalir buat menggadai sebuah peti mati sajakah?. Mengibuli kami dengan pesta porak lalu lupa memberitahukan kepada isteri kalian untuk membuang bungkusan botol aqua di kotak sampah. Dari mana kami harus makan kalau botol aqua saja dipakai untuk menghiasi dapurmu yang berlantai ubin itu?

Dengarlah wahai anak kota. Nafas di hidung kota ini mulai tersumbat. Siap-siaplah menggunakan mulutmu. Udara inipun semakin mahal harganya. Sebab pesta belum selesai juga. Anus-anus telinga pemilik kota ini menggerutu dengan dentuman speaker-speaker aktif.

***
Meri belum terlalu buruk untuk dirayu. Namun mereka sangat berani. Berani membius birahi antek-antek kota. Berani mengendaki orang-orang berdasi. Meniduri mereka, para tokoh panutan.

Entahkah ini analog sebuah kubur yang di labur putih, namun dalamnya penuh tulang belulang?. Mereka terus bercampur. Katanya nafsu itu tak dapat ditunda. Besok saja baru pikir soal dosa, apalagi risiko. Meri dan kawan-kawan mulai membunting hingga melahirkan anak-anak serupa cacing-cacing kepanasan. Anak-anak tanpa selimut daging. Hanya keriput using. Tampak jauh lebih tua dari umur mereka sekarang.

"Tuan-tuan akhirilah pestamu. Cacing-cacing ini anak kalian juga. Atau biarkan mereka makan bersamamu. Mereka adalah anak-anakmu. Anak-anak dari nafsu gombalmu. Nafsu menguntit sisa-sisa tenaga kami. Nafsu mengendus-ngendus aura kami dengan tipu muslihat karena kami bodoh dan lambat berpikir".
Sungguh kasihan tangis Meri. Seketika terbendung air mata darah.

Jiwaku dalam tenda luluh. Sengsara dan galau bak disirami bara-bara api. Aku menelantarkan pemulung-pemulung itu. Mereka mengais di atas selaksa kelaparan. Sementara kami kekenyangan makan. Mereka makan untuk hidup, itupun susah bukan main. Lalu kami hidup untuk makan.

Meri bersama gerombolan manusia compang-camping terus saja menelan-nelan cairan yang hampir kering dari mulut mereka.

Bukan sejam. Bukan sehari. Bukan pula setahun. Tiada nama selain tiada akhir. Kami terus ber-euforia mengagumi dunia dengan berbagai kenikmatan yang namanya pun belum tentu ada adalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Hadir mereka memalukan siapa aku. Jiwa yang kubanggakan kini semakin mengering di antara tamu-tamu pujian. Aku masih sadar tidak hanya jiwaku tanpa zikir. Masih banyak yang kerdil dan membusung jiwanya. Syukurlah ada kesempatan untukku bertanya, entahkah aku membiarkan Meri dan kawan-kawannya menuggu hingga pesta usai, ataukah aku mengajak mereka makan bersama sebagai manusia?

Kuharap ada jawaban sebelum kutemukan jiwaku telah bergelinding di tembok-tembok kekayaan negeri yang mengajarkan surganya dunia. Sebab kelak nanti aku tak mungkin lagi meraja. Kota bisingku akan dicuri pergi. Di hadapan Meri, botol-botol aqua begitu berarti. Lalu untuk kami? Apalah arti jiwa-jiwa terlena yang terkulai ketelanjangan di hadapan kekayaan.


Komunitas Sastra Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui-Kupang

-----------
* Cinta pada sesama manusia
** Rapat Kerja Daerah (RAKERDA)


Pos Kupang Minggu 13 September 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda