Kekompakan di San Jose Idol



POS KUPANG/APOLONIA MATILDE DHIU
BERI DUKUNGAN -- Orang Muda Katolik (OMK) memberi dukungan kepada para finalis San Jose Idol di Aula Blasius, Paroki St. Yosep Naikoten-Kupang, Kamis (24/9/2009).



KAMIS, 24 September 2009, pukul 19.30 Wita, aula St. Blasius, Paroki St. Yosep Naikoten mendadak ramai. Alunan keyboard yang dimainkan Ferdy Nubatonis menghentak langit-langit ruangan los panjang tersebut.

Tepukan tangan dan siulan menggemuruh dari ratusan penonton, baik orang tua, remaja maupun anak-anak, menyambut kehadiran calon Idol. Ya, 12 finalis yang akan mengekspresikan segenap kemampuan, adu kemampuan olah vokal untuk menjadi sang jawara.

Saat yang dinanti-nantikan pun tiba. Sebanyak 12 peserta parade menuju panggung utama yang dibuat ala kadarnya oleh para sponsor, namun tetap menampilkan kesemarakan.

Mereka maju sambil melantunkan 'Menuju Puncak' yang dibagi dalam beberapa suara. Parade ini cukup menggugah para penonton yang rata-rata adalah para pendukung dari masing-masing wilayah dan stasi di Paroki St. Yosep Naikoten Kupang.

Usai parade, presenter langsung memperkenalkan satu persatu finalis. Tampil sebagi pembuka adalah Antonius Majid dari Wilayah Sembilan dengan lagu wajib You Rise Me up' dengan nada dasar E=Do, dan lagu pilihan Bunda Maria.

Peserta pertama ini mampu menghipnotis para undangan, terutama para pendukung dari Wilayah Sembilan. Suasana hening ketika peserta pertama membawakan You Rise Me Up dan Bunda Mari.

Usai melantunkan dua lagu ini suasana aula kembali hingar bingar. Mereka memberikan aplaus dan teriakan sebagai wujud dukungan kepada para peserta.

Finalis berikutnya adalah Elisabet Sadipun yang menembangkan Miss and Grace dan lagu pilihan Seperti yang Kau Ingini, dan berturut-turut, Kristianus D Talo, Yovita Nepi, Emanuel Messu, Wiwie Ferney, Marianus Soter Bura, Yuliana Simovera Gurang, Yohanes Ome, Maria Herlina, Hendrik Parera. Para Finalis ini berlomba memberikan yang terbaik kepada juri dan penonton agar bisa menjadi sang Idola.

Tampil sebagai juri, Gabriel Langgu, Sr. Yatie, RVM, dan Andre Masemanna.

Para penonton kemudian diingatkan presenter untuk memberi dukungan dengan mengirim short massage service (SMS) ke nomor 2254 untuk memilih sang Idola dan peserta favorit.

Bagaikan dalam ajang pemilihan Indonesia Idol yang diselenggarakan salah satu televisi swasta, seperti itulah suasana di aula St. Yosep Naikoten. Maklum, setiap peserta berusaha bersaing menampilkan yang terbaik bagi wilayah dan stasinya masing-masing.

Begitupun para pendukung ingin memberikan dukungan penuh kepada para peserta agar tampil meyakinkan juri dan menjadi Idol.

Itulah San Josep Idol yang diselenggarakan oleh Organisasi Muda Katolik (OMK) Paroki St. Yosep Naikoten.

Ketua panitia kegiatan, Gabriel Busa mengatakan, San Josep Idol merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan yang diselenggarakan OMK Paroki St. Yosep Naikoten untuk memeriahkan Bulan Kitab Suci Nasional Tahun 2009.

Menurut Busa, bulan Kitab Suci yang diperingati setiap paroki biasanya jatuh pada bulan September. Kegiatan ini, kata Busa, merupakan perlombaan yang dilakukan antar wilayah dan stasi. Di Paroki St. Yosep terdapat 19 wilayah dan dua stasi, yakni Labat dan Batu Plat.

Busa mengatakan, selama ini kegiatan-kegiatan dilakukan OMK di wilayah dan stasi masing-masing. Melalui ajang tersebut kaum muda Katolik diajak untuk tidak saja mengkespresikan bakat dan minat tetapi juga menjalin keakraban, persatuan dan kebersamaan di antara para pemuda.

"Yah, hitung-hitung refresing dan ajang mengekspresikan bakat dan minat. San Josep Idol menjadi wadah bagi para pemuda menyalurkan bakat dan minat. Banyak anak-anak muda katolik yang berpotensi, tetapi tidak tahu kemana harus menyalurkanya," kata Busa.

Sementara itu, beberapa remaja yang datang sebagai pendukung dari 12 finalis, yakni Benya, Servan, Elsa dan Yovita, mengatakan, memuji para penyelenggara.

Menurut mereka, San Josep Idol merupakan kegiatan positif yang bisa mendorong para pemuda untuk bangkit dan mengekspersikan apa yang dimiliki.

"Yah, dengan ajang seperti ini membuat anak muda terpacu untuk menampilkan prestasi. Walau terlihat kecil karena hanya dalam skala paroki, tetapi minimal bisa ada wadah penyaluran. Dari pada kita ke diskotik atau tempat-tempat hiburan lainnya yang identik dengan hal-hal negaitif, mendingan ke gereja," kata para remaja ini tegas.

Benya misalnya menyorotkan jika kegiatan-kegiatan ini juga ajang gaul bagi para remaja dan anak muda. "Siapa bilang mau gaul haru jalan-jalan ke mall, pakai pakaian dan aksesoris yang lagi ngetrend, atau harus dalam komunitas tertentu yang selalu menggunakan komunikasi dengan bahasa gaul.

Ke gereja dan ikut kegiatan-kegiatan seperti ini kan juga gaul," kata Benya, yang mengaku sebagai mahasiswa ini. (nia)

Pos Kupang Minggu 27 September 2009, halaman 13

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda