Lalai

Cerita Anak Oleh Petrus Y. Wasa

MALAM itu banyak tugas yang harus diselesaikan Fany di meja belajarnya. Selain menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah yang rutin, dia juga harus menyelesaikan tugas dari guru mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Dia diharuskan menceritakan kembali pengalaman yang paling berkesan selama liburan semester yang baru lalu. Karena itu ketika diingatkan mama untuk makan malam bersama, Fany lebih memilih untuk menyelesaikan tugasnya dulu, baru dia makan.

Ketika tugasnya sudah selesai dikerjakan, Fany beranjak menuju kamar makan. Baru saja hendak membuka tudung saji, tiba-tiba, pet. Listrik padam.

"Makanya kalau disuruh makan, ya makan dulu. Mana enak makan gelap-gelap begini," kata mama sambil memberikan sebatang lilin yang bernyala kepada Fany. Fany lalu menaruhnya di atas tatakan yang ada dan meletakkannya di atas meja makan.

Baru satu suap menelan makanan di mulutnya, Fany merasakan kalau sayur buatan mama kurang garam. Fany maklum kalau masakan mama selalu dirasakan kurang garam karena mama memang penderita darah tinggi. Karena itu dia selalu membubuhkan garam sendiri setelah sayur tersebut disajikan di meja makan.

Sayangnya, persediaan garam di meja habis. Karena itu Fany harus mengambilnya lagi di dapur. Sambil membawa lilin Fany menuju dapur. Dilihatnya masih terdapat sisa lilin yang diletakkan pada balok penyanggah dinding dapur. Lilin itu pun dinyalakannya.

Dengan demikian nanti kalau hendak ke dapur lagi untuk menyimpan makanan dan mencuci piring dia tidak perlu repot membawa lilin lagi, pikir Fany. Usai mengambil garam dia kembali ke kamar makan untuk melanjutkan makan malamnya yang tertunda.

Usai makan Fany menyimpan makanan di lemari makan di dapur, mencuci piring serta peralatan makan lainnya. Karena belum mengantuk, maka Fany memutuskan untuk sekadar membaca bahan pelajaran yang akan dipelajari pada keesokan harinya, meski hanya diterangi cahaya lilin. Ketika sudah mulai mengantuk, Fany menuju kamarnya sambil membawa lilin. Lilin itu baru dimatikan setelah dia tidur.
* * *
Mama yang baru selesai berdoa di kamarnya hendak ke kamar kecil sebelum beranjak tidur. Mama heran melihat ruang dapur masih terang, sementara Fany sudah tidak berada di meja belajarnya. Mama mengira Fany masih menyimpan sesuatu di dapur. Mama bergegas memeriksa ke dapur.

Ternyata tidak ada siapa-siapa di sana. Sementara lilin bernyala yang diletakkan pada balok tersebut sudah mencair hingga pada bagian dasarnya dan nyaris membakar balok penyanggah dinding dapur yang terbuat dari triplek tersebut.

Dengan sigap mama segera mematikan lilin tersebut. Lilin itu rupanya dinyalakan Fany saat dia berurusan di dapur tadi, pikir mama. Karena sibuk dengan bahan pelajarannya, Fany lupa mematikan lilin tersebut dan langsung ke kamarnya untuk tidur. Dia hanya mematikan lilin di kamar makan yang dibawa ke kamarnya.

Jika saja mama langsung tidur, maka tidak dapat dibayangkan apa yang akan terjadi dengan rumah ini pada keesokan harinya. Usai mematikan lilin, mama kembali ke kamarnya untuk tidur. Namun sebelumnya mama mengucapkan syukur kepada Tuhan. Karena atas berkat dan perlindungannya, maka rumah tersebut terhindarkan dari bahaya kebakaran.

* * *
Keesokan paginya mama langsung memanggil Fany dan menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi pada malam harinya.

"Mama tidak habis pikir, Fan. Kalau saja sampai api lilin itu menyambar dinding dapur. Tentu dalam sekejap rumah ini akan ludes terbakar karena semua dindingnya terbuat dari triplek.
Mama juga tidak habis pikir harus mengambil dari mana uang untuk membangun kembali rumah ini. Karena rumah ini rumah kontrakan. Sementara uang kontrakannya saja belum lunas dibayar," tutur mama.

"Maafkan Fany, Ma. Tadi malam Fany yang menyalakan lilin di dapur itu. Tetapi karena Fany terlalu sibuk dengan pelajaran sehingga lupa mematikan lilin itu. Maafkan kelalaian Fany itu, Ma," pinta Fany. Mama segera merangkul bahu Fany dan mengusap-usap kepalanya dengan lembut.

"Mama senang, kamu berani untuk jujur mengakui kelalaianmu, nak. Tetapi hendaknya kelalaian itu jangan sampai terulang kembali di masa yang akan datang. Karena hal itu akan mendatangkan marabahaya bagi diri kita sendiri," kata mama.
"Fany berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, ma. Karena Fany tidak ingin menyusahkan hati mama," janji Fany.

"Ke depan mama harapkan agar seisi rumah ini lebih waspada. Jika menyalahkan lilin, letakkan lilin tersebut di atas tatakan baru diletakkan di atas meja atau tempat lainnya. Jangan sekali-kali meletakkan lilin langsung pada balok atau bagian lain rumah yang mudah terbakar. Dan satu hal yang lebih penting lagi adalah jangan lupa untuk mematikan lilin tersebut jika kita hendak tidur atau meninggalkan rumah dalam waktu yang lama," pesan mama. Fany mengangguk sambil memeluk mamanya erat. (*)

Pos Kupang Minggu 23 Agutus 2009, halaman 12

1 komentar:

info tentang garam kat sini - Makan Kurang Garam dan sini - Garam Boleh Menyebabkan Kanser

5 September 2009 19.25  

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda