Dokter Valens yang terhormat,

Selamat siang, salam sejahtera dan salam hormat selalu. Apa kabar dokter? Semoga semua baik adanya. Saya Donny, pemuda lajang 26 tahun, pendidikan D3, dan sudah bekerja pada sebuah perusahaan pelayanan umum di kota ini.

Karena sudah bekerja dan hidup mulai stabil, maka langkah berikutnya adalah berpikir untuk menikah. Apa lagi teman-teman saya yang seumur dengan saya, ada yang sudah punya anak. Persoalan yang saya hadapi adalah menyangakut Penni.

Gadis ini memang sudah pacaran dengan saya cukup lama, kurang lebih satu setengah tahun, tapi rasanya saya belum bisa pastikan untuk mendapatkan cintanya.

Hal ini membuat cita-cita jadi kabur. Pada awalnya, saya pikir Penni bukanlah gadis yang sulit, karena saya juga sudah mengenalnya ketika masih sama-sama kuliah. Hanya saja dia memang mempunyai syarat yang agak sulit saya penuhi.

Begini ceritanya, saya ini sejak SMP sudah biasa merokok dan sampai sekarang orangtua saya pun tidak repot dengan saya soal ini.

Tapi ketika saya pacaran serius dengan Penni, dia memberi syarat, kami bisa nikah kalau saya berhenti merokok. Awalnya saya pikir dia bercanda, jadi saya tidak terlalu hiraukan, tapi Penni ternyata serius dengan ucapannya itu. Bahkan minggu lalu dia bilang,

"Donny, saya tahu kamu pasti tidak sanggup dengan persyaratan saya, jadi sebaiknya kita bubar saja." Ah, dokter, padahal saya sangat mencintai Penni. Tapi soal berhenti merokok, waduh, saya sulit sekali. Saya kalau tidak merokok berarti tidak bisa kerja.

Apalagi saya sudah sekitar sepuluh tahun ini merokok, mana mungkin bisa berhenti. Sulit, sulit dan sulit. Penni juga pernah bilang :" Itu, si Hendra, dulu perokok, sekarang dia sudah berhenti, dan masih banyak orang lain juga bisa berhenti merokok, mengapa kamu tidak sanggup?"

Saya malah pernah marah sekali saat pertama tahu Penni serius dengan ucapannya itu. Saya sendiri memang termasuk sulit lepas rokok dan tuak,untunglah Penni tidak bilang harus lepas tuak juga. Kalau tidak ya biar sudah.

Bubar saja. Jadi saya tulis surat ini untuk menanyakan, apakah saya perlu turuti apa kata Penni? Tapi kalau saya lepas rokok saya sulit konsentrasi kerja, Bagaimana ini? Mohon dokter, tolong jawab surat saya ini. Atas balasannya saya ucapkan terima kasih.
Salam, Donny


Saudara, Donny yang Baik,
Surat Anda hampir senada dengan beberapa surat lain yang menyinggung soal kebiasaan merokok dan kebiasaan menegak minuman keras yang sulit dihilangkan. Bahkan ada cewek yang mempersoalkan kekasihnya yang sulit menghilangkan kebiasaan minum sampai mabuk.

Menurut saya, siapa saja yang sudah ketergantungan dengan rokok, (seperti juga Anda yang tidak bisa bekerja kalau tidak merokok) patutlah dikasihani.

Mengapa? Ya, karena orang seperti Anda sudah tidak mampu mengendalikan diri sendiri. Charles Reade pernah mengemukakan dalil sebagai berikut: "Siapa yang menabur tindakan akan menuai kebiasaan. Siapa yang menabur kebiasaan, akan menuai watak. Siapa yang menabur watak, akan menuai nasib".

Kebiasaan yang kita lakukan sehari-hari akhirnya akan menentukan nasib kita sendiri. Yang dimaksudkan di sini bukan hanya nasib spiritual tapi juga keberhasilan atau kegagalan kita sebagai individu.

Selama bertugas sebagai dokter, banyak kali saya memberikan ceramah tentang bahaya merokok. Banyak kali audiens/ peserta mengatakan: "Kami sudah tahu tentang isi ceramah Anda Dokter Valens. Kami juga takut mati, namun yang menjadi masalahnya adalah kami sulit melepas keinginan untuk merokok".

Jadi solusinya bukan menakuti orang dengan mengemukakan berbagai bahaya yang mengancam namun memberikan jalan keluar yang mungkin agar orang yang sudah mengetahui bahaya merokok ini dapat menghilangkan kebiasaannya.

Dalam buku The Seven Habits of Highly Effective People, Stephen Covey mengatakan bahwa kebiasaan adalah faktor yang kuat dalam kehidupan kita. "Karena kebiasaan adalah pola yang konsisten dan sering tidak kita sadari, maka kebiasaan secara terus menerus, setiap hari, menyatakan watak kita dan menghasilkan keadaan efektif (kalau kebiasaan baik) atau keadaan tidak efektif (kalau kebiasaan buruk).

Dr. Archibald D Hart (psikolog) dalam bukunya Habit of the Mind, menulis bahwa ada kebiasaan baik dan ada kebiasaan buruk. Sayang sekali kebiasaan buruk jauh lebih mudah dipungut dari pada kebiasaan baik. D Hart melanjutkan: "Walaupun ibu saya seorang perokok berat, dia selalu menasehati saya bahwa itu kebiasaan yang buruk dan saya dilarang merokok.

Ibu saya meninggal karena kanker paru, sehingga ini mengukuhkan bahwa merokok adalah kebiasaan buruk yang berbahaya. Walaupun demikian , ibu saya tidak pernah berhenti merokok."

Seperti yang dikatakan Penni bahwa ternyata masih ada orang lain mampu melepaskan diri dari ketergantungan itu. Para ahli mengatakan bahwa kebiasaan (buruk) bisa dipelajari dan bisa dilepas.

Selanjutnya dikatakan bahwa sementara sebuah kebiasaan dapat dilepas, maka kebiasaan lainnya mulai terbentuk di atasnya. Dr. Archibald D Hart mengatakan juga bahwa ada tiga prinsip untuk mulai mencoba melakukan perubahan pada kebiasaan (buruk) Anda.

Pertama, tetapkan suatu kebiasaan baru yang akan bersaing dengan kebiasaan (buruk) lama. Contoh setiap kali ingin merokok Anda ganti dengan permen kesukaan Anda. Kedua, menciptakan kebiasaan yang baik memerlukan motivasi yang kuat untuk berubah.

Hanya mempunyai keinginan saja tidak cukup. Selain menyadari akan manfaat dari apa yang dilakukan, harus pula ada tekad untuk berubah.

Ketiga, merupakan hal yang sangat vital untuk tetap termotivasi. Bagaimana cara Anda agar bisa melakukan hal ini? Anda harus mencari dukungan dari orang lain, saudara, keluarga atau sahabat dekat.

Dalam hal ini kalau Anda dapat membujuk Penni untuk bekerja sama sebagai motivator, maka Anda akan merasa lebih mudah untuk memelihara motivasi Anda agar bisa melupakan kebiasaan merokok.

Pesan saya terakhir adalah bahwa Anda harus berusaha agar tidak ada hal lain yang bisa mengganggu motivasi tersebut, seperti ketidaksabaran dan kebosanan.

Anda bisa tetap melindungi motivasi Anda kalau Anda memberi diri Anda waktu untuk berubah (cobalah selama 20 hari pertama). Anda perlu mengambil cara pelari marathon, bukan pelari cepat 100 atau 200 meter.

Karena pelari cepat umumnya bersifat impulsive, sedangkan pelari jarak jauh akan lebih sabar dan tidak tergesa-gesa. Nah, Bila saatnya Anda mampu mengatasi kebiasaan merokok, maka dua keuntungan jelas Anda raih sekaligus yaitu : Anda mampu mengalahkan diri sendiri dan mengalahkan keraguan Penni. Dan di saat itu saya yakin Penni siap dinikahi. Semoga Anda berhasil.
Salam, dr. Valens Sili Tupen, MKM

Pos Kupang Minggu 23 Agutus 2009, halaman 13

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda