Ngorok

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

TERNYATA nama lengkapnya Septicamia Epizoti. Nama panggilannya Nona Mia. Ternyata mirip benar dengan penyakit ngorok yang lagi heboh di Ende dan Nagekeo, tepatnya di Wolawae Kabupataen Nagekeo, dan Maukaro Kabupaten Ende.

"Apa salah bunda mengandung ya? Kok bisa-bisanya anak secantik dan semulus Nona Mia, nama lengkapnya demikian mengerikan, Septicamia Epizoti!" Rara mulai komentar.

"Maklumlah! Bapaknya peternak sapi, sedangkan ibunya anak saudagar sapi, terus bapa dan ibunya itu, konon ketemu jodohnya di Maukaro atau Wolowae tahun-tahun dulu ketika ada wabah penyakit ngorok, he he he..." sambung Jaki sambil tertawa lucu.

"Oh, aku tahu! Pada suatu ketika datanglah dokter hewan ke sana. Spontan dokter terkejut melihat begitu banyak sapi dan kerbu tewas mengenaskan. Oh, Septichaemia epizooticae demikian kata dokter. Kontan direkam ibunya Nona Mia yang lagi hamil. Ya, demi kenang-kenangan, terjadilah nama manis Septicamia Epizoti.

Duuuh si Nona Ngorok! Kapan-kapan kita nguping Nona Mia tidur ya, bunyinya pasti sama dengan sapi ngorok! Halo Nona Septicamia eh Nona Mia?" Rara terkejut bukan main melihat Nona Mia sudah ada di belakangnya.
***
"Nama lengkap saya sangat merana ya? Itu nama yang diberikan kedua orang tua saya yang ketika itu sangat menderita lahir batin karena kehilangan sapi satu kandang. Mereka memberi nama itu pada saya karena prihatin dengan nasib petani peternak lain juga yang tak berdaya dan hanya bisa menanti tangan-tangan yang datang menolong. Kalau tiada yang menolong, semuanya mati sia-sia. Itu pada jaman dulu... ternyata sakit hati para peternak petani sampai juga pada hari ini... dan entah sampai kapan lagi," Nona Mia menampilkan wajah kaku bin kaku. "Kamu calon jadi Senayan bukan? Mestinya tanggap dan segera ambil langkah strategis untuk menolong, bukan mentertawakan nama septicamia!"

"Maaf Nona Septicamia eh Nona Mia, aku hanya mau tanya soal ngorok!"

"Oh, kamu memang perlu tahu soal ngorok," Benza di belakang Nona Mia.

"Soal ngorok, Nelson Kaligis melalui dunia maya antara lain menulis begini, 'Saat saya melihat televisi aku terinspirasi membuat posting ini. Bagaimana bisa seorang wakil rakyat enaknya tidur tanpa melakukan kewajibannya. Mendapat gaji dari rakyat tapi dengan nyantainya tidur (ngorok lagi!). Kok bisa ya, berita yang melibatkan wakil rakyat ini lolos sebagai headline di media cetak dan herannya juga, pelakunya kok tak diburu-buru peliput TV dan juga dikejar-kejar live report radio? Wah, apa semua wartawan lagi konsentrasi meliput bom ya? Yang beginian ini mintanya diapain ya? Haduh! kalo begini bagaimana Indonesia bisa maju!" Demikian Benza berkisah soal ngorok.

"Enaknya dibawa ke Wolowae Nagekeo! Boleh juga dibawa ke Maukaro Ende!" Kata Jaki. "Untuk ikut Lomba Ngorok!"

"Ide bagus!" sambung Nona Mia. "Kamu ingat kan, SBY pernah marah langsung dari mimbar DPR terhormat gara-gara ada seseorang yang namanya tertera jelas di koran-koran lagi asyik ngorok! Kalau kamu lupa, silahkan klik google, ketik ngorok dan semua hal yang mau kita cari soal ngorok, muncul dengan sendirinya!" Kata Nona Mia meyakinkan. "Kita cari si tukang ngorok yang sudah sembuh. Tetapi bukan untuk ikut lomba ngorok ya. Itu sangat tidak relevan!"

"Untuk apa Yang Bersangkutan alias YBS kita ajak ke padang sepi Wolowae? Lebih menarik mengajak nya membahas makna namamu Nona Septicamia," Rara mulai berupaya mengambil hati Nona Mia.
***
Gara-gara ngorok puluhan ternak sapi, kerbau, kambing, babi, dan kuda milik warga di Kecamatan Maukaro, Kabupaten Ende, mati mendadak. Penyakit itu diduga akibat penularan dari kasus yang terjadi di Wolowae, Kabupaten Nagekeo, Flores, yang sudah terjangkit lebih dulu sejak bulan Juni.

Kawasan Wolowae memang berbatasan langsung dengan Maukaro. Setelah lima ekor sapi mati mendadak pada bulan Juni, kemudian beruntun hingga yang terakhir Agustus.

"Penyakit sapi ngorok?" Rara pura-pura terbelalak. "Aduh, nasib teman-temanku petani peternak di sana bagaimana? Hidup mereka tergantung pada sapi, kuda, kerbau, dan penyakit tengah mengancam di depan hidung/ Apa yang bisa kulakukan?"

"Apa gejala-gejalanya?" Jaki juga pura-pura terkejut bukan main.
"Penyakit ngorok atau Septichaemia epizooticae disingkat SE. Sapi mengalami demam tinggi, batuk, dari mulut hewan mengeluarkan banyak air liur, kepala dan leher bengkak, susah bernafas, serta mengeluarkan suara ngorok cukup keras," kata Benza.

"Menyedihkan sekali melihat sapi-sapi mati sia-sia! Lebih sedih lagi melihat pemilik peternak kecil-kecilan yang hampir kehilangan segalanya gara-gara sapi ngorok"
"Sudah berapa ekor yang mati?"

"Selama ini kamu ada dimana? Sibuk apa sampai tidak tahu sama sekali berita menyedihkan ini?" Tanya Nona Mia. "Kamu belum tahu ya? Total ternak yang mati di Maukaro sebanyak 39 ekor. Sapi 21 ekor, kerbau 3 ekor, kambing seekor, babi 9 ekor, dan kuda 5 ekor. Info koran terakhir di Wolowae, sapi 49 ekor, kerbau 21 ekor, seekor kuda, dan 9 babi. Bahkan sampai hari ini jumlah yang mati mungkin di atas seratus ekor. Bayangkan!"

"Aduh, kenapa bisa jadi begini?"
"Sebenarnya sudah rutin tiap tahun ada saja sapi dan sejenisnya mati karena ngorok. Tetapi seperti biasanyalah...penyakit ini kambuh lagi. Jumlah ternak sapi di Wolowae kini sebanyak 3.443 ekor, sedangkan kerbau 739 ekor. Sapi di Ende 6.900 ekor, dan kerbau 2.700 ekor. Bayangkan kalau penyakit ini meluas?" Benza tampak prihatin.

***
"Kalau begitu kita segera buat undangan pertemuan. Mudah-mudahan pesertanya bisa langsung memberi tip cara-cara mengatasi ngorok pada sapi," kata Benza.
"Konon, tema pertemuannya septicemia epizoti, moderatornya Nona Mia he he indah sekali...Konon, yang pasti kehadiran senter Kaligis dan SBY dalam tanda petik menjadi lebih berarti kalau konon, si Nona Mia dalam tanda petik bisa jadi topik di senayan tepat pada hari pertama Jaki dan Rara mulai berkantor di sana!" *

Pos Kupang Minggu 23 Agustus 2009, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda