foto ist
Aneka makanan lokal khas NTT di pamerkan dalam acara seminar tentang pangan lokal yang diselenggarakan Poltkes Depkes kupang beberapa waktu lalu di aula El Tari. Makanan lokal ternyata memiliki nilai gizi yang baik dan tidak kalan dengan aneka jenis makanan lainnya.


Oleh Vinsen Making, SKM
(Mantan Ketua Umum Jaringan Mahasiswa Kesehatan Kota Kupang-JMK3)

BEBERAPA tahun terakhir ini (di atas tahun sembilan puluhan) tersiar kabar ke seantero jagad bahwa masyarakat NTT banyak yang meninggal dunai akibat rawan pangan.

Hasil analisis Badan Bimas Ketahanan Pangan (B2KP) Propinsi NTT tentang risiko rawan pangan di NTT, keadaan sampai dengan 13 Agustus 2008 terdapat tujuh kabupaten yang mengalami tingkat risiko rawan pangan tinggi, yaitu Belu, Lembata, Flores Timur, Manggarai Barat, Sumba Timur, Rote Ndao dan Sumba Barat Daya.
Sebanyak 101 desa risiko rawan pangan, dengan 10.406 kepala keluarga (KK) atau 42.953. Jumlah desa yang memiliki tingkat risiko rawan pangan tinggi terbanyak adalah Sumba Timur dengan 22 desa.


Tahun 2005 ada 190.626 KK atau 828.712 jiwa menderita ketiadaan pangan, tersebar di 1.331 desa yang ada di 15 kabupaten/kota. Pada tahun 2006 dan 2007 juga terjadi hal yang sama, dengan jumlah daerah dan penderita bervariasi.

Dari masalah rawan pangan di atas ternyata melahirkan masalah baru lain yang cukup pelik yaitu gizi buruk. Hingga Maret 2008, terdata 83.068 balita di NTT yang bermasalah. Jumlah balita bermasalah ini terdiri dari balita gizi kurang 70.305 orang, balita gizi buruk tanpa kelainan klinis 12.651 orang dan balita gizi buruk dengan kelainan klinis 106 orang.

Hal ini dijelaskan secara rinci oleh Kasubdin Penanggulangan Kesehatan pada Dinas Kesehatan Propinsi NTT, dr. SM J Koamesah dalam rapat Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat (Bakohumas) Tingkat Propinsi NTT, di aula kantor Dinas Kesehatan Propinsi NTT, PK Sabtu (29/03/2008). Selanjutnya, korban yang telah meninggal dunia akibat masalah ini hingga pertengahan 2008 berjumlah 94 (PK 02/06/2008).

Pertanyaan mendasar adalah mengapa sampai terjadi hal seperti ini? Jawabannya bukan karena mereka benar kekurangan pangan tetapi mereka telah mengabaikan pangan lokal yang ada. Rawan pangan yang dimaksud oleh mereka di sini adalah rawan atau kekurangan beras. Bagaimana tidak kekurangan beras jika padi tidak bisa tumbuh disana?

Data yang diperoleh dari B2KP NTT diketahui, pada Agustus 2008, beras yang masuk ke NTT sebanyak 15.631 ton. Jumlah ini membentuk stok beras selama bulan Agustus sebanyak 201.041 ton. Beras yang bersumber dari produksi lokal hanya 2.297 ton untuk stok pangan bulan itu. Data ini juga memberi gambaran bahwa tingkat konsumsi beras dalam sebulan oleh masyarakat NTT tergolong tinggi.

Kita mengandalkan beras sebagai pangan pokok, sementara produksi beras lokal sangat terbatas. Jadi sangat ironis jika masyarakat tetap bertahan pada beras dengan mengharapkan RASKIN dan suplai dari luar dengan keadaan ekonomi yang serba kekurangan seperti saat ini.

Kembali ke Pangan Lokal
Mengembalikan pangan lokal ke posisinya yang sebenarnya sebagai bahan konsumsi utama masyarakat setempat adalah hal yang kini sedang di upayakan oleh pemerintah dan semua komponennya. Dan, tidak ketinggalan Politeknik Kesehatan Departemen kesehatan (POLTEKKES DEPKES) Kupang.

Lewat jurusan Gizi yang baru berdiri tiga tahun yang lalu, mereka telah melakukan suatu terobosan baru dengan menggelar pameran Gizi dan kesehatan di Aula El Tari pada 8 Agustus 2009 lalu. Semua yang dipamerkan di sana adalah murni pangan lokal yang telah diramu oleh tangan-tangan terampil dari anak-anak gizi, asuhan Ibu Prasetyaning Mangesti, S.Gz (Menangani Gizi Kuliner), Juni Gresilda L. Sine, STP (Menangani teknologi pangan), Maria Helena D. Nita, SST (Ilmu Gizi daur kehidupan) dan Anita Ch Sembiring, S.Gz (Manajemen Konsultasi Gizi).

Menurut penuturan koordinator kegiatan pameran gizi, Lalu Juntra Utama, SST, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian Poltekkes dalam hal ini jurusan gizi terhadap berbagai persoalan yang tengah menimpa wilayah NTT.

Persoalan gizi memang sangat menarik untuk di kaji apalagi jika telah dikaitkan dengan masalah pangan lokal dan rawan pangan. NTT sebenarnya tidak akan mungkin mengalami rawan pangan apabila semua komponen masyarakatnya kembali ke "habitatnya". Dalam hal ini kembali mengkonsumsi pangan lokal.

Disisi lain secara kandungan gizi, jagung (salah satu pangan lokal) memiliki komposisi zat-zat makanan yang lebih komplet dari pada beras. Selain sebagai sumber utama karbohidrat, juga mengandung zat gizi lain seperti energi (150,00kal), protein (1,600g), lemak (0,60g), karbohidrat (11,40g), kalsium (2,00mg), fosfor (47,00mg), serat (0,40g), besi (0,30mg), vitamin A (30,00 RE), vitamin B1 (0.07mg), vitamin B2 (0,04mg), vitamin C (3,00mg), niacin (60mg), dengan kandungan karbohidrat 74,26 g per 100g porsi edible menghasilkan total energi 365 Kcal (USDA, 2008) yang sangat berpotensi sebagai alternatif makanan pokok.

Karena itu, dalam pameranya beberapa waktu silam Jurusan gizi Poltekkes Depkes Kupang, memberikan beberapa resep pengolahan pangan lokal diantaranya sebagai berikut;

Lepet Jagung
Bahan; 20 jagung muda, 1 butir kelapa setengah muda, 200 gr gula pasir, 1 (sendok the (sdt) garam, 1 sdt vanili dan kulit jagung muda untuk pembungkus.
Cara membuat; jagung di parut lalu di tumbuk sampai halus. Masukan kelapa yang sudah di parut, juga gula, garam, dan vanili. Aduk samapi rata. Adonan dibungkus dengan kulit jagung, lalu ikat ujung-ujungnya dengan benang. Dikukus sampai matang, kurang lebih selama 1 jam. Ini untuk tiga buah.
Nilai zat gizi; Energi 230.33 Kalori; protein 4.27 gr; fat 1.38 gr; KH 55.67 gr.

Bolu Singkong
Bahan: 3 butir telur, 1 mangkuk gula pasir, 1 mangkuk singkong, 1/3 mangkuk ditambah 1 smk santan kental, dimasak sampe pecah, vanili dan garam secukupnya.
Cara membuat; singkng di parut sampai halus, kemudian airnya dukurangi, tapi singkongnya tidak boleh terlalu kering. Kocok telur dan gula sampai naik dan kaku. Tambahkan santan dan aduk pelan-pelan. Masukan vanili, garam, dan singkong. Aduk terus dengan hati-hati. Masukan dalam Loyang yang telah diolesi mentega. Bakar seperti bolu biasa. Ini untuk 6 buah.

Nilai zat gizi; Energi 203.08 Kalori; protein 4.28 gr; fat 4.83 gr; KH 36.5 gr.
Beberapa contoh pengolahan dengan nilai gizi yang ada sudah dapat mewakili, betapa kayanya kandungan gizi dalam pangan lokal NTT. Pada intinya ada kemauan untuk mengolah dan mengembangkannya. Jadi sebagaimana penjelasan ibu Prasetyaning Mangesti, S.Gz (pengasuh mata kuliah Gizi Kuliner รป di Poltekkes Kupang), pihaknya akan terus mengembangkan berbagai menu dengan bahan dasar pangan lokal NTT, yang disesuaikan dengan cita rasa dan selera/keinginan dari masyarakat NTT pada umunnya, dengan tidak menghilangkan sedikitpun nilai gizi yang terkandung didalamnnya. Sebab pangan lokal NTT adalah sumber Energi yang besar untuk menopang kehidupan. Apabila kita semua telah menyadari hal ini maka kedepannya tidak akan ada lagi istilah, rawan pangan, dan gizi buruk di bumi flobamor yang tercinta ini.

Dari berbagai contoh di atas bisa dibayangkan bawa kalori dari makanan lokal NTT bisa energi yang baik untuk orang yang mengkonsumsiinya. (*)

Pos Kupang Minggu 30 Agustus 2009, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda