Pekan Olahraga

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda


SEBAGAI ketua kontingen, beliau dipesan oleh pimpinan wilayah, supaya dalam setiap rapat evaluasi, bicara yang enak dan menyejukkan semua atlet. Dua belas cabang olahraga, kempo, taekwondo, karate, tinju, silat, sepakbola, bola voli, sepak takraw, bulu tangkis, tenis meja, tenis lantai, dan cabang atletik. Semua cabang harus mendapat perhatian pimpinan kontingan Benza mendengar semua nasehat bos dengan saksama.

***
Namun Benza lebih paham apa yang mesti disuarakan kepada rombongan. Maklumlah sudah lama Benza malang melintang dalam dunia olahraga, dari tingkat RT, RW, desa, lurah, kecamatan, kabupaten, propinsi ditambah lagi dengan klub-klub berbagai jenis olahraga yang ditanganinya. Dia tahu persis bagaimana menghadapi pimpinan setiap cabang maupun atlet-atletnya.

Sejak zaman dulu, pekan olahraga dan sejenisnya selalu memunculkan masalah. Besar kecilnya, tergantung pada siapa penyebab masalah. Begitu pula tahun ini, saat pekan olahraga -Pordafta- berlangsung di Maumere, sudah diprediksi masalah apa yang bakal membuat masalah. Lebih dari itu, siapa yang menjadi biang keroknya.
***
"Ini kesempatan tunjuk berprestasi dengan sportivitas tinggi. Kesempatan bagi teman-teman untuk tunjukkan bisa bersatu atau tidak," kata Benza si pemimpin kontingen kabupaten.

"Prestasi artinya sanggup meraih hasil optimal dari perjuangan yang telah dilakukan sejak masa persiapan sampai pertandingan berlangsung dan sampai keberhasilan itu dicapai. Saya yakin, Anda semua sanggup. Sportivitas mesti tetap dikedepankan.

Menang dengan jujur, kalah dengan jiwa besar. Kita mesti sanggup menunjukkan bahwa kemenangan lawan adalah bagian dari kebesaran jiwa kita. Prinsip menghargai kelebihan orang lain dan mengakui kekurangan diri sendiri!"

"Pokoknya kalau saya prinsipnya vini, vidi, vici alias aku datang, aku lihat, aku menang!" Jaki pemimpin salah satu cabang olahraga yang dipordaftakan melontarkan suara dengan lantang.

"Itu bagus! Namun tetap dalam nuansa prestasi dan sportivitas!" kata Benza sambil menatap tajam langsung ke dalam bola mata Jaki. Selanjutnya Benza tersenyum kecut saat Jaki membuang muka, tidak sanggup mendapat tatapan langsung. "Bagus Jaki!

Vini, vidi, vici hmmm, semangatmu luar biasa!" Benza menarik nafas untuk tetap sabar. Maklum, dia tahu persis bahwa cabang yang dikomandoi Jaki yang paling mengkhawatirkan. Hasil pantauannya selama ini, memang parah kondisinya. Rekrutmen atlet, persiapan, latihan-latihan, berjalan amburadul. Tetapi Jaki selalu membuat laporan semua beres. Rupanya yang penting bagi Jaki adalah kebutuhan dana yang diajukannya jelas, lengkap, terpenuhi, dan terpakai habis.

Uang masuk kantong, itu prinsip Jaki. Pekan olahraga baginya adalah kesempatan untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Dari awal Benza ingin membatalkan keberadaan Jaki dan cabang olahraganya. Namun rupanya Jaki lebih ahli dalam hal pendekatan langsung ke bos pimpinan wilayah. Anehnya, bos juga percaya begitu saja. Padahal semua orang juga tahu, kalau Jaki yang pegang, sama dengan uang habis dan prestasi gagal total. Ya, apa boleh buat... kalau untuk selamanya prestasi dan sportivitas bersama Jaki akan berjalan maju kena mundur kena.

"Ya, vini vidi vici prinsipmu!" Benza mengangguk-angguk dan tanpa sadar Jaki menggeleng-geleng. "Pegang janjimu ya! Letakkan vini vidi vici pada tempatnya!"

"Ha ha ha," tiba-tiba Rara meledak tertawa. "Vini vidi vici untuk siapa? Untuk dirimu sendiri ya? Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan kamu dapat medali?"

"Aku jamin seratus persen. Medali emas akan kusabet semuanya. Lihat saja nanti!" Jaki berdiri sambil mencakar pinggang. "Kamu mau cari gara-gara ya?" Jaki langsung menyambar kerah baju Rara dan dengan sekali dorong, Rara pun melenggang ke belakang. Waduh! Apa yang terjadi? Dalam kontingen sendiri saja tidak ada sportivitas dan kekeluargaan. Bagaimana mungkin mau meraih prestasi? Vini vidi vici-nya ke mana? Rupanya salah lokus dan keliru fokus, sehingga spirit olahraga jadi kacau balau begini.

***
"Apa yang mau engkau sampaikan Rara?" Benza berusaha dengan cepat mengalihkan persoalan Jaki Rara.

"Aku dengan prinsip kekeluargaan dan sportivitas!" Rara berusaha sabar, meskipun wajahnya memerah menahan marah. "Menang kalah bukan satu-satunya tujuan. Yang penting tanding dengan tetap penuh semangat!"

"Bagus!"

"Tampil dan raih prestasi terbaik, itu prinsipku!" Nona Mia juga meyakinkan segenap anggota kontingen. "Pokoknya jangan buat malu dan jangan malu-maluin. Tentu saja dengan semangat sportivitas dan kekeluargaan!"

"Bagus!"
***

"Bagaimana hasil pertandingannya Jaki?" tanya Nona Mia dan Rara serempak.

"Anggota cabangmu kalah ya? Gugur di babak penyisihan ya? Kalah telak tanpa perlawanan ya? Waduh apa yang terjadi?" tanya Nona Mia bertubi-tubi.

"Vini vidi vici," jawab Jaki sekenanya. "Aku datang, aku lihat, dan aku maunya menang, tetapi nyatanya aku kalah...siapa berani menghukum aku? Kamu?"

"Bagaimana prestasi atletmu Nona Mia?"

"Tampil prima dan masuk babak selanjutnya!"

"Bagaimana cabangmu, Rara!"

"Anti buat malu! Berjuang dengan sportivitas tinggi!"

"Untung ada kamu Rara dan Nona Mia!" Benza memuji. *

Pos Kupang Minggu 27 September 2009, Halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda