Prof. Ascobat Gani, MD, MPH, Dr.PH


Prof. Ascobat Gani, MD, MPH,DrPH


Siapa Bilang NTT Miskin?

HAMPIR setiap kali datang ke NTT, kenalan, sahabat dan rekan kerjanya selalu berkomentar pendek, "Prof Ascobat pulang kampung". Pasalnya bagi Centre Health Economics and Policy Analisys Faculity of Public Health Universitas Indonesia ini, NTT sudah menjadi "rumahnya".

Di sini, di NTT, Prof Ascobat mulai merintis kariernya sebagai dokter muda hingga memutuskan mengambil spesialis kesehatan masyarakat. Karena itu NTT, bagi putera Serambi Mekkah ini, sudah jadi bagian dari perjalanan hidupnya. Bagaimana pandangan Prof.

Ascobat tentang perkembangan pembangunan kesehatan di NTT? Berikut petikan wawancara Pos Kupang denganya, di sela-sela kegiatan road show KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) di daratan Flores, belum lama ini.

Bagaimana pandangan Prof tentang NTT?
Saya menganggap NTT sangat kaya. Keindahan alamny luar biasa. Banyak orang bilang NTT miskin, tapi saya bilang NTT kaya. Sumber daya alam dan sumber daya manusia NTT cukup membanggakan. Banyak orang NTT hebat-hebat di Jakarta sana dan di tempat-tempat lain. Ini membuktikan bahwa orang tua dulu melakukan
investasi anak secara baik meski dengan cara amat sederhana. Mungkin dalam tataran tertentu saja NTT miskin, terutama pengelolaan sumber daya alamnya.

Lihat saja mutiara di Larantuka. NTT punya potensi tapi pengelolanya bukan orang nagi tapi orang asing. Atau hotel di Labuan Bajo mayoritas milik warga asing. Karena itu kadang-kadang amarah saya meledak-ledak kalau ada orang bilang NTT miskin, karena saya sudah merasa sebagai orang NTT.

NTT tidak miskin. Asal penduduk NTT bisa mengelola kekayaan non manusianya. Contohnya orang Flores jual pisang bertruk-truk, mengapa tidak bisa dikelola dengan baik di sini? Akibatnya kita jual pisang tapi kemudian beli kerupuk pisang dengan harga lebih mahal dari satu sisir pisang. Padahal isi dalam kemasan kerupuk pisang tadi hanya setengah sisir saja.

Jika demikian bagaimana Prof?
Kita kadang-kdang dibodohi bahwa pemerintah itu tidak perlu. Itu pandangan tidak benar. Di mana-mana pemerintah itu selalu perlu tapi pemerintahan yang baik. Tugas kita, bantu supaya pemerintah itu baik. Kita ajak supaya pemerintah bisa berpikir melakukan pengembangan manusia. Maaf saya bukan ahli ekonomi. Yang saya lihat di China biasanya pemberian modal untuk usaha.

China biasa memelihara para pengusaha kelas menengah. Sementara kita, yang dipelihara adalah bandit-bandit konglomerat. Setelah dapat uang dari bank, dia kabur. Pemerintah perlu berpikir pro-publik dengan mengembangkan potensi dan sumber daya yang ada. Beri pelatihan keterampilan pengelolaan pasca panen. Datangkan tenaga ahli untuk latih para petani kita.

Persoalan kita jusru ada pada komitmen adakah keberpihakan yang jelas dari pemerintah untuk masyarakat atau tidak. Kadang memang ada tapi akselerasinya lamban.

Ke depan NTT seperti apa Prof?
Saya bicara dalam kapasitas saya saja, khususnya aspek kesehatan masyarakat NTT. Agar kekayaan orang NTT tetap bestari dan berdayaguna, perlu investasi modal manusia NTT secara baik pula. Tema kegiatan kita adalah Human Capital Investment. Artinya menyiapkan investasi modal manusia. Mengapa demikian? Karena generasi penerus harus disiapkan agar sehat jasmani dan rohani dan intelek.

Saya melihat ini jawaban yang tepat bagi kita semua, baik di NTT khususnya maupun di Indonesia umumnya. Kita invest manusia pasti menghasilkan manusia bermutu. Kalau kita sebar angin ya kita tuai badai, tetapi kalau kita invest manusia pasti mendapatkan generasi manusia NTT yang bermutu.


Caranya?
Kita perlu berubah paradigma berpikir dalam rangka mencapai MDG. Tujuanya MDG tentunya tidak akan tercapai apabila masalah kependudukan termasuk aspek pelayanan kesehatan reproduksi, keluarga berencana serta perlindungan hak-hak reproduksi tidak ditangani dengan baik.

MDG menjadi masukan penting dalam rangka penyusunan program pembangunan nasional atau RPJMN. Dalam tataran aplikasi
sesungguhnya kesehatan itu bukan cari orang sakit lalu diobati, anak gizi buruk kita obati, tetapi yang paling penting adalah investasi modal masusia itu disiapkan secara baik.

Konkretnya?
Kita harus sadar bahwa investasi modal manusia akan berdampak pada penanggulangan kemiskinan dan kelaparan, penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan. Karena itu perlu disiapkan dengan baik setiap kelahiran baru sejak masih dalam rahim ibu, termasuk merencanakan jumlah anak, jarak lahir dan pertumbuhan anak itu sendiri.

Tujuannya agar setiap anak yang dilahirkan tidak asal lahir, tetapi memiliki kualitas yang baik. Anak yang memiliki prospek masa depan yang baik. Karena itu road show KIA yang kita lakukan selama hampir sepuluh hari ini bertujuan membangun kesadaran dan komitmen bersama untuk meningkatkan derajat kesehatan manusia NTT. Misalnya setiap ibu hamil kita beri perhatian secara baik terhadap tahapan dan perkembangan kehamilan termasuk perlakuan khusus bagi ibu hamil. Ibu hamil harus jadi manusia istimewa.

Jadi ber-KB termasuk investasi modal manusia?
Adakonsep pemahaman yang keliru tentang KB. Padahal KB tidak bermaksud membatasi kelahiran baru, tetapi bagaimana setiap kelahiran manusia baru itu disiapkan secara baik. Membangun kesadaran pasutri untuk ikut KB tentunya melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat. Tidak bisa harapkan dinas kesehatan saja. Saya secara pribadi memberi aplaus kepada tokoh agama di Flotim karena gereja turut terlibat dalam gerakan KB melalui suara gembala pastoral.

Apa strategi agar investasi modal manusia itu berhasil?
Investasi manusia tidak bisa hanya mengandalkan dinas kesehatan, tetapi lintas sektor. Komitmen bersama dan keterlibatan secara aktif. Bupati jadi komandan. Gerakan program kesehatan bertujuan membangun kesadaran bersama. Dengannya target pengurangan kesenjangan sosial, ekonomi dan kesehatan bisa diatasi.

Untuk itukah Prof bersama Dr. Robert Tilden datang ke NTT?
Tentunya misi kami advokasi. Kami datang secara sukarela karena memiliki keyakinan bahwa NTT sangat potensial dan ingin menyumbangkan pikiran demi kemajuan NTT. Saya berterima kasih kepada rakyat NTT. Saya berkesempatan bekerja di sini, suatu kebahagiaan buat saya. Saya juga belajar banyak di NTT.

Selain NTT, dimana lagi Prof bersama Dr. Robert Tilden melakukan advokasi?
Jauh sebelum kegiatan road show advokasi kesehatan ibu dan anak di daratan Flores, kami berdua sudah ke daerah-daerah lain. Misi kami tetap sama melakukan kegiatan advokasi KIA tadi. Kami keliling Bengkulu, Aceh, Sulawesi Utara dan beberapa daerah lain. Tujuanya sama membangun paradigma berpikir kita tentang investasi modal manusia.

Komentar Prof tentang kemajuan di NTT?
Zaman (gubernur) Pak Ben Mboy, El Tari, Fernandez dan Herman Musakabe itu kan fase-fase sentralistik. Semua kebijakan dari pusat. Daerah tinggal melaksanakan saja. Contoh kegiatan KB, inpres desa tertinggal dan beberapa kegiatan lainnya. Artinya kemajuan-kemajuan dulu adalah kemajuan top down. Sejak tahun 1999-2000 sudah berubah ke erah desentralisasi.
Sekarang ini tantangan lebih berat. Siapa saja bisa jadi bupati, walikota, DPRD. Preman bisa jadi bupati. Tukang gunting bisa jadi Dewan. Latar belakang macam-macam. Muncul tokoh-tokoh baru. Pilkada misalnya, dari sisi sistim bagus, hanya eksesnya. Misalnya suara rakyat dia beli dengan cara janji-janji atau serangan fajar sehingga memerlukan banyak uang. Biang kerok persoalan justru karena biaya politik yang besar itu. Tentunya biaya yang sudah dikeluarkan itu harus ditutup kembali, apalagi uang itu bukan milik pribadi. Ini soalnya. Akhirnya anggaran yang seharusnya dipergunakan untuk bangun SDM dihabiskan untuk pembangunan fisik. Kalau fisik ada tender dan rekanan. Rekanan ada kasak-kusuk. Dampak lanjutan pada kebijakan publik, termasuk bidang kesehatan. Kebijakan bisa saja bergantung pada peran serta orang-orang yang telah mengantar seseorang itu menduduki jabatan tertentu.

Menurut Prof, apakah itu hanya terjadi di NTT saja?
Semua wilayah. Di sana-sini masih kuat terasa. Itulah akses dari pemilihan langsung.

Apakah urusan kesehatan bisa diserahkan kepada swasta?
Yang kita bangun ini 'kan sektor goverment. Bidang kesehatan tidak bisa diserahkan ke swasta. Hanya sebagian kecil dari kesehatan itu yang bisa kita serahkan ke mekanisme pasar.

Bagaimana kritik Prof, terhadap alokasi anggaran di bidang kesehatan?
Umumnya wilayah yang sudah kita lakukan advokasi investasi modal manusia, hampir pasti alokasi anggaran masih kecil. Anggaran masih berorientasi pada pembangun fisik. Advokasi justru hendak membangun kesadaran bersama agar perjuangan alokasi anggaran kesehatan bisa ditingkatkan. Fakta yang kita peroleh mulai dari Labuan Bajo sampai Larantuka anggaran kesehatan masih sangat kecil. Juga daerah-daerah lain di NTT yang sudah saya datangi. Karena itu government untuk kesehatan harus kuat. Orang tidak bisa cari untung banyak dari sektor kesehatan itu. Kesehatan dan pendidikan menjadi sentral investasi modal manusia itu.

PAD di NTT bersumber dari rumah sakit. Bagaimana pandangan Prof?
Memang untuk kesehatan membutuhkan keterlibatan semua eleman dan ini butuh kesamaan persepsi. Tentunya apa yang kita lakukan termasuk Pos Kupang adalah dalam rangka membangun kesadaran bersama tadi. Rumah sakit membutuhkan biaya besar, namun bukan menjadi alasan dana yang sudah diinvest itu harus dikembalikan. Tetapi kalau orang mau bedah plastik, tentu harus bayar dong. Dalam konteks ini
rumah sakit boleh cari untung, masa mau gratis. Produk rumah sakit ada yang disebut public good.

Barang-barang publik tidak boleh cari untung di situ. Tapi kalau privat silakan, rumah sakit untung dari situ. Jadi memang harus diperinci di sini. Rumah sakit jangan hanya ke arah menyediakan yang tadi itu, tapi harus melayani masyarakat.

Bagaimana pandangan Prof tentang rumah sakit?
Yang paling penting masalah kesehatan tidak bisa selesai dengan rumah sakit, Tidak bisa. 80-90 persen akar masalah itu bukan di rumah sakit. Bukan di pengobatan puskesmas, tetapi lintas sektor dengan sub-sub sektor di dalamnya.

Dulunya rumah sakit hanya sebatas obat orang sakit. Sekarang kesehatan dilihat sebagai investasi. Dan ini, tentunya membutuhkan kesamaan persepsi agar kegiatan di bidang kesehatan menjadi gerakan bersama. Misalnya, jika akar masalah kesehatan di suatu lingkungan adalah air bersih, maka Dinas Kimpraswil yang bergerak. Atau perilaku hidup sehat di sekolah dengan menanamkan kebiasan cuci tangan, tentunya Dinas Pendidikan yang harus bergerak.

Bagaimana dengan keluhan kekurangan tenaga medis?
Kita harus akui bahwa bangsa Indonesia ini tidak memiliki perencanaan ketenagaan yang baik. Mestinya kita bisa hitung jumlah tenaga medis yang dibutuhkan sehingga bisa diproduksi. Kekurangan tenaga medis yang terjadi beberapa wilayah NTT dan Indonesia umumnya karena perencanaan jelek. Mengapa jelek karena tidak ada kepedulian dan komitmen. Kekurangan bidan, misalnya, kita berasumsi hanya urus orang beranak saja. Padahal berdampak pada pengurangan kemiskinan. Jika ada perencanaan bisa disiasati. Dinas Kesehatan NTT perlu bicarakan. Pemda harus bayar, harus ada revolusi. Sekolahkan putera daerah, nantinya jika tamat harus kerja bagi daerah yang sudah biayai dia.

Pernahkan Prof sampaikan pemikiran itu kepada pejabat di NTT?
Waktu Pak Frans Lebu Raya mau maju jadi gubernur, saya pernah diskusi. Saya sarankan tolong perhatikan aspek kesehatan masyarakat dalam rangka investasi modal manusia NTT. Kalau manusia NTT mau memiliki mutu hidup yang baik maka aspek kesehatan harus diperhatikan secara serius. Mengapa saya tekankan aspek kesehatan, karena faktanya tingkat pertumbuhan penduduk di NTT cukup tinggi. Kita harapkan ibu-ibu di NTT bisa lahir normal dan sehat dengan jarak lahir yang direncanakan.

Adakah tokoh di NTT yang dipandang berhasil di bidang pembangunan kesehatan?
Adadua tokoh yang sering saya sebutkan yakni, Umbu Mehang Kunda dan Ans Takalapeta. Takalapeta termasuk sosok pemimpin yang selalu mendengarkan. Kita beri advis dia laksanakan. Misalnya program pemberantasan vilaria. Dia sangat sukses. Bukan itu saja, Takalapeta itu sosok pencinta lingkungan serta buat yang konkret untuk rakyat. Sementara Umbu Mehang Kunda itu sosok mencintai rakyat.

Waktu Umbu Mehang jadi bupati penyakit malaria mewabah di sana. Mehang Kunda berhasil membasmi malaria melalui kerjasama lintas sektor. Kayaknya Bupati Mabar itu orang cinta rakyat, sering kunjungi rakyat, omong blak-blakan. Kita harapkan Bupati Mabar bisa buat lebih baik. Saya harus akui pula banyak pemimpin di NTT punya semangat seperti dua tokoh yang saya sebutkan tadi. Sudah banyak. Kita harapkan komitmen tidak hanya sebatas rencana tapi aksi nyata.
(kanis lina bana)



Dari Dagang Beras Hingga Profesor

MASA kecil diwarnai desingan peluru. Karena itu tertanam dalam dirinya cita-cita menjadi tentara. Namun nasib bicara lain. Lantaran tidak cukup umur untuk masuk tentara, Ascobat Gani, yang dilahirkan dari keluarga pegawai perusahaan Belanda di Aceh ITU, masuk Universitas Indonesia mengambil jurusan teknik dan kedokteran.

Dorongan keluarga cukup kuat agar memilih menjadi dokter akhirnya Ascobat Gani memilih kuliah di Fakultas Kedokteran UI. Semasa mahasiswa termasuk aktivis kampus sehingga kuliah menjadi molor. Sebagai keluarga pas-pasan, maka Ascobat bekerja sebagai pedagang beras, mendirikan koran dan kegiatan lain yang bisa mendatangkan uang.

Semasa kuliah sudah memiliki mobil dari hasil kerja kerasnya. Namun karena kekurangan uang maka mobil dijual diganti dengan sepeda motor. Sepeda motor dipakai untuk antar koran, mencari berita dan kegiatan lainnya.
Dan, ketika bekerja di Atapupu, cita-cita mengambil spesialis kebidanan berubah ke bidang kesehatan masyarakat sehingga dia bertualang ke Amerika menimbah ilmu di sana. Sepulang dari Amerika sebagai doktor pertama UI di bidang public health, Prof Emil Salim menariknya bekerja di Kementrian Kependudukan dan Lingkungan Hidup.

Sepeninggalan dari urusan kantor selain memberi kuliah di UI, Ascobat Gani bekerja sebagai konsultan di beberapa bank di Jakarta. Kebiasaan naik motor terusik kembali ke masa-masa sulit sehingga ketika melakukan road show advokasi KIA di beberapa tempat selalu menggunakan sepeda motor.

Perjalanan paling jauh ketika road show di daratan Flores. Mulai dari Denpasar hingga Larantuka sejauh 1.640 Km. Meski usia sudah di atas 60, namun semangatnya tetap membara menyumbangkan pikiran dan tenaga bagi kemajuan manusia NTT.

Kegemarannya naik motor selain hiburan juga bernostalgia keemasan masa kuliah. Sebab dengan motor pula dirinya bisa sukses. (lyn)

Pos Kupang Minggu 27 September 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda