Puisi Selamat Frans

Kelimutu

Kelimutu..., itu bukit kapur
bertabur indah tiwu telu
tak ada ahli geographi memperhatikan,
kapan kau lahir,
walau zaman- zaman purba sudah dialmanakkannya.

Kelimutu..., itu bukit mungil
sejenak kisah tapak menanjak panorama alam menyambar
pandang wajah bersinar terangkai anggukan hati
mari anak negeri nikmati kasih rahmat alam.

Kelimutu..., itu bukit magis
besok hujan pulang, kemarau menderu-deru datang
tapi jangan dikira tiwu telu ikut berkurang.

Kelimutu..., pada puncakmu kami berkaca
kehati-hatian menjadi halangan terperangkap
kehatian-hatian adalah kesaktian
tahapan langkah karya anak bangsa.

Kelimutu..., tiwu telu menelurkan amanat zaman
dindingmu tipis, tapi air kasih tidak berbagi,
air kasih tidak terambil kemari ...
kecukupan menjadi takaran ketahananmu
tapi kecukupan di zaman kami
menjadi kosa kata yang hampir punah
oleh kalang kabutnya mencari harta karun.

Kelimutu..., pada lembahmu penat kami pun pergi
riak gelombang dada kami dalam alunan lagu rakyat
anak nusantara menjajakan mangga hasil ladang
mencari kecukupan.

Kelimutu..., kau tampan menawan
tersimpan banyak tanda tanya
itulah terus mengundang datang
tapi jawaban tetap milik alam.

Kelimutu..., kau cantik mempesona lewat berera-era
karena kau selalu olah moral, kau atur waktu kala bertandang
sejuk merayap datang dalam kabut membayang
kami pun pulang membawa dahaga zaman.


Moni, 23 Agustus 2009

Catatan:
1. Tiwu telu : bahasa daerah Ende-Lio (artinya: tiwu = danau, telu = tiga; danau tiga warna)
2. Moni : kota kecil di kaki bukit Kelimutu.





Puisi-puisi Usman D.Ganggang
Rambu, Apa yang Kaucari
(kukisahkan buat Aster Bili Bora)

di antara gundukan bukit kapur nan bertandus
kusebar pandang seantero panorama sabana
tak terdengar dendangan manis si cantik jelita
yang mesra luluhkan hati para penghaus cinta
melumpuhkan langkah-langkah para lelaki haus
air kehidupan yang muncul di tengah sabana
apalagi sulaman helai rambut nan panjang tergurai
lagi senyummu terpasang sepanjang sabana
menggugah rasa kesetiaanku lama terpatri
ke mana lagi aku melangkah mencari jejakmu


di antara lembah-lembah terjal tak kutemukan
tapak kakimu yang mengukir sejarah masa lampau
tak kutemukan kuda meringkik nyaring bersama tawamu
wilayah anganku membentang jurang dan sunyi kian parah
tatkala ular-ular dulu jinak bagai merpati secepat kilat mendesir
beramai-ramai mengelilingi lelaki penunggang kuda pacuan
dan aku pun terjatuh pertanda cintaku terkubur sampai jauh

di antara pajangan batu kuburan para leluhur
tak kutemui gadis-gadis peziarah lantunkan doa
kecuali burung hitam mengepak di atas batu cadas
terbang mengitari pinggir kota hingga subuh tiba
dan di atas bebukitan terpancar sorot mata bening
lemparkan kepuasan menyambut lelaki laut terkadang
ingkar janji tapi hadirkan senyum tanpa makna

dan di ujung jalan dari perjalanan panjang
kubedah kesaksianku dengan belati modal dengkul
tersisa gadis jelita yang pasang senyum tanpa kesal
mengubur diri di antara gundukan pematang panjang
memandang lepas kepada lelaki laut terkadang nakal
dalam keyakinannya negeri ini bukan negeri bejat moral

di tikungan jalan kusudahi petualangan indah
meski butir-butir peluh merembes senggol nilai-nilai luhur
kumatikan desah-desah angin dan sensasi kenikmatan panjang
sebab memandang kedalaman mata hitammu kian terkepung
sensasi segar lelaki laut yang terkadang nakal memperkosamu

di atas ferry engkau berdialog tentang ringgit lelaki Jiran
datang menjenguk rupiah yang lagi sakit parah
dan engkau pasang senyum manis tanpa henti
Rambu, apa yang kaucari di negeri seberang
sementara di antara lembah-lembah sabana panjang
tersimpan mutiara segar penawar haus para lelaki sejati


Waingapu, Juni 2009



Bunga Sabana
(Buat Sobatku Selamat Frans)

bunga sabana berbunga-bunga musim tiba
lengang terasa dalam menyambut kedamaian
dan tafakur datang hadirkan pertanyaan
adakah dendangan berbunga sabana
seperti dendangan penunggang kuda
dalam kegirangannya di tengah padang ilalang
di tengah bunga-bunga sabana sedang mekar
terngiang nafas waktu memapah kejujuran hakiki
mampukah kepadanya memberi buah-buah manis
sementara realitas di sini terasa mengepung hari

mungkinkah bunga sabana sanggup berbunga
meskipun musim kemarau tiba di atas sabana panjang
atau bunga sabana absent datang berbunga-bunga
hingga malam merentang panjang kusaksikan
sabana memeras bulan dari balik bukit
aku sendiri mengunyah waktu lagi lewat
saat bunga sabana menjenguk rahimku

Waingapu, Juni 2009


Kuda-kuda Sabana

Kuda-kuda sabana enggan berpacu
karena sang joki membangun istana megah
di atas kebohongan indah

Kupang, Juni 2009


Selingkuh

Selingkuh di wilayahku semakin populer
seiring perjalanan nafas waktu
ia berkembang dan tersenyum sendiri
dan para pakar pun mulai merekah batasan:
Selingkuh adalah tukang mimpi yang sepi
dendangkan tembang-tembang manis
tentang api

Selingkuh adalah sepotong syair nan indah
yang terendam dalam kain kafan basah

Selingkuh adalah pemadam kebakaran rindu pelangi
terbentang- bentang dalam pusara para pemimpi

Selingkuh adalah sepotong lilin yang nyaris mati
dalam jubah malam kian iri

Selingkuh adalah pemain sepak bola api
yang meski akan terbakar tapi berani mati

Selingkuh adalah selingkuh


Bima, 2005



Kurindu Marahmu
(buat Hamid Jabar)

Kusaksikan pelangimu terbentang
dalam dialog panjang tentang diri
sosokmu tampil garang di tengah mendung
sementara hujan air mata tercurah sepanjang tahun
tak tersisa semuanya tersapu bersih genangi sudut negeri ini
dan sengkau tak ambil pusing dengan teror yang mencekam
peluru-peluru tajam engkau singkirkan satu per satu
dan akhirnya engkau tampar wajah-wajah yang sering membelelo
tembusi daun-daun telinga bedahi bayang-bayang tak tersisa

dam arus derita kini terlihat pecah berantakan
saksikan nanarku tak terarah di samping istana merahmu
bopeng-bopeng luka negeri ini tergambar jelas
dan puisi Indonesia-mu kugumam bangkitkan gairah
apalagi para pelantun pembacaan mukadimah
terngiang indah depan pusara
engkau menyindir negeri
negeri terparah
depan istana, kurindu marahmu
engkau tersenyum tawarkan perdamaian
terlukis indah depan pusara
inilah Indonesiaku!

Jakarta, 012007



Seperti

seperti mentari sepanjang hari
sinari isi alamku dan sekitarnya

seperti bulan sepanjang malam
terangi lingkungan nan gelap-gulita

seperti bintang nun jauh di sana
meski berkelip-kelip tapi tak mati

seperti bumi setiap saat diinjak-injak
tapi tak pernah menghadirkan teriak

seperti para pemimpin-pemimpinku
meski kuhujat-hujat selalu memaafkanku

seperti rakyat-rakyatku di sini
tak pernah henti memilih wakilnya
meskipun sering dibohongi
setiap pilkada tak serta merta diam
lalu jadi kambing hitam

seperti apa, aku?
aku semut di antara manisan
aku laba-laba merangkai jaringan
ah, dasar aku bukan lebah.

Bima, 2007


Engkaulah Air Mengalir
( kepada Taufik Ismail)

engkaulah air yang mengalir sepanjang zaman
aliri sungai dan kali-kali yang mendesah campur sedih
gunung รป gunung, lembah , dan bukit- bukit tandus berkapur
terus mengalir aliri kota-kota menggunung sampah-sampah desa
dan engkau melompat-lompat indah di antara lorong kumuh
terus mendaki puncak gunung kian kering-kerontang
dan menari-nari indah di tengah sawah menghijau
ya melompat indah tanpa benturan berarti
lalu gadis-gadis perawan pun
pasang senyum

engkaulah air mengalir sampai salami mentari ganas
setelah menggauli bintang- bintang nan tinggi
kadang cemburu kepada bulan yang lagi santai
ya engkaulah air yang mengalir itu
membangun imajinasi lagi mati

engkaulah air yang mengalir indah
aliri sampah kota berbau busuk
lompat ria tanpa pasrah
tapi terus mengalir
bedahi sampah
tanpa jijik
mengalir
terus mengalir
sampai jauh


Jakarta, 090907

Pos Kupang Minggu 30 Agutus 2009

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda