Selamat Idul Fitri

Parodi situasi Oleh Maria Matildis Banda



"SOLAT Id selesainya jam berapa ya?" Laki-laki yang satu ini mempersiapkan diri luar dalam. Pagi-pagi benar sudah bersih-bersih, mandi, pakai pakaian terbaik, dan duduk di depan rumah sambil lihat jam beberapa kali.

Sebentar-sebentar dia berdiri untuk memastikan tuan kost dan tetangga lainnya sudah pada pulang solat Id.
"Solat Id selesainya jam berapa ya?" Tanyanya sekali lagi dengan suara lebih keras agar temannya segera keluar kamar dan bergabung dengannya.

"Waduh Mister Rara, pagi-pagi sudah rapi begini? Ada urusan apa bolak-balik tanya solat Id selesainya jam berapa?" Jaki memperhatikan penampilan Rara dari ujung kaki sampai ujung rambut.

"Biasalah, merayakan Lebaran!" Jawab Rara singkat dan jelas.

"Haaah aku tahu sekarang. Kamu mau ke rumah Siti Nurmala kan?" Jaki menggoda. "Pantas rapi jali begini. Ada udang di balik batu nih!"

"Biasalah, namanya juga hari raya. Kita pergi mengucapkan salam bahagia di hari nan fitri, sekalian juga mohon maaf lahir batin, minal aidin wal waidin," kata Rara. "Rencanamu bagaimana?"

"Aku rencananya makan pagi di rumahnya Siti Nurmala, makan siang di rumahnya Buyung Abdullah, makan malamnya di rumah Arief Rahman. Lumayanlah dua hari ini aku bisa gantung kompor!" Jaki berterus terang.
"Waduh, rencanamu rapi benar! Benar-benar gantung kompor nih!" Rara tertawa.

***
Begitulah Rara dan teman-temannya. Anak-anak kost yang bersahaja. Kuliah berjalan lancar, pandai atur pergaulan, bersahabat dengan semua pihak, suka menolong, toleransi, dan tentu saja memiliki banyak sahabat dan kenalan baik.

Jadi kalau musim hari raya, mereka gembira bukan main. Istilah gantung kompor Natal, Paskah, Galungan, Kuningan, Waisak, Lebaran, sudah biasa bagi Rara dkk. Silahturahmi menjadi penting bagi anak-anak kost ini. Tidak hanya hari raya sebenarnya, tetapi pada setiap waktu. Tidak heran kalau mereka selalu diterima dengan senang hati di setiap keluarga lingkungan tempat tinggal.

"Kamu juga ikut?" Tanya Rara ketika Benza dan Nona Mia bergabung.

"Baiknya kemana dulu ya?" Tanya Nona Mia.
"Intinya makan pagi di Nurmala, siang di Buyung, malam di rumahnya Arief. Antara pagi dan siang, siang dan malam, malam sampai jam sepuluh, kita buat daftar nama. Ini sudah kusiapkan semua!" Rara penuh semangat.

"Wah, kalau soal gantung kompor, temanku Rara rajanya ya," Nona Mia tersenyum.

"Kamu mau ikut atau tidak?" Rara pura-pura tersinggung soal gantung kompor.

"Gantung komporlah!" Jawab Nona Mia ringan.
"Ini urutan nama keluarga pada Lebaran kedua. Ini Haji Usman, Haji Ali, Sofiah, Ibu Daeng, Bapak Agil Ambuwaru, dan baca sendiri nih!" Rara membagi-bagikan lembaran nama pada ketiga temannya.

***
Benza merasa lucu dengan istilah gantung kompor, sekaligus bangga berteman dengan Rara, Jaki, Nona Mia. Memiliki teman baik seperti Sofiah, Arief, dan Nurmala. Mengenal dari dekat keluarga Ibu Daeng, Bapak Agil Ambuwaru dan masih banyak lagi. Bangga juga rasanya berteman dengan Gede Putra, Ni Nyoman Arnati, Bapak Wayan Simpen.

Belum lagi keluarga Budha yang merayakan Waicak, dan keluarga Tionghoa yang rayakan Imlek. Sahabat dan keluarga yang juga ikut berhari raya bersama Natal dan Tahun Baru setiap tahun dengan caranya masing-masing. Sebenarnya sepanjang tahun adalah tahun yang penuh rahmat bagi kehidupan bersama di kampung halamannya. Saling mengerti, saling menghargai, saling memberi tempat, saling silaturahmi sepanjang waktu.

***
"Assalamulalaikum wahrahmattulahi Wabarakatu," suara Rara yang paling jelas terdengar. Jaki, Benza, dan Nona Mia mengekor di belakangnya.

"Wallaikum salam," jawab Nurmala dengan gembira.
"Minal aidin wal waidzin, Nurmala! Aduh kamu cantik sekali dengan jilbab merah mudamu itu," satu-persatu keempat sahabat mengucapkan salam kepada Nurmala dan segenap keluarganya.

"Ini teman-teman kuliah saya," Nurmala memperkenalkan teman-teman kepada orang tua dan keluarganya. öPada gantung kompor ya anak kost ha ha ha," Nurmala membuat suasana benar-benar cair.

"Setelah ini kemana? Aku ikut sekalian ya?"

"Kamu bersama keluargamu dulu. Nanti siang kita ke rumah Buyung dan malam ke rumah Arief!" Kata Nona Mia. "Nurmala, makan pagi! Ketupat gurih!"
"Ayoh, langsung ke ruang makan di dalam," Nurmala menggiring teman-temannya ke bagian yang aman yang nyaman di rumah. "Pada belum makan ya? Besok seharian kita jalan sama-sama lagi ya. Aku sudah mohon ijin orang tua. Pokoknya besok aku bawa mobil, kita satu mobilsaja!"

"Ya Nur, biar kamu tidak perlu pakai helm dan jilbab, cantikmu itu menarik perhatiannya Arief," sambung Rara diikuti Jaki. "Nur, sekalian bungkus kue keringnya ya. Yang banyak buat teman belajar selama sebulan."

"Natal tiga bulan lagi, orang pertama yang harus kamu ingat, aku ya? Gantung kompor, kue kering, jagung bose, ketupat, pokoknya lengkap!"

***
Hari raya sungguh membanggakan. Semoga persahabatan ini berlangsung terus sepanjang hidup para orang muda ini. Pelan tetapi pasti menanamkan dalam pikiran dan hati, betapa pentingnya hidup berdampingan dengan damai.

Selamat gantung kompor. Selamat Bahagia. Selamat Idul Fitri. Maaf lahir batin. *

Pos Kupang Minggu 20 September 2009, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda