Tentang Nama dan Sejarah


Oleh Fr. Yonatas Kamlasi & Fr. Amanche Franck OE Ninu

25 Tahun Seminari Menengah St. Rafael Oepoi Kupang
Sumber Air Panggilan Gereja di Tengah Kota Kupang

OEPOI adalah sebuah kawasan di pusat Kota Kupang. Oepoi, secara etimologis adalah kata dalam bahasa Dawan, Oe artinya air, Poi atau Mpoi artinya keluar, menyembul, atau muncul.

Gabungan kata Oepoi ini artinya air yang muncul, air yang keluar, atau air yang menyembul, bisa juga berarti sumber air yang terus meluap dan menyembul. Di kawasan jantung kota inilah, berdiri dengan megah panti pendidikan menengah calon Imam Keuskupan Agung Kupang, Seminari Menengah Santu Rafael.

Sampai hari ini, Oepoi adalah sumber air yang menyembulkan dan memunculkan putra-putra Gereja Flobamora yang terpanggil untuk menjadi imam Gereja lokal dan universal. Panti pendidikan kebanggaan umat Keuskupan Agung Kupang ini, kini memasuki usianya yang ke dua puluh lima.

Menurut catatan sejarah Gereja Katolik Keuskupan Agung Kupang, Seminari ini berdiri tepat tanggal 15 Agustus 1984, saat Keuskupan Agung ini memasuki usia sweet seventeenth (17). Mgr. Gregorius Manteiro, SVD, Uskup Agung Kupang pertama adalah pendiri, perintis, dan penjasa, serta figur beriman yang meletakkan dasar bagi tegaknya Seminari Santu Rafael, sebagai jantung dan biji mata Keuskupan Agung Kupang.

Nama Rafael sebenarnya diambil dari nama salah satu malaikat dari tiga malaikat agung dalam Gereja Katolik, (Mikhael, Gabriel dan Rafael). Nama ini juga didedikasikan secara khusus untuk salah seorang misionaris Portugal yang punya andil besar dalam penyebaran iman Katolik di Keuskupan Agung Kupang, yakni Pater Rafael De Viega, OP (Ordo Dominikan).

Seminari di jantung kota propinsi ini mempunyai motto sebagai spirit, jiwa, dan motivasi bagi para anak-anak calon imamnya, yakni Mens Sana In Corpore Sano Ad Plantandum Semina Verbi Dei. Artinya Di Dalam Tubuh Yang Sehat Terdapat Jiwa Yang Kuat Untuk Menanam Benih-Benih Sabda Allah. Spirit ini yang terus dihidupi oleh anak-anak Malaikat Rafael, di pesemaian (Seminarium) Oepoi, sumber air panggilan Gereja.

Para Pekerja yang Tekun
Pekerja pertama yang berkarya di pesemaian sumber air Oepoi ini adalah seorang Imam Serikat Sabda Allah, yang kini kembali masuk dan memimpin rumah Oepoi. Dialah Pater Yulius Bere, SVD. Imam kelahiran Manumean, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), yang sedikit lagi akan merayakan panca windu imamatnya ini adalah Praesses/Direktur Pertama Seminari Menengah Santu Rafael. Kesulitan awal dalam hubungan dengan fasilitas dan situasi yang mendera saat tahun 1984 membuat Pater Yulius harus juga merangkap sebagai Koordinator Prefek.

Angkatan perdana Oepoi berjumlah lima belas orang. Dari kelima belas putra-putra ini, akhirnya lahir dari rahim Oepoi imam sulung seminari ini, yakni Romo Leo Mali, Pr. Setelah Pater Yulius, tercatat ada beberapa imam yang menjabat Praesses yang turut berjasa mendidik para calon imam Oepoi, yakni Pater Lukas Lusi Betan, SVD, Romo Daniel J. Afoan, Pr, dan Romo Videntus Atawolo, Pr.

Imam-imam yang pernah menjadi prefek, pembina, dan fondator di Seminari Rafael, yakni Romo Krisostomus Taus, Pr, Pater Simon Bata, SVD, Pater Willem Laga Udjan, SVD, Romo Stefanus Mau, Pr, Romo Leo Enos Dau, Pr, Romo Hilarius Penga, Pr, Romo Yerimias Siono, Pr, Romo Kristo Crezens Bano Taslulu, Pr, dan Romo Fransiskus Umar Atamau, Pr.

Seminari ini juga didukung oleh para guru awam, yang mendedikasikan diri mereka untuk kebutuhan ilmu pengetahuan dan kepribadian putra-putra gereja. Ada juga kongregasi suster-suster CIJ, yang sejak dulu membantu dalam penyediaan tenaga guru, pegawai, dan urusan dapur.

Untuk mendukung pendidikan dan pembinaan para calon imam, maka seminari ini menjalankan dua kurikulum, yakni kurikulum SMA untuk ilmu pengetahuan yang setara dan sama dengan SMA pada umumnya, dan kurikulum khas seminari yang berisi ilmu pengetahun yang khas Gereja seperti Bahasa Latin, Kitab Suci, Liturgi, Sejarah Gereja, dan Etiket.

Pada awal berdirinya, para seminaris calon imam Oepoi mengikuti kurikulum SMA di SMA Katolik Giovanni Kupang hingga tahun 1992. Dan, tepatnya tanggal 20 Juli 1992, tahun ajaran 1992/1993, Seminari St Rafael sudah mendirikan dan mengelola SMA sendiri, yang satu dan terintegrir dengan pendidikan calon imam Seminari Menengah. Romo Krisostomus Taus, Pr, adalah kepala sekolah pertama SMA Seminari Santu Rafael.

Lima S
Sebagaimana seminari-seminari lain, Seminari Menengah Santu Rafael, juga sangat memperhatikan aspek-aspek fundamental pembinaan calon imam. Tuntutan akan kualitas calon imam yang kelak menjadi imam menjadi alasan utama dalam pembinaan setiap calon imam.

Aspek-aspek itu terangkum dalam Lima S, Scientia (Ilmu Pengetahuan), Sanctitas (Kekudusan), Sanitas (Kesehatan), Sapientia (Kebijaksanaan), dan Solidaritas (Persaudaraan/Sosialitas). Kelima aspek ini harus terintegrir dalam proses pembinaan sehingga nantinya output-output Oepoi dapat diandalkan dan mampu berkarya sesuai kebutuhan Gereja dan tuntutan zaman.

Sebagai calon imam, kualitas intelektual, kerohaniaan, kesehatan, kepribadian, dan persaudaraan sangat ditekankan, bahkan menjadi kekayaan diri yang berguna bagi Gereja dan tanah air. Konkritnya, integritas aspek ini melahirkan pribadi calon imam yang cerdas, beriman, sehat jasmani rohani, berkepribadian luhur, dan memiliki semangat persaudaraan yang tinggi.

Idealisme dan optimisme Seminari Menengah Santu Rafael untuk melahirkan dan memunculkan pribadi-pribadi calon imam yang beriman dan berilmu, tentu didukung oleh sarana dan prasarana, ketenagaan, serta aspek-aspek pembinaan, yang secara faktual ada dalam pergumulan tata harian di Komunitas Seminari Oepoi.

Sebagai panti pendidikan calon imam di tengah ibu kota propinsi, model pembinaan seminari yang selaras dengan lingkungan perkotaan harus terus diperhatikan. Aspek-aspek tadi selain sebagai tuntutan dan perhatian dalam pembinaan dan pendidikan, sekaligus menjadi tolok ukur bagi kualitas output Sepoi (Seminari Oepoi).

Dalam semangat doa, ekaristi, karya cinta dan pengorbanan, Seminari Oepoi terus berbenah dan bertumbuh dalam rahim Gereja Keuskupan Agung Kupang. Aspek-aspek pembinaan tadi hendaknya juga menjadi perhatian, bukan saja oleh para pembina, pendidik, dan pengajar, tetapi terutama menjadi tugas dan tanggung jawab setiap pribadi terpanggil di Seminari Rafael. Setiap pribadi calon imam sekiranya tahu dam mau akan berbagai tuntutan gereja dan dunia, dan serta merta membenahi diri lewat panca aspek tadi.

Untuk Gereja dan Tanah Air
Hingga kini, ketika memasuki usia peraknya (25 tahun), Seminari Santu Rafael Oepoi telah menghasilkan 64 imam untuk gereja lokal dan universal. Ada di antara mereka yang memilih mengabdi untuk gereja lewat Serikat Sabda Allah, dan ada yang memilih untuk mengabdi di gereja lokal Keuskupan Agung Kupang dan keuskupan-keuskupan lain di Indonesia.

Sebagai lembaga pendidikan calon imam yang sangat memperhatikan kualitas kemanusiaan, Seminari Oepoi juga melahirkan alumnus-alumnus awam, yang kemudian mengabdi dalam berbagai bidang hidup.

Jika kita melihat visi seminari dalam terang Imamat Yesus Kristus, maka Seminari Oepoi telah memberi kontribusi bagi tersedianya imam-imam Kristus di dunia. Juga kalau kita melihat secara jujur misi seminari untuk mendidik pribadi-pribadi handal, maka almamater Seminari Santu Rafael juga telah memberi putra-putra jebolannya secara nyata bagi bangsa dan tanah air. Ini juga adalah kebanggaan yang patut dihargai, sekaligus harapan dan tantangan untuk diwujudnyatakan oleh putra-putra Rafael. (*)


Secuil Harapan untuk Almamater

DI tengah tuntutan zaman, yang mengharuskan kompetisi dan kompetensi dalam berbagai bidang, Seminari Menengah Santu Rafael seharusnya pula tetap menjaga citra dan kualitasnya sebagai lembaga pendidikan menengah calon Imam.

Di satu sisi, kualitas para calon imam yang selaras zaman harus terus digalakkan, di sisi lain Seminari sebagai panti pendidikan calon imam, yang menekankan kualitas kepribadian dan kerohanian harus pula diperhatikan dan dijunjung tinggi. Idealnya, para calon imam diasah untuk terampil dalam ilmu pengetahuan, tetapi tidak dengan mengesampingkan pembinaan kerohanian dan kepribadian yang memadai sebagai calon pemimpin gereja masa depan.

Calon imam harus tahu tentang dunia dan isinya, karena ia ada dalam dunia, tetapi
ia harus sadar, tahu, dan mau bahwa semangat, jiwa, dan orientasinya bukan dari dunia ini. Ia ada dalam dunia tetapi bukan dari dunia. Hendaknya pula dalam seluruh proses harian di seminari, para fondator, pembina, dan pengajar di Seminari Oepoi hendaknya tahu kebutuhan gereja akan calon imam masa depan.
Momen dua puluh lima tahun ini adalah sebuah saat hening sejenak untuk refleksi dan introspeksi. Pesta perak ini hendaknya menjadi satu kebangkitan baru untuk bergerak menuju pendidikan calon imam yang ideal, yang selaras zaman, berpegang teguh pada gereja, dan yang dikehendaki Allah Sang Pemilik panggilan Imamat. Kesempatan ini bukan sekadar nostalgia almamater, tetapi sebuah saat kairos untuk tetap berbenah menuju cita-cita panggilan gereja, yakni menjadikan Seminari Santu Rafael sebagai rumah pembinaan yang beriman dan berilmu bagi para biji mata dan jantung gereja.

Semoga sumber air Oepoi terus menyembulkan air panggilan bagi gereja dan dunia. Kiranya Santu Rafael, malaikat agung pelindung kita, senantiasa mengawal kita para calon imam. Bunda Maria Ratu para imam dan calon imam, senantiasa mendoakan para calon Imam Oepoi. Dan, kiranya pula, Tuhan Yesus memberikan berkat melimpah bagi panggilan gereja. Selamat Pesta Perak dan dirgahayulah rumah kita, Seminari Menengah Santu Rafael Oepoi Kupang. (*)

*. Kedua penulis adalah Alumnus Angkatan XV dan Frater TOP Seminari Menengah Santu Rafael 2007-2009, kini tinggal di Unit Filadelphia Seminari Tinggi Santu Mikhael Penfui Kupang.

Pos Kupang Minggu 20 September 2009, halaman 11

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda